Minggu, 25 Agustus 2013

KKN Mahasiswa, Sebenarnya Untuk Apa?

KKN
Saya melihat KKN adalah salah satu agenda wajib yang masuk ke dalam SKS sebagai bentuk pengabdian mahasiswa terhadap masyarakat. Di situ mahasiswa bisa berbaur dengan masyarakat dan melakukan program yang sesuai dengan bidang yang ia geluti selama di bangku perkuliahan.
KKN di sini yaitu Kuliah Kerja Nyata, merujuk pada kerja bakti mahasiswa dalam bentuk aksi nyata terhadap masyarakat daerah sekitar. Tak hanya cukup di situ, mereka harus bekerja sama dengan mahasiswa lain yang merupakan lintas kampus bahkan lintas universitas. Punya karakter dan kemauan berbeda dengan visi yang sama untuk desa KKN setempat.

Permasalahan yang dihadapi pun kompleks seperti sosial, budaya, agama dan lainnya. Itulah mengapa jauh hari sebelum KKN berlangsung, mahasiswa harus melakukan survei dan meninjau keadaan kampung tersebut. Pendekatan apa yang harus dilakukan dan bagaimana menyikapinya.

Namun realita berkata lain, setelah melakukan survei awal, memperkenalkan diri dengan perangkat desa dan warga serta pemilik rumah yang di tempati. Banyak mahasiswa KKN yang separuh hati tak terlalu berbaur dengan masyarakat. Hanya dengan anggotanya saja dan menganggap ada sekat antara mahasiswa yang sarat dengan pendidikan tinggi dengan masyarakat pedesaan yang umumnya masih berpendidikan rendah.

Ada pula mahasiswa yang hanya melakukan seremonial belaka akan kegiatan yang ia lakukan dan bentuk dokumentasi bahwa ia telah melakukan pekerjaannya secara maksimal. Di lapangan ia aksi duduk manis di rumah dan bermain game dengan temannya lupa interaksi dengan warga sekitar. Saya beropini bahwa proses pendekatan dengan masyarakat berarti menambah interaksi sosial tak hanya lingkup akademisi saja.

Padahal saat KKN kita diajarkan kepada kondisi sulit dan berjuta tantangan misalnya begitu sulitnya untuk mandi, mencuci baju dan untuk hajat harus pergi ke sungai. Keterbatasan sinyal yang harus mengakali hingga ke puncak bukit dan hidup dengan alam tanpa listrik.

Saya pernah membaca sebuah anekdot yang mengatakan bahwa:
Manusia kota yang tinggal di pedesaan akan kesulitan sedangkan manusia pedesaan yang ke kota malah kesusahan.
Saya pernah bertanya dengan orang tua terdahulu yang pernah ikut KKN terutama saat zaman orang tua saya. sangat kontras dengan yang terjadi kini, mereka membaur dengan masyarakat. Tidak merasa diri paling maju pemikirannya dan juga tak merasa paling pintar.

Saya sering melihat bahwa mahasiswa terlihat seperti yang paling tahu dibandingkan warga sekitar. Almamater ibarat sebuah bukti, kami masuknya susah dan yang pasti kami adalah orang pintar pilihan.

Kenyataannya malah kesulitan bekerja sama dengan warga sekitar. Saat KKN yang dibutuhkan adalah kerja sama kedua belah pihak, apakah dari anggota KKN dan warga sekitar. Selanjutnya adalah durasinya yang terlalu minim, saya pernah mendengar bahwa orang tua dahulu KKN yang paling pendek di kisaran 40 hari dan bahkan adalah yang mencapai 100 hari alias 3 bulan.

Tanpa teknologi dan informasi, saya pernah membaca sebuah buku yang menceritakan bahwa dalam waktu 28 hari akan muncul kebiasaan baru. Manusia akan nyaman dengan kondisi saat melalui fase tersebut. Bila ia mampu bertahan saat masa tersebut, dijamin ia akan betah dan nyaman.

Apalagi tubuh manusia melakukan berbagai cara agar bisa menyesuaikan keadaan dan rutinitas baru. Namun ada kebanyakan mahasiswa KKN sering keluyuran di luar daerah KKN yang berakibat ia tidak bisa mendapatkan kecocokan dengan desa tempat pelaksanaan KKN. Akibatnya mereka para mahasiswa tak betah karena berbeda dengan yang ia rasakan.

Padahal KKN itu ibarat proses pengenalan dengan masyarakat sebelum tugas akhir menghadap di depan mata. Mahasiswa yang selesai kelak akan berbaur dengan masyarakat setelah menuntut ilmu. Tak cukup hanya bermodalkan IPK tinggi dan pintar menjawab soal saat Final. Kemampuan bekerja sama dengan masyarakat jadi salah satu kunci dalam menyelesaikan masalah, salah satunya melalui program KKN.

Program yang telah disusun dalam bentuk Renja (rencana kerja) butuh aspek penyelenggara serta peserta. Andai penyelenggara telah siap, sedangkan peserta hanya dari anak-anak tanpa melibatkan masyarakat sekitar akibat kurang meriahnya acara. Ini karena masyarakat bukan tak mau turut serta tetapi kurangnya komunikasi hingga mereka enggan pergi.

Saya rasa KKN akan lebih bermakna andai dilakukan dengan sebenar-benarnya, bukan hanya mengharap nilai KKN bagus semata. Tetapi program yang jelas serta kesan yang manis saat meninggalkan desa KKN. Apakah itu bukti kerja yang nyata bukan sekedar rekayasa di laporan semata.

Selain itu komunikasi dengan orang kampung sekitar tidak hanya terputus setelah kegiatan selesai. Ada nilai emosional dan kekeluargaan walaupun dalam waktu singkat. Cerita dan kenangan itu tetap terukir manis bahwa KKN adalah proses pembelajaran nyata sebenarnya mahasiswa, bukan sekedar foto-foto dengan almamater dan warga sekitar.

Sambil menutup kalimat ini, saya harapkan ilmu yang didapatkan selama berada di kampus mampu diimplementasikan secara tepat setelah tamat dan KKN jadi salah satu lokasi percobaan pertama akan ilmu yang dipelajari serta minat bakat lainnya yang bisa ditonjolkan.

Serta teman-teman saat KKN tetap menjadi saudara setelah lulus kelak, mereka punya kenangan lebih bisa bersama selama lebih dari sebulan dalam mengenal karakter yang kamu miliki. Bukan hanya saat kampus saja.

Semoga menginspirasi, bahkan sesungguhnya KKN banyak maknanya.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis