Kamis, 13 Juni 2013

Ngomong Bahasa Daerah, Kenapa Harus Gengsi?


Kamu kenapa gengsi ngomong bahasa daerah. Ini di daerah kita tinggal!! 
Iya  jelaslah, nanti terlihat ngga keren!!

Miris banget melihat dari percakapan di atas. Harus diketahui semua bahwa ada lebih dari 748 bahasa daerah di Indonesia, namun banyak masyarakat daerah tertentu tidak rutin atau mulai memakai bahasa daerahnya. Padahal bahasa daerah ibarat mempertahankan tradisi penutur nenek moyang suatu suku atau subsuku.

Terlihat begitu aneh saat anak-anak di pedesaan bicara layaknya anak perkotaan dengan sejumlah bahasa slang Indonesia:
Gue mau pergi ke sungai memancing ikan, Elo mau ikutan kagak? 
Kagak,.. males nih 
Oke deh, Gue cabut dulu!!! 
*miris bukan*
Itu seakan-akan anak-anak pedesaan mulai melupakan bahasa daerahnya dan bisa jadi pengaruh tontonan atau malah ia mulai gengsi pakai bahasa daerahnya dengan teman sejawat.

Itu semakin cenderung tercermin dengan banyak warga Indonesia yang malas memakai bahasa daerah. Ada beragam alasan yang mengemuka tidak memakai bahasa daerah. Walaupun bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa, di tempat tertentu bahasa daerah sangat dibutuhkan. Berikut alasannya

1.      Gengsi
Memakai bahasa daerah seakan terlihat ketinggalan zaman dan dengan masuknya bahasa asing semakin menjepit bahasa daerah. Gengsi sudah jelas, apalagi saat logat daerah yang begitu kental saat berbicara bahasa Indonesia atau bahasa asing. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan bahasa daerah.

Saya pun sedikit heran, mengapa ada bahasa satu unggul dari bahasa lain. Pada suatu saat, bahasa yang penuturnya banyak akan menghilangkan sejumlah bahasa berpenutur relatif sedikit. Jumlah makin lama makin berkurang, kelestarian bahasa wajib dijaga.

Masalah gengsi urusan belakangan, malah bisa bahasa daerah lebih memudahkan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar. Itu menunjukkan kita bisa membaca budaya dan tatanan masyarakat sekitar. Masyarakat tak menganggap anda orang asing. Jadi... turunkan gengsi pada tempat tertentu.

2.      Mulai Ditinggalkan
Pengaruh lain yang jelas begitu kentara yakni dengan sedikitnya yang berminat. Anggapan memakai bahasa daerah seakan terlihat tidak modern dan terkesan kampungan. Alhasil banyak yang mulai jarang atau bahkan meninggalkan.

Itu pun berlanjut ke generasi selanjutnya, banyak orang tua khususnya di perkotaan yang tidak mengajarkan bahasa daerah. Saat anaknya besar, mereka hanya bisa bahasa Indonesia atau bahasa asing (bila belajar).

Mendengar sanak keluarga memakai bahasa daerah asal orang tuanya, si anak hanya manggut-manggut antara mengerti atau tidak saat ditanya atau balas menjawab. Miris bukan.

Sedangkan bahasa asing jangan tanya canggihnya..., di dalam pikiran mereka menganggap bahasa asing lebih terlihat pintar dan hebat. Sebagai contoh, bisa bahasa Inggris dengan lancar berarti hebat. Bule gila di negaranya fasih bahasanya namun mengapa tidak hebat?

Warga negara yang baik menurut hemat saya adalah orang yang pintar berbahasa asing di pergaulan internasional, bertutur sopan saat berbicara dengan masyarakat majemuk Indonesia dan lancar berbahasa daerah saat di pergaulan.

3.      Hanya Dipahami Suatu Kelompok
Persoalan yang menjadi dasar banyak tak mau memakai bahasa daerahnya adalah sulit orang lain dan hanya dimengerti oleh suatu suku. Sebagai contoh seperti ini, saat bersekolah jauh dari daerah. Menggunakan bahasa daerah jadi terlihat tidak menghargai teman lainnya yang buka berdasarkan daerah bahasa tersebut.

Ia hanya bengong memperhatikan pembicaraan, antara ia dibicarakan atau hal lainnya. Akibatnya memakai bahasa Indonesia jadi penengah biar tak ada kecurigaan.

4.      Dianggap Aneh
Bahasa daerah suatu daerah kadang terlihat aneh saat berada di daerah lain terutama daerah yang bahasanya terlihat agak asing. Orang yang mendengarkan malah menyeletuk: itu bahasa daerah mana?

Pasti sekelompok penggunanya sedikit malu dan ia akan gengsi menggunakan bahasa daerahnya. Selain itu menggunakan bahasa daerah di daerah orang lain cenderung tidak membuka diri dengan pergaulan setempat.

5.      Susah Dicerna dan Dijelaskan
Dalam ilmu bahasa, ada ucapan yang sangat singkat diucapkan oleh suatu bahasa namun sangat sulit buat dijelaskan ke bahasa lain. Itulah kekuatan suatu bahasa dan kadang bahasa daerah yang dimiliki di Indonesia punya setiap keunikan tersebut.

Karena itulah mereka yang bisa bahasa daerah akan panjang lebar mengenai maksud tersebut biar orang lain paham maksudnya.

6.      Sulit Ditulis dan Dibaca
Harus diakui, hampir sebahagian besar bahasa daerah yang ada di Indonesia begitu sulit dibaca, apalagi untuk ditulis. Kedudukannya yang hanya di bawah bahasa persatuan Indonesia dan bahasa asing menjadikan bahasa daerah jarang yang mengajarkan.

Bila pun ada, itu hanya ada di kelas sekolah dasar. Kebanyakan bahasa daerah proses belajarnya melalui pergaulan dengan lingkungan masyarakat. Masalah tulisan dengan bacaan kadang tidak ada.

Maka jangan heran, banyak yang bisa berbicara dengan bahasa daerah. Menulis dengan maksud tersebut kadang sulitnya minta ampun. Hanya mereka yang punya kemampuan super dan layak diapresiasikan saat mampu membaca dan menulis bahasa daerah sama baiknya.

7.      Bahan Tertawaan
Faktor inilah yang menyebabkan kenapa bahasa daerah mulai jarang digunakan. Paling kentara adalah jadi bahan tertawaan oleh suku lain atau barang olok-olok. Padahal bahasa adalah kekayaan budaya yang dilestarikan dan dihormati. Menghina bahasa suku lain sama dengan tidak menghormati Bhinneka Tunggal Ika.

Anggaplah keunikan bahasa orang lain jadi sesuatu yang enak didengar walaupun terdengar asing.

8.      Terdengar Kasar Namun Lembut Maknanya
Anggapan bahasa daerah yang keras dan intonasinya tinggi terkesan kasar. Padahal maksudnya begitu lembut. Penutup katanya yang terkesan berbicara berapi-api seakan ingin marah-marah. Namun nyatanya ia ingin mengucapkan rata terima kasih.

Jadi jangan menilai bahasa dari kasar dan tinggi intonasinya, nilailah dari makna yang terkandung. Lalu yang terdengar lembut dan santun tetapi maksudnya buruk. Cara terbaik adalah mempelajari maksudnya dan bertanya kepada penutur kata tentang maksudnya.

Itu sejumlah alasan mengapa bahasa daerah jangan gengsi, karena bila terlalu mengeyampingkan sejumlah gengsi, si bahasa akan di tinggal mati. Ayo kita lestarikan kembali bahasa daerah masing-masing wilayah kita.
Semoga tulisan ini memberikan pencerahan dan jangan lupa hidupkan kembali bahasa daerah.
Share:

2 komentar:

  1. Alhamdulillah kami dari Kota Naga masih mepertahankan bahasa ibu kami, bahasa taluak namonyo. Walaupun diblang orang sombong, atau terlalu fanatik dengan kesukuan, itulah cara kami untuk melestarikan bahasa ibu kami, ketika jumpa dgn orang kampung, aneh bagi kami jika kami tidak mengunakan bahasa ibu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sungguh hal yang wajib diapresiasikan saat orang lain banyak yg sok kota dan sok hebat dari bahasa yang ia pelajari

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis