Selasa, 22 Desember 2015

7 Jasa-Jasa Ibu yang Begitu Luar Biasa


Mengingat di akhir bulan Desember tepatnya tanggal 22 Desember jadi perayaan khusus hari ibu. Banyak banget orang-orang terutama kaula muda tiba-tiba ganti foto profil dengan ibunda tercinta tapi tidak dengan ibu kost ataupun ibukota. Terlepas dari benar-benar sayang dengan ibunya atau biar terlihat eksis di sosial media, banyak banget jasa-jasa ibu yang ngga kita tahu.
Share:

Sabtu, 12 Desember 2015

Harbolnas, Antara Godaan Harga dan Kebutuhan

Teman gue dapat Iphone keluaran terbaru hanya modal 10.000 IDR 
Masak, kapan?
Waktu harbolnas!! 
Nyesal ngga ikutan.

Banyak yang masih bingung dan bertanya-tanya apa itu Harbolnas, kepanjangannya adalah hari belanja nasional. Sejak pertama sekali digagas di tahun 2012, animo masyarakat buat berbelanja online semakin lama semakin meningkat.
Share:

Kamis, 10 Desember 2015

Ayo Cari Tahu Definisi Gaptek Saat Ini

gaptek saat ini

Siapa di sini yang tak punya perangkat teknologi? Hampir semuanya dengan serentak menjawab punya. Pergeseran orang yang gaptek saat ini bukan orang yang tidak memiliki gadget, namun lebih kepada penggunaan sewajarnya dan seperlunya.

Banyak yang punya gadget canggih tapi hanya digunakan untuk hal yang tak perlu. Misalnya punya ponsel spesifikasi yang sangat tinggi dan mumpuni tapi hanya digunakan sekedar untuk sosial media, foto, mendengarkan musik dan searching internet.

Saya memperhatikan anggapan gaptek kini lebih kepada kecenderungan kemampuan user dalam memberdayakan teknologi yang ia pakai.  Teknologi yang setiap hari berkembang saat pesat membuat gaptek tak tahu mengoperasikan teknologi terasa hilang. Memang secara kasat mata menghilang namun sebenarnya tidak.

Sebelumnya saya mau menjelaskan tentang beberapa generasi yang masih hidup kini, saya membaginya dalam beberapa varian yakni X, Y, dan Z. Klasifikasi ini menjadi pembanding gaptek setiap generasi.

Kita mulai yang pertama yaitu dari generasi X, mereka ialah generasi saat teknologi gadget belum ada. Generasi ini sekarang kakek dan nenek kita yang sudah penuh dengan ubanan. Mereka tidak mengerti penggunaan teknologi bahkan tidak peduli dengan teknologi.

Sangat jarang atau bahkan tidak ada kita melihat orang tua renta yang sibuk ngecheck notifikasi sosial media. Di usia yang sudah senja yang paling penting minyak urut dan sandal rematik jangan hilang. Urusan teknologi mereka cuek karena terasa menyulitkan dan tak mau tahu.
Baca juga: Membaca, Mengapa Malasnya?
Selanjutnya ada generasi Y, mereka ini diisi oleh orang-orang yang lahir saat teknologi mulai dirintis dan berkembang. Di usia sekarang ini, walaupun tak terlalu senja mereka sedikit banyak paham dengan teknologi. Mereka umumnya datang dari kalangan generasi ayah dan ibu kita.

Mereka umumnya hanya mengenal teknologi hanya sekedarnya. Mengerti penggunaan berbagai gadget walaupun tak sepenuhnya paham tentang hal remeh-temeh. Golongan seperti ini sebenarnya bukan masuk generasi yang gaptek, segala kesibukan dan priorita lainnya buat teknologi tidak terlalu dipikirkan.

Sangat jarang generasi Y yang menjadi praktisi IT kecuali sejak mudanya bergelut ata hobi di bidang tersebut. Hal itu hanya bisa ditemui dari para CEO perusahaan teknologi besar dunia kini. Walaupun begitu generasi Y punya andil besar dalam kemajuan teknologi yang berkembang kini selaku pelopor.  Gagasan dari beberapa ahli teknologi dari generasi Y mampu dirasakan oleh generasi terakhir yakni generasi Z.

Terakhir adalah generasi Z, lahir dan dibesarkan dengan di kelilingi oleh teknologi gadget yang berkembang. Sudah pasti anggapan mereka sangat fasih teknologi. Hmm... jangan salah banyak sebenarnya mereka gaptek.

Saya pun mengamati dan berpendapat bahwa dominasi pengguna teknologi adalah generasi Z, tidak bisa dilakukan perbandingan apple to apple dari beda generasi. Kadang yang sudah sangat melek di generasi X atau generasi Y tidak bisa samakan dengan generasi Z. Mereka punya pemahaman sesuai kebutuhan.

Baiklah... kita kembali ke permasalahan gaptek lagi khususnya generasi Z. Mereka bersembunyi atau tak terlihat dengan serangkaian gadget yang digunakan. Punya gadget kelas satu namun segala bentuk penggunaan hanya sekedarnya. Sungguh disayangkan, apalagi gadget sudah bergeser ke gaya hidup bukan sekedar kebutuhan.

Ibarat membeli sebuah supercar, hanya buat mengaspal di jalanan macet. Andai si gadgetnya protes sambil berujar: jadi kenapa beli saya mahal-mahal tapi tidak dioptimalkan secara benar.

Di generasi Z pula gaptek berpengaruh pada gender, banyak dari yang gaptek dari kalangan wanita. Sifat mereka yang tak suka ambil ribet dan hanya memakai gadget sesuai yang diketahui menjadikan penyumbang gaptek.

Tapi jumlah penetrasi dan kebutuhan akan teknologi yang memudahkan segala keperluan. Kini kaum wanita mulai berbenah dan belajar mengejar ketertinggalan itu. Malah saat mereka diberikan peluang untuk belajar, kaum lelaki bisa disaingi dan bahkan ada yang lebih.

Sebenarnya bagaimana solusi agar gaptek bisa hilang?
Menurut hemat saya pribadi, semua tergantung bagi diri sendiri mau belajar dan tidak malu mengakui tingkat gapteknya. Andai terlalu sungkan membuka kekurangan itu kelak gaptek itu terus menghantui sampai kapan pun.

Bila terlalu risih buat belajar dengan orang lain, mulailah dengan tutorial yang berseliweran di internet. Tinggal mengikuti segala macam tutorial yang dimaksud, nah cara itu sangat jitu apabila tidak ada yang tahu saat diajak bertanya.

Perbanyak pula durasi dengan gadget yang kurang diketahui kegunaannya, walaupun sebenarnya itu ngga menjamin. Karena yang paling utama rasa ingin tahu dan saya ingin perkataan salah seorang dosen saat di bangku perkuliahan. Mau paham betul dengan laptop, hp dan gadget lain, perbanyak durasi penggunaan terutama berbagai fungsi. Kelak si gadget jadi ibarat teman, makin dipelajari maka makin banyak tahu segala triknya.

Sebagai penutup, di zaman kini yang paling utama adalah kemampuan melek teknologi. Tertinggal dan tidak melek teknologi jadi pukulan telak kita dalam ketertinggalan. Bukan berarti harus maniak atau pecinta gadget tapi cara pengoperasi yang terpenting.

Gadget yang dimiliki boleh murahan dan kelas dua tapi kemampuan penggunaan nomor satu bukan gadget elit dan kelas satu tapi sering bingung minta ampun.

Sekian dari saya, dadah sampai jumpa!

Share:

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis