Sabtu, 25 April 2015

Mengapa Teori dan Praktek Harus Berimbang?

Mengapa Teori dan Praktek Harus Berimbang?

Begini cara menutup serangan dari sayap seperti ini dan serang counter attack bisa dipatahkan oleh gelandang box to box yang rapi. Di jamin serangan lawan bisa diredam dengan mudah. Gue sangat jago apalagi di dunia Football Manager dan sepak bola sudah seperti jadi jiwa di dalam diriku ujar Bace.
Wah... kebetulan besok ada anak kampung sebelah mengajak bertanding ke lapangan esok. Ikutan ya!! kebetulan kurang pemain, apalagi kamu jago taktik. Cocok buat menaklukkan mereka. 
Hmm.... baiklah, apalagi kalian memaksa. Dengan agar keberatan Bace mengiyakan ajakan tersebut.
Pertandingan berlangsung dan tim lawan mulai menyerang habis-habisan. Segala skema yang terjadi persis dengan yang biasa bicarakan dengan teman-temannya. Alhasil, itu hanya teori belaka. Bace yang beroperasi sebagai center back di jantung pertahanan kelabakan.

Ia sering salah posisi dan kadang tak menarik offside lawan dan terlalu lama memegang bola. Hasilnya tim lawan membantai timnya dan mereka harus bayar lapangan serta air. Menyedihkan bukan!!

Teman-teman Bace kecewa berat karena ini terlalu menganalogikan dengan teori tapi minim praktek. Bace menginginkan mereka bermain layaknya pemain di video game, sedangkan mereka adalah kumpulan anak kampung minim waktu berlatih.

Fenomena seperti ini sering terjadi dan kadang merugikan terutama sekali ia mengandalkan teori semata. Mengetahui cara menendang bola, mengoper bola, dan teknik lain hanya melihat tayangan. Sedangkan bermain sebenarnya sangat jarang dan bahkan tak ada.

Mengandalkan praktek saja juga tak kalah celaka. Bermain sepak bola tanpa teori dan taktik terlihat seperti sekumpulan orang-orang bodoh yang gampang dieksploitasi oleh lawan. Mereka akan menguras fisik para pendewa praktek hingga lelah, dan saat itulah mereka mencetak gol.

Semua itu perlu keseimbangan
Saya pribadi sangat menyukai keseimbangan, karena cara itu berbeda. Dunia video game terlihat tidak nyata dan mereka hanyalah pemain-pemain buatan yang bisa dipacu kapan saja. Sedangkan di dunia nyata banyak faktor yang berpengaruh, apalagi manusia yang menjadi objek. Fisik juga jadi faktor penentuan besar hasil di lapangan, bukan speed yang bisa diedit seperti di dunia game.

Karena itulah yang sering sekali salah satu pihak mendewakan kemampuannya masing-masing. Contoh lain yang saya saksikan adalah masyarakat dengan kaum akademisi. Masyarakat yang kaya praktek dan pengalaman melawan para akademisi bertumpuk dengan teori.

Mereka bersaing siapa yang paling baik dan berpegang teguh kepada setiap prinsip yang dianut. Alhasil keduanya gagal untuk berkembang, satu pihak jalan di tempat dan satu pihak lagi terfokus dengan teorinya. Bukannya saling salah menyalahkan atau menganggap lemah, tetapi menutupi kelemahan untuk sebuah tujuan.

Seandainya mereka mau berkolaborasi dan bekerja sama dengan tujuan ke depan, hasilnya akan berbeda jauh. Pengalaman dari masyarakat yang ahli di bidang tersebut berkolaborasi dengan akademisi yang punya sejumlah ide brilian menghasilkan mahakarya luar biasa. Itulah kekuatan besar dari keseimbangan dan jangan pernah ragu namun bersatu, karena teori + praktik adalah cara terbaik.

Semoga menginspirasi.
Share:

Senin, 13 April 2015

Benarkah Gym Sarang Para Homo?

gym

Begitu banyak anggapan yang mengatakan dan menganggap bahwa Gym adalah sarang para homo, maraknya kasus kaum LBGT yang menyeruak hingga menyeret nama Gym sebagai tempat para penyimpang itu sering mangkal.

Anggapan buruk yang mengatakan bahwa lelaki yang memiliki badan atletis dan banyak menghabiskan waktu di tempat gm adalah calon-calon pecinta sejenis. Anggapan itu semakin berdasar karena banyak orang mapan sangat identik dengan perut buncit sedangkan yang berbadan atletis adalah orang-orang berkantong tipis. *Anggapan keliru*

Di sini saya mau membahas dalam konteks tempat bukan pribadi. Seperti yang kita ketahui semua, bahwa Gym ialah tempat kebugaran di dalam ruangan (Indoor). Mengingat terbatasnya ruang bebas (Outdoor) dan sedikitnya waktu olahraga terutama buat masyarakat urban, Gym jadi tempat yang sesuai buat mengeluarkan keringat.

Hal itu dianggap sebuah pikiran yang picik, berarti atlet ataukah aktor ternama yang terlalu lama di tempat Gym adalah para kaum itu?

Ini seperti tuduhan sepihak, yang membuat orang malas untuk ke tempat olahraga walaupun olahraga tak harus pergi ke tempat kebugaran. Budaya Gym yang saling membantu satu sama lain terutama partner yang kesulitan dalam berlatih sering dianggap salah kaprah.

Bagi yang tak bisa sering menganggap hal yang janggal, dari situ anggap buruk tersebar. Apalagi banyak pria berbadan atletis yang kerjanya foto-foto Selfie dengan tubuhnya. Padahal itu kembali ke pribadi masing-masing.

Tidak semua orang suka narsis dan yang narsis tergantung cara mengapresiasikan diri. Saya pribadi yang tidak suka narsis bahkan tak tertarik mengapresiasikan diri dengan memfoto diri sendiri (Selfie). Sebagai lelaki, Selfie terlalu sering bisa buat dirinya terlihat aneh dan dianggap macam-macam termasuk hasil latihannya di tempat Gym.


Memang olahraga tidak hanya di tempat Gym, banyak Spot yang bisa digunakan terutama warga perkotaan untuk mengeluarkan keringat. Namun, tempat gym bisa jadi menawarkan segala macam olahraga pengeluar keringat dan pikiran sehat.

Nilai sehat sangat berharga dan banyak kalangan yang menganggap negatif Gym, terutama kaum yang malas olahraga. Salah satunya dengan men-cap tempat Gym dengan tempat kaum Maho (Manusia Homo).

Akibatnya muncul kecurigaan bagi yang ingin dan bergabung ke tempat gym, terutama yang ingin mendapatkan tubuh yang diinginkan. Cerita-cerita yang digaungkan oleh omongan orang lain yang belum pernah ke tempat gym. Alhasil, cerita berantai dan membuat para newbie ketakutan dan was-was.

Muncul rasa takut berlebihan dan saat melihat ada anggota Gym yang tiba-tiba berlaku baik walaupun belum dikenal. Langsung dianggap bahwa kaum homo, padahal bisa jadi dia mau menawarkan gabung MLM pelatihan latihan yang benar. Pengaruh dan pelabelan itu merusak citra Gym sebagai pusat kebugaran bukan pusat nongkrong kaum homo.

Selain itu adalah ketakutan tersebut buat anggota baru menjadi risih saat masuk ke tempat Gym. Anggapan para newbie terutama anggota lama yang cenderung buang-buang waktu, memikirkan tubuh sendiri dan saat ada yang menyapa apa karena benar-benar baik atau ada maksud lainnya.  Sebaiklah berpikir positif dan melihat secara jelas, bukan asal percaya setiap omongan semata.

Dugaan yang buruk itu pulalah yang merusak citra tak hanya anggota Gym tetapi juga para karyawan yang mencari nafkah di situ. Pandangan seperti itu yang harus diubah, apalagi kita lebih sering melihat dari sisi buruk tanpa bertanya dan memastikan terlebih dahulu kebenarannya. Harus diingat, Gym diisi oleh berbagai kalangan (termasuk wanita) dan status pekerjaan. Apalagi Gym sudah dianggap sebagai gaya hidup orang perkotaan

So... Gym tak benar dianggap sebagai sarang homo. GYM tempat kebugaran alternatif di saat sempitnya waktu berolahraga di tengah kesibukan yang menggunung. Paling utama itu pikiran sehat dan badan bugar dan Gym salah satu pemberi solusi kebugaran bukan tempat yang dianggap tak benar oleh kalangan malas olahraga.

Bila kalian punya cerita tentang tempat Gym dan pengalaman menarik, bisa sharing di kolom komentar.

Salam damai semuanya.
Share:

Jumat, 03 April 2015

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis