Selasa, 15 Juli 2014

Dorongan Apa yang Mengharuskan Mendaftar Kuliah?

dorongan apa yang mengharuskan kuliah?

Ada seorang teman dekat saya yang bertanya, dan ia telah lama tamat SMA/sederajat dan memiliki usia yang lebih tua dari saya. sebuah pertanyaan frontal ia melemparkan, sederhana tapi sulit dijawab. Layaknya pertanyaan anak SD, terlihat gampang tetapi begitu kompleks itu dijawab dengan tepat.

Akhir saya menarik nafas begitu dalam sembari berpikir dengan jelas, karena saya kuliah pasti pernah mengalami masa di mana berada di bangku sekolah dan bangku perguruan tinggi.

Sambil berdehem dan membetulkan posisi saya menjawab:

Sebenarnya tamatan kuliah dan SMA itu sama saja hanya saja durasi belajar secara formal saja yang lebih lama dan intens. Lalu saya mencontoh sebuah kaya yang ingin dipahat.

Bila kita tak mengecap dunia sekolah sedikit pun. Ibarat sebongkah kayu gelondongan dari hutan. Ia adalah kayu murni yang belum pernah mengalami sentuhan tangan oleh manusia. Untuk mempunyai nilai dan efisien dibawa oleh si tulang kayu, ia pun memotongnya menjadi beberapa bagian.

Saya menamakan fase ini kita semua mengenyam pendidikan dasar terutama di usia dini. Ia dipotong sehingga memiliki bentuk walaupun masih berukuran panjang. Setelah sekolah dasar berhasil mengenyam kini mulailah memasuki tahap menengah pertama. Ukuran si kayu mulai disesuaikan oleh peminatnya.

Bentuknya yang mulai terlihat jelas namun ia punya harga relatif rendah. Walaupun si kayu ialah kayu mahal, tetap saja murah karena belum mengalami proses pengolahan. Ia baru melewati tahap-tahap awal.

Lalu tahap sekolah menengah akhir atau setingkat SMA, fase ini sama seperti yang teman saya tanyakan tadi. Ia mulai diperhitungkan dan mulai memiliki harga yang bersaing, namun ia belum diolah untuk hasil lebih menawan. Ia hanya dijual perbatangnya atau perkubiknya.

Saat ia memauki fase akhir, dalam hidup ini ialah mengenyam pendidikan level perkuliahan. Ia memberi sebuah spesifikasi, mulai dari pengalaman, keilmuan dan juga mental. Si kayu lebih diubah dengan cara lebih lama dengan menghasilkan mahakarya lebih. Dibandingkan dijual murah dipasarkan, bagaimana kalau dipahat menjadi sebuah barang seni. Apalagi kandungan kayu yang langka dan mahal. Pasti nilai jualnya akan lebih tinggi.

Seperti itulah kuliah, ia mampu menularkan kemampuan terbaik dan terlihat intelektual. Walaupun bukan berarti semua kaum intelektual harus kuliah, namun kuliah ibarat sebuah jalan mudah di masa depan.

Untuk sukses tak harus kuliah, semua itu kembali ke pribadi masing-masing dalam menyikapi potensi dan keberanian layaknya sepotong kayu. Bila ia tak perlu harus mengalami fase panjang untuk menjadi bahan pahatan bernilai, maka cukup hanya sampai potongan-potongan kayu. Iya punya fungsi berbeda seperti sebagai atau rumah atau keperluan lainnya.

Begitu pula hidup manusia, andai ia merasa cukup sampai di situ mengenyam pendidikan (tidak berkuliah) lebih baik cukupkan saja. Banyak pendidikan lain yang bisa didapatkan tak harus di bangku perkuliahan, apalagi semakin tahun biaya perkuliahan makin mahal.

Dan kuliah kini hanya sebagai bentuk pelarian tidak bisa bekerja dan berharap bisa bekerja lebih mudah ke depan. Anggapan salah itulah mengapa banyak yang berkuliah tanpa mengasah potensi di dalam dirinya.

So... pendidikan memang membuat manusia lebih terpandang dan terlihat hebat, tapi lebih baik lagi bila dedikasi dan inovasi yang diberikan terhadap sekitar. Begitulah penjelasan yang saya berikan dan dengan pemahaman itu ia bisa mengembangkan potensinya tanpa harus kuliah atau tidak.
Semoga memberikan inspirasi kecil namun berdampak besar, Ciao!!s

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis