Kamis, 26 Desember 2013

Tsunami, Refleksi Masa Lalu Untuk Masa Kini





Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa Tsunami yang terjadi di akhir tahun 2004 hampir satu dekade lamanya. Perayaan 9 tahun tsunami serempak di laksanakan di berbagai negara yang terkena kedahsyatan gempa dan gelombang tsunami di medio 2004. Tak ada yang menduga bencana besar abad ini terjadi di Aceh. Semua berubah total banyak yang kehilangan harta benda, orang yang di cinta dan  mata pencaharian yang selama ini jadi sumber penghidupan.
Di sini selaku putra Aceh yang menjadi korban kedahsyatan gempa tsunami yang menerjang. Aceh yang dulu terkesan tertutup dari dunia luar akibat konflik yang berkepanjangan akhir terbuka luas saat bantuan dari luar pun datang. Pemerintah Indonesia yang saat itu kesusahan dalam membantu korban, membuka bantuan selebar-lebarnya dari berbagai negara donatur seluruh dunia.

Bisa dibayangkan coba, Bandara Sultan Iskandar Muda yang dulu cuma melayani 2-3 penerbangan sehari melonjak drastis sampai 200 penerbangan, Aceh butuh bantu secepatnya dan dunia merespon dengan cepat. Disaat lebih dari 130.000 korban jiwa dan 30.000 korban hilang saat bencana datang, ada bahaya lain yang mengintai: wabah kelaparan dan kolera bagi pengungsi yang selamat.

Bantuan via darat
Bantuan via udara
Bantuan via laut
Di sinilah uluran tangan saudara-saudara kita bermain tanpa mengenal suku, ras dan agama. Bayangkan saja begitu banyak bantuan yang datang baik dari tingkat nasional ataupun internasional. Kita dulu cuman bisa melihat orang-orang kulit putih berhidung mancung di serial di televisi, kini mereka suka rela meninggalkan kampung halaman yang jauh di sana untuk melihat daerah terisolir konflik bernama Aceh. Kisah kita yang terlalu haru buat kita ingat ialah perjuangan seorang bocah yang kini beranjak dewasa yaitu Martunis hingga mampu mempertemukannya dengan mega bintang Cristiano Ronaldo. Siapa yang biasa menyangka hal itu..?
Cristiano Ronaldo dengan Bocah ajaib "Martunis"

Segala hal buruk yang terjadi pasca tsunami tidak berlanjut, hanya proses rehabilitasi dan rekontruksi yang ditekankan untuk para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal. Dan bagi para korban yang mengalami gangguan psikologis traumatik berkepanjangan pasca tsunami, banyak LSM dalam dan luar negeri yang menawarkan jasa.

Dan kini, tepat 9 tahun Aceh dari Gempa dan Tsunami terjadi perubahan signifikan, baik struktur bangunan, pola pikir dan kreatifitas yang di lahirkan generasi sesudahnya. Sebahagian orang lainnya beranggapan bahwa satu sisi Tsunami medio musibah tapi di sisi lain hadirnya berkah yang ngga terduga.

Salah satunya berkah yang datang yaitu MoU (Memorandum of Understanding) yang menjadi nota kesepakatan antara pihak Indonesia dengan pihak GAM yang bertikai cukup lama, Tepat kurang dari 9 bulan pasca tsunami, Aceh yang dulu di kenal daerah rawan konflik berkepanjangan akhirnya semua rakyat bisa kembali tersenyum lebar dan tanpa rasa takut akan beraktivitas yang sebelumnya rawan tindakan kekerasan.

Tepat tanggal 15 Agustus 2005, MoU yang di tunggu-tunggu akhirnya di tandatangani oleh kedua belah pihak. Bertempat di Helsinki, Finlandia perjanjian damai ini jadi doa yang telah lama di tunggu-tunggu oleh masyarakat Aceh. Dan dengan ini, kita bisa percaya bahwa, semua musibah yang kita dapati punya hikmah yang terkandung, hanya kadang persoalan waktu yang membuat kita lebih banyak bersabar.

MoU Helsinki jadi catatan sejarah bagi rakyat Aceh

Menatap 9 tahun pasca tsunami, kadang kembali mengingatkan sejenak para korban yang selamat dan juga generasi sesudahnya melalui berbagai cerita-cerita tentang kedahsyatannya. Tempat yang dulu menjadi sumber kemakmuran dan keagungan hancur menyisakan puing-puing reruntuhan yang terseret jauh gelombang tsunami. Mengubah tata kota secara luas dan juga sulit bisa di bayangkan sebelumnya bagaimana kapal yang bermuatan lebih dari 2.600 ton mampu digerakkan oleh massa air yang begitu besar di tengah kota Banda Aceh. Mungkin saat ini kita baru bisa percaya hal itu semua bisa terjadi atas kuasa illahi.

PLTD Apung

Aceh yang dulu miskin akan segala jenis investor yang melirik, kini menjadi bidikan utama karena kayak akan berbagai sumber daya alam dan nilai pariwisata yang kaya akan nilai historis dan estetika. Dan kini bisa kita lihat secara jelas, anak-anak aceh yang dulu berlindung di bawah kolong tempat tidurdi malam hari akibat konflik dan begitu lama di tempat pengungsian akibat kehilangan tempat tinggal akibat gempa dan tsunami. Berubah menjadi generasi yang bisa mengharumkan bangsa dan negara. Semua pasti bangsa punya darah aceh yang mengalir darah ulama dan umara.

Sedikit informasi, bangunan-bangun baru dan tata kota yang lebih baik kini menghiasi salah satu ibukota provinsi Banda Aceh. Dulunya yang bersiap semrawut dan kini banyak ditumbuhi bangunan minimalis yang go green, punya berbagai keterangan area evakuasi bencana, Shelter anti gempa & tsunami yang berada di daerah pesisir bila bencana serupa terjadi. Banda Aceh yang kini pun mampu mengondol Piala Adipura sebagai kota yang bersih dan punya tata kota yang baik dan kota dengan jaringan cyber city, kita layak berbangga. Buah kesabaran dan doa mampu berbuah manis ke depan.

Museum Tsunami dan Pemakaman kerkhoff
Tata kota Banda Aceh yang tertata rapi
Refleksi itu jadi gambaran kita di masa kini, berbondong-bondong masyarakat memenuhi masjid, lapangan dan tempat-tempat tertentu untuk mengirimkan kepada saudara-saudara meraka yang telah duluan menghadap sang ilahi. Memang di tinggal oleh orang yang kita cinta itu sangatlah berat, tapi waktu dan kondisi mampu membuat kita semakin teguh menerima segala yang terjadi.

Dalam hati kecil masyakat aceh yang selamat, terbesit sedikit kata-kata untuk saudara-saudara mereka yang telah duluan pergi:
Ternyata segala cobaan yang Allah berikan akan di tambahkan nikmat bila kita bisa bersabar dan lihatlah begitu banyak masyarakat Aceh yang tersenyum berkat perjuangan nyawa dan air mata saudara-saudaraku terdahulu
Rasa keputus-asaan yang hanya di benak kita dan kita refleksi masa kini mampu mengubah persepsi yang di anggap tidak mungkin. Semangat From Zero To Hero yang di miliki rakyat Aceh tak pernah pudar walaupun dihadapkan segala kondisi dan ini jadi modal menatap masa depan yang lebih baik.

Senyumlah, berikan semangat From Zero To Hero
Semoga #9thnTsunami menginspirasi dan agar kita mampu tanggap atas berbagai bencana.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis