Jumat, 07 Maret 2014

Kebiasaan MemBully, Ayo Segera Hentikan!

ayo hentikan kebiasaan bully

Zaman sekarang masih suka membully? Sebaiknya hentikan dan jangan pernah dibiasakan. Banyak yang merasa korban bully merasa hidupnya tertekan dan pendendam di masa depan. Kebiasaan bully sudah mengakar terutama di dunia pendidikan.

Beragam alasan jadi penyebab bullyy berkembang terutama sistem dan kebiasaan. Memang niat awalnya hanya bercanda, namun tak semuanya menerima dengan senang hati malah jadi pelecut dendam.

Bully pulalah yang membuat rasa traumatik berkepanjangan terhadap korban bully. Korban merasa tertindas, terkucilkan dan dipenuhi rasa takut. Di sekolah dasar bully berawal dari persoalan kecil seperti saling ejek-ejekan, status sosial, punya mainan apa ngga sampai siapa yang paling kuat.

Para pelaku bully harus sadar, banyak korban bully yang hidupnya menjalani rasa traumatik berlarut-larut akibat bully di masa kecil. Generasi bully juga akan membully saat dirinya menjadi pelaku bully. Ibarat hukum rimba, sebahagian traumatik dan sebahagian lainnya menjadi melampiaskan kepada yang lemah.

Misalnya saja korban dibullly oleh senior atau teman yang lebih kuat. Ada sebahagian yang melampiaskannya kepada orang lain dan orang lain melampiaskan kepada orang lain lagi. Saling berantai dan mencari siapa yang patut dibully seterusnya.

Perlakuan bully sebenarnya tak hanya sebatas ejekan dan ancaman. kekerasan fisik juga masuk dalam kategori. Saya membaginya menjadi beberapa tipe bully, yaitu bully fisik, bully ucapan dan bully sikap.

Nah.. yang pertama adalah penjelasan dari bully fisik, walaupun tak hanya perilaku yang melibatkan kontak fisik (misalnya: pemukulan). Mengatakan wujud fisik juga termasuk misalnya saja: gendut, kurus, jelek, pesek, hitam dan sebagainya.

Bully jenis ini sering terjadi saat masa sekolah walaupun tak menutup kemungkinan di level yang lebih tinggi. Bully seperti ini jadi sesuatu tak mengenakkan karena dengan tujuan merendahkan korban dari kualitas fisik. Pelaku yang melakukan jelas-jelas mereka yang merasa itu adalah bahan bully-an

Cara menanggapinya adalah tak usah diambil hati atau anggap saja angin lewat. Bila membalas akan ada balasan yang lebih parah. Nah.. cara itu otomatis efektif meredam bully-an tipe ini. Mereka akan lelah sendirinya karena fisik bukan alasan untuk menonjolkan kelebihan, bisa jadi mereka iri pada kemampuan yang kamu miliki.

Selanjutnya ada bully dalam bentuk sikap, cara ini cukup banyak mengganggu terutama dari mengacukan, meremehkan dan sebagainya. Itu terlihat dari mimik wajahnya dan perilaku para pelakunya. Bully seperti ini jelas tidak mengenakkan dan sangat mengganggu.
Baca juga: Stop Mental Block!
Malah orang yang bully banyak yang sukses dan jadi orang besar karena berhasil melewati fase bully dan ada pula yang depresi dan berakhir mengasingkan diri atau yang paling parah adalah bunuh diri.

Saya jadi ingat tentang rezim di negeri China dan Jerman semua berawal dari bully terhadap pemimpin otoriter mereka. Itu di awali dari Mao Zedong saat ia kecil, ia menerima perlakuan buruk dari para biksu dan ia dendam sampai beranak dewasa.

Alhasil saat ia besar ia banyak membantai kaum biksu saat rezimnya berjalan. Itu pula yang dilakukan oleh Adolf Hitler yang hampir memusnah lebih separuh penduduk yahudi. Alasannya sederhana berawal dari dendam masa kecil karena sering dilecehkan saat masih kecil oleh teman-teman dari kaum Yahudi.

So... pada kisah tersebut dapat disimpulkan dampak bully besar walaupun itu terlihat hal biasa dilakukan. Namun banyak yang menjadi pendendam, penakut, dan kadang menyerah di tengah jalan karena efek bully.

Ada baiknya kebiasaan buruk bully segera ditanggalkan. Apabila tidak, akan lebih banyak yang menjadi korban bully lagi dan menciptakan generasi bully lebih banyak. Harus adanya juga orang yang rela mengawasi pelaku bully dan menghukumnya.

Hilangnya bully, hilang pulalah orang yang menjadi korban bully dan andai melihat sesuatu yang tak sesuai sebagainya diberi tahu bukan dibully habis-habisan. Itu jadi pengecualian bila korbannya sudah terbiasa melakukan hal menyimpang, itu sebenarnya layak dibully karena pada saat itu bully adalah cara efektif untuknya jera dan sadar.

Itu saja penjelasan dan opini saya pribadi, semoga tulisan ini mampu menekakan: katakan tidak pada bully. Semoga menjadi pencerahan dan andai pernah melihat serta merasakan, bisa sharing di kolom komentar.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis