Kamis, 24 Maret 2016

Free Life or Free Wi-fi?


Gambar di atas adalah pilihan yang begitu sulit terutama kita yang hidup di zaman butuh akses data dan informasi super cepat. Tanpa buffering, reload link dan yang pasti bisa kapan saja mengetahui informasi paling up to date setiap saat.

Bila gambar ini kamu perlihatkan kepada kakek-nenek atau tetua di lingkunganmu, sudah pasti mereka akan memilih gambar yang di atas. Saat jelas mereka tidak mau hidup di ruang sempit, kumuh, dan tertutup seperti penjara. Selain itu, kakek-nenek kamu umumnya ngga familiar dengan internet. Mereka familiarnya sama minyak urut dan sandal rematik.
Share:

Selasa, 22 Maret 2016

Kata Siapa Main Twitter tak Asyik Lagi?

Kata Siapa Main Twitter tak Asyik Lagi?
Kamu masih main Twitter?
Emang masih jaman?
Kan di situ sarang orang marah-marahan dan akun bot? 
Kan yang main Twitter orang tua, anak kekinian pada minggat?
Pertanyaan begituan banyak banget gue dengar dari teman-teman gue yang mulai beralih ke sosial media kekinian atau kembali ke sosial media terdahulu salah satu Friendster Facebook. Selain karena mulai sepi ditinggal pengguna dan saat kalian buka twitter ada banyak Bahasa Inggris ngga nyambung dan kompak walaupun beda akun misalnya:
5 person followed me and 2 people unfollowed me//automaticallyy checked by http://fllwrs.com.
Habis liburan ke kandang komodo #BibirMelet #komodoImut #AduhDikejar #Kirainbiawak instagram.com/si/ikan/bace.
With gebetan  at Kuburan Massal sambil Jangain lilin bareng – path.com/p/eeq.
Eh... tau ngga ternyata saipul jamil satu sel bareng ketua PSSI La Nyala? Coba Check// bit.ly/kampretto/hoax.
Menyambut satu dasawarsa lebih twitter berdiri tepatnya 21 Maret 2006, dari sebuah tweet hingga kini telah miliaran tweet memenuhi timeline. Serasa nostalgia ke masa lalu saat twitter sangat ramai dan penuh kegaduhan tanpa mengenal waktu pagi, siang dan malam. Bermunculan berbagai selebtweet yang menghibur timeline orang-orang yang lagi galau, baper, dan butuh hiburan cerdas melalui permainan kata-kata dan hastage.
Share:

Senin, 21 Maret 2016

Jumat, 11 Maret 2016

Warkop dan Waktu Yang Terbuang

Warkop dan Waktu yang terbuang

Pagi ngopi, siang ngopi, beranjak sore ngopi lagi dan malam kembali ngopi. Budaya kece yang tidak bisa dipisahkan dari rakyat Aceh khususnya kaum Adam. Kebiasaan ngumpul bareng sembari mencicipi kopi serta aneka kudapan khas Aceh seperti Timphan, Asoe kaya, dan roti Samahani. Kopi Aceh terkenal dengan kenikmatan dan kekentalan yang ngga ada lawannya. Dibuat oleh barista handal dalam menyeduh dan menyaring kopi dan memindahkan ke gelas-gelas untuk segera diantarkan kepada pelanggan yang telah menunggu untuk segera dicicipi.
Share:

Sabtu, 05 Maret 2016

Bertahan Pada Konsistensi

bertahan pada konsistensi

Tetes air hujan yang jatuh dari lembah tepat pada batu besar nan gagah, di beberapa sudut batu ditemukan lubang-lubang yang mengangga hasil percikan air.

Sekuat itukah tetesan air yang tak seberapa mampu memberikan lubang pada batu besar nan gagah?

Hanya dari tetesan air yang jatuh lembah bermodal konsisten menghujam punggung batu secara terus menerus mampu meluluhkan kerasnya batu.

Seperti perumpamaan di atas, konsisten adalah kekuatan sebenarnya dalam menaklukkan segala sesuatu yang kamu inginkan kelak. Gaya hidup kini banyak sekali orang yang ikut-ikutan (terbawa arus) sehingga lupa bahwa konsisten dan kerja keras ibarat dua sisa mata uang yang saling berikatan.

Mereka rela mengikuti kebiasaan yang sedang begitu ramai digandrungi oleh banyak orang. Budaya ikut-ikutan begitu merambah, namun dalam sekejap bosan datang melanda. Hasilnya mereka mencari hal lain yang menurut kamu menarik lebih menarik lagi dengan alasan.
Kami tak mampu, yang dilakukan sepertinya kami tak mampu dan kamu lebih beruntung.

Banyak yang sekedar ikut-ikutan dan berhenti saat ia belum mendapatkan apa-apa menurut saya karena mereka merasa itu bukan passion-nya.

Mereka menganggap sesuatu yang dicoba terlihat menarik dan menguntungkan, saat dijalani sebagai rutinitas, batin terasa berkecamuk. Bosan dan putus asa, serta terbesit di dalam pikiran: Kenapa yang selama ini diberlakukan tak menghasilkan apa-apa.

Hasilnya menyerah dan mencari haluan arus lain yang menurut mereka begitu mudah. Begitu banyak orang yang melihat segala kesuksesan dan keberhasilan orang lain berdasarkan kacamata gunung es.

bertahan pada konsistensi

Melihat sisi yang menyenangkan tetapi lupa melirik begitu banyak derita yang diraih. Manusia diberikan anugerah mata sebagai kemampuan melihat yang tampak-tampak tapi terlihat buruk saat mengabaikan yang luput terlihat.
Tak ada ikan salmon yang mengikuti arus, kecuali ia adalah ikan salmon yang mati sebelum sampai tujuan

Bertahan pada konsistensi itu berat apalagi hanya sekedar ikut-ikutan karena melihat orang lain sukses. Padahal kesuksesan yang lahir dari orang lain berasal dari proses konsistensi dan juga belajar dari kegagalan-kegagalan.

Seperti gambar yang saya tampilkan di atas, terlihat begitu banyak yang menyerah apa ia jalani sebelum dengan melihat sebongkah keberhasilan orang lain. Di dalam fase itu hidup manusia merasa putus asa ingin terus melanjutkan atau tetap bertahan pada konsistensi yang ia jalani kini.

Saya menganggap manusia punya jalan sukses masing-masing yang ingin ia jalani. Terlihat begitu mudah di awal tetapi mulai berliku jelang akhir. Terlihat sangat berat dan berliku di akhir.

Saya melansir beberapa pengaruh yang manusia sangat sulit tetap konsisten atas segala yang ia lakukan, padahal segala yang telah dilakukan punya rahasianya, berikut penjabarannya:

Ikut-ikutan, budaya inilah yang menjadikan kenapa konsistensi tak mampu terkawal hingga sampai ke tujuan. Sesuatu yang baru dan unik itu seperti magnet yang sangat kuat menarik banyak orang untuk ikut-ikutan.

Saya rasa ikut serta itu baik kecuali ikutnya hanya sebatas ikutan-ikutan. Ibarat sangat tepat dalam masalah ini adalah memperamai keadaan. Passion itu terbangun dari keyakinan pribadi walaupun di awalnya hanya sebatas ikut serta tetapi berdasarkan perjalanan waktu di situlah passion-nya bermuara.

Sedangkan mereka yang sekedar ikut-ikutan hanya sebatas menumpang lewat, dengan berbagai alasan, dan rasa tak nyaman. Semua harus gugur di tengah jalan karena konsisten tidak bakal bisa diraih hanya dengan ikut-ikutan.

Bosan dan jenuh, sudah jadi alasan klasik saat konsisten tak mampu dijaga. Alhasil kedua rasa itu terus menghinggap secara terus-menerus. Semua yang dijalani tanpa passion dan nyaman akan semakin cepat pula bosan menghinggapi.

Walaupun kelak mendapatkan profit yang menguntungkan tetapi tak ada yang mampu menolak gejolak batin untuk segera mengakhiri segala kejenuhan yang melanda. Saat berada kondisi seperti ini adalah untuk mengingat-ingat hal yang menyenangkan terhadap apa yang dijalani selama ini bukan harus putus asa.

Bosan dan jenuh adalah sikap manusiawi yang sangat wajar, tetapi bukan karena rasa itu sudah memuncak harus mengakhiri konsistensi yang selama ini dibangun.

Berubah haluan, Ada hal lain yang lebih menarik jadi cobaan yang membuat begitu banyak manusia berubah haluan di tengah. Perjuangan yang sedang dirintis tak mengalami perubahan dan apa yang sedang dijalani seperti salah arah.

Apalagi saat melihat kesuksesan orang lain lakukan, belum tentu sukses yang orang lain rintis akan sama dengan kita coba. Sehingga mengabaikan apa yang telah diperjuangkan selama ini, padahal sedikit lagi andai bersabar maka lipatan keberhasilan yang diraih lebih besar lain.

Melihat kesuksesan orang lain, ini salah satu alasan yang sangat kuat kenapa begitu banyak orang mencoba diri untuk konsisten pada kesuksesan yang orang lain berhasil gapai. Ibarat gunung es yang menjulang tinggi tetapi sedikit sekali yang melihat kenapa ia bisa menjulang karena es lain yang mengapung di bawah dasar laut.

Seperti itulah kenapa banyak orang melihat kesuksesan orang lain dari enaknya saja, tetapi rasa sakit, jatuh dan gagal berkali-kali kadang seperti diabaikan. Di saat ia mencoba barulah ternyata rasa sakit lebih lama dan berkelanjutan sebelum kebahagiaan yang datang belakangan.

Di fase ini banyak yang menyerah sebelum mengecap indahnya manis keberhasilan. Alasannya sederhana, karena melihat kesuksesan dari satu sisi berhasil saja tapi lupa bahwa yang membuat berhasil datangnya seberapa banyak gagal yang dilalui bukan mengubah arah haluan di tengah jalan.

Berpikir negatif, alasan nyata mengapa konsisten tak berhasil akibat sudah berpikiran negatif dan gagal dahulu padahal belum memulai apapun. Rasa takut gagal membayangi apa yang dilakukan mengingat begitu banyak yang gagal sebelumnya ditambah energi negatif yang diucapkan oleh orang-orang yang gagal agar kamu jalan melangkah ke sana.

Pengaruh itu sangat kentara apalagi mereka yang gagal seperti melarang atas kegagalan yang mereka lakukan bukan memotivasi agar kegagalan yang pernah terjadi oleh dirinya tidak merambat ke orang lain.

Apalagi otak sangat cepat merespons hal yang berbau kegagalan dibandingkan hal negatif dan bersifat ancaman terutama saat kecil sering disuguhi kata-kata negatif:

Awas..
Jangan..
Hayo!!!
Dan lain sebagainya

Efeknya itu berlanjut dengan saat transfer energi negatif yang terjadi saat melakukan sesuatu. Akibat larangan dan himbauan tadi malah gagal sebelum sampai ke tujuan. Ada baiknya tetap percaya kata hati, ibarat kita berhenti lebih dahulu untuk menggapai sukses.

Menyerah di tengah jalan, inilah hal yang paling disayangkan apalagi melihat tak ada hasil yang didapatkan. Mencoba untuk konsisten tapi saat belum bisa mendapatkan apa yang diinginkan malah harus menyerah di tengah jalan.

Itu sebuah cara terburuk dalam mengakhiri sebuah perjuangan, sudah terlalu jauh melangkah tetapi harus menghentikan langkah dan berbalik arah. Hampir sama halnya berubah haluan sebelum menggapai tujuan.

Alhasil harus memulai lagi hal baru lainnya dan belum tentu berhasil. Waktu dan tenaga juga habis andai mampu terus-terusan berjuang bukan lebih dahulu pulang.

Itulah beberapa penyebab kegagalan mempertahankan segala konsistensi. Gue pernah baca seorang Blogger sukses dari negara di benua hitam yakni Nigeria, seorang perempuan paru baya yang sangat konsisten menulis tentang passion-nya di blog terutama masalah fashion.

Hasilnya dia jadi Blogger yang punya pendapatan berlimpah walaupun hampir 5 tahun pertama dia ngga mendapatkan apa-apa. Toh konsisten itu perlu banget apalagi bosan jadi penghalang utama buat konsisten.

Dan pengalaman pribadi penulis yakni saat aktif di tempat kebugaran dan melihat begitu banyak yang sangat semarak di awal keikutsertaannya, tapi selang beberapa Minggu banyak yang hilang entah ke mana.

Cara mempertahankan konsistensi itu kembali kepada diri sendiri, ibarat sudah begitu waktu dan tenaga yang telah digunakan. Di tengah jalan malah mundur dan berpaling ke hal lain yang lebih menarik.

Kini saatnya kuatkan tekad terhadap apa yang ingin dijalani dan tanyakan kepada diri bahwa untuk apa saya lakukan ini. Karena jawaban yang paling tahu akan penting atau tidak yang dijalani hanya pada diri sendiri. Saran dan pendapat dari orang lain hanya sebagai masukan.

Bila telah berada di tahap yang dijalani sesuai dengan kehendak dan rasa nyaman, dijamin segala sesuatu yang dijalani akan bertahan pada alur konsistensi dan buah kerja keras tak pernah bohong dengan hasil.

Terakhir, sebagai penutup adalah konsistensi semakin nyata saat tetap kuat berkomitmen atas yang dijalani. Dengan itulah tujuan yang diinginkan akan selalu berdampingan serta semua itu semakin berkah bersama doa. Sekian, semoga menjadi pencerahan dan menginspirasi.
Share:

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis