Selasa, 13 Januari 2015

6 Animo yang Dirasakan Saat Demam Batu


Kegilaan akan batu cincin merambah ke mana-mana, semua kalangan seperti mengalami euforia yang luar biasa. Yang tak pernah menyukai batu cincin, malah mencoba mencari tahu khasiatnya. Sedang yang dulunya lumayan suka, sekarang giliran tambah gila. Semua tangan dipenuhi batu cincin. Bikin tangan susah digenggam.
Fenomena ini buat setiap orang ramai-ramai mengoleksi berbagai jenis batu saya sedikit heran mengapa demam batu bisa merambah dengan begitu cepat. Apakah karena media yang menyebarkan, penjual batu atau sebuah euforia sejenak?

Batu cincin kini telah dianggap sebagai gaya hidup, semua kalangan terutama sekali kaum adam terlihat begitu sulit menggenggam tangannya. Atau saat berbicara dengan lawan bicara selalu seakan-akan menggosok batu cincinnya ke pakaian, biar kemilau si batu bisa ke mana-mana.

Saya mau melansir beberapa keanehan yang terjadi dari animo batu cincin yang meledak di mana-mana, tak hanya di depan emperan pertokoan orang saat malam hari. Apa sajakah itu, cekidot:

1.       Tak Ketinggalan Zaman
Trend satu batu cincin minimal untuk satu jiwa sepertinya sangat begitu melekat, semua ikutan menghiasi tangannya dengan batu alam khas suatu daerah.
Khasiat dari batu ini bisa menghilangkan penyakit, bisa jauh dari mara bahaya hingga sebagai anti petir. Waduh gila bener!!!

Macam-macam pedagang dalam menjajakan dagangannya kepada pembeli dengan kata-kata manis. Akibat euforia itu masyarakat semakin terpacu untuk minimal membeli batu. Apakah berbentuk batu telah lengkap beserta dengan gagang cincin, batu  terpisah dengan gagang cincin dan yang masih dalam bentuk bongkahan. Batu cincin sudah menjadi kiblat gaya hidup modern. Pembicaraan tak pernah jauh dari analisis berbagai jenis batu.
Ini batu cincin dapat di dalam 20 meter di dalam tanah dan bila dijual harga hingga ratusan juta.
Ini batu didapat  dalam di dalam inti bumi, langsung saya ambil melawan panasnya suhu bumi.

Ada-ada saja, pembicaraan batu mengalahkan semua pembicaraan hangat lain. Itulah euforia. Setelah itu semua kalangan ikut serta, orang dewasa, anak muda, orang tua hingga balita punya cincin. Gimana, kamu punya cincin apa ngga? Bila ngga ada, segera beli biar kekinian.

2.      Barang Koleksi
Animo masyarakat dan pencari batu cincin menjadi kesempatan menarik bagi para kolektor batu sebagai ladang mengoleksi berbagai jenis batu. Kolektor tak perlu susah payah mencari batu yang ia inginkan, mengingat animo masyarakat yang tinggi membuat batu yang dulunya cukup langka malah dengan mudah didapatkan. Walaupun dengan harga yang sedikit relatif tinggi tak menyurutkan kolektor batu menjalankan niatnya.

Kolektor batu sangat paham akan nilai estetika yang terkandung di dalam batu yang ia koleksi. Buat yang masih level ikut-ikutan sebaiknya jangan mengikuti jalan yang ditempuh oleh para kolektor. Selain butuh budget yang besar, jadi kolektor batu bukan sekedar euforia tetapi hobi yang telah lama digeluti.

3.      Pamer
Seperti logo PATH yang artinya Pamer adalah tuntutan hidup, itu sangat berlaku dalam memamerkan moment-moment terbaik. Salah satunya memamerkan batu cincin yang ia miliki melalui akun jejaring sosial. Walaupun kesannya ria tetapi punya koleksi batu ternama bikin banyak yang jadi iri hati. Dapat dari mana dia, ujar dalam hati mereka yang mengomentari.

Di kehidupan sehari hari, demam batu cincin ditandai dengan semua jari tangan penuh dengan koleksi batu alam. Saya merasakan sekali saat salat Jumat, mata saya bukan fokus ke khatib di atas mimbar. Tetapi fokus kepada batu cincin yang dikenakan hampir semua jemaah khusus kaum bapak-bapak. Sesekali mereka menggosokkan batu cincinnya ke sarung.

4.      Menaikkan Strata
Batu cincin kini jadi strata hidup baik dari kalangan penggemar atau sekedar ikut-ikutan. Semua larut dalam euforia. Kenaikan kelas semakin terasa saat punya batu cincin paling langka. Sedangkan kalangan yang biasa-biasa saja minimal batu kelereng sudah lebih dari cukup.

Strata kelas yang mencolok ini semakin jelas dari gaya berjalannya, sesekali memperlihatkan batu cincin. Saat kumpul-kumpul, sesekali mengetuk-ngetuk meja dengan cincin. Sebuah kode, hayo!!! siapa dari kalian yang termasuk melakukan kebiasaan seperti itu.

Kehebohan batu mengalahkan harga emas yang dari dulunya sudah mahal. Bahkan ada pasangan yang nekat melamar pujaan hatinya bermodalkan modal batu giok atau batu akik level premium. Gimana ladies, mau ngga dibayar pakai bongkahan batu bukan dengan perhiasan emas?

5.      Menjalankan Bisnis
Menjanjikannya bisnis yang ditawarkan oleh bisnis batu melahirkan berbagai lahan pekerjaan yang sangat menjanjikan. Dari pengepul batu yang rela naik dan turun gunung mencari batu, penyenter batu untuk melihat kualitas batu, pengasah baru untuk menghasilkan batu yang berkualitas hingga penjual batu di pertokoan sebagai penjual retail utama. Pengangguran yang dulunya tak punya pekerjaan bisa sedikit terselamatkan dengan menjadi sukarelawan mencari batu.
Mendaki gunung lewati lembah tak terasa lelah hanya untuk kau wahai batu sebongkah
Demam batu berlanjut dengan usaha nekat ini, awal mulanya hanya di emperan pertokoan orang kala malam. Kini merambah ke pertokoan kelas wahid. Hingga Go National. Batu jadi bisnis yang sangat ramai, walaupun hanya sekedar melihat-lihat tetapi animo masyarakat sangat besar.

6.      Ganjalan
Animo yang begitu besar membuat begitu banyak orang yang kalap dalam membeli dengan harga yang menjulang. Alih-alih untung didapat, rugi malah didapat. Hal ini sering terjadi terutama membeli batu dalam bentuk bongkahan utuh. Merasa akan untung besar bila diasah kelak dan dijual dengan harga tak kalah tinggi. Kebalikan malah menimpa, hasil asahan tak sempurna dan bongkahan batu lebih cocok ganjalan tepatnya.

Apa boleh buat, dijual tak ada harga, dikasih orang ngga ada yang mau menerima. Cara terbaik sebagai ganjalan pintu di waktu angin masuk ke rumah. Lumayan bukan minimal tak payah mencari batu bata sebagai ganjalan #Yaelah

Semoga saja demam batu yang melanda buka euforia semata seperti hal-hal sebelumnya. Sangat heboh tak menentu, kemudian meredup tak tahu lagi bagaimana kabarnya. Jangan sampai batu berharga jutaan, saat animo lewat sangking tak lakunya. Di taruh di teras langsung dianggap tai kambing.

Baiklah itu saja, pencerahan yang saya berikan semoga dengan ini kurang-kurangi memakai batu cincin melebihi kouta jari tangan anda. Sekian dan saya mohon pamit, ciao!!!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis