Jumat, 27 September 2013

Mengapa Lebih Mudah Ngomong Dibandingkan Nulis?

lebih gampang ngomong dari menulis

Banyak sekali yang beranggapan, kenapa sih ngomong itu mengalir mudah dan lancar sedang saat menulis mandek minta ampun?

Apalagi hampir semua bisa berbicara lepas tanpa beban, apalagi pembicaranya berupa curhat pribadi. Semua uneg-uneg dengan mudah tersampaikan, lapang tanpa harus mengikuti struktur bahasa dan tanda baca.

Panjang lebar dari pagi hingga jelang sore hari. Kekuatan ngomong hampir semua miliki, tak harus menjadi motivator handal, cukup dengan orang terdekat saja, ia bisa berbicara sepuasnya.

Berbeda jauh dibandingkan dengan menulis. Harus mengingat hal-hal penting merangkai menjadi sebuah kalimat runtun yang enak dibaca dan dipahami oleh pembaca. Proses itu ngga semuanya bisa dan saat itulah kenapa ngomong lebih gampang daripada menulis.

Secara langsung menulis mampu menyeimbangkan antara emosi dan logika. Penulis akan mencari titik tengah agar tak terlalu emosional namun berbalut rasional. Ia memilah-milah mana layak tulis dan layak dihilangkan.

Dalam sebuah pembicaraan, sebuah ucapan atau pembicaraan akan melahirkan pendapat. Sedangkan menulis, akan melahirkan pemikiran dan karya tulis. Semua orang punya kemampuan dalam mengemukakan pendapat tapi dalam melahirkan pemikiran kadang ia harus berdamai dengan alam terlebih dahulu.

Proses yang lebih lama jadi salah hambatan, menulis butuh proses dan media sebagai menulis. Kemampuan merangkai untaian kata-kata menjadi kalimat dan kemudian jadi sebuah paragraf utuh sulit. Banyak yang menyerah menulis karena merasa tidak mampu.

Cara ini yang buat mengapa lebih banyak yang menjadi pembaca bukan menjadi seorang penulis. Seseorang yang tidak biasa menulis apabila disuruh menuliskan gagasan yang ia ucapkan tadi pasti bingung. Harus mulai dari mana dan menulis apa, writer block langsung menghinggapi kepala.

Namun ada beberapa pengecualian, orang yang sangat hebat menulis tetapi lemah dalam berbicara atau orang yang sangat hebat berorasi tapi buntu menulis sebuah tulisan. Ini lebih banyak termasuk ke dalam kepercayaan diri dan jam terbang. Orang yang pintar berbicara bisa jadi karena jam terbangnya yang tinggi sama halnya sebaliknya bagi yang menulis.

Bisa saja orang tidak biasa menulis hanya kuat dalam membaca tidak menulis. Pendapatnya terucap lancar karena materi yang ia kuasai, ia hanya butuh kemampuan vokal untuk bisa didengarkan oleh semua orang.

Menulis harus memiliki kemampuan membaca dan menulis sama baiknya. Ia harus mengubah kemampuan ide dan gagasan di kepala yang ia pelajari lebih melalui tulisan. Butuh konsentrasi dan niat besar untuk mewujudkan tulisan yang renyah dibaca.

Menulis pulalah yang buat kita berbicara seperlunya dan berpikir sebanyaknya sebelum berucap. Kesalahan dari pembicaraan kadang sangat sulit dikembalikan, apalagi lidah tak bertulang.

Menulis selama tulisan belum terbit atau dipublikasikan tak apa, ada proses editing dan swasunting hingga benar-benar layak beredar.

Jadi kalian ingin menjadi seperti kalangan apakah?
Keduanya sama-sama punya kelebihan masing-masing asalkan memaksimalkan potensinya. seandainya lebih suka berbicara, ada baiknya berbicara sepentingnya dan diam bila nantinya berdampak buruk untuk orang lain serta diri sendiri.

Lalu yang punya niat dan potensi menulis ayo dikembangkan, karena menjadi orang besar dan pemberani salah satunya melalui menulis. Tulisan dan pemikiranmu tak akan padam melewati zaman.  
Share:

Rabu, 18 September 2013

Selasa, 03 September 2013

6 Waktu Genting Buat Angkat Telepon

Sarana komunikasi sudah jadi alat yang ngga bisa dilepaskan dan dijauhi. Sulit untuk tidak dihubungi dan menghubungi. Perkembangan zaman berbanding lurus dengan begitu banyak alat komunikasi yang ada saat ini, tinggal kita aja yang memilih mau yang mana.

Segala kemudahan akan akses sarana komunikasi memunculkan polemik dan alasan ngga enaknya buat angkat telepon baik dari pengaruh waktu, tempat dan kondisi. Nah ini gue mau ngasih sedikit hal waktu paling tidak mengenakkan mengangkat telepon, walaupun dari orang yang tersayang sekalipun, cekidot:

1.      Lagi Internetan
Setiap gadget yang beredar umumnya sudah memiliki aktivitas mengakses internet. Jadi saat terhubung dengan internet via paket data atau wifi gratisan, eh ngga taunya ada yang telepon. Berpengaruh sih ngga, tapi lumayan mengganggu apalagi yang nelpon ngomongannya panjang lebar dan download bisa terbengkalai.

Banyak orang yang ngga senang lagi internet-an malah terganggu, nah itu jadi alasan utama kenapa banyak yang lagi internetan mengabaikan buat mengangkat telepon dengan alasan low-bat, padahal lagi seru-seruan internet. Di sini kamu bisa rasakan fungsi ponsel udah mulai pudar digerus internet.

2.      Di Toilet
Kondisi lagi di toilet jadi kondisi yang begitu ekstrem buat ngangkat telepon, bisa dibayangkan bila ponsel berdering kencang banget dan berulang kali nelpon. Andai aja ada aplikasi khusus buat ngasih tau ke yang nelpon bahwa kamu lagi ngga bisa diganggun atau ngangkat telepon.

Kejadian beginian ngga enak banget, pas mau mengangkat telepon dan bilang sesuatu. Dan tanpa sengaja malah ponsel tercelup dalam jamban dan itu kondisi yang sulit di bayangkan. Niat mau ngga angkat dan pas mau angkat telepon malah musibah beginian.

Akan muncul pendapat yang enggak-enggak juga bila kamu malah angkat telepon di toilet, apalagi bila sampai kedengaran suara keran air.
Bro, lagi dimana..? 
Ntar aja loe telepon gue lagi, Sekarang gue ngga bisa di ganggu 
“Terdengar suara air keran” 
Oh.. lagi begituan, yaudah maaf udah mengganggu. 
Tapi...!!! “Tiba-tiba sambungan terputus”
3.      Mengemudikan Motor
Keadaan lainnya yang ngga enak banget di telepon yaitu pas lagi naik kendaraan dan kondisi yang kamu alamin sangat sulit buat angkat telepon. Misalnya lagi macet dan padat merayap, apalagi kamu naik motor. Naik motor punya kesulitan lebih tinggi buat angkat telepon dibandingkan kamu naik kendaraan lain seperti mobil. 

Begitu banyak pengguna motor berupaya mengangkat telepon walaupun sulit. Misalnya ditempelkan di dalam helm sambil kepala agak miring ke arah handphone, mirip korban salah bantal di malam harinya. Sehingga kepala condong ke satu arah.

4.      Lagi Ujian
Waktu lainnya yang ngga enaknya buat angkat telepon adalah ujian atau final. Itu dipengaruhi oleh kondisi ruangan yang ngga kondusif dari pengawas yang ngga suka main depan tapi doyan nonggol di belakang. Sedikit saja ada yang gerak-gerik yang mencurigakan langsung di kick out jauh-jauh keluar ruangan dan disuruh langsung kumpul lembar jawaban.

Dan hal yang terburuk terjadi, teman becandaan ada yang nelpon dan hobinya ngga suka sms atau via media sosial lain dalam menghubungi. Langsung aja nelpon, dan pada saat itu kamu lupa men-silent-kan handphone dan suaranya agak keras tapi ngga terdengar sampai ke ruang sebelah.

Lalu karena dengan berat hati kamu angkat dan teman kamu cuman nanya hal ngga perlu nan ngga penting kayak gini:
Bro, kemarin beli ikan cupang yang ekornya merah jambu..? 
Di mana dan berapa satu ekor..?
Dan kamu malah balas menjawab dan ketahuan sama pengawas dan ia berpaling sambil menyuruh kamu keluar karena menganggap mengganggu ruangan ujian. Kadang hal yang ngga di inginkan malah terjadi.

5.      Acara Penting
Hampir sama dengan kondisi di dalam ruangan ujian, tapi kini ada acara yang membuat kamu sulit banget buat angkat telepon, misalnya ada rapat yang ngga memperbolehkan setiap peserta rapat untuk mengangkat telepon karena sifatnya mengganggu orang lain.

Dan yang ngga enaknya, yang nelpon lagi-lagi orang yang sulit menerima segala keadaan sulit yang kamu alami. Gue kasih contoh misalnya, gebetan yang baru aja kamu gebet dan mau tau segala hal tentang kamu 24 jam pool.

Sifat posesif gebetan yang dimiliki beginian sangat mengganggu antara serba salah dan ngga memberi kabar malah dianggap ngga perhatian dan cenderung nutup-nutupin. Kondisi beginian kayak makan buah simalakama, jadi sulit pilih yang mana.

6.      Tidur
Kondisi yang ngga enak buat angkat telepon ialah saat tidur baik siapapun itu yang nelpon. Semua orang pasti marah waktu tidurnya diganggu dalam segala kondisi, dan siap-siap aja banyak yang ngga bakalan angkat telepon pas waktu beginian. Bila pun mau angkat, itu karena berat hati dan keperluan yang sulit dielakkan bagi yang nelpon.

Anggap aja segala alat komunikasi sebagai media memudahkan komunikasi dan bikin jadi beban yang memilikinya dan ngga mengganggu privasi. Menurut kamu, waktu apa yang paling mengganggu, silakan curhat colongan di kolom komentar
Share:

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email