Rabu, 12 Agustus 2015

Semua Tentang Nomophobia

 Nomophobia

Bangun tidur hingga tidur lagi ngga bisa jauh dari jangkauan gadget dan internet. Bila orang tua dulu saat bangun pagi segala sesuatu diawali dengan baca doa seperti bangun tidur, makan, hingga boker. 

Kini zaman telah berganti membuat harga gadget jadi murah walaupun menurut gue tetap aja mahal bila sebentar-bentar ganti. Jadi bila tiba atau mau memulai sesuai pasti ngerogoh celana, saku atau tas buat melihat notifikasi di gadget atau ngeliat jam berapa sekarang padahal punya jam tangan #BiarKeliatanEksis

Dulu fungi utama gadget cuman sekedar telepon dan sms walaupun ngga tau telepon dan sms-an dengan siapa. Malah kini gadget segala alat keperluan dan informasi. Sinyal hilang, pulsa habis serta lupa bawa powerbank jadi sesuatu yang bikin nyesek oleh nomophobia. Btw.. bagi yang belum tau arti dari nomophobia itu ialah kecenderungan takut banget ngga bisa jauh dari segala macam perangkat teknologi.

Sebenarnya nomophobia banyak jenisnya, ada yang bersifat ringan misalnya ngga terlalu butuh gadget pada waktu tertentu, nomophobia sedang yang lumayan butuh gadget pada waktu dan kondisi tertentu dan yang parah nomophobia berat yang sudah mempersunting gadget layaknya istri. Jauh sedikit kepikiran, ketinggalan kelabakan dan kehilangan langsung pingsan.

Siklus bertahan hidup dari nomophobia ialah ngga pernah jauh dari colokan, bila ngga ada colokan dan baterai powerbank kosong. Langsung mati lemas...!
Pernah teman gue ngomong beginian:

Bro ane tadi pergi ke kampus seharian ngga bawa gadget apapun.
Trus gue tanya, memang kenapa ada orang penting yang hubungi..?
Ngga ada, tapi serasa ngga enak aja ngga bawa gadget,

Berarti teman gue termasuk nomophobia akut.

Gejala yang sering dialami oleh nomophobia saat sedikit saja jauh dari gadget akan muncul syndrom gelisah ngga menentu apalagi bila ketinggalan informasi, serasa waktu berjalan begitu lama dan hidup jadi terasa kosong.

Sewaktu pergi piknik malah sibuk selfie atau dengan gadget, liburannya mana..?
Atau lebih suka main game sepak bola di Playstation atau PC dibandingkan berkotor-kotoran main sepak bola di dunia nyata.
 
Udah jarang ditemuin beginian
Nah salah satu cara biar rasa nomophobia kamu hilang yaitu jual segala gadget yang kamu punya  harus berusaha kembali dengan lingkungan. Kebayang ngga, banyak orang yang mementingkan orang yang jauh tapi mengabaikan yang dekat atau yang jauh dan dekat sama-sama diabaikan sehingga lebih suka berteman dengan dunia maya atau teman virtual. Sungguh hidup kamu sangat mengenaskan.

Duduk natapin layar ponsel, di rumah, kampus, tempat kerja, cafe hingga waktu lampu merah yang sisa 10 detik masih-masih sempatnya liat ponsel.


Kebiasaan nomophobia beginian juga pada dunia percintaan, dari siklus PDKT-Jadian-Putus di sosmed dan semuanya cuma lewat media. Ketemuan ngga pernah, makanya banyak banget yang jadi korban penipuan dunia maya. 

Dunia maya jagoan, dunia nyata pendiam, dunia maya cantik ngga ketolong tapi dunia nyata cuman emaknya yang nganggap dia cantik. Atau yang ngenes di dunia maya orang terkenal, dunia nyata siapa sih dia...?

Dunia harus tau dan biasa para nomophobia harus tetap terlihat eksis di mana pun dan kapan pun. Jumlah posting baik yang ngga penting atau yang ngga penting banget dan saat makan buka diawali dengan baca doa menurut kepercayaan masing-masing akan tetapi makanannya difoto menurut angle masing-masing terus diupload.

Saatnya untuk berubah dan kurangi ketergantungan
Ngga bisa jauh dari gadget sebenarnya bisa dihilangkan secara langsung tapi bisa dikurangi pada waktu-waktu tertentu, misalnya ngumpul bareng teman, waktu makan, di toilet, sebelum tidur hingga waktu ibadah. 

Semenjak gadget berkembang disusul dengan maraknya berbagai media sosial, sikap humanitas dan tata muka jadi berkurang seperti mau ngasih undangan nikah tanpa harus mahal-mahal cukup dengan pemberitahuan di sosial media jauh-jauh hari. Akan tetapi kesannya ngga dapat, walaupun lumayan mahal niat undangan bikin tamu menghargai dan menyimpan baik undangan yang diberikan pembuat acara serta mana tau dapat ide dari undangan yang pernah kasih buat acaranya ke depan.

Lebih dekat dengan masyarakat sosial bikin hidup terasa bermakna dan ngga perlu ngetik di keypad buat ngomong, ngga perlu takut kehabisan baterai dan juga ngga butuh sinyal. Yang kita butuhkan cuman relasi, ngga lebih. Ssaat lagi dengan teman atau orang spesial lebih baik katakanlah buat orang lagi chat, bilang aja begini:

Maaf nanti aku hubungi lagi
Atau bisa juga begini:
Aku lagi sibuk dengan orang di dunia nyata yang lebih dekat, ntar siapnya aku hubungi lagi.

Cobalah kurangi ke mana-mana tidak bawa gadget seperti awali pada tempat-tempat dekat misalnya ngga bawa ponsel ke simpang waktu disuruh beli kemiri oleh si emak, waktu lagi bermain bola hingga waktu ke alam mimpi. Takutnya saat terbangun tiba-tiba, ponselnya malah ketinggalan di alam mimpi, mau ambil malah lupa tadi malam mimpi apaan.

Bayar konser mahal-mahal cuman buat direkam, enakan nonton di youtube

Nah mengurangi kebutuhan gadget saat waktu-waktu yang berbahaya bagi kita dan orang lain seperti berkendaraan sambil chat ria, jalan kaki sambil plototin ponsel hingga lupa di depan ada lubang dan saat dipanggil orang tua nunduk karena patuh akan tetapi karena plototin gadget. Saat nonton konser, pertandingan sepakbola hingga ketemuan dengan idola semua harus dengan gadget. Dari proses merekam konser dan pertandingan hingga waktu jumpa dengan idola kita lebih suka dengan foto bareng dibandingkan minta tanda tangan atau salaman. 

Saatnya berubah karena kita lebih suka merekam daripada menyaksikan konser dan pertandingan yang kita tonton apalagi tiketnya ngga murah dan jadi moment langka. Nah coba bayangin aja minta tanda tangan idola terus dijual kepada orang yang juga ngefans berat pada idola kita, jelas dapat duit tapi kalo foto selfie kita dan si idola siapa yang mau #NilaiBisnis

Ada yang berani ikutan..?
Harus disadari gadget harus dikurangi walaupun sulit dijauhi melihat zaman saat ini.
Makanya saat ini saat kita pergi ke suatu tempat yang lebih nikmat itu saat menikmati moment bukan terlalu banyak mengabadikan moment karena moment yang mungkin moment yang kita abadikan banyak tapi buat dinikmati jarang.” 
Salam Super,...!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis