Kamis, 24 Maret 2016

Free Life or Free Wi-fi?


Gambar di atas adalah pilihan yang begitu sulit terutama kita yang hidup di zaman butuh akses data dan informasi super cepat. Tanpa buffering, reload link dan yang pasti bisa kapan saja mengetahui informasi paling up to date setiap saat.

Bila gambar ini kamu perlihatkan kepada kakek-nenek atau tetua di lingkunganmu, sudah pasti mereka akan memilih gambar yang di atas. Saat jelas mereka tidak mau hidup di ruang sempit, kumuh, dan tertutup seperti penjara. Selain itu, kakek-nenek kamu umumnya ngga familiar dengan internet. Mereka familiarnya sama minyak urut dan sandal rematik.
Bila kalian tanya langsung kepada penulis, jawabannya apa?
Saya langsung jawab, walaupun pilihan sulit nan pelik mengingat penulis hidup di zaman sangat butuh internet kapan saja dan yang pasti harus cepat. Saya memilih pilihan pertama, penjelasannya sederhana: Cukup banyak dari pada kita yang mengabadikan moment terutama tempat-tempat yang indah bercampur eksotik. Sehingga kamu sedikit lupa bagaimana cara menikmati moment langka yang susah payah kamu pergi ke sana.

Di zaman nomophobia, kita lebih bangga dengan ratusan atau moment di suatu tempat spesial bagi kamu tapi tidak bangga saat lupa merasakan dan menikmati moment yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Kembali ke pembahasan kita tentang pilihan satu yang digambarkan dengan suasana panorama indah di tengah hutan hujan tropis dan dikelilingi oleh tebing curam menjulang. 

Kamu tinggal di rumah adat khas Jepang, udara yang belum pernah terjamah polusi udara kejam dan sesekali bisa mendengarkan suara kicauan indah burung saling sahut-sahutan tanpa henti. Nikmat mana yang kamu dustakan? Apa karena minus keberadaan Wi-fi? Kamu menganggap semuanya terasa buruk, membosankan, dan akan membuat kamu tertinggal segala informasi?

Pada gambar kedua, pilihan yang digambarkan dengan penjara berukuran 2 X 3 meter, sudah termasuk ranjang, lemari, gantungan baju, toilet dan westafel kecil. Suasana sempit, sumpek dan dibatasi oleh jeruji besi. Kelebihannya cuma satu, terpasang Wi-fi berkecepatan super cepat yakni 100 MBPS. 

Ngga ada masalah apapun saat kamu mengakses segala situs, hanya saja situasi layaknya penjara dan kamu adalah terpidana yang ditangkap akibat kecanduan internet dan mengabaikan segala pekerjaan. Sebagai gantinya kamu dicebloskan ke dalam penjara yang narapidananya adalah manusia-manusia sakaw internet agar tidak mengganggu masyarakat. 
Baca juga: Twitter, Masih Paling Seru
Free life sekarang kalah pamor dengan free Wi-fi, bila kita tahu esensi manusia hidup ke dunia bersahabat dengan alam dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Kita lupa akan tujuan hidup, penulis pernah baca sebuah renungan yang bercerita tentang seorang guru besar (profesor) sedang memberikan materi kepada mahasiswa.

Guru besar itu masuk ke dalam ruangan sambil menenteng sebuah toples besar dan membawa material lainnya berupa bola tenis, kelereng dan pasir laut kering yang punya ukuran berbeda. Para mahasiswa bingung sambil bertanya-tanya di dalam hati masing-masing, apa gerangan yang dilakukan oleh guru besar mereka sedangkan saat itu bukan pelajaran berhitung.

Beliau menaruh benda yang dibawa di atas meja sambil menghela napas, kalian tahu benda apa saja yang di atas meja saya, tanya guru besar dengan begitu semangat.

Iya pak, kata para mahasiswa dengan serempak dan kompak.

Jadi saya ingin menganalogikan hidup ini layaknya toples besar yang saya bawa jauh-jauh dari rumah saya. Karena saya bawa toples besar, berarti seperti hidup saya karena di usia yang sudah lanjut saya bisa melihat dunia ini. Ukuran toples adalah seberapa lama waktu yang Allah berikan kepada kamu untuk hidup di dunia ini.

Itu adalah bola tenis, saya menganalogikan adalah tanggung jawab besar yang sudah kalian emban sejak terlahir di dunia yakni tanggung jawab kepada Allah SWT, kedua orang tua, keluarga, kebutuhan sandang pangan papan, dan kesehatan. 

Ukuran yang lebih kecil itu adalah kelereng dan saya menganalogikan sebagai kebutuhan pengisi seperti pekerjaan, jabatan, kendaraan, pendidikan, dan harta. Terakhir adalah sekantung pasir laut kering, saya menganalogikan sebagai kebutuhan penghias segala kehidupan kamu. Seperti hobi, rekreasi, model pakaian, kendaraan dan gadget serta kebutuhan WI-FI.

Setelah menjelaskan secara panjang lebar, guru besar pun mulai memasukkan secara teratur. Di awali dengan memasukkan bola tenis hingga toples penuh, kemudian disusul dengan memasukkan kelereng hingga penuh,  dan yang terakhir adalah beliau masukkan pasir kering.

Sang guru besar bertanya kepada mahasiswanya, apakah toplesnya masih muat?
Sudah penuh pak, teriak oleh mahasiswa.

Kemudian sang guru besar mengambil secangkir kopi di atas mejanya dan menuangkannya ke dalam toples yang sudah penuh. Sekarang baru benar-benar penuh terisi sambil melihat sekeliling toples.

Lalu seorang mahasiswanya bertanya, apa maksud secangkir kopi?     

Sambil tersenyum beliau menjawab, secangkir kopi itu ibarat hidup itu dibawa santai saja untuk melupakan kesusahan yang kamu alami dan juga sebagai penyambung silaturahmi dengan orang terdekat dan masyarakat.

Nah... dalam hidup itu harus ada keseimbangan, mana yang menjadi prioritas dan mana yang hanya menjadi pelengkap. Manusia kini lebih banyak mementingkan pelengkap kehidupan seperti lebih mengutamakan kelereng dan pasir, akibatnya bola tenis (kebutuhan wajib kita) terabaikan karena terlebih dahulu kelereng atau pun pasir dimasukkan ke dalam toples.

Konsep hidup yang dijelaskan dari kisah sederhana yang penulis baca dan kembali review kepada kita semua sebagai bentuk renungan. Bahwa perkembangan zaman semakin membuat manusia lupa mana yang lebih dahulu di dahulukan, bijak memilih dan mengaturnya secara seimbang jadi hidup terasa bahagia. Seperti gambar di atas tadi, gambar di atas membuat kita lebih menganalogi gambar pertama sebagai free life yakni bola tenis dan kelereng sedangkan free wi-fi cenderung pasir laut kering. 
free life or free wifi

Jadi akan terasa adil bila free life yang tenang jauh dari segala hinggar-bingar keriuhan diutamakan dan dibanggakan, tidak selamanya tertinggal segala informasi membuat kita jadi orang udik tapi terlalu terkekang dan terpancar wi-fi buat kita rindu melihat hijaunya pepohonan, birunya langit dan cokelat kekuningannya tanah tempat kamu berpijak.
Share:

4 komentar:

  1. Aku tetap bersyukur akan hidup di dunia aku sekarang, di tempat terindah, Aceh yang agama dan budaya keagamaan di genggam erat. Masalah wifi dan free life, dimanapun kita tetap butuh keduanya. No limit why the 2nd option on a rushing. Kita butuh wifi tok dapat rumah adat cantik di Jepang, tentu penjara bukan satu2nya tempat untuk "surfing".
    As always like you, brilliant idea. Interesting topic and bunch of analysis.
    Analogi pasir, bisa seperti ini? Ketika pasir penuh di masukkan, sang bola dan anak gundu sudah hilang tampak di mata, kehidupan dunia membutakan bal...


    *we'll meet at speaking 3.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini gambaran nyata bahwa kita melupakan dunia nyata yang indah dan berpaling dunia maya yang bila kebanyakan "Surfing" malah bikin boring..
      Yoi, saya gabung

      Hapus
  2. artikel yang bagus..
    perkembangan jaman dengan berbagai kecanggihan yang mengiringinya seharusnya tak hanya memudahkan tapi juga mampu membuat kita lebih bahagia..
    bukan sebaliknya..
    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akhirnya kita terlarut dalam teknologi yang kita buat sendiri dan mengacuhkan hal indah yang ngga kaitannya dengan teknologi.

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis