Jumat, 28 Februari 2014

7 Persoalan yang Dirasakan Saat di Luar Negeri

luar negeri

Semua sih berharap bisa untuk sekedar jalan-jalan, sekolah, dan menetap sekaligus kerja di luar negeri terutama negara yang lebih maju baik masyarakat dan teknologinya. Hal itu sangat diinginkan oleh banyak orang kita. Kesempatan langka dan menarik itu ngga semuanya bisa dirasakan dengan mudah, butuh usaha yang lumayan besar, akan tetapi ada sisi-sisi yang bikin nyesek dan gampang ngalami kejadian awkward moment seperti yang di tanah air ngga kamu rasakan.

Nah gue di sini mau ngasih sedikit arahan yang mana ngga semua di luar negeri itu enak dan menarik buat dinikmatin, tapi ada hal-hal berbeda yang harus siap kamu jalanin. Anggaplah ini pelajaran buat kita membandingkan negerimu dengan negeri orang lain.

Saat kita ke negeri orang membuat kita sadar bahwa negeri kita lebih berharga. Agar semakin cinta kepada tanah air tercinta kita. Cekidot:


1.      Susah Nyari Toilet
Kondisi baru bikin kita ngikutin apa yang buat kamu yang ngga biasa, kadang sih kondisi beginian sering dirasakan saat berada bukan di tempat umumnya kamu tinggal. Salah satu hal yang anti mainstream di luar negeri  yaitu masalah toilet yang.

Gue bilang begitu karena toilet di dalam negeri kebanyakan berbeda bentuknya dengan di luar negeri. Bila yang dulunya pake WC model jongkok, kini harus pake yang tipe toilet lesehan duduk.

Setiap yang baru itu pasti ngga nyaman serta ditambah lagi dengan setiap toilet ngga disediain air malah tisu gulung yang di Indonesia malah dijadikan sebagai tisu makan. Bikin tambah bete kerasa ngga enak dan lengket-lengket gitu, ngga keset kayak biasa pake air.

Menurut gue sih, cebok dengan air lebih bersih dan higienis dan menghemat aksi ilegal logging kayu yang kemudian salah satunya di proses menjadi tisu. Makanya gue tekankan bahwa nyari toilet susahnya kayak nyari koin yang nyemplung di dalam lumpur. Yang pasti siapin cara ekstra dan tau di mana toilet yang layak bila mau ke mana-mana bila di sana.

2.      Sulit Ngaret
Kebiasaan ngaret udah menjadi sesuatu yang melekat begitu erat bagi masyarakat kita. Kecenderungan itu sulit ditinggalkan terutama pada lingkungan baru. Nah saat kamu tinggal di sana apa berupa kuliah atau kerja yang butuh interaksi intens dengan masyarakat sekitar. 

Kebiasaan ngaret harus dipunahkan sementara waktu. Akan tetapi lebih bijak bila kebiasaan buruk itu bisa terhapus secara permanen. Janji harus dipegang teguh, kadang sih janjinya jam 09:00 waktu setempat, tapi itu jarak yang terhitung dari rumah ke tempat tujuan dengan menggunakan argumen lama yakni: OTW ya!!!. Jadi jauhkan ngaret seperti qoute berikut:
                                                                                 
Ngaret itu sih enak bagi yang ngaret, tapi nyesek dan nyebelin bila jadi korban ngaret. Kadang sih pengaret cuman bermodal minta maaf bila udah ngaret

3.      Porsi Kangen Meningkat
Buat yang punya ikatan emosional begitu kental dengan tanah air biasa sih mengalami yang beginian. Rasa rindu bercampur kangen mengaduk-ngaduk bathin dan terasa ada yang kurang, baik itu keluarga, teman dan pacar (kalo pun ada). Jangan panik dan tetap tenang karena kita hidup tidak seperti zaman dulu yang cuman bisa berharap dari sepucuk surat yang terombang-ambing buuat penasaran kapan tiba ke tujuan.

Nah zaman sekarang cukup bermodalkan pulsa dan kouta internet yang harganya murah bisa di dapatkan di mana saja. Gue punya sedikit quote bijak:
Saat kangen menyerang kaum LDR, segera isi pulsa dan kouta anda..!! jangan tunggu nanti sebelum tempat pengisiannya tutup
4.       Sanksi Berat bagi Pelanggaran
Banyak di negeri kita peraturan dan norma yang berlaku ngga seketat yang di terapkan di luar negeri yang punya kemajuan lebih terdepan dari negeri kita. Aksi pelanggaran yang dilakukan dalam melanggar aturan dan norma yang berlaku punya sanksi yang begitu berat.

Norma dan peraturan yang secara umumnya punya sanksi berat misalnya:
Menerobos lampu merah, kalo disini sih hal begituan mah hal yang biasa dan hanya ada sanksi bila kedapatan. Bagi sebahagian orang nerobos lampu merah bila ada polisi yang berjaga-jaga bukan karena kesadaran pribadi.

Buang sampah sembarangan, bila di negeri kita tempat buang sampah ialah seluas negeri tercinta. Di negeri orang kita diajarkan membuang sampah pada tempatnya, di sana malah setiap tong sampah malah di tulis berbeda dan tong sampahnya terpisah yang mana penanda kode warna merah berarti rubbish atau sampah basah dan kemasan makanan non-recycle, sedangkan kode kuning untuk botol, kaleng, karton minuman dan kertas bersih yang bisa di-recycle.

5.      Susah Nyari Makanan Sesuai Lidah
Hampir sama dengan poin sebelumnya yang gue jelasin "susahnya nyari toilet" ternyata nyari makanan yang sesuai dengan cita rasa lidah sama susahnya. Siap-siap aja kelaparan karena ngga tau makan apa. Kenyang tapi ngga bisa nikmatin karena ngga sesuai dengan lidah.

Kadang sih serba salah, bila pun ada makanan yang menjual khas nusantara, pasti harganya bikin geleng-geleng kepala dan masih ada kurang "sreg" layaknya di tanah air.
Yang penting semua akan nikmat bila dinikmati dan sesuaikan dari segala ketidaknikmatan lidah

6.      Cuaca dan Mood Gampang Berubah
Perbedaan cuaca jadi hal yang kontra yang wajib dihadapi secara langsung, di tanah air umumnya cuman bisa mengenal musim hujan dan musim kemarau, baju yang kamu pakai di negara tropis bisa sepanjang tahun dan itu bukan jadi masalah yang berarti dalam berpakaian. Beda dengan di luar negeri yang iklim negara itu subtropis. Maka siap-siaplah kamu terjebak salah pake kostum saat keluar bila ngga memperhatikan ramalan cuaca dengan tepat, apalagi di sana ramalan cuaca ialah segala-galanya beda dengan di sini yang sering ngawur.

Gue dulu pernah mendapat sebuah anggapan yang gue dengar dari dosen gue. Negara yang beriklim tropis seperti negeri kita umumnya masih berada di golongan negara berkembang.
Padahal dulu penjajah pernah ngatain beginian buat negeri kita tercinta:
Tongkat di tancap tumbuh jadi tanaman
Luar biasa bukan...!!!
Dengan anggapan begitu yang bikin masyarakat jadi malas dan sulit terobsesi. Bila semuanya telah tersedia oleh alam, niat untuk lebih baik dan antisipasi atas segala perubahan alam jadi minim. Jadi bisa di ibaratkan negeri yang subur biasa termakan ucapkan kesuburannya tanpa harus belajar untuk mempertahankan kesuburan negerinya.

Makanya negara maju umumnya berada di Dunia Barat yang punya kesempatan memperbaiki diri karena rasa kekurangan salah satunya cuaca yang berubah dengan cepat dengan bisa bertahan hidup dan mempersiapkan segala sesuatu musim yang buruk seperti musim dingin dari krisis pangan.

Jadi, kesempatan kita buat belajar dinamis selama di sana.

7.      Jalur Mengemudi dan Kemudi Beda
Hampir semua negara di luar negeri banyak yang menggunakan kemudi sebelah mobil sebelah kiri dan jalan sebelah kanan bertentangan dengan yang diterapkan di negeri kita. Dari yang gue baca-baca, negeri kita umumnya bercermin dari Jepang yang arah kemudinya sebelah kanan. Selain itu harga produsen dari Jepang relatif terjangkau berbeda dengan mobil dari daratan Eropa dan Amerika yang punya harga eksklusif.

Ngga semuanya negara maju punya sifat yang sama, tapi ada juga yang bertentangan haluan dalam penyatuan arah kemudi kanan dan jalur sebelah kiri. Salah satunya Daratan Inggris yang beda dari yang lain.

Ini jadi hal yang lumrah bila naik taksi atau naik angkutan, saat mau masuk ke dalam taksi malah awkward moment saat masuk ke kemudi pak taksi di sebelah kiri. Juga saat naik angkutan di sana, mau berhenti harus biasain ngatain #BangKananBang bukan #BangKiriBang.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis