Selasa, 19 Januari 2016

Siklus Hidup terlalu Mainstream, Ayo Berbenah!

siklus hidup manusia

Tangisan suara bayi memecah keheningan di ruang persalinan, seorang bayi berbadan sehat lahir dari rahim seorang ibu. Kini ia telah berada di ruangan persalinan. Semua yang menunggu terutama sekali sang ibu, ayah dan keluarganya gugup bercampur bahagia saat melihat anaknya lahir. Tanpa dosa, putih bersih ibarat kertas tanpa setitik tinta pun.

Semua dari kita pasti mengalami fase awal itu, dari tidak tahu apa-apa menjadi tahu segalanya. Proses tumbuh kembang di usia kecil menjadikan kita tahu apa yang ingin kita tahu dan tidak kita ketahui melalui kedua orang tua kita dan lingkungan. Menjadi apa yang ia inginkan di masa depan.

Kita tidak salah dan orang tua kita pun tidak salah, tapi prinsip dan pola pikir yang mengubah anggapan kita. Di usia yang begitu belia, ketakutan kedua orang tua kita di mulai, mereka punya rencana agar anak-anaknya bisa lebih baik dan lebih dibandingkan anak-anak lain.

Mereka pun menyekolahkan anaknya ke PAUD walaupun usia baru genap 3 tahun, berbagai alasan bermunculan dari sibuk kedua orang tua dan ingin anaknya pintar serta punya teman bermain. Tidak ada yang salah bukan?

Tumbuh kembangnya baru mulai terganggu saat mencapai usia remaja. Si anak merasa dunianya dari kecil terlalu sering disuruh belajar. Alhasil malah bosan dan jenuh, niat bisa sekolah tinggi malah tak tamat sedangkan pekerjaan idaman yang diinginkan

Penulis sering membaca dan mencari tahu akan sistem di negara maju akan daya kembang sang anak, orang tua punya peran aktif yang sangat besar dari tumbuh kembang anak terutama sekali usia 0 – 7 tahun.

Saat sang ibu melahirkan anaknya, bukan hanya sang ibu yang mendapatkan cuti. Sang ayah mendapatkan cuti yang lumayan lama bahkan hingga 12 Minggu serta tanpa pemotongan gaji. Perusahaan juga memberikan bonus atas kelahiran anaknya.

Khususnya perusahaan besar dan negara beralasan cuti tersebut dilakukan untuk mendekatkan keakraban sangat ayah dengan sang anak. Kurangnya waktu pertemuan anak dan ayah mempengaruhi  pembentukan chemistry saat anak dewasa.

Berbeda dengan negeri kita yang sulit sekali sang ayah memiliki waktu cuti mengurus anaknya.  Dan melalui masa tumbuh kembangnya begitu banyak orang tua karier yang mengabaikan anaknya. Anak di urus oleh pembantu ataupun orang tua (kakek ataupun nenek).

Di fase ini, orang tua mengajarkan anak, berinteraksi dan membangun chemistry yang kompleks serta menjauhkan tumbuh kembang dengan berbagai teknologi yang ada saat ini. Mereka ingin anak-anak mereka bisa belajar dengan alam serta memecahkan masalahnya dengan bijak.

Setelah melalui fase ini, si anak dituntut untuk segera mungkin harus mengenyam pendidikan, telat sekolah adalah aib. Orang tua menganggap telat sekolah akan berakibat telat tamat, telat dapat pekerjaan dan telat menikah.

Kecemasan berlebih dari setiap orang tua adalah kewajaran mengingat kerasnya masa depan bila tak ada pendidikan pikir para orang tua.

Anggapan bahwa hidup berjalan dengan semudah itu sering terpatahkan saat pergantian waktu dan prediksi yang meleset. Pakem alur yang wajib dilakukan oleh masyarakat kita seperti sebuah alur yang sama antara satu manusia dengan manusia lain.

Selain itu pula, selain alur hidup itu banyak orang tua yang menginginkan profesi yang digeluti orang tuanya tetap berlanjut kepada anaknya. Sebagai tali estafet keberlanjutan dan itu semua wajar walaupun sang anak punya pikiran sendiri.

Alur hidup manusia kini terpaku seperti ini:

Lahir > Sekolah > Mencari Bekerja > Menikah > Berkembang biak  > Mulai menua > Repeat agains

Masyarakat kita yang hidup dari dorongan dan desakan kata-kata orang lain. Seperti: sekolah di mana, kerja di mana, kapan nikah, kapan punya momongan hingga hal lain yang jadi batu sandungan buat hidup sendiri.

Saya beropini bahwa pertanyaan itu adalah bentuk pertanyaan yang pernah diterima oleh si penanya sebelumnya untuk menguji sejauh mana kemampuan dirimu menanggapinya. Walaupun bernada bercanda tapi saat pedih nan bermakna.

Alhasil karena tekanan itu membuat jarang dari masyarakat kita bisa keluar dari alur pakem yang telah ditetapkan oleh pendahulu sebelumnya. Jawaban terbaiknya adalah menjalani hidup seperti pakem agar bisa menjawab pertanyaan seperti itu.

Setelah sekolah di usia dini selesai, saatnya bertarung mencari pekerjaan dengan ribuan orang yang sama. Hasil cetakan yang sama dan mencari tujuan yang sama, akhir sebahagian tersisih akibat punya kualifikasi kemampuan yang sama.

Semua itu terjadi karena semua berapa di dalam kotak yang sama, jarang yang out of the box (melawan arah dan berbeda dari orang lain). Perusahaan mau mencari orang berdasarkan kualifikasi yang mereka inginkan. Seperti beda dari yang lain dan punya visi misi yang mereka harapkan. Hasilnya cetakan manusia yang satu arah dan menyari sama dengan mudahnya menerima penolakan.

Mengapa tidak keluar jalur?
Ibarat keluar dari zona nyaman, terlihat begitu sulit termasuk dalam pakem alur yang masyarakat gunakan. Mengapa harus berupa sekolah setinggi mungkin, sedangkan pendidikan dan ilmu tak harus jalur formal.

Banyak cara lain yang mampu ditempuh, berbeda dengan yang diharapkan masyarakat khususnya sekali orang tua. Yang diperlukan adalah menemukan bakat terpendam bukan harus mengorbankan bakat melalui cara yang bukan minat.

Sistem pendidikan negeri kita seperti menghilangkan bakat terutama yang mengandalkan otak kanan sedangkan otak kiri lebih di istimewakan.

Padahal bila ditelusuri begitu banyak ilmu yang mengandalkan otak kiri yang lebih sukses dengan mengandalkan beberapa karya atau pencapaian tanpa harus melakukan rutinitas, keberhasilan bila didapatkan dan sedikit konsistensi yang paling utama.

Saya melihat dunia ini sebagai sebuah hitungan pendidikan formal yang jadi landasan semua orang untuk dianggap lebih. Semua orang terdoktrin untuk kuliah setinggi dan secepat mungkin tamat. 3 – 4 tahun tamat. Semakin cepat dan punya IPK terbaik menjadi orang-orang yang terpilih.

Menjadi orang yang profesional sangat membutuhkan kuliah dan yang pasti IPK mumpuni sebagai penunjang utama, apalagi yang berniat mempertajam ilmu yang digeluti.

Sedangkan yang tak bergelut di dunia itu, kuliah hanya penyambung panjang gelar dan bisa menjawab pertanyaan dari desakan masyarakat dan kelegaan hati orang tua saat anaknya menjadi sarjana.

Apa yang terpikirkan di benak anak negeri saat selesai kuliah?
Jelas mereka mau mandiri, bekerja adalah salah satu cara tercepat menjadi jiwa-jiwa mandiri. Dan melamar pekerjaan adalah pilihan paling diinginkan oleh begitu banyak. Bila dilakukan survei, 8 dari 10 freshgraduate pasti ingin melamar kerja bukan membuat lapangan kerja (wirausaha).

Itu wajar mengingat mereka terkontaminasi dengan lingkungan yang sangat bangga apabila diterima pada instansi pemerintahan. Beberapa tahun kemudian setelah diterima menjadi salah satu pegawai di instansi terkait, kini saatnya mendapatkan hidup baru yakni menikah.

Bekerja dengan tugas yang sama setiap hari, jenuh dan bosan sudah jadi makanan. Melawan derasnya macet yang sama setiap hari. Bekerja lebih dari 7 – 12 jam setiap harinya. Tanpa di sadari sudah di ujung usia, menunggu uang pensiun yang tak seberapa.

Fase lainnya adalah menikah dan itu wajar sebagai bentuk memulai hidup baru dan melanjutkan keturunan. Di negeri ini saat mapan dan umur yang tercukupi ada norma tak tertulis harus segera mungkin menggapai menjalin tali cinta dan kasih dalam balutan ikatan pernikahan.

Seperti pemaksaan melalui kata-kata:

Kapan nikah? Itu umur jalan terus nanti jadi perawan tua dan bujang lapuk

Pekerjaan dan tekanan yang menumpuk terutama kaum wanita menganggap dengan menikah segala persoalan akan selesai. Alhasil akan memunculkan beberapa masalah lain di masa depan.

Misalnya perceraian terjadi karena ketidaksiapan salah satu pasangan, bisa karena desakan bukan kehendak pribadi. Melihat teman-teman sudah mendahuluimu sedangkan dia masih hidup sendiri. Hasilnya ikatan suci harus berakhir akibat pernikahan hanya sebagai pelarian sesaat saat banyak masalah.

Dan yang terakhir saat sudah berkeluarga dan mulai menuai tanpa di sadari sudah berada di penghujung karier serta usia. Mau mewujudkan terkendala usia dan fisik yang menua. Saat itulah penyesalan mulai datang. Mengapa diri ini tidak keluar dari zona nyaman alur yang berbeda dari yang lain.

Tak terlalu memusingkan harus sekolah tinggi tapi ikutan sibuk di organisasi dan kegiatan positif luar kampus. Membuka usaha bersama teman-teman sejawat yang satu prinsip, semua baru menyesal saat ide yang dipendam di dalam otak dijalankan orang lain menjadi sukses besar di masa depan.

Apa yang harus dilakukan?
Semua punya mimpi, bagaimana bisa melakukan hal positif, sedangkan saat muda hanya terkungkung dengan si dia dan saat menikah malah dengan orang lain. Berapa banyak waktu muda yang terbuang dengan kesia-siaan dan drama. Bila melakukan hal positif, berapa banyak yang sudah digapai.

Ingin jalan-jalan tetapi asyik dengan kerjaan yang menumpuk dan di akhir pekan harus terduduk lemas untuk istirahat. Usia terus berjalan dengan cepat tanpa disangka sudah di ujung fase tadi.

Kini saatnya menjalani hidup berdasarkan kemauanmu, karena hidup hanya sekali. Impian yang diinginkan jangan sampai terkubur bersama dengan jasad tertapi harus bisa diwujudkan walaupun tak sesuai keinginan orang terdekat.

Semua itu kamu yang menjalani bukan orang lain, asalkan tidak menyalahi aturan dan punya alasan yang jelas. Silakan terus dilanjutkan. Alur pakem hanya keinginan masyarakat tetapi banyak cara lain orang menikmati alur hidupnya dengan cara sendiri.
Karena berbeda itu bukan berarti salah, bisa jadi yang berbedalah yang mengubah yang sama untuk melakukan perubahan yang lebih baik
Sekian ulasan saya semoga bisa banyak memberikan pencerahan akan pola pikir dan sudut pandang kita dalam menatap hidup.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis