Senin, 05 Agustus 2013

Jangan Mau Jadi Aktivis Kampus!


Bersuara lantang dengan Megafone di kantor pemerintah atau simpang jalan, memakai almamater dengan gagahnya sambil berorasi bersama massa menentang sesuatu kebijakan. Semua pengguna jalan merasa sedikit kesal saat jalanan macet. Bagi sebahagian Maba, bisa ikut serta seperti itu dan diliput media sebuah kebanggaan apalagi menjadi pencurah aspirasi rakyat walaupun panas dan hujan menghampiri.
Saya sarankan jangan mau jadi aktivis, bikin capek!!!

Pengalaman ini saya ceritakan saat terjebak menjadi salah satu aktivitas dan orang penting kampus. Pengalaman itu adalah pengalaman berharga.  Dalam politik begitu banyak yang mendukung kamu dari belakang saat kampanye, tetapi saat kamu sudah berada di depan. Mereka semua  menghilang dan mencekam segala kepemimpinan yang kamu lakukan. Ibarat musang berbulu domba. Politik itu kejam dan aktivis itu punya banyak musuh ada benarnya.

Menjadi aktivis membentuk jurang pemisah yang berbeda dengan mahasiswa lainnya. Saat menjadi aktivis sering menganggap mahasiswa mau ikut berjuang sebagai mahasiswa mental apatis. Sebaiknya yang bertolak belakang dianggap sebagai musuh yang harus diwaspadai habis-habisan.

Saat menjadi mahasiswa baru, di masa itu terjadi gejolak. Mahasiswa baru seperti haus akan aktivitas, mau terlibat segala kegiatan yang ada di kampus. Apalagi banyak kegiatan menunjukkan kelas bahwa si mahasiswa itu eksis. Semua organisasi dan UKM ramai-ramai menarik calon anggota baru. Mahasiswa baru dengan senangnya bisa ikut serta walaupun sebatas anggota. Mereka butuh regenerasi untuk kepengurusan yang lebih baik.
Jargon sakti: jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) dan mahasiswa kuda-kuda (kuliah datang-kuliah datang)

Katanya dengan jadi aktivis kampus bisa memperjuangkan segala hak-hak serta aspirasi masyarakat. Cerita hikayat tempo dulu saat kumpulan mahasiswa gagah berani yang berhasil menggulingkan Soeharto jadi cerita penuh inspirasi yang buat mahasiswa bangga jadi aktivis.
Yang paling berkuasa di negeri ini adalah mahasiswa, pekik seorang senior dengan Megafone sambil mendoktrin maba bermuka polos. Presiden saja bisa kita turunkan dengan paksa. Hmm tetapi saat di depan dosen pembimbing rasanya aktivis tadi terlihat mati kutu. Seperti yang paling berkuasa di Indonesia dosen pembimbing

Saya merasa mahasiswa yang saat di kampus hidupnya sangat idealis sangat banyak, tetapi saat di dunia kerja sifat idealisnya ikutan pensiun. Dulunya suka menyatakan ini salah dan itu salah, setelah dapat posisi di pemerintah malah diam seribu bahasa.

Sedangkan mahasiswa yang biasa saja tak terlalu menggubris dan lebih rela memberi bukti nyata dan inovasi. Lebih senang menyalakan lilin saat listrik padam dibandingkan mengeluarkan kata sumpah serapah pada pihak-pihak tertentu. Hasilnya terlebih mereka kelaklah yang mengubah bangsa.

Saya bukan melarang tujuan kuliah untuk jadi aktivis, kuliah itu ibarat proses pematangan kondisi sebelum terjun ke masyarakat. Melalui turut serta dalam pengurusan organisasi dan UKM jadi salah satu media belajar efektif untuk cakap di masyarakat kelak. Bukan berharap nilai dan IPK semata, tetapi sosial dan kemampuan komunikasi dan memecahkan masalah lebih dibutuhkan.

Saya sedikit sedih melihat mahasiswa jadi salah arah lupa konsekuensinya kuliah untuk apa, lebih mementingkan bukan tujuan. Ikut orasi bolos kuliah, organisasi lupa bahwa hari itu ada midtem dan tugas dianggap pekerjaan selingan sedangkan proposal acara adalah pekerjaan utama.

Hasilnya lebih lama mengendap di kampus, menghabiskan sisa kredit SKS hingga maksimal 14. Dahulu saat saya masih menjadi Maba saya pernah mengalami organisasi yang mendoktrin mahasiswa untuk harus menentang ini dan itu. Saya diajukan sebuah pertanyaan sulit yang buat saya berpikir keras.

Kamu bila ada orasi membela agama sedangkan waktu itu kamu Final di kelas, Pilih yang mana?

Sontak saya menjawab dengan lugas menjawab, saya lebih memilih ikut final. Masak setelah cukup lama melewati proses belajar harus gagal karena orasi tak beranggap ujar saya. Hasilnya saya langsung dicap tak cinta agama, cinta dunia!!! Wah parah, saya pun protes dan mengatakan. Itu adalah konsekuensi saya untuk menuntut ilmu dan orang tua yang membiayai kuliah saya. Pola doktrin itu banyak yang merenggut pikiran Maba.

Hidup ini sangat dibutuhkan keseimbangan, ada siang yang menggantikan malam begitu pula ada kuliah dan organisasi. Sehingga setelah tamat mampu menjadi mahasiswa yang kuat kemampuan nalarnya dan kemampuan memecahkan permasalahan di masyarakat.

Karena jadi aktivis adalah sebuah pilihan, menjadi penampung aspirasi masyarakat atau malah menjadi mahasiswa tamat paling telat.

Bila ada pengalaman kalian tentang aktivis, silakan berbagi di kolom komentar Semoga membuka pikiran.

Salam mahasiswa!!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis