Minggu, 07 September 2014

Tipuan Masa Kecil, Ayo.. Siapa yang Pernah Mengalami?

tipuan masa kecil

Anak-anak, coba duduk yang rapi. Sebentar lagi akan datang perwakilan dari Coca Cola Company akan mencoba mempromosikan proses pembuatan Coca Cola yang benar ujar ibu guru.

Gue sedikit heran dan banyak bingung, kenapa bisa perusahaan hebat dari Benua Amerika mau jauh-jauh datang ke sekolah gue. Tapi apa lacur, gue senang karena sekolah gue bisa terpilih didatangi orang pilihan perusahaan.

Tapi hati gue berdegup kencang dan gue duduk lebih rapi dari biasanya sampai lupa bahwa gue duduk di pangkuan teman gue.

Wooi.. kenapa duduk di sini, pindah!!!
Hehehe, maaf *khilaf*

Dan gue saat itu masih bocah yang lugu pun sangat percaya segala ucapan yang disampaikan oleh orang yang mengaku dari pihak Coca Cola Company, dengan khidmat gue memperhatikan dan ngga mau ketinggalan apa yang dibilang oleh yang katanya karyawan Coca Cola yang keluar dari perusahaan.

Di akhir pertemuan si perwakilan yang mengaku sebagai pihak Coca Cola menyuruh beli produknya dengan harga yang cukup murah tapi lumayan mahal buat uang jajan anak sekolahan. Dan gue beli cukup banyak, katanya cukup tambahkan air dan an jadilah Coca-cola yang seperti yang dijual di pasaran.

Sesampai di rumah, gue mencoba meracik sesuai prosedur ngga taunya rasanya kayak limun biasa. Sial gue tertipu dan gue sudah ngabisin pasokan jajan seminggu dengan serbuk tak berguna, *nangis di bawah kolong meja makan*

Beberapa tahun kemudian internet mulai booming, itu ditandai dengan begitu banyak warnet yang menjamur mengalahkan rental PlayStation. Lalu gue searching tentang proses pembuatan Coca Cola hingga dengan segarnya menjadi minuman gaul.

Ngga taunya resep rahasianya dijaga dengan ketat di daerah Atlanta, Georgia. Penemunya ialah seorang ahli farmasi bernama John Pemberton. Niat melakukan riset terhadap zat pembersih kamar mandi, eh malah menemukan minuman berkarbonasi yang begitu digemari anak-anak gaul masa kini.

Di tahun sebelumnya sempat heboh KFC yang saat racikan tepung bumbu tak ada tandingannya. Dan gue sebagai bocah yang bodoh langsung percaya, apalagi di daerah saya dahulu belum ada retail KFC. Andai saja benar, gue bakalan buat KFC dan dalam sekejap bisa menyaingi usaha Kolonel Sanders.

Kenapa bocah gampang tertipu?
Ibarat pepatah, seperti merebut permen lolipop dari tangan bocah. Gampang banget bro, kecuali anak itu adalah keluarga besar Vladimir Putin.

Itulah kenapa banyak penjual yang melakukan modus kepada anak-anak terutama sekolah dasar dan makanan sehat banyak beredar di kalangan sekolah. Segala kepolosan dan keluguan itu jadi peluang banyak orang.
Bang batagornya 1 bungkus ya.. 
Baik dek, ini batagornya 
*keluarin duit 100.000
Terus ngga minta kembalian, hebat ya anak-anak.

Anak kecil jadi pangsa pasar karena mereka tidak melihat faktor siapa yang berjualan, sepi ataukah ramai. Prinsip sederhana mereka cuma satu, beli apa yang mereka rasa menarik.

Balik lagi ke persoalan kita, gue merenungkan berbagai hal-hal bego dan dengan kepolosan gue langsung saja percaya. Gue berasumsi bahwa: Masa kecil adalah masa belajar Tepat sekali, saat masih kecil begitu banyak hal-hal yang gampang banget kita percaya dan di masa itulah adalah masa belajar.

Banyak yang memanfaatkan keluguan dan kepolosan anak kecil sebagai ladang penipuan, seperti makanan yang di luar pagar sekolah yang banyak mengandung zat yang berbahaya namun sangat menarik minat anak-anak. Saat kita kecil, kita lebih suka melihat tampak luar yang menawan dibandingkan manfaat atau kandungan gizi yang terkandung di dalamnya.

Kenapa tipuan itu bisa berkembang?
Salah satunya kurang informasi dan anak kecil serta warga awam muda termakan isu yang berkembang, semenjak internet berkembang pesat hal seperti itu mulai bisa diredam. Saat beranjak dewasa barulah kita bisa menyaring hal yang ngga masuk akan dan masuk akal.

Misalnya saat gue menonton film Song Go Kong, dengan santainya dia ke mana-mana naik awan Kiton dan bisa terbang ke mana saja. Ada lagi yakni semua kebohongan dari tayangan Smack Down apalagi nilai entertaiment yang sangat menjual buat penggemarnya terutama anak-anak ikutan tergila-gila.

Nyatanya itu adalah sandiwara dari para pemainnya, offisial hingga penonton bayaran yang memenuhi tribun. Itulah kenapa tidak di tayangan secara langsung. Anak kecil sangat mempercayai apa yang ia lihat adalah benar walaupun itu salah, barulah di kemudian hari ia menyadari semua itu adalah sandiwara. Mengecewakan bukan.

Itulah kenapa fanatisme di usia anak-anak sangat kuat dan baru sedikit memudar melalui pengetahuan dan pengalaman. Makanya tak boleh ada pelarangan secara sepihak yang buat anak-anak malah semakin marah tetapi ajak yang buat mereka sedikit melunak dengan kepercayaan mereka.

Berbagai data fakta yang diberikan oleh orang yang lebih tua sulit diterima oleh anak-anak. Itulah kenapa banyak anak-anak yang menjadi korban untuk pasar barang-barang tak sehat dan murah. Tontonan tak bermutu jadi target untuk anak-anak yang masih labil dan sesuatu yang sebenarnya nan melalaikan.

Nah... segala bentuk tipuan itu sebenarnya baru disadari di kemudian hari. Selaku orang yang sudah dewasa, kita bisa mengingatkan para generasi di bawahnya jatuh ke lubang yang sama. Caranya dengan membimbing dan memberi tahu yang sangat digandrungi di masa kecil terlihat bukan sebenarnya.

Anak kecil sangat mudah menerima sesuatu secara terbuka, masalah benar atau salah adalah urusan belakang. Kemampuan penalaran dan logika mereka belum berkembang secara maksimal, apalagi perkembangan otak dan tumbuh kembang sedang menjejali pikiran mereka.

Dengan pemahaman yang diberikan oleh orang yang lebih tua, anak-anak tidak bertanya-tanya. Beri penjelasan yang masuk akal adalah cara jitu bagi anak kecil yang telah terkena tipuan-tipuan. Bukan melarangnya dengan keras, karena larangan malah buat mereka memberontak.

Sebagai penutup, semoga saja anak-anak kini tak jadi objek eksploitasi pasar dan media. Orang tua punya andil besar mengembalikan anak-anak tak kecewa di kemudian hari atas anggapan masa kecil. Itulah proses pendewasaan dan terpenting jangan lupa untuk bahagia.

Semoga memberi inspirasi!

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis