Kamis, 26 Desember 2013

Tsunami, Refleksi Masa Lalu Untuk Masa Kini





Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa Tsunami yang terjadi di akhir tahun 2004 hampir satu dekade lamanya. Perayaan 9 tahun tsunami serempak di laksanakan di berbagai negara yang terkena kedahsyatan gempa dan gelombang tsunami di medio 2004. Tak ada yang menduga bencana besar abad ini terjadi di Aceh. Semua berubah total banyak yang kehilangan harta benda, orang yang di cinta dan  mata pencaharian yang selama ini jadi sumber penghidupan.
Share:

Minggu, 22 Desember 2013

Buku itu Gudang Pengetahuan, Kasihan Kalau tak Dirawat

buku gudang pengetahuan
Sebagai pribadi yang punya segudang buku koleksi yang beragam akan terasa begitu  sia-sia andai buku yang dibeli dari hasil keringat dan mengumpulkan uang jajan harus jadi kuning dan bau apek tak terawat.

Pepatah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia memang benar adanya, sejumlah tulisan yang orang lain tulis jadi sebuah referensi kita akan ketidaktahuan. Dengan membaca buku kita bisa merasakan banyak dunia dan imajinasi orang lain dalam satu bacaan.

Nah, selaku rang yang sangat suka membaca dan membeli buku, kadang kita semua lupa cara merawatnya dengan benar. Banyak buku yang telah dibaca malah seperti terabaikan dan terasa apa yang telah dibaca kadang seperti tak berharga seperti pertama dibuka kulit sampulnya.

Sebenarnya buku adalah investasi yang begitu besar dan apalagi sejumlah buku jadi koleksi dan punya nilai tinggi di masa depan. Bingung bagaimana cara merawatnya? Saya mau membagikan bagaimana cara merawat buku dengan baik yang mana tetap terasa seperti kala dibeli di toko buku tempo dulu.

1.      Menyediakan Rak Khusus
Rak buku jadi tempat paling penting agar buku tidak berantakan, selain tidak tercecer ke mana-mana. Rak buku juga sebagai tempat membuat buku tersusun rapi sesuai dengan genrenya.

Rak pulalah yang membuat buku bisa tersusun secara rapi terutama dengan cara berdiri. Buku yang saling bertumpuk-tumpuk cenderung tidak awet karena memudahkan perkembangan jamur pada kertas buku.

2.      Menyampul Buku
Memang terlihat begitu sepele, tetapi dengan menyampul buku akan membuat usianya lebih panjang dan jauh dari tumpukan debu. Debu dan air jadi musuh utama yang buat usia buku pendek. Salah satu caranya adalah dengan menyampul buku dengan baik dan benar. 

Sampul yang rusak akan mempengaruhi usia buku tersebut, jelas dengan menyampul akan mampu mengurangi bakteri pada buku yang dapat membuat buku tersebut tidak layak baca lagi.

3.      Jangan Biasakan Melipat Buku
Saya pribadi paling tidak senang andai buku yang saya beli dan dipinjamkan oleh orang lain dalam keadaan banyak halaman yang terlipat. Atau tertekuk sehingga meninggalkan garis tebal di halaman cover.

Seperti yang harus diketahui bahwa buku yang terlibat dalam waktu lama akan mempengaruhi kertasnya dan juga estetika buku. Sebaiknya gunakan pembatas kertas setiap berhenti membaca bukan dengan melihat halaman sebagai penanda.

Andai orang yang malas membaca, jadinya hampir setiap halaman ada bekas lipatan. Kasihan bukan bukunya, apalagi itu termasuk buku mahal dan kesayangan pemiliknya.

4.      Sering Bersihkan Buku
Tak hanya pemiliknya saja yang harus bersih, buku juga harus merasakan hal istimewa itu juga. Upayakan setiap sebulan sekali dilakukan pembersihan buku dari segenap debu yang mengepul.

Cara ini cukup menjaga buku tetap terlihat baru, bak aset yang begitu berharga. Buku juga butuh perhatian khusus dengan perhatian lebih yang ia berikan dari sejumlah informasi yang ia berikan. Ibarat simbiosis mutualisme.

5.      Bersihkan Tangan
Tangan juga mempercepat proses rusaknya buku, bukan hanya dari faktor melipat dan menekuk buku. Tangan yang kotor rentan merusak kertas buku akibat perkembangan jamur ke kertas buku.

Itulah mengapa negara maju menganjurkan mencuci tangan hingga bersih sebelum membaca buku. Jadi segala kotoran di tangan tidak berpindah ke buku juga lembaran buku yang kotor juga dapat menyebarkan penyakit ke pembaca buku lainnya

6.      Buat Perjanjian dengan Peminjam
Menyakitkan bukan, buku yang dipinjam oleh orang lain bisa rusak sedang dirimu sendiri sudah berupa keras menjaganya. Memang ilmu itu tidak boleh pelit termasuk dalam meminjamkan sejumlah buku, tapi harus ada peraturan ketat yang mengatur.

Buat perjanjian seperti kerusakan dan kehilangan ditanggung oleh si pembaca. Jadi anda dengan leluasa meminta ganti rugi andai ada kerusakan kumpulan gudang ilmu yang dimiliki.

Itulah segala ara merawat buku dan jangan sampai mereka (read:buku) rusak akibat keteledoran anda atau orang lain. Semoga tips ini bermanfaat sob!.
Share:

Kamis, 05 Desember 2013

8 Kesan dan Mitos dari Pemakai Kacamata

kacamata dan mitosnya

Sekarang ini lagi trendnya orang pakai kacamata di berbagai umur sampai-sampai anak yang baru sekolah dasar sudah pakai kacamata, bahkan hampir setebal kacamata selam atau bawah botol limun. Bagaimana rasanya beban si hidung dan si kuping dalam menahan beban kacamata dalam rentan waktu yang begitu lama. Untuk orang yang sudah dari kecil memakai kacamata bukan karena mengikuti trend yang berkembang.

Begitu banyak kesan dan mitos yang berkembang tentang orang yang memakai kacamata dan membuat banyak orang non-kacamata bertanya-tanya, apa sih yang begitu spesial dari mereka dan suka duka apa saja yang mereka alami.

Penulis yang tidak memakai kacamata kecuali saat nyemplung ke dalam air (berenang dan menyelam) pun mendapatkan data-data akurat dari teman-teman dekat yang banyak berkacamata terlihat seperti bawahan botol limun berjalan para profesional.
Apa sajakah mitos-mitos yang berkembang terhadap pengguna kacamata yang terlihat misterius ini, cekidot:

1.      Orang Pintar
Kesan dan mitos pertama yang begitu melekat kaum berkacamata ialah sosok pintar dan cupu di antara teman-temannya, sering di-bully dan terzalimi oleh teman-temannya sambil minta jawaban dengan paksa.

Scene film-film Indonesia dan mancanegara selalu saja tokoh protagonisnya digambarkan dengan sosok pintar, tertutup, ke mana-mana bawa tas layaknya mau pindah rumah dan pakai kacamata.

Lalu karena datang kekuatan misterius sehingga mengubah tokoh protagonis menjadi pribadi tangguh yang mampu menaklukkan para musuhnya yang selalu menjahilinya dan merebut pujaan hatinya idamannya. Mereka lalu hidup bahagia selamanya.

Kembali ke topik kita, rasa identik kaum berkacamata dengan orang pintar (read: bukan dukun ya!!!) tidak selalu benar dan tidak selalu salah. Jadi? Banyak juga yang berkacamata akibat dampak buruk game yang ngga mengenal waktu.

Bila dulu zaman penulis, game yang tersedia hanya bisa dimainkan di konsol game, komputer segede panggangan roti dan CPU-nya segede lemari baju serta lambatnya buat anak ayam.

Butuh waktu lama dan bila listrik padam game pun terhenti. Kini tidak mengingat waktu, bisa dimainkan dari berbagai konsol, gadget dan yang pasti portable.

Bocah yang penulis temukan punya smartphone terbaru dan juga konsol game portable PS Vita. Umurnya yang baru menginjak belasan tahun akan tapi sudah pakai kacamata setebal bawahan botol limun.

Well... kepintaran dan kecerdasan tidak selamanya identik dengan kacamata tapi dengan berkacamata membuat kamu terlihat sedikit lebih cerdas. Iya cerdas menangkis debu waktu naik motor.

2.      Keliatan Misterius dan Tertutup
Memakai kacamata seakan begitu terkesan misterius nan introvent, walaupun tak sepenuhnya karena banyak juga pribadi yang ramah. Apalagi kacamata bisa dijadikan sebagai pengalih objek kerlingan atau mata yang jelalatan ke mana-mana.

Khususnya kacamata hitam, kesan dan misterius semakin terasa. Namun jangan bawa tongkat ke mana mana, nanti dianggap orang buta peminta minta #GagalKeren

Selain itu, memakai kacamata sangat identik dengan kaum introvent. Sifat tertutup dari mereka menjadikan kacamata sebagai brand yang mereka gunakan. Menggilai sesuatu hobi atau kebiasaan dan ingin jauh dari keramaian adalah bukti banyak kaum introvent identik dengan kacamata.

Walaupun kini kacamata sudah sebagai trend semua kalangan. Tak bisa di sama ratakan, pemakai kacamata hitam adalah orang misterius. Bisa saja akibat cuaca yang begitu panas dan mengganggu penglihatan. Serta kaum introvent bisa saja tak berkacamata, semua kembali ke fungsi kacamata tersebut bukan ke mitosnya.

3.      Para Geeks
Para Geek teknologi umumnya begitu mengakrabi gadget di mana pun dan kapan, efeknya adalah terganggunya penglihatan mereka akibat pancaran gadget yang bikin mata lelah.
Namun para Geek pulalah menggunakan kacamata sebagai penangkal dari radiasi cahaya yang mengganggu penglihatan. Penggunaan itu terlihat optimal apalagi  saat menggunakan gadget dalam waktu yang lama.

4.      Gangguan Penglihatan Bawaan
Memakai kacamata sudah dialami sejak usia belia dan faktor yang paling berpengaruh adalah bawaan penyakit penglihatan dari orang tua. Selain itu kurangnya asupan makanan sehat yang sehat untuk mata terutama banyak mengandung vitamin A juga terbatas. Alhasil, harus rela memakai kacamata mata.

Saya pribadi pun memiliki beberapa teman yang mengalami hal demikian, di usia sangat muda, telinganya sudah harus memikul gagang kacamata yang lumayan berat. Saat ia berada di terik panas maka akan meninggalkan bekas kulit yang memutih akibat tak kena matahari, seperti garis akibat terhalang kacamata. Serta yang paling aneh adalah wajahnya terlihat aneh tanpa kacamata, matanya terlihat kecil dari biasa.

5.      Menyamarkan Tampang
Kini hampir semua orang digandrungi memakai kacamata, tujuannya beragam salah satunya adalah menyamarkan wajah. Ukuran kacamata saat ini yang berukuran besar membuat wajah sedikit tersamarkan.

Memakai kacamata pulalah menambah kesan lebih menarik baik bagi perempuan ataupun lelaki, apalagi saat memakai kacamata yang sesuai wajah memberikan kesan pintar, cantik/tampan dan juga berwawasan tinggi.

Itulah kenapa kacamata jadi peluang yang baik menutupi jerawatan, bekas luka dan sebagainya. Banyak orang yang fokus terhadap kacamata dibandingkan wajah sehingga ini salah satu strategi juga yang layak dicoba.

6.      Keliatan Serius dan Ambisius
Hampir keseluruhan dari direktur dan bahkan CEO dunia memakai kacamata sebagai salah satu asesoris belaka atau memang kebutuhan mereka. Saat launching produk ataukah rapat dengan para klien.

Kacamata tak bisa dipisahkan dari sesuatu yang berbau serius dan ambisius. Memakai kacamata terlihat begitu memberi kesan profesional terutama sekali saat membaca laporan keuangan yang masuk ataukah melakukan diskusi. Lawan bicara pun bisa sedikit tunduk dengan ucapan kita.

Penggunaan kacamata pulalah ingin mengurangi kesalahan terutama dalam membaca. Kemampuan mata yang sudah berkurang karena umumnya para eksekutif dan CEO telah berumur, wajiblah hukumnya bagi mereka menggunakan kacamata.

7.      Terlihat Keren dan Stylish
Memakai kacamata kini terlihat begitu keren dan stylish, banyak yang mencobanya sebagai salah satu gaya hidup.  Bukan sebagai pemilik mata rabun saja namun yang tak memiliki gangguan penglihatan juga ikut andil bergaya dengan kacamata.

Produsen kacamata memanfaatkan kesempatan ini dengan berbagai produk yang menawarkan berbagai kondisi. Ada kacamata santai, kacamata renang, kacamata menyelam, kacamata untuk rapat dan sebagainya.

Teman atau kolega yang memakai kacamata punya daya tarik lebih dibandingkan tidak berkacamata. Bentuk kacamata kini sangat stylish, jauh dari kesan kuno namun telah jadi sebuah asesoris wajib sebagai pemberi daya tarik.

8.      Sulit Saat Olahraga
Memakai kacamata seakan mempengaruhi aktivitas terutama sekali olahraga yang membutuhkan mobilitas ekstra. Gerak-gerik menjadi terbatas dan rentan sekali kacamata jatuh atau berubah posisi. Ini jadi posisi yang tak menguntungkan.

Walaupun bisa diakali dengan penggunaan lensa kontak, tetapi tetap saja sedikit mengganggu. Ganggu penglihatan bisa mengurangi ketajaman mata dan bisa sebagai kelemahan yang bisa dimanfaatkan oleh lawan.

Semisalnya seorang penjaga gawang memiliki ganggu rabun jauh dan telah diakali dengan lensa kontak saat bermain. Tetapi ini jadi kelemahan terutama saat lawan tahu, mereka lebih sering melakukan tendangan jarak jauh untuk menakuti sang kiper.

Itulah kenapa berkacamata pada olahraga tertentu malah sedikit merugikan. Namun jangan salah dengan segala macam kekurangan itu malah bisa diakali untuk hasil optimal. Jangan jadikan kelemahan dan kekurangan sebagai alasan kalah dalam berkompetisi akan tetapi sebagai motivasi.

Kalian masih punya mitos lainnya tentang pengguna kacamata atau diri sendiri adalah pengguna kacamata punya pengalaman. Silakan berbagi di kolom komentar.
Share:

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email