Jumat, 17 Juli 2015

Tipikal Pengguna Path, Anda Masuk Tipe Mana?

path

Path kini sudah jadi sosial media baru yang digandrungi oleh kalangan anak-anak muda kekinian. Pamornya mengalahkan sejumlah sosial media yang lebih dahulu eksis, khususnya di Indonesia Path adalah terbesar di dunia.

Si pendirinya yakni Dave Morin meyakini aplikasi yang ia kembangkan berkembang begitu pesat terutama di Indonesia, apalagi kesan warga Indonesia yang suka berbagai foto dan gambar, tukas dirinya.

Kesan warna merah tua dari Path seakan buat penggunanya lapar batin buat pamer. Warna merah dan kuning punya kesan kuat baut pengguna ketagihan. Jangan heran kenapa begitu banyak warung makan tradisional dan fast food berlatar warna merah dan kuning. Efeknya makin betah dan lapar.

Berikut ini saya berbagi beberapa tipikal pengguna Path di tanah air yang makin hari jumlahnya bertambah pesat, berikut ulasannya:

1.    Berteman dengan Orang Asing
Di awal mula berdirinya, Path berinisiatif  hanya ada 150 orang teman atau kenalan, mereka beralasan kemampuan manusia mengingat orang lain hanya kini ditambah menjadi 500. Kesan eksklusif sepertinya pudar dari Path. Banyak yang mengeluh dan ada pula yang menanggapi hal positif itu bertambahnya pertemanan.

Efeknya terasa dengan banyak yang rela berteman dengan orang asing yang tidak dikenalnya. Risiko berteman dengan orang lain beragam, dari bisa dikuntit saat check in, diculik, percakapan dan gambar di screen shoot buat dimanfaatkan buat kepentingan pelaku.
Banyak yang sudah menjadi korban, apalagi orang asing tak mengenal anda sepenuhnya. Aib anda bisa disebar luaskan. Jadi hati-hatilah menerima orang asing yang kadang tidak bertanggung jawab.

2.    Rata-Rata Fitur Terkesan Pamer
Rata-rata fitur yang tertanam di dalam Path terkesan kentara pamer dari beberapa fitur yang tersedia seperti:

Geotagging,  pengguna bisa check in di tempat berkelas, walaupun sebatas menumpang lewat semata.

Upload Foto/Video, penggunanya bisa memamerkan segala sesuatu yang wah menurut dirinya.

Music/Book/Movie, pengguna bisa pamer segala macam musik, buku dan film keren sekalian sebagai bentuk pamer bahkan menjurus curhat. Semisal, lagi galau playing now-nya lagu-lagu sendu.

Sleep/Wake up, Pengguna bisa buktikan bahwa dirinya sudah tiduran saat bingung tak tahu mau postingan apa, serta Wake up buktikan dirinya seakan-akan dirinya masih hidup.

Semua fitur ini juga bersifat daily activities si pengguna. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Namun kesannya seperti pilih tebang, misalnya hanya check in di tempat mewah sedangkan di tempat biasa-biasa saja ngga.

Logo Path yang berawalan P seakan menegaskan Pamer dalam aplikasi ini dan pengguna terbesar datang dari kalangan Perempuan. Bukan berarti lelaki tidak ada, memang banyak tetapi tidak sebanyak moment yang wanita tampilkan. Dan semua juga kembali ke pribadi masing-masing menanggapi beragam sosial media yang ada.

3.    Pribadi Konsumtif
Secara ngga langsung Path membuat penggunanya mencari tempat-tempat baru, gambar-gambar baru dan berbagai bacaan/film/musik. Sebenarnya bagus, tetapi banyak yang terkesan dipaksakan dan menjurus ke arah konsumtif.

Misalnya mencari tempat makan baru dan memesan menu yang aneh, tujuannya hanya untuk pamer. Namun hanya dimakan sedikit saja. Kebayang ngga, saat orang lain kesusahan buat makan, ini malah dibuang-buang karena hanya sebagai objek moment di Path.

Sah-sah saja bila mampu, namun bagi yang secara finansial masih pas-pas, jangan terlalu memaksakan moment harus check in dan makan di tempat mewah. Nonton film yang kekinian walaupun kamu ngga suka. Sebaiknya jangan dipaksakan, hayoo.. nanti lama-kelamaan kewalahan.

4.    Menaikkan Level
Kebanyakan dari pengguna membuat akun Path untuk menaikkan taraf level kekiniannya, harus disadari itu. Beberapa seperti sejumlah fitur makin menunjang agar levelnya naik. Jarak sekali yang suka mendengarkan musik Now-Playing musik rendahan. Harus dari penyanyi papan atas tanah air dan luar negeri. Dirinya merasa level-nya mendadak meroket naik.

Banyak pengguna yang beranggapan, namun menurut saya pribadi. Semua media sosial semuanya sama tergantung kebutuhannya. Bila suka menulis kata-kata lebih suka beralih ke Facebook dan Twitter yang jelas terjamin. Suka gambar atau fotografi bisa memilih jalan di Instagram lebih intens di situ dan suka musik bisa di Soundcloud.

Mengapa harus Path?
Jelas karena banyak yang beranggapan bisa pamer dan merasa jadi dirinya naik. Apa kalian masuk tipe tersebut?

5.    Menampilkan Kebiasaan Sehari-Hari
Segala fitur yang ada di dalam Path bersifat aktivitas sehari-hari. Fitur yang hadir di dalam Path terkesan dengan fitur dari bangun tidur Wake up sampai dengan tidur Sleep. Dari aplikasi lagi nongkrong di mana check in, mendengarkan/nonton apa, membaca apa semua tertanam di Path.

Ngga jarak menjadikan semua kehidupan pribadinya di ekspos, seakan tak ada lagi rahasia. Manusia sebenarnya butuh privasi dan bila semuanya dipaparkan jelas di sosial media, jadi apa yang spesial?

Nah... itulah semua ulasan pengguna Path saat ini, semoga sosial media yang kita gunakan ngga membuat diri kita mengabaikan dunia nyata tempat manusia sebenarnya tinggal. Well.. itulah cerita yang saya sampaikan, bila kalian punya pengalaman bisa share di kolom komentar.
Semoga memberi pencerahan.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis