Sabtu, 03 Mei 2014

Sepak Bola Masa Kecil yang Begitu Menyenangkan

sepakbola masa kecil

Di sore itu seperti biasa saya bermain bola dengan beberapa kerabat yang punya hobi sama. Walaupun bermain dalam sebuah instansi pemerintahan, tetapi pemain bola yang bermain umumnya beragam dari pihak instansi terkait sampai yang kakinya gatal tak merumput sehari.
Sebelumnya turun hujan yang lumayan membasahi lapangan, niat bermain bola terasa jadi was-was, sambil bertanya di dalam hati, ini jadi main apa ngga sih?

Karena penasaran dan kegemaran bermain bola yang menggebu-gebu, diri ini dengan rela menembus macet yang menggila di sore hari. Alhasil yang terjadi adalah tak ada yang bermain bola, menyisakan genangan becek mengisi setiap celah di lapangan bola.

Tapi ada pemandangan aneh di lapangan sore itu, banyak anak-anak yang tidak tahu dari mana datangnya. Bermain bola sambil kotor-kotoran dengan lumpur. Orang dewasa tak pasti mengeluh menghadapi suasana seperti ini, di dalam pikiran mereka akan muncul: ngapain main becek-becek dan lumpur, pakaian kotor dan sakit bisa melanda.

Pola pikir anak-anak dan orang dewasa berbeda dalam menyalurkan hobi. Anak-anak tak ada yang bisa menghalangi hobinya tak terlaksana hari ini sedangkan orang dewasa memikirkan bagaimana bila hari ini hobinya batal, ada hari lainnya sebagai gantinya.

Di permainan pun seperti itu, saya yang sangat suka bermain dan menyaksikan pertandingan sepak bola. Pertandingan sepak bola lebih jujur dan sederhana, mereka tak mengerti taktik dan strategi. Terpenting bisa membobol gawang lawan.

Di tackle lawan langsung bangun tanpa pura-pura sakit, tak ada istilah diving untuk merugikan lawan dan mengelabuhi wasit, semua tulus hanya permainan. Saya juga melihat bagaimana orang dewasa khususnya pemain sepak bola profesional bermain dengan segala tekanan. Walaupun ia menjalankan minat hobinya sesuai passion tekanan tak kalah besar, berbeda dengan anak-anak yang memainkan hobinya.

Tak pernah ada keluhan lapangan becek, sepatu yang tak sesuai, bola yang harus sesuai standar hingga perlengkapan bermain yang lengkap. Katakanlah harus ada wasit dan linesman, punya tiang gawang dan waktu bermain yang pasti. Di saat waktu magrib datang, suara ngaji di surau-surau bergema, itu tandanya pertandingan harus berhenti.

Permainan dan peraturan sepak bola masih kecil membuat semua senyum-senyum mengingatnya. Bocah yang membawa bola ke lapangan punya hak lebih mengatur siapa saja yang menjadi temannya. Ia seakan punya semua mandat mengatur permainan ayaknya pelatih.
Lucunya lagi adalah posisi paling favorit adalah menjadi penyerang dan kiper paling dihindari lagi dibenci. Ibarat sebuah sosok pahlawan versus pecundang. Para jajaran pemain belakang akan kena semprot saat kebobolan. Beralaskan tumpukan sandal, jadilah gawang. Ukuran tinggi dan lebar pun diukur oleh ukuran kaki untuk lebar serta tinggi sejauh mana kiper melompat.

Coba tanyakan siapa yang harus jadi kiper?
Mau tidak mau teman yang bertubuh gempal akan jadi kiper abadi para anak-anak. Mereka beranggapan sederhana, tubuh yang besar mampu menutupi ruang gawang dari tendangan lawan.

Pertandingan pun di mulai tak ada kick off dengan pemain bola yang menang undian melakukan kick off. Cara kick off anak-anak mirip dengan basket., Menendang bola setinggi-tingginya ke udara dan pertandingan pun di mulai.

peraturan bola masa kecil

Jangan tanyakan formasi apa yang dipakai, semua tertuju ke mana arah bola datang. Bola bukannya bergulir tapi terdiam, terjebak dengan lautan kaki yang ingin merebut dirinya. Saya dari kejauhan melihat pertandingan anak-anak terasa menghilangkan rasa jengkel tak bisa bermain. Pada posisi itu saya merasakan sesuatu pikiran yaitu:
Saat masih kecil kita semua bermimpi menjadi orang besar itu terlihat keren sedangkan saat besar ingin kembali merasakan masa indah menjadi kecil lagi

Begitulah para anak kecil mula mengambil tumpukan sandal dan sepeda mereka untuk bergegas pulang ke rumah. Pakaian kotor yang siap dimarahi ibunya masing-masing tak jadi masalah. Terpenting cuaca bukan masalah tak bermain.

Pengalaman anak-anak kecil itu kadang bikin kangen, orang dewasa mungkin tak bisa seperti para anak-anak lakukan. Namun, prinsip dan alasan menunda hobi karena hal kecil yang mengganjal seakan ada hari lain sungguh kerugian.

Nikmatilah segala ketidaksempurnaan memainkan hobi, karena anak-anak saja mampu. Bermain sambil tak lupa bahagia, ini olahraga bro, bukan tempat kerja. Lampiaskan segala stres di mana lapangan bola sudah menunggu dipijaki penggila sepak bola. Ayo kini, bukan nanti. Menjadikan pengalaman seindah masa kecil.

Semoga menginspirasi!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis