Selasa, 22 Desember 2015

7 Jasa-Jasa Ibu yang Begitu Luar Biasa


Mengingat di akhir bulan Desember tepatnya tanggal 22 Desember jadi perayaan khusus hari ibu. Banyak banget orang-orang terutama kaula muda tiba-tiba ganti foto profil dengan ibunda tercinta tapi tidak dengan ibu kost ataupun ibukota. Terlepas dari benar-benar sayang dengan ibunya atau biar terlihat eksis di sosial media, banyak banget jasa-jasa ibu yang ngga kita tahu.
Share:

Sabtu, 12 Desember 2015

Harbolnas, Antara Godaan Harga dan Kebutuhan

Teman gue dapat Iphone keluaran terbaru hanya modal 10.000 IDR 
Masak, kapan?
Waktu harbolnas!! 
Nyesal ngga ikutan.

Banyak yang masih bingung dan bertanya-tanya apa itu Harbolnas, kepanjangannya adalah hari belanja nasional. Sejak pertama sekali digagas di tahun 2012, animo masyarakat buat berbelanja online semakin lama semakin meningkat.
Share:

Kamis, 10 Desember 2015

Ayo Cari Tahu Definisi Gaptek Saat Ini

gaptek saat ini

Siapa di sini yang tak punya perangkat teknologi? Hampir semuanya dengan serentak menjawab punya. Pergeseran orang yang gaptek saat ini bukan orang yang tidak memiliki gadget, namun lebih kepada penggunaan sewajarnya dan seperlunya.

Banyak yang punya gadget canggih tapi hanya digunakan untuk hal yang tak perlu. Misalnya punya ponsel spesifikasi yang sangat tinggi dan mumpuni tapi hanya digunakan sekedar untuk sosial media, foto, mendengarkan musik dan searching internet.

Saya memperhatikan anggapan gaptek kini lebih kepada kecenderungan kemampuan user dalam memberdayakan teknologi yang ia pakai.  Teknologi yang setiap hari berkembang saat pesat membuat gaptek tak tahu mengoperasikan teknologi terasa hilang. Memang secara kasat mata menghilang namun sebenarnya tidak.

Sebelumnya saya mau menjelaskan tentang beberapa generasi yang masih hidup kini, saya membaginya dalam beberapa varian yakni X, Y, dan Z. Klasifikasi ini menjadi pembanding gaptek setiap generasi.

Kita mulai yang pertama yaitu dari generasi X, mereka ialah generasi saat teknologi gadget belum ada. Generasi ini sekarang kakek dan nenek kita yang sudah penuh dengan ubanan. Mereka tidak mengerti penggunaan teknologi bahkan tidak peduli dengan teknologi.

Sangat jarang atau bahkan tidak ada kita melihat orang tua renta yang sibuk ngecheck notifikasi sosial media. Di usia yang sudah senja yang paling penting minyak urut dan sandal rematik jangan hilang. Urusan teknologi mereka cuek karena terasa menyulitkan dan tak mau tahu.
Baca juga: Membaca, Mengapa Malasnya?
Selanjutnya ada generasi Y, mereka ini diisi oleh orang-orang yang lahir saat teknologi mulai dirintis dan berkembang. Di usia sekarang ini, walaupun tak terlalu senja mereka sedikit banyak paham dengan teknologi. Mereka umumnya datang dari kalangan generasi ayah dan ibu kita.

Mereka umumnya hanya mengenal teknologi hanya sekedarnya. Mengerti penggunaan berbagai gadget walaupun tak sepenuhnya paham tentang hal remeh-temeh. Golongan seperti ini sebenarnya bukan masuk generasi yang gaptek, segala kesibukan dan priorita lainnya buat teknologi tidak terlalu dipikirkan.

Sangat jarang generasi Y yang menjadi praktisi IT kecuali sejak mudanya bergelut ata hobi di bidang tersebut. Hal itu hanya bisa ditemui dari para CEO perusahaan teknologi besar dunia kini. Walaupun begitu generasi Y punya andil besar dalam kemajuan teknologi yang berkembang kini selaku pelopor.  Gagasan dari beberapa ahli teknologi dari generasi Y mampu dirasakan oleh generasi terakhir yakni generasi Z.

Terakhir adalah generasi Z, lahir dan dibesarkan dengan di kelilingi oleh teknologi gadget yang berkembang. Sudah pasti anggapan mereka sangat fasih teknologi. Hmm... jangan salah banyak sebenarnya mereka gaptek.

Saya pun mengamati dan berpendapat bahwa dominasi pengguna teknologi adalah generasi Z, tidak bisa dilakukan perbandingan apple to apple dari beda generasi. Kadang yang sudah sangat melek di generasi X atau generasi Y tidak bisa samakan dengan generasi Z. Mereka punya pemahaman sesuai kebutuhan.

Baiklah... kita kembali ke permasalahan gaptek lagi khususnya generasi Z. Mereka bersembunyi atau tak terlihat dengan serangkaian gadget yang digunakan. Punya gadget kelas satu namun segala bentuk penggunaan hanya sekedarnya. Sungguh disayangkan, apalagi gadget sudah bergeser ke gaya hidup bukan sekedar kebutuhan.

Ibarat membeli sebuah supercar, hanya buat mengaspal di jalanan macet. Andai si gadgetnya protes sambil berujar: jadi kenapa beli saya mahal-mahal tapi tidak dioptimalkan secara benar.

Di generasi Z pula gaptek berpengaruh pada gender, banyak dari yang gaptek dari kalangan wanita. Sifat mereka yang tak suka ambil ribet dan hanya memakai gadget sesuai yang diketahui menjadikan penyumbang gaptek.

Tapi jumlah penetrasi dan kebutuhan akan teknologi yang memudahkan segala keperluan. Kini kaum wanita mulai berbenah dan belajar mengejar ketertinggalan itu. Malah saat mereka diberikan peluang untuk belajar, kaum lelaki bisa disaingi dan bahkan ada yang lebih.

Sebenarnya bagaimana solusi agar gaptek bisa hilang?
Menurut hemat saya pribadi, semua tergantung bagi diri sendiri mau belajar dan tidak malu mengakui tingkat gapteknya. Andai terlalu sungkan membuka kekurangan itu kelak gaptek itu terus menghantui sampai kapan pun.

Bila terlalu risih buat belajar dengan orang lain, mulailah dengan tutorial yang berseliweran di internet. Tinggal mengikuti segala macam tutorial yang dimaksud, nah cara itu sangat jitu apabila tidak ada yang tahu saat diajak bertanya.

Perbanyak pula durasi dengan gadget yang kurang diketahui kegunaannya, walaupun sebenarnya itu ngga menjamin. Karena yang paling utama rasa ingin tahu dan saya ingin perkataan salah seorang dosen saat di bangku perkuliahan. Mau paham betul dengan laptop, hp dan gadget lain, perbanyak durasi penggunaan terutama berbagai fungsi. Kelak si gadget jadi ibarat teman, makin dipelajari maka makin banyak tahu segala triknya.

Sebagai penutup, di zaman kini yang paling utama adalah kemampuan melek teknologi. Tertinggal dan tidak melek teknologi jadi pukulan telak kita dalam ketertinggalan. Bukan berarti harus maniak atau pecinta gadget tapi cara pengoperasi yang terpenting.

Gadget yang dimiliki boleh murahan dan kelas dua tapi kemampuan penggunaan nomor satu bukan gadget elit dan kelas satu tapi sering bingung minta ampun.

Sekian dari saya, dadah sampai jumpa!

Share:

Minggu, 22 November 2015

Mengapa Banyak yang Memilih Melanjutkan Kuliah Lagi?

melanjutkan kuliah lagi
Sekarang lebih enak lanjut kuliah dibandingkan nyari kerja cuy, saingannya banyak. Jaman dahulu enakan kerja malah susah minta ampun buat sekolah.

Bukan hal yang asing anak muda paruh baya punya gelar magister dan mendengar bertitel doktor ngga kedengaran wah seperti dulu. Itu dikarenakan kuliah tak sesukar dahulu, pernah kalian mendengar orang tua dahulu untuk bisa mendapatkan gelar sarjana lebih dari 7 – 10 tahun. Sekarang sih juga masih ada sih, kaum mahasisa. Hehehe!
Share:

Minggu, 15 November 2015

Membaca, Kenapa Malasnya?

membaca, kenapa malasnya?

Kali ini saya sedikit membahas mengapa masyarakat kita sangat malas dalam membaca menurut sudut pandang saya. Padahal membaca ibarat jendela awal mengetahui dunia. Akibatnya banyak penulis dalam negeri malas ikut berkreasi, terlebih sedikitnya minat kalangan masyarakat dalam membaca.
Share:

Sabtu, 07 November 2015

8 Penyebab Kenapa Setelah Tamat Malah Nganggur?


Peristiwa bersejarah yang kamu rasakan setelah susah payah menyelesaikan berbagai mata kuliah rumit hingga yang deg-degan waktu nyusun skripsi. Skala penulisan skripsi dari hitungan bulan, tahun dan hingga ganti rektor berkali-kali. Sampai pada waktunya saat rektor dan dekan memberikan ijazah dan menggeserkan tali di topi toga dari kiri ke kanan.
Share:

Sabtu, 31 Oktober 2015

6 Tipe Penonton Sepak Bola Layar Kaca

6 Tipe Penonton Sepak Bola Layar Kaca
Siaran sepak bola kini ibarat kacang goreng renyah yang disukai oleh berbagai kalangan dari fans garis keras yang selalu setia nonton timnya kapan pun berlaga hingga fans yang gonta-ganti tim terutama saat pemain idolanya pindah klub atau tim yang dia dukung musim sebelumnya mengalami penurunan prestasi serta permainan lebih dikenal dengan fans karbitan. 

Share:

Selasa, 27 Oktober 2015

Milad Blogger Nasional, Bangganya Jadi Blogger

hari blogger nasional

Blogger Nasional bersuka cita setelah memiliki hari Milad, bertepatan dengan tanggal 27 Oktober 2007 terpilihlah sebagai Hari Blogger Nasional. Hasil cetusan dan inisiatif menteri pendidikan saat itu Bapak Muhammad Nuh.

Tingginya minat anak-anak muda dalam negeri menulis segala macam pengalaman di berbagai platform semisal Blogspot dan Wordpress serta platform lainnya menjadikan anak negeri punya potensi lebih di dunia tulis menulis di dunia maya.
Share:

Kamis, 08 Oktober 2015

Fisik Bukan Masalah, Terpenting Mental dan Keberanian

mental dan keberanian

Bombom bocah paling besar di antar temannya, selain besar ia juga paling kuat diantar temannya. Setiap temannya yang lemah selalu ia bully, paksa dengan cara merampas uang jajan, hingga memalak bocah lainnya. Bace adalah bocah berbada kecil nan kurus, hampir tanpa hari ia kena bully dan mematuhi peraturan Bombom lakukan.
Share:

Selasa, 22 September 2015

Belajar Sukses dari Fase Kegagalan

image by totallatitude
Mae adalah seorang profesor bidang ilmu matematika terapan. Para mahasiswa bimbingan skripsinya sedikit marah bercampur rasa kecewa karena sering disalahkan akibat tidak terlalu paham konsep yang beliau ajarkan. Menanggapi keluhan mahasiswanya Prof Mae pun menceritakan kisah kesulitan dan kegagalannya di masa lalu.

Saya lebih buruk dari kalian walaupun dulu tak bisa apa-apa, saya belajar dari kegagalan dan ketidakmampuan ujar beliau. Mahasiswa bimbingannya pun bingung kenapa beliau bisa sangat jenius di bidang ilmu yang dikuasai.

Share:

Rabu, 16 September 2015

Kamis, 03 September 2015

Pengagum Rahasia dan Deritanya

Pengagum rahasia

Hampir sebagian besar penyesalan yang paling besar adalah dari cinta terpendam tak pernah berhasil diutarakan dan berbalas. Sebatas pengagum rahasia.

Pernyataan di atas saat saya membacanya malah ikutan merasakan nyesek mendalam. Iya hampir semua dari kita punya cinta terpendam tapi ngga sempat atau berani diungkapkan. Semua penyesalan dan rasa ngenes bercampur aduk di dalam benak pikiran.  Saya menamai itu dengan istilah cinta tak berbalas dan sesosok pengagum rahasia.
Share:

Sabtu, 22 Agustus 2015

Netizen Kini, Ganasnya Minta Ampun

netizen kini

Siapa sih yang ngga suka mengikuti perkembangan informasi setiap hari. Berbagai jenis perangkat gadget makin memudahkan buat mengakses berita yang dimau. Dari gaya hidup, olahraga, politik, ekonomi, dan sama masalah hati.

Bila dulu di awal perkembangan gadget, mau mencari berita harus ke warnet dulu. Biaya operasionalnya mahalnya minta ampun, bisa-bisa uang jajan terkurang. Perangkat dahulu pun tak bisa portable, bentuknya begitu besar. Andai saja tak ada inovasi terhadap teknologi, wanita yang doyan selfie pakai ponsel bisa-bisa otot bisepnya besar akibat memangkul gadget sedemikian besar.

Kini gadget semakin multifungsi dan bentuknya begitu ramping, mudah dibawa ke mana saja. Segala kemudahan itu buat semua kalangan punya gadget dan salah satu fungsinya ialah mengikuti segala perkembangan informasi.

Melahirkan pengakses dan pengguna layanan internet, mereka semua bernama netizen. Kata itu lahir dari gabungan net (internet dan citizen yang berarti warga), jadi netizen ialah warga pengguna internet.

Awal mulanya netizen dicetus oleh Michael F. Hauben, selaku penulis dan pencetus internet. Di masa-masa itu internet mula berkembang, ia menganggap di masa depan setiap manusia akan saling terhubung satu sama lain melalui internet dan melahirkan generasi virtual tanpa terhalang jarak.

Membludaknya jumlah para penggunaan internet aktif, melahirkan generasi internet baru dan terus bertambah dengan sering waktu. Ini menjadikan wajah netizen penuh dengan anak-anak baru kemarin sore, meramaikan jagat maya.
Baca juga: Semua tentang Nomophobia
Saya pun memperhatikan dalam-dalam setiap komentar, kadang ada nilai tambah lebih dari berita, postingan dan segalanya yang mampir di Timeline setiap pengguna. Ada yang menghujat, mengecam, menghakimi dan ada yang memuji.

Saat di postingan ada yang menghujat sedang mayoritas memuji, si penghujat malah mendapatkan hal serupa atau sebaliknya. Netizen kini punya pihak pro dan kontra, saling membenarkan segala bentuk pendapatnya. Saling balas komentar sudah jadi bumbu sehari-hari, ini dunia internet jadi ngga usah takut ujar netizen cupu

Kadang saya juga pernah memperhatikan dan mencari tahu siapa dibalik tukang hujat di komentar atau yang menyebarkan berita hoax tanpa diproses lebih lanjut. Umumnya mereka masih berusia belia, bahkan saya pernah menemui si penghujat adalah anak sunat saja belum (belum dewasa).

Saya mau cerita, hobi saya yang sangat menyukai berita olahraga terutama sepak bola. Selain karena sepak bola punya basis penggemar yang begitu besar di tanah air. Saat saya membaca berita tentang klub kesebelasan favorit saya, selalu saja ada komentar sinis dan penuh dengki saat tim saya mendapatkan hasil positif, saat kalah negatif saja.

Akibatnya saya mencari tahu siapa orang yang sering berkomentar, mencari id dan namanya. Mengejutkannya adalah bocah kelas 2 SMP, wajahnya masih begitu polos. Mungkin dia pakai gadget orang tuanya untuk berkomentar. Hmm.. begitulah warga netizen kini.

Internet seakan membuat seseorang begitu ganas dengan kata-katanya, namun begitu cupu saat bertemu. Harimau di dunia maya, kucing di dunia nyata begitulah tepatnya. Bersembunyi dibalik keyboard gadgetnya masing-masing, istilah perang komentar di dunia maya jadi hal yang sering terjadi.

Saya mengharapkan bahwa netizen sedikit bisa mengontrol diri dengan menjaga ucapannya, tata krama dan juga menyebarkan berita yang tidak bisa dipastikan keabsahannya. Netizen bukan sekadar pengamat dan pelempar opini semata yang terjadi di publik, mereka bisa jadi pemberi solusi dan ide di sekitarnya.

Kebebasan setiap warga mengeluarkan pendapat sesuai dengan UUD 1945 pasal 28 ayat 1 dan 2. Ini membuktikan setiap pendapat warga negara didengarkan dengan seksama oleh pemangku kekuasaan. Bukan memperkeruh keadaan dan memprovokasi orang lain dan menganggap pendapat diri sendiri benar.

Marilah dengan ini kita sama-sama menjadi warga netizen yang saling menghormati orang lain. Jangan sampai karena komentar pedas netizen yang mengganggu, pihak yang dirugikan melaporkan ke pihak berwajib. Alhasil, karena iseng semata malah harus diinterogasi pihak berwajib.

Baiklah, itu saja pendapat saya tentang netizen dalam negeri. Bila ada pendapat dan pengalaman yang sama, silakan share di kolom komentar.
Semoga kita jadi warga netizen jempolan.

Share:

Rabu, 12 Agustus 2015

Selasa, 04 Agustus 2015

Jumat, 31 Juli 2015

Jumat, 17 Juli 2015

Tipikal Pengguna Path, Anda Masuk Tipe Mana?

path

Path kini sudah jadi sosial media baru yang digandrungi oleh kalangan anak-anak muda kekinian. Pamornya mengalahkan sejumlah sosial media yang lebih dahulu eksis, khususnya di Indonesia Path adalah terbesar di dunia.

Si pendirinya yakni Dave Morin meyakini aplikasi yang ia kembangkan berkembang begitu pesat terutama di Indonesia, apalagi kesan warga Indonesia yang suka berbagai foto dan gambar, tukas dirinya.

Kesan warna merah tua dari Path seakan buat penggunanya lapar batin buat pamer. Warna merah dan kuning punya kesan kuat baut pengguna ketagihan. Jangan heran kenapa begitu banyak warung makan tradisional dan fast food berlatar warna merah dan kuning. Efeknya makin betah dan lapar.

Berikut ini saya berbagi beberapa tipikal pengguna Path di tanah air yang makin hari jumlahnya bertambah pesat, berikut ulasannya:

1.    Berteman dengan Orang Asing
Di awal mula berdirinya, Path berinisiatif  hanya ada 150 orang teman atau kenalan, mereka beralasan kemampuan manusia mengingat orang lain hanya kini ditambah menjadi 500. Kesan eksklusif sepertinya pudar dari Path. Banyak yang mengeluh dan ada pula yang menanggapi hal positif itu bertambahnya pertemanan.

Efeknya terasa dengan banyak yang rela berteman dengan orang asing yang tidak dikenalnya. Risiko berteman dengan orang lain beragam, dari bisa dikuntit saat check in, diculik, percakapan dan gambar di screen shoot buat dimanfaatkan buat kepentingan pelaku.
Banyak yang sudah menjadi korban, apalagi orang asing tak mengenal anda sepenuhnya. Aib anda bisa disebar luaskan. Jadi hati-hatilah menerima orang asing yang kadang tidak bertanggung jawab.

2.    Rata-Rata Fitur Terkesan Pamer
Rata-rata fitur yang tertanam di dalam Path terkesan kentara pamer dari beberapa fitur yang tersedia seperti:

Geotagging,  pengguna bisa check in di tempat berkelas, walaupun sebatas menumpang lewat semata.

Upload Foto/Video, penggunanya bisa memamerkan segala sesuatu yang wah menurut dirinya.

Music/Book/Movie, pengguna bisa pamer segala macam musik, buku dan film keren sekalian sebagai bentuk pamer bahkan menjurus curhat. Semisal, lagi galau playing now-nya lagu-lagu sendu.

Sleep/Wake up, Pengguna bisa buktikan bahwa dirinya sudah tiduran saat bingung tak tahu mau postingan apa, serta Wake up buktikan dirinya seakan-akan dirinya masih hidup.

Semua fitur ini juga bersifat daily activities si pengguna. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Namun kesannya seperti pilih tebang, misalnya hanya check in di tempat mewah sedangkan di tempat biasa-biasa saja ngga.

Logo Path yang berawalan P seakan menegaskan Pamer dalam aplikasi ini dan pengguna terbesar datang dari kalangan Perempuan. Bukan berarti lelaki tidak ada, memang banyak tetapi tidak sebanyak moment yang wanita tampilkan. Dan semua juga kembali ke pribadi masing-masing menanggapi beragam sosial media yang ada.

3.    Pribadi Konsumtif
Secara ngga langsung Path membuat penggunanya mencari tempat-tempat baru, gambar-gambar baru dan berbagai bacaan/film/musik. Sebenarnya bagus, tetapi banyak yang terkesan dipaksakan dan menjurus ke arah konsumtif.

Misalnya mencari tempat makan baru dan memesan menu yang aneh, tujuannya hanya untuk pamer. Namun hanya dimakan sedikit saja. Kebayang ngga, saat orang lain kesusahan buat makan, ini malah dibuang-buang karena hanya sebagai objek moment di Path.

Sah-sah saja bila mampu, namun bagi yang secara finansial masih pas-pas, jangan terlalu memaksakan moment harus check in dan makan di tempat mewah. Nonton film yang kekinian walaupun kamu ngga suka. Sebaiknya jangan dipaksakan, hayoo.. nanti lama-kelamaan kewalahan.

4.    Menaikkan Level
Kebanyakan dari pengguna membuat akun Path untuk menaikkan taraf level kekiniannya, harus disadari itu. Beberapa seperti sejumlah fitur makin menunjang agar levelnya naik. Jarak sekali yang suka mendengarkan musik Now-Playing musik rendahan. Harus dari penyanyi papan atas tanah air dan luar negeri. Dirinya merasa level-nya mendadak meroket naik.

Banyak pengguna yang beranggapan, namun menurut saya pribadi. Semua media sosial semuanya sama tergantung kebutuhannya. Bila suka menulis kata-kata lebih suka beralih ke Facebook dan Twitter yang jelas terjamin. Suka gambar atau fotografi bisa memilih jalan di Instagram lebih intens di situ dan suka musik bisa di Soundcloud.

Mengapa harus Path?
Jelas karena banyak yang beranggapan bisa pamer dan merasa jadi dirinya naik. Apa kalian masuk tipe tersebut?

5.    Menampilkan Kebiasaan Sehari-Hari
Segala fitur yang ada di dalam Path bersifat aktivitas sehari-hari. Fitur yang hadir di dalam Path terkesan dengan fitur dari bangun tidur Wake up sampai dengan tidur Sleep. Dari aplikasi lagi nongkrong di mana check in, mendengarkan/nonton apa, membaca apa semua tertanam di Path.

Ngga jarak menjadikan semua kehidupan pribadinya di ekspos, seakan tak ada lagi rahasia. Manusia sebenarnya butuh privasi dan bila semuanya dipaparkan jelas di sosial media, jadi apa yang spesial?

Nah... itulah semua ulasan pengguna Path saat ini, semoga sosial media yang kita gunakan ngga membuat diri kita mengabaikan dunia nyata tempat manusia sebenarnya tinggal. Well.. itulah cerita yang saya sampaikan, bila kalian punya pengalaman bisa share di kolom komentar.
Semoga memberi pencerahan.
Share:

Sabtu, 11 Juli 2015

Mood yang Dirasakan oleh Fans Sepak Bola

fans sepak bola

Sepak bola sudah menjadikan rutinitas wajib nan dinanti oleh para pencintanya. Di saat ada jeda internasional atau libur musim panas dan dingin, dahaga menonton sepak bola terasa begitu membuncah.

Para kalangan suporter sepak bola beragam macamnya, dari suporter sejati kelas satu yang hidup dan tinggal di tempat klub itu bernaung hingga fans layar kaca nan jauh di sana yang gonta-ganti klub saat suatu klub performanya mengalami grafik yang sangat bagus.
Share:

Selasa, 30 Juni 2015

Ramadan Tiba, Inilah 7 Hal yang Spesial

ramadan tiba

Bulan puasa yang penuh akan rahmat pun tiba diawali dengan iklan sirup, obat kumur hingga sarung di TV tiap iklan. Kemudian barulah muncul menteri agama sambil buat konferensi pers bahwa hilal Bulan Ramadan telah datang, menteri agama paling cuman nongol waktu menentukan kapan awal Ramadan dan awal Bulan Syawal. 
Share:

Jumat, 26 Juni 2015

Gimana Berbuka yang Disarankan?


Bulan Ramadhan identik dengan puasa, sudah menjadi hal yang lumrah sahur dan berbuka jadi komponen penting dalam menjalankan ibadah puasa. Dalam berpuasa yang paling sering ditunggu-tunggu oleh orang yang berpuasa adalah waktu berbuka, karena waktu berbuka ngga bisa ditunda-tunda sedangkan sahur bisa ditunda asalkan tidak melewati waktu imsak. Selain itu berbuka di awal waktu selain disunahkan, juga bila di akhir waktu malah makanan berbuka bisa dicomot orang lain.
Berbukalah dengan yang manis, jangan berbuka dengan penjual makanan yang berparas manis
Saat berbuka begitu makanan yang dijual tapi saat sahur sangat terbatas itulah kenapa saat berbuka jadi waktu yang tepat banget buat membeli panganan berbuka yang lebih beragam.
Berbuka itu yang penting ala kadarnya, bukan berbuka malah melebihi takarannya
Kenapa ya.. sebelum berbuka ingin makan ini dan itu, namun setelah berbuka yang di depan saja ngga habis..? Sebelum berbuka banyak yang ingin dimakan, tapi selepas berbuka malah yang di depan mata saja tak habis dimakan. Itulah nafsu dan harus dilawan bukan dituruti terus-terusan karena bisa bikin kantong cekak.
Share:

Senin, 08 Juni 2015

Membanding-Bandingkan Adalah Kesalahan Besar

membanding-bandingkan adalah kesalahan besar

Wah..... itu abang anaknya teman mama sudah mapan dan dalam waktu dekat akan segera menggelar pernikahan. 
Itu anak tetangga yang satu kelas dengan abang sudah lanjut kuliah S2 sedangkan kuliah saja masih banyak ngulang. 
Kamu tampang cakep, tapi kok sampai saat ini ngga punya pacar? Mungkin jodohnya belum lahir!

Kumpulan dari sejumlah anggapan di atas pasti kalian serring alami di kehidupan nyata. Masa saat dibanding-bandingkan dengan pencapaian orang lain oleh orang terdekat. Itu ditambah lain perasaan membanding-bandingkan keberhasilan orang lain dengan diri pribadi. Itu sebuah kesalahan besar, apalagi keberhasilan orang lain membuat beban pada diri sendiri.

Andai saja tindakan itu dilakukan oleh kalangan terdekat dari keluarga, saudara, dan teman maka kamu yang melakukan tindakan ini secara ngga langsung sama dengan membully. Kebiasan membully bukan hanya kontak fisik tetapi sekedar sindiran halus atas segala pencapaian yang belum optimal tercapai oleh korban. Itu sangat berpengaruh dan mengganggu pencapaian yang ia jalanin walaupun belum memenuhi ekspektasi.

Bagi orang yang memberikan nasihat, memberikan perbandingan orang yang selangkah lebih mau bisa jadi nasehat yang manjur. Akan tetapi bagi yang menerima nasihat tersebut akan merasa jatuh semangat, minder, frustasi dan kadang menyerah sebelum tujuan.

Tanpa disadari dari niatnya menasehati tanpa solusi, bentuk candaan dan mengarah bully akibatnya malah jadi dendam bagi korban. Ia seakan-akan menjadi orang yang bersalah akibat pencapaian yang belum sesuai harapan. Apalagi itu berlangsung terus-menerus, pasti jengah dan kadang berefek fatal.

Dibandingkan dengan orang lain termasuk bully kah?
Iya.. secara tidak langsung itu berefek ngga baik bagi yang menerimanya apalagi berulang kali dan sifatnya ejekan persuasif. Dan apalagi secara terus-terusan membandingkan apa yang kita alami dengan orang lain lebih ngga sehat. Niat awal sebagai pelecut agar mampu selevel dengan yang kita bandingkan.

Apakah itu berupa prestasi, kesuksesan, pangkat hingga harta. Namun bila bertolak belakang atau pun gagal, kamu malah depresi. Kebanyakan mimpi terlalu besar tapi kecil dalam usaha sama saja gagal dan berujung depresi berat.

Jadi apa yang bisa dilakukan?
Terpenting adalah menghargai pencapaian kecil setiap orang lakukan, walaupun belum optimal karena ia sedang berusaha. Toh selama berada di jalan yang benar, bukan hal yang salah. Namanya saja sebuah proses dan menghargai kerja keras serta proses bukan melihat hasil yang telah orang lain raih.

Ibarat sebuah fenomena gunung es, jelas saja yang ingin dilihat adalah yang tampak saja dan mengabaikan tak tampak termasuk keberhasilan orang lain raih. Seperti itu pula yang sedang dibangun oleh yang kini sedang dibullly. Ia bak ibarat sedang membangun gunung es terbawah yang tak tampak ke permukaan air.

Cara terbaik adalah memberikan motivasi terbaik dan memberi akses (cara) menggapainya. Semua pencapaian membutuhkan orang terdekat dalam mendukung. Saat itulah jadi cara terbaik mencapai tujuannya dan bahkan melebihi orang yang dibanding-bandingkan terlebih dahulu.

So... bila kalian sering melakukan tindakan bully, ganti dengan cara seperti ini. Jangan sampai hubungan kekerabatan rusak karena bully-an membanding-bandingkan, tetapi dipupuk dengan saling memotivasi dan mengingatkan.

Sebagai penutup, semoga tulisan ini memberikan secerah inspirasi. Sampai berjumpa di tulisan lainnya.
Share:

Minggu, 31 Mei 2015

7 Moment Nyeselin Saat Nonbar

Penonton di belakang cuman keliatan rumput doang
Sepak bola kini sudah menjadi industri yang paling menghibur terutama sebagai tontonan yang menyajikan duel berbagai tim-tim top berasal dari Benua Eropa atau pun negara-negara yang punya reputasi tinggi di bidang sepak bola. Sekarang sepak bola ngga mengenal lagi berbagai waktu mainnya terutama yang sifatnya saat ini sebagai hiburan, apa itu akhir pekan, tengah pekan atau pagi, siang dan malam, atau yang live atau tayangan ulang. Tinggal nyari aja mana yang mau ditonton.
Share:

Jumat, 15 Mei 2015

Sabtu, 09 Mei 2015

Sabtu, 25 April 2015

Mengapa Teori dan Praktek Harus Berimbang?

Mengapa Teori dan Praktek Harus Berimbang?

Begini cara menutup serangan dari sayap seperti ini dan serang counter attack bisa dipatahkan oleh gelandang box to box yang rapi. Di jamin serangan lawan bisa diredam dengan mudah. Gue sangat jago apalagi di dunia Football Manager dan sepak bola sudah seperti jadi jiwa di dalam diriku ujar Bace.
Wah... kebetulan besok ada anak kampung sebelah mengajak bertanding ke lapangan esok. Ikutan ya!! kebetulan kurang pemain, apalagi kamu jago taktik. Cocok buat menaklukkan mereka. 
Hmm.... baiklah, apalagi kalian memaksa. Dengan agar keberatan Bace mengiyakan ajakan tersebut.
Pertandingan berlangsung dan tim lawan mulai menyerang habis-habisan. Segala skema yang terjadi persis dengan yang biasa bicarakan dengan teman-temannya. Alhasil, itu hanya teori belaka. Bace yang beroperasi sebagai center back di jantung pertahanan kelabakan.

Ia sering salah posisi dan kadang tak menarik offside lawan dan terlalu lama memegang bola. Hasilnya tim lawan membantai timnya dan mereka harus bayar lapangan serta air. Menyedihkan bukan!!

Teman-teman Bace kecewa berat karena ini terlalu menganalogikan dengan teori tapi minim praktek. Bace menginginkan mereka bermain layaknya pemain di video game, sedangkan mereka adalah kumpulan anak kampung minim waktu berlatih.

Fenomena seperti ini sering terjadi dan kadang merugikan terutama sekali ia mengandalkan teori semata. Mengetahui cara menendang bola, mengoper bola, dan teknik lain hanya melihat tayangan. Sedangkan bermain sebenarnya sangat jarang dan bahkan tak ada.

Mengandalkan praktek saja juga tak kalah celaka. Bermain sepak bola tanpa teori dan taktik terlihat seperti sekumpulan orang-orang bodoh yang gampang dieksploitasi oleh lawan. Mereka akan menguras fisik para pendewa praktek hingga lelah, dan saat itulah mereka mencetak gol.

Semua itu perlu keseimbangan
Saya pribadi sangat menyukai keseimbangan, karena cara itu berbeda. Dunia video game terlihat tidak nyata dan mereka hanyalah pemain-pemain buatan yang bisa dipacu kapan saja. Sedangkan di dunia nyata banyak faktor yang berpengaruh, apalagi manusia yang menjadi objek. Fisik juga jadi faktor penentuan besar hasil di lapangan, bukan speed yang bisa diedit seperti di dunia game.

Karena itulah yang sering sekali salah satu pihak mendewakan kemampuannya masing-masing. Contoh lain yang saya saksikan adalah masyarakat dengan kaum akademisi. Masyarakat yang kaya praktek dan pengalaman melawan para akademisi bertumpuk dengan teori.

Mereka bersaing siapa yang paling baik dan berpegang teguh kepada setiap prinsip yang dianut. Alhasil keduanya gagal untuk berkembang, satu pihak jalan di tempat dan satu pihak lagi terfokus dengan teorinya. Bukannya saling salah menyalahkan atau menganggap lemah, tetapi menutupi kelemahan untuk sebuah tujuan.

Seandainya mereka mau berkolaborasi dan bekerja sama dengan tujuan ke depan, hasilnya akan berbeda jauh. Pengalaman dari masyarakat yang ahli di bidang tersebut berkolaborasi dengan akademisi yang punya sejumlah ide brilian menghasilkan mahakarya luar biasa. Itulah kekuatan besar dari keseimbangan dan jangan pernah ragu namun bersatu, karena teori + praktik adalah cara terbaik.

Semoga menginspirasi.
Share:

Senin, 13 April 2015

Benarkah Gym Sarang Para Homo?

gym

Begitu banyak anggapan yang mengatakan dan menganggap bahwa Gym adalah sarang para homo, maraknya kasus kaum LBGT yang menyeruak hingga menyeret nama Gym sebagai tempat para penyimpang itu sering mangkal.

Anggapan buruk yang mengatakan bahwa lelaki yang memiliki badan atletis dan banyak menghabiskan waktu di tempat gm adalah calon-calon pecinta sejenis. Anggapan itu semakin berdasar karena banyak orang mapan sangat identik dengan perut buncit sedangkan yang berbadan atletis adalah orang-orang berkantong tipis. *Anggapan keliru*

Di sini saya mau membahas dalam konteks tempat bukan pribadi. Seperti yang kita ketahui semua, bahwa Gym ialah tempat kebugaran di dalam ruangan (Indoor). Mengingat terbatasnya ruang bebas (Outdoor) dan sedikitnya waktu olahraga terutama buat masyarakat urban, Gym jadi tempat yang sesuai buat mengeluarkan keringat.

Hal itu dianggap sebuah pikiran yang picik, berarti atlet ataukah aktor ternama yang terlalu lama di tempat Gym adalah para kaum itu?

Ini seperti tuduhan sepihak, yang membuat orang malas untuk ke tempat olahraga walaupun olahraga tak harus pergi ke tempat kebugaran. Budaya Gym yang saling membantu satu sama lain terutama partner yang kesulitan dalam berlatih sering dianggap salah kaprah.

Bagi yang tak bisa sering menganggap hal yang janggal, dari situ anggap buruk tersebar. Apalagi banyak pria berbadan atletis yang kerjanya foto-foto Selfie dengan tubuhnya. Padahal itu kembali ke pribadi masing-masing.

Tidak semua orang suka narsis dan yang narsis tergantung cara mengapresiasikan diri. Saya pribadi yang tidak suka narsis bahkan tak tertarik mengapresiasikan diri dengan memfoto diri sendiri (Selfie). Sebagai lelaki, Selfie terlalu sering bisa buat dirinya terlihat aneh dan dianggap macam-macam termasuk hasil latihannya di tempat Gym.


Memang olahraga tidak hanya di tempat Gym, banyak Spot yang bisa digunakan terutama warga perkotaan untuk mengeluarkan keringat. Namun, tempat gym bisa jadi menawarkan segala macam olahraga pengeluar keringat dan pikiran sehat.

Nilai sehat sangat berharga dan banyak kalangan yang menganggap negatif Gym, terutama kaum yang malas olahraga. Salah satunya dengan men-cap tempat Gym dengan tempat kaum Maho (Manusia Homo).

Akibatnya muncul kecurigaan bagi yang ingin dan bergabung ke tempat gym, terutama yang ingin mendapatkan tubuh yang diinginkan. Cerita-cerita yang digaungkan oleh omongan orang lain yang belum pernah ke tempat gym. Alhasil, cerita berantai dan membuat para newbie ketakutan dan was-was.

Muncul rasa takut berlebihan dan saat melihat ada anggota Gym yang tiba-tiba berlaku baik walaupun belum dikenal. Langsung dianggap bahwa kaum homo, padahal bisa jadi dia mau menawarkan gabung MLM pelatihan latihan yang benar. Pengaruh dan pelabelan itu merusak citra Gym sebagai pusat kebugaran bukan pusat nongkrong kaum homo.

Selain itu adalah ketakutan tersebut buat anggota baru menjadi risih saat masuk ke tempat Gym. Anggapan para newbie terutama anggota lama yang cenderung buang-buang waktu, memikirkan tubuh sendiri dan saat ada yang menyapa apa karena benar-benar baik atau ada maksud lainnya.  Sebaiklah berpikir positif dan melihat secara jelas, bukan asal percaya setiap omongan semata.

Dugaan yang buruk itu pulalah yang merusak citra tak hanya anggota Gym tetapi juga para karyawan yang mencari nafkah di situ. Pandangan seperti itu yang harus diubah, apalagi kita lebih sering melihat dari sisi buruk tanpa bertanya dan memastikan terlebih dahulu kebenarannya. Harus diingat, Gym diisi oleh berbagai kalangan (termasuk wanita) dan status pekerjaan. Apalagi Gym sudah dianggap sebagai gaya hidup orang perkotaan

So... Gym tak benar dianggap sebagai sarang homo. GYM tempat kebugaran alternatif di saat sempitnya waktu berolahraga di tengah kesibukan yang menggunung. Paling utama itu pikiran sehat dan badan bugar dan Gym salah satu pemberi solusi kebugaran bukan tempat yang dianggap tak benar oleh kalangan malas olahraga.

Bila kalian punya cerita tentang tempat Gym dan pengalaman menarik, bisa sharing di kolom komentar.

Salam damai semuanya.
Share:

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis

Kumpulan Tulisan