Kamis, 21 April 2016

Memaknai Tetesan Hujan

memaknai tetesan hujan

Awan saling berkumpul terbawa oleh angin yang mengharap hujan serta membuat langit yang tadinya cerah kebiruan menjadi putih keabu-abuan saat awan saling bergumul mesra. Rintik hujan pun turun membasahi bumi yang sudah dahaga nan kering kerontang. Tanah kering yang menggembul terkena percikan hujan berganti tanah basah menutup pori-pori tanah yang saling merekah akibat menahan tekanan panas.

Ketika hujan turun, bakteri Actinomycetes yang banyak terdapat di tanah menyebar terkena guyuran air hujan. Aroma yang tersebar dari bakteri Actinomycetes membuat aroma tenang buat siapa yang menciumnya. 

Bukan berarti kita harus mencium tanah yang bercampur air hujan, secara tidak langsung tanah yang terkena percik hujan menyebarkan bakteri itu melalui udara hingga bisa tercium oleh indera penciuman hingga membuat pikiran kamu yang tadinya kusut dan kalut malah jadi tersulut tentram.

Hujan yang turun secara tiba-tiba seakan membuat manusia berlari tidak karuan menyelamatkan diri agar terhindar oleh basah berat. Mencari tempat teduh yang layak dan hewan-hewan pun peduli akan hal itu sama halnya dengan manusia. 

Di pedesaan saat hujan turun mengguyur, para manusia yang sedang di jalan bersegera mungkin mencari pohon yang rindang agar tetes deras hujan tak mampu membasahi apabila tak ada pondoklah tempat berlindung. Kondisi berbeda ditemukan di perkotaan, jangan harap ada pohon besar atau pondok kecil untuk tempat berteduh. Sesat hujan turun dan sedang dalam perjalanan, halte dan emperan toko jadi tempat ramai bagi manusia-manusia di jalan singgah sejenak menunggu hujan berhenti turun dari langit.
Hujan itu paling tak diharap saat turun tapi saat dia begitu lama tak singgah, banyak yang bertanya: kamu ke mana saja hingga lupa singgah ke sini dan setelah kamu pergi meninggalkan kenangan indah tak terlupa yakni tetes air dan pelangi
Manusia yang cukup mapan terhindar dari percik hujan beralaskan kendaraan roda empat dan yang naik kendaraan umum sedikit beruntung sembari melihat manusia-manusia berjejer rapi sedang berteduh sambil melihat jalan yang kosong dilewati oleh kendaraan berkecepatan pelan. Lampu-lampu rem kendaraan terlihat merah agak pudar tersamar oleh bias air hujan.

Kadang saat manusia yang dikejar waktu dan sudah lebih dahulu basah kuyup sembari berlari ataupun memacu kendaraan roda dua menerobos derasnya hujan. Urusan basah ialah hal belakang, yang penting bisa sampai ke tujuan ujar mereka dalam hati kecil masing-masing. Modal mereka kadang tangan kosong mereka menahan laju air hujan dan juga kantong kresek yang jadi helm pelindung kepala dadakan dari air hujan. Hmm sungguh sederhana tapi saat itu sebuah kantong plastik sangat bermakna.

Manusia lain yang lebih beruntung saat hujan turun tengah berada di rumah, kantor, dan sekolah. Sesekali melihat derasnya hujan dari balik jendela yang terpercik hujan hingga menimbulkan embun-embun di kaca jendela. Bagi jiwa yang galau dan pikirannya meresonansi akan masa lalu dan kenangan indah, waktu itu jadi kesempatan tepat untuk bisa merenung sesekali menuliskan tulisan-tulisan random di kaca jendela yang tertutup embun. 

Hmm.. sungguh tetesan embun yang melekat di kaca jendela amat perhatian hingga mampu membunuh bosan dan galau. Hebatnya kau wahai hujan walaupun dari tetesan embunmu, banyak waktu yang bisa diisi oleh kami para penggalau dan makhluk terikat rasa bosan.
Baca juga: 7 Alasan Kenapa Hujan Bikin Galau
Tak cukup sampai di situ, suara hujan yang jatuh ke genting, ke tanah dan pepohonan menghasilkan suara instrumen yang menenangkan buat pikiran kamu terformat untuk menguap menghasilkan energi kantuk yang luar biasa.
Bunyi hujan itu seperti obat bius yang bikin tidur bercampur dengan suara panggilan kasur yang terdengar sayup-sayup memanggil
Tak hanya suara hujan yang mirip suara instrumen klasik penenang pikiran, suara hujan itu sangat sering mengalihkan kita pada hal absurd seperti suara ibu kita sedang menggoreng ikan di dapur. Di waktu sedang bermain di rumah sama saudara atau teman, tiba-tiba terdengar suara semua yang membingungkan.

Apakah itu hujan yang turun menghujam genting. Saat berlari melihat langit ternyata cuaca amat cerah, kamu pun pergi ke dapur dan menemui ibumu yang sedang memasak ikan goreng. Bila ada survei yang dilakukan pihak akademisi, hampir semua anak kecil atau orang dewasa pernah tertipu dengan suara hujan tetapi ternyata ibumu menggorengkan ikan.
Sungguh dramatis wahai hujan ternyata suaramu yang jatuh ke genting mirip ikan yang masuk ke penggorengan
Semua pada berteduh tapi pemandangan menarik saat hujan turun dengan deras yakni anak-anak yang nekat namun bahagia saat hujan turun dengan deras. Mereka mengambil inisiatif sebuah daun pisang muda untuk jadi payung, apa daya kering tak datang malah basah yang dapat. Mereka senang bukan kepalang karena saat hujan sedang derasnya waktu yang langka, tamparan percik hujan yang jatuh seperti terapi bagi wajah.

Ada anggapan saat pertama sekali hujan turun, saat itu waktu yang banyak manusia hindari karena bikin sakit kepala dan pilek. Memang saat awal turun, hujan membersihkan dirinya dari ulah tangan manusia yang semena-mena mengotori langitnya oleh polusi kendaraan, buangan pabrik dan asap hutan yang terbakar tak lama kemudian terganti oleh pohon-pohon PetroDollar bernama “sawit” sungguh ironi!!!. Hanya sejenak hujan membasahi langit yang kotor dan mengantinya dengan air-air segar yang siap diserap oleh para kaum tumbuhan dan tanah.

Pada waktu anak-anak yang tadi berpayungkan daun pisang malah berlari-lari bahagia pulang ke rumah, setibanya di rumah bukannya berkeramas kepala sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Mereka mengganti baju sekolah yang basah dengan baju biasa yang siap basah pulang dan memanggil teman-teman mereka.
Ayo kita main bola ke lapangan segera!!! Jarang-jarang bisa seluncuran tanpa lecet di lapangan bola.
Hujan meninggalkan jejak yang tertampung ke kolom bumi mana pun yang ia curahkan seperti sungai, danau, kubangan hingga genangan becek. Andai saja cermin tidak pernah ditemukan ulang manusia yang ulung, maka semua orang akan berkaca pada genangan air dan becekan. 

Oleh karena itu, kalian harus menghormati penemu cermin sehingga kita tak harus mencari ke manakah ada genangan untuk melihat refleksi diri. Walaupun genangan itu berwarna keruh kecokelatan akibat bercampur dengan tanah, namun mereka tak pernah bohong dan menyamarkan wajahmu.

Hujan membuat senang makhluk hidup yang telah lama mengharap hujan tak kunjung datang, saat tiba kali ini si hujan membawa air tanpa henti lagi deras. Ada manusia yang berdoa sambil siaga penuh saat hujan datang begitu besar dan lama, mereka takut atap rumahnya yang menua tak cukup kuat menampung hujan hingga di setiap sudut rumah sudah ada banyak timba yang menampung air-air hujan.

Tak cukup sampai di situ, hujan kembali mengancam dari luar lewat sungai dan selokan yang penuh. Air hujan yang harus pasrah saat tak banyak lagi tanah tempat mereka beristirahat di sana terganti oleh beton-beton serta jalan hingga mereka hanya mengalir bukan terserap. 

Yang jadi korban yakni rumah masyarakat yang air anggap sebagai tempat mereka melintas akibat rendah dari beton dan jalan yang manusia bangun. Hujan tak salah menurunkan air yang dikandung, harus diingat mereka yang hanya benda cair saat volume mereka banyak bisa buat manusia kewalahan karena mereka ciptaan Yang Maha Kuasa.

Hujan yang jadi berkah tapi malah menjadi bala saat manusia-manusia lupa kearifan alam yang sudah lama terjalin.
Saat datang banjir tapi saat pergi kembali kekeringan, tempat yang kita tampung ibarat menahan air dengan timba bocor
Apa yang didapat? Yakni kehampaan... karena saat hujan berhenti, timba pun kembali kosong tanpa isi. Manusia sering lupa saat hujan menunggu jadwal kedatangannya kelak nanti, kamu harus siap bertahan dengan air-air yang telah diturunkan langit bukan mengirim kembali air-air dari langit itu ke selokan > sungai dan ke laut lagi.

Tak selamanya awan yang bergumul hingga menimbulkan warna pekat kehitam-hitaman terkonversi jadi butir-butir hujan.
Ada pepatah yang berkata:
Angin berhembus kencang tanda hujan tak jadi turun
Rerumputan yang bergoyang ditiup oleh angin dingin yang membawa cikal-bakal awan hujan, akan tetapi kali ini lambaian rumput dan pepohonan untuk hujan singgah tak kesampaian. Rupanya awan pun ke tempat lain yang ia singgahi lebih jauh untuk pecah jadi butir-butir hujan, mungkin hujan ingin memberi kode PHP (Pemberi Harapan Palsu) untuk sedikit bersabar wahai para penghasil klorofil.

Kenapa kau mengabaikan kami di sini ujar pepohonan dan rerumputan yang mulai menguning sedangkan di sana mereka sudah berkecukupan air keluh rumput dan pepohonan?

Hujan tahu siapa-siapa yang benar-besar sabar dan walaupun air menguap menjadi awan, tapi saat di atas air sadar bahwa dirinya berasal dari bawah. Ia rela kapan saja turun untuk siapa yang membutuhkan dan ke mana angin membawa.
Share:

2 komentar:

  1. I love rain.
    Jendela dan kaca bekas tempias hujan adalah kemesraan yang alami.
    Hujan adalah berkah, Allah Janjikan itu. Tentu kita sangat yakin akan Janji Allah, jangan ragu sedikitpun.
    Terimakasih banyak bal, menerjemahkan dengan sangat arif, hujan hadir dengan misi damai bal, karna kita adalah nurani panas yang siap kapan saja perang.

    Izin promo bal
    mfauzannur.blogspot.com (saya tunggu comment nya)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya hujan itu penuh cinta yang dia turunkan lewat tetes air, tapi kita sering ragu apakah itu suara huja yang jatuh di atas genting atau suara ibu kita yang lagi menggoreng ikan.

      baik pak.!!

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis