Sabtu, 09 Mei 2015

Anda Termasuk Tipikal Keranjingan Belanja Online Beginian?


Zaman sudah canggih, semua serba gampang termasuk dalam belanja apa yang diinginkan tanpa perlu repot-repot segala. Perkembangan teknologi menghadirkan belanja lebih simpel dan mudah. Tak perlu berpanas-panas, melawan macet hingga terjebak kerumunan orang lain yang ingin belanja.
Segala capek malah semakin memuncak saat barang yang kamu ingin beli di pasar malah sold out (habis). Pengorbanan terasa sia-sia, kini hadir belanja yang mudah melalui aplikasi belanja online. Internet yang sudah mulai merambah berbagai aspek memudahkan termasuk kaum keranjingan belanja tanpa otot betis bengkak akibat keliling pasar.

Efek itu berlanjut dengan maraknya kaum penggila belanja online yang menjamur di dunia maya. Dari mulai Blog, Instagram, Twitter bahkan yang paling elit ke situs aplikasi belanja online terkemuka menyediakan berbagai barang yang diinginkan. Kalau jodoh sih cari ke situ sebelah.

Bila dulunya belanja sangat identik dengan Kaum Hawa, kini Kaum Adam juga ngga kalah langkah. Alasan lelaki malas pergi belanja adalah memakan banyak waktu dan buang-buang tenaga ditambah menjadi budak pemegang barang dagangan cewek. Sekarang sudah ada situs belanja online, kaum cowok sedikit aman dari kegiatan memikul belanjaan cewek.

Dengan adanya belanja online malah Kaum Adam termasuk pula dari persentase penggila belanja online. Harga yang lebih murah serta ditambah lagi kadang ada diskon dadakan yang menguntungkan.

Walaupun punya plus dan minus, belanja online itu barang yang kita inginkan tak bisa dipegang dan diraba bentuknya hanya berdasarkan visual saja. Ibarat melihat foto profil di dunia maya dan nyata yang sering berbanding terbalik.

Oleh karena itu yang paling penting kepercayaan konsumen pada belanja online yang tidak mencari keuntungan dari permintaan pelanggan. Kepercayaan adalah kunci nyata pelanggan betah mencari barang yang ia inginkan.

Menurut penelitian hampir sebahagian besar masyarakat Amerika mengandalkan layanan belanja online. Budaya tradisi belanja sehingga sampai-sampai ada hari belanja online bernama “Black Friday”. Selain mudahnya proses transaksi pembayaran baik berupa pengiriman dan pengembalian barang.

Di dalam negeri pun tak mau ketinggalan dengan diadakannya Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional). Tepatnya tanggal 12 Desember yang melibatkan begitu banyak e-commerce dalam negeri, sama halnya dengan yang dilaksanakan di Amerika, Inggris, Kanada, Jerman dan Jepang.

Nah... makanya dengan itu lahirlah tipikal personal yang keranjingan belanja. Baru melihat barang-barang rilisan di belanja online, matanya langsung lapar dan tangannya langsung refleks buat memencet “pesan” walaupun kantung tipis.

Keranjingan akan belanja online punya beberapa kriteria dan rasa penasarannya akan barang yang ia pesan. Apa sajakah tipe tersebut, cekidot:

1.      Semua Harus Belanja Online
Kemudahan yang ditawarkan oleh layanan online membuat manusia jadi sangat keranjingan akan belanja. Dari hal-hal besar seperti perangkat elektronik hingga asesoris hingga yang remeh-temeh.

Parahnya adalah sampai beli Mie instan, pasta gigi, dan kecap eceran pun harus belanja online. Hmm.. padahal di depan rumah ada warung kelontong. Efeknya adalah daya jelajah dan gerak tubuh berkurang. Hanya terkungkung di rumah sehingga penyakit rentan menyerang akibat kurang bergerak.

Belanja barang online tak harus mencakup segala kebutuhan hingga kebutuhan pokok sekalipun, tetapi kebutuhan pelengkap yang langka dan bila dibeli di pasar setempat harganya tak masuk akal.

Di situlah belanja online alternatif terbaik bukan mengharuskan semuanya berjalan secara virtual, ada batas-batas tertentu. Pada satu sisi, belanja di dunia nyata memberi ikatan emosional dengan antara penjual dan pembeli seperti tawar-menawar bukan hanya mengandalkan percakapan teks.

2.      Deg-degan Kiriman Tak Sampai
Siapa sih yang tak deg-degan barang pesanan tak kunjung sampai apalagi harganya lumayan mahal. Setiap saat asyik menoleh ke jendela mana tahu kurir pengantar barang datang sembari mengetok pintu.

Siapa saja yang datang ke rumah malah berpikiran:
Pasti itu pengantar barang online pesanan
Ternyata hanya orang lewat tanya alamat atau tukang jualan bubuk Abate.(obat nyamuk).

Hampir semua pemesan barang deg-degan walaupun sudah keranjingan belanja. Bisa karena barangnya molor, tidak sesuai ekspektasi hingga salah alamat. Kegundahan itu kemudian cair saat barang yang kamu inginkan tiba. Senyum mengembang di bibir saat kurir berkata:

Mas/Mbak,... ini barang kirimannya. Kalau benar, silakan tanda tangan di sini.

3.      Di kenal Kurir
Keranjingan belanja online membuat namamu begitu familiar di kalangan abang-abang kurir pengantar kiriman. Mereka langsung tahu rumah-rumah siapa saja yang keranjingan belanja online.

Apalagi si kurir punya jam terbang tinggi pasti hafal luar dalam dengan langsung menyebut nama si pemesan barang saat di depan rumah sebelum mengetuk pintu rumah.

Sedikit cerita terutama di rumah saya, kakak dan adik saya punya kebiasaan belanja online yang relatif sering. Sepertinya mereka termasuk tipikal keranjingan belanja online.

Saat saya melakukan pemesanan barang, si kurir sedikit bingung ternyata ada nama lain selain kakak dan adik saya. Alhasil si kurir tetap memanggil nama kakak dan adik saya, bukan nama saya.

Hmm... bagi yang jadi kurir antar barang online punya sisi positif, umumnya wanita keranjingan belanja. Mana tahu bisa kenalan dan basa-basi sekalian melancarkan modus seperti ini:
Ini aku antar hatiku untuk dirimu
4.      Membudayakan Menabung
Belanja itu umumnya butuh modal besar dan banyak walaupun yang dibeli adalah sesuatu yang recehan tetapi karena keseringan bisa-bisa lumayan mempengaruhi pengeluaran.

Tak selamanya pula keseringan belanja online jadi pribadi yang boros, tergantung bisa menyesuaikan antara pengeluaran, pemasukan dan tabungan

Untuk itu terutama sekali saat melihat barang online yang menggiurkan secara refleks kamu langsung mau membeli. Cara baiknya adalah menabung, karena pinjam duit teman adalah cara terburuk. Ibarat gali lubang, tutup lubang. Lama-kelamaan keuangan bisa kolaps.

Nah dengan menabung jadi kesenangan tersendiri serta membulatkan tekat mendapatkan barang yang diidam-idamkan. Nilai kepuasan dan tantangan teruji saat menabung untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

5.      Mementingkan Keinginan di Atas Kebutuhan
Belanja kadang melupakan kodrat antara mana yang benar-benar dibutuhkan atau hanya sekedar gatal mata sesaat. Oleh karena itu kamu harus bisa memilah-milah mana yang sangat mendesak, bukan kelak malah bikin sesak.

Sifat dari kebutuhan wajib didahulukan karena sifatnya desakan, sedangkan keinginan boleh dipenuhi saat segala kebutuhan terpenuhi tanpa kurang sedikit pun. Baru deh melampiaskan keinginan, tapi jangan menggebu-gebu.

Nah... andai saja lebih utama mendahulukan keinginan bisa berdampak buruk dalam pemenuhan kebutuhan. Akibat bingung cara yang kamu ambil adalah melakukan pinjaman ke sana-sini hanya karena keuangan kolaps.

6.      Hafal Tempat Belanja Favorit
Faktor keranjingan yang menguntungkan adalah sangat tahu tempat belanja favorit dengan penawaran terbaik. Selain itu kamu juga hafal kapan waktu ada diskon dadakan dan dijamin terpercaya.

Alasan tersebut sangat baik buat merekomendasikan teman-temannya untuk belanja di situ. Sehingga mereka bisa terhindar dari penipuan berkedok belanja online yang sedang marak kini.

Oleh karena itu, kamu harus punya teman yang keranjingan belanja online terutama rekomendasi yang biasa diberikan sangat berguna lho. Terlebih kamu masih “hijau” di dunia belanja online.

7.      Pintar Membandingkan Harga dan Kualitas
Tak hanya sebatas tahu tempat belanja favorit, keranjingan menilik barang online kamu akan memiliki kemampuan menakar plus dan minus barang yang diinginkan walaupun nantinya tak jadi beli tetapi itu sebuah kesenangan tersendiri bagi penggiat kaum belanja online.

Harga dan kualitas jadi sebuah pembanding apalagi begitu banyak belanja online yang semuanya hampir sama bagus. Bila di dunia nyata pasti ada orang yang pintar membandingkan harga antara toko satu dengan yang lain. Alhasil malah ngga jadi beli. Hehehe..

Terakhir, membandingkan harga dan kualitas membuat tipikal keranjingan belanja online punya jiwa seni menilai barang dengan mumpuni. Tetapi jangan terlalu banyak membandingkan harga, takutnya barang yang diinginkan malah lebih dulu dipesan orang lain. Nyesek bukan!!!

Bila kamu menemui teman atau kerabat kamu yang sangat keranjingan belanja online serta memiliki tipikal lainnya, bisa share di kolom komentar.

Semoga memberikan pencerahan dan inspirasi.
Share:

2 komentar:

  1. Artikel yang sangat bagus sekali gan..

    Kunjungi juga Artikel kami ya..

    Beritapokersip

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima sarannya, semoga bisa menginspirasi

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis