Kamis, 28 Agustus 2014

Instagram, Sosial Media yang Rasis

Siapa di sini khususnya anak muda yang ngga punya akun Instagram?

Sontak hampir semua menjawabnya dengan serempak: Iya... jelas punya!!! Punya akun Instagram termasuk kalangan anak muda kekinian. Walaupun masalah jumlah postingan dan follower masih miris, masih bisa dihitung dengan jari.

Ngomong-ngomong tentang Instagram, sosial media wajib yang pasti dipunyai selain di aplikasi gadget. Perusahaan besutan Kevin Systrom dan Mike Krieger tak menyangka, di kemudian hari aplikasi buatan mereka jadi sangat digandrungi.  Itu terbukti di medio tahun 2012, raksasa teknologi Facebook mengakusisi perusahaan mereka seharga 1 Miliar US Dollar (ketiban rezeki nomplok mereka).

Baiklah.. begitulah  sepak terjang Instagram hingga bisa menjadi salah satu sosial media favorit terutama berbagi foto dan video pendek. Tampilannya yang minimalis, menjadikan sangat diminati walaupun sedikit banyak memakan kouta.

Instagram jadi salah satu media berbagi segala macam foto, dari foto selfie, bersama teman lama, di tempat fotogenik, panorama alam, hingga kadang foto dengan sekawanan Cheetah Afrika yang sedang kelaparan. Semua dilakukan salah satunya adalah untuk follower mendapatkan like sebanyak-banyaknya.

Apalagi banyak follower berkesempatan jadi endorse produk-produk terkemuka. Ini jadi gairah tersendiri bagi para pemilik akun yang punya banyak K (kelipatan seribu) atau bahkan M (jutaan).  Pemilik produk tak sungkan-sungkan menjadi endorse mereka, hmm.. sambil bergaya bisa menghasilkan pundi-pundi uang jajan.

Kadang begitu banyak cara dilakukan, apalagi punya banyak follower dan like jadi kebanggaan khususnya Instagramer. Cara-cara ngga benar dipakai, misalnya jasa beli follower. Tak apa fake yang penting rame, begitu tepatnya sehingga begitu mengagung-agungkan follower.

Hampir kebanyakan dari pengguna Instagram yang memiliki banyak follower semisal artis, akun joke-joke, Selebgram dan lain sebagainya. Yang paling sepi umumnya kebanyakan kaum jelek lagi ngga terkenal, saat ia posting fotonya malah cibiran yang datang dari pengguna jagat Instagram.

Media sosial membentuk sesuatu kelompok yang begitu dikagumi di jagatnya, mulai dari tindak tanduk kegiatannya yang di-upload menjadi sebuah viral walaupun hal tak penting.

Misalnya:
Wanita cantik capture: Baru bangun tidur, (penuh taik mata dan iler di mana-mana). Namun like yang didapatkan tembus puluhan ribu dan komentarnya bernada positif misalnya: Duh... tai mata imut-imut gitu. (ada-ada saja).

Sekarang contohnya diganti:
Orang jelek yang akunnya tidak dikunci. Akhirnya dapat pekerjaan (foto di Background kantor baru). Akan muncul tanggapan jelek misalnya: Hmm... paling kerja di sini jadi Satpam, dari wajahnya sih meyakinkan. *tutup akun*

Begitulah sosial media salah satunya Instagram yang lebih mengkhususnya gambar. Bila sosial media lain mungkin bisa berekspresi dengan tulisan, suara dan sebagainya. Makanya banyak orang-orang yang terpinggirkan dari Instagram lebih banyak beralih dengan foto panorama,  kegiatan sosial dan aktivitas lain yang buat dirinya kurang terekspos.

Memang nyatanya, hampir kebanyakan pengguna Instagram adalah wanita. Kebiasaan wanita dengan foto jadi sebuah cara mengekspresikan diri (selfie), bila lelaki yang melakukannya akan terlihat aneh dan ditinggalkan para follower. Semakin cantik si wanita, maka semakin banyak yang menfollow akunnya apalagi tidak digembok layaknya pagar rumah ditinggal mudik.

Harus diakui, tingkat rasis ini sebenarnya wajar karena umumnya wanita lebih suka mengekspresikan diri sedangkan kaum Adam lebih suka menikmati ekspresi tersebut. Hehehe!!

Baiklah, supaya tak terus-terusan jadi korban rasisme. Kaum yang tak berparas tampan dan terkenal bisa mengembangkan kreativitas yang dimiliki. Misalnya memposting kegiatan yang punya nilai edukasi, inspirasi dan imajinasi kepada orang lain. Walaupun tak mendapatkan like yang banyak, itu lebih baik dibandingkan dengan membeli follower hanya mencari ketenaran untuk semata.

Tak apa sedikit namun dikenal, dan tak mendapatkan komentar negatif dari orang yang tak dikenal. Di satu sisi jadi orang yang tak terlalu berpengaruh salah satunya di sosial media Instagram, namun sangat berpengaruh di dunia nyata.

Pesan terakhir, Ingat bro.... hidup bukan cuma di layar gadget.

Salam damai semuanya.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis