Jumat, 15 Mei 2015

Jangan Mau Jadi Seorang Preman Keyboard

preman keyboard

Zaman kini perkembangan berbagai teknologi berkembang sangat pesat termasuk gadget yang setiap harinya perusahaan teknologi mengeluarkan produk anyarnya. Pergeseran gaya hidup ke arah lebih banyak dilakukan di dunia maya, tanpa harus capek-capek secara dunia nyata.
Mau belanja di luar sedang panas dan macet, cukup pesan dari berbagai situs belanja online. Dalam hitungan hari atau bahkan jam, barang yang diinginkan sudah sampai di depan mata. Mau makan dan lapar, cukup menghubungi layanan pesan antar. Dalam sekejap perut kenyang tanpa harus capek-capek harus gerak.

Gencarnya gempuran sejumlah sosial media, menjadikan lahirnya generasi yang menggantungkan seluruh hidupnya di dunia maya. Ibarat singa yang ganas di dunia maya dan bak anak kucing di dunia nyata. Punya sejumlah kata-kata luar biasa apa dari pikiran sendiri atau copas dari orang lain.

Cukup terkenal di dunia maya tetapi di dunia nyata tetangga saja tak kenal dirinya. Sangat kuat saat berada di dekat colokan dan langsung lemah saat colokan diambil orang atau powebank ada yang pinjam.

Dunia maya juga melahirkan generasi pacaran di sosial media. Dari jadian, pacaran, dan putus semua di sosial media. mau pacaran cukup kepoin sosial medianya secara intens, setelah diterima dan berteman. Langsung deh mulai percakapan dan bila diterima, masing-masing menuliskan nama pasangnya di biodata atau status hubungan. Semua drama percintaan disaksikan oleh teman dan follower.

Itulah agresi yang sering dilakukan oleh para preman keyboard, dari jatuh cinta, mencari teman, sampai jadi preman keyboard.

Dalam pandangan ini, gue menekan sekali banyak sekali para preman keyboard yang bertangan sangat pedas. Siapa saja yang membaca komentarnya akan mengeryitkan dahi atau panas dada. Menggertak semua orang atau berani WAR di dunia maya.

Pengalaman ini mengingatkan saya tentang seseorang preman keyboard yang pernah terlihat di dunia maya. Benar bahwa anggapan mereka cuma jago ngetik atau bersandiwara di dunia maya.

Sangat asyik di dunia maya, di dunia nyata malah pendiam dan sering jadi korban kejahilan teman-temannya. Karena itu banyak yang pendiam itu memanfaatkan sosial media atau berbagai forum online untuk menampilkan kekuatannya yang terpendam. Walaupun ngga semua, umumnya mereka yang biasanya terbully di lingkungan.

Lawannya adalah beberapa orang yang tak sependapat atau bertentangan dengannya. Misalnya dia suka tim sepak bola, di dunia nyata ia akan membalas habis-habisan yang menghina klubnya andai kalah. Ada pula yang lebih parah, mereka yang mencari ribut dengan komentar atau kata-kata kontroversi. Apa niatnya mencari simpatik biar orang lain menggubris dirinya, atau memang suka mencari keributan.

Pengalaman itu mengingatkan gue tentang preman keyboard yang tertangkap langsung. Ia sering beraksi di salah satu komentar media online terkemuka. Dalam pikiran gue, mengapa setiap ada berita klub sepak bola favorit gue selalu ada komentar miring  Alhasil gue penasaran mencari tahu siapa yang menjadi pemilik komentar. Namanya yang dipakai alay dan fotonya adalah foto klub sepak bola dukungannya.

Melalui akunnya akhir gue menemukan foto dan terkoneksi ke salah satu sosial media, mengejutkannya adalah pemilik akun bocah 13 tahun yang gue rasa belum disunat oleh emaknya. Hmm... akhir gue pribadi termenung dan berpikir bahwa, efek tak tampang sering mengaburkan pandangan dengan siapa kita berhadapan di sosial media. Bisa saja anak-anak yang suka berkata cela atau nenek-nenek tua mengaku wanita muda.

Well, jadi bagaimana jangan sampai terpancing emosi atau jadi korban preman keyboard?
Sebaiknya jangan terlalu digubris, umumnya mereka adalah orang-orang kesepian yang hidupnya sehari-hari hanya plototin gadget dan untuk menghilangkan kesepian adalah mencari hiburan di dunia maya. Bila terlalu digubris, ia akan semakin agresi dengan sejumlah kata-katanya.

Bisa saja hobi adu komentar di sosial media, mencari target yang bisa diajak ngomong ke saat malam hari yang sunyi. Namun saat diajak ketemuan pasti nyalinya ciut. Bukan ha yang aneh, begitu banyak yang pintar berkata-kata di dunia maya namun saat bertemu hanya diam seribu bahasa. Kekuatannya melemah bisa bertatap muka.

Bila termasuk preman keyboard, bagaimana cara menyembuhkannya?
Hidup itu ngga selamanya harus dengan internet dan gadget banyak hal lainnya yang menyenangkan tanpa segenap teknologi dan memencetkan tangan ke gadget. Merasa minder atau kurang percaya diri jadi alasan kuat kenapa banyak terjun jadi preman keyboard.

Andai punya teman yang seperti itu, sebaiknya bimbing dia bukan dijauhi atau dibully. Ia butuh perhatian dengan bertutur sapa atau ngobrol secara langsung. Bukan malah membully sehingga ia menumpahkan emosinya di sosial media.

Sedangkan yang masih di bawah umur seperti yang gue temui tadi caranya dengan membimbing anak di bawah umur. Pengawasan ketat harus dilakukan di rumah, apalagi kolaborasi gadget dan internet bila salah digunakan akan bahaya.

Well... itu saja curahan gue, semua kita semua menjadi manusia inspirasi, kreatif dan inovatif di balik keyboard masing-masing. Bukan pelempar dendam dan amarah ke ranah sosial media.

Semoga menginspirasi.
Share:

3 komentar:

  1. Sangat ringan namun penuh makna mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas sangat bermanfaat juga:)

      Hapus
    2. Iya.. Mas, apalagi sekarang banyak preman keyboard di mana-mana

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis