Sabtu, 14 Februari 2015

Ikut-Ikutan? Boleh Saja Asalkan Mau Serius dan Konsisten

ikut-ikutan

Bace menjadi jadi seorang juragan Play Station ternama di daerah dekat kampus. Saat teman-temannya sibuk dengan bermain-main seperti anak kuliahan lainnya, Bace harus duduk di tokonya, menjaga pelanggannya datang.
Masa kuliahnya banyak ia habiskan dengan mengembangkan bisnis nekatnya bersama sahabat dekatnya. Bermodal uang pribadi, ia ingin mengembangkan Play Stationnya hingga berjaya. Saat teman-temannya tamat kuliah dan mereka sibuk mencari pekerjaan.

Bace bertolak belakang, kerja kerasnya beberapa tahun terbayar tuntas. Kurang tidur dan kadang tidak masuk kuliah karena semalam suntuk terbayar sudah. Bisnis Play Stationnya berkembang dengan pesat dan memiliki cabang di mana-mana.

Penggila PS saat ingin adu sparing langsung ingat rental PS milik Bace, kerja kerasnya terbayar tuntas. Sekarang ia hanya sebagai juragan yang kerjanya menarik uang hasil pemasukan PS. Bukan lagi ia yang menjaganya karena banyak pegawai yang berhasil direkrut.

Melihat kesuksesan yang berhasil orang lain torehkan pasti siapa saja yang melihat pasti ikut tergiur mencoba hal yang serupa khususnya bisnis yang sama. Iya... siapa sih yang tidak senang saat orang terdekatnya sukses dengan caranya sendiri. Secara tak sadar, orang terdekat ingin tahu segala hal mengenai proses sukses. Mereka mulai menjadi pengikut akan temannya sukses.

Semua sah-sah saja, malah temannya yang sukses tanpa ragu membagikan tips-tips agar temannya bisa sesuai dengan pencapaiannya. Namun beberapa orang yang ikut-ikutan tersebut menyerah di tengah jalan dan banyak dari mereka bergumam:

Ah... seperti hanya dirimu yang bisa dan mampu, kami tak ditakdirkan ke situ.

Hidup ini seperti paradoks akan gunung es, banyak yang melihat akan kesuksesan orang lain raih hanya sebuah keberuntungan. Tak banyak melihat saat proses menuju sukses, akibatnya saat melihat sukses yang didapatkan orang lain tergiur.

Ada beberapa siklus yang akan dirasakan oleh tukang ikut-ikutan: 
Tergiur akan kesuksesan orang lain > Mencari tahu > Mencoba > Menyerah di tengah jalan > Beralasan bahwa itu bukan jalannya.

Nah.. pada fase terakhir banyak beralasan bahwa temannya beruntung akan yang telah dijalani selama ini, miris bukan. Sebelum mulai ikut-ikutan ada baiknya serius akan yang diikuti.

Begitu banyak yang gagal hanya karena tak tahu apa yang harus diperjuangkan, akibatnya harus berhenti di tengah jalan. Sungguh kasihan bukan, ia ibarat membuang waktu, dana dan tenaga untuk hal tak dijalani dengan serius.

Sebagai contoh dari si Bace tadi, ia merasa yang ia jalankan sangat serius dan konsisten tanpa henti. Kadang ia rela tidak tidur atau kadang harus kesulitan saat stick yang harga mahal harus rusak. Belum lagi listrik yang sering padam dan hal lainnya.

Banyak yang mengabaikan proses berat itu, makanya ikut-ikutan itu wajar asalkan mau berusaha lebih. Kerja keras tak akan mengkhianati hasil, andai hanya ikut-ikutan cuma nihil yang didapat.

Cobalah siklusnya diubah jadi seperti ini: 
Tergiur akan kesuksesan orang lain > Mencari tahu segala kendalanya > Terus mencoba walaupun banyak gagalnya > Mendapatkan hasil dari kerja keras. 

So... pembelajaran yang dapat dipetik dari kisah sederhana ini:  jangan pernah mau ikut-ikutan tanpa mau berjuang lebih. Karena nantinya hanya sia-sia semata yang didapat.

Semoga memberi inspirasi untuk semua, Ciao!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis