Jumat, 27 Mei 2016

Pembiasaan Cara Terbaik Mewujudkan Impian

 Bisa karena biasa

Bace adalah seorang bocah penakut diajak berenang, setiap teman-teman mengajak berenang selalu ada alasan yang ngga logis buat menolak ajakan teman-temannya. Misalnya waktu ke kolam renang dia beralasan disuruh ibu ke pasar membeli sayur, padahal di depan halaman rumah terdapat hamparan kebun sayur nan luas. Saat teman-temannya mengajak berenang ke sungai, Bace beralasan mengantar adiknya ke sekolah padahal itu adalah hari Minggu.

Yang lebih ngga masuk akal lagi saat teman-teman mengajak ke laut, Bace kembali dengan alasan yang lebih ngga masuk akal yakni neneknya nikah lagi. Teman-temannya kecewa berat dan ngga mau lagi mengajak Bace ke tempat rekreasi berwahanakan air.

Sepertinya ada hal yang ditutup-tutupi, teman-temannya penasaran. Sepulang dari sekolah mereka ingin mengajak Bace ke suatu tempat. Tanpa memberi tahu sebelumnya, ternyata para teman-teman mengajak Bace ke empang ikan lele. Dengan iseng, para teman-temannya melemparkan Bace ke dalam empang penuh air lumpur.

Hahaha... Sambil tertawa keras, Teman-temannya bingung.

Bace meraung-raung meminta tolong. Tolong!!! Tolong!!!,

Aku tak bisa berenang, teman-temannya heran. Itu kan cuma empang ikan lele sedalam lutut anak balita baru bisa jalan, kenapa Bace bisa meraung minta tolong ujar para teman-temannya.

Akhirnya teman-temannya melemparkan seutas tali dan menariknya ke darat. Saat itu Bace baru bercerita kenapa setiap kali ia mengelak pergi berenang karena dia ngga bisa berenang. Menyiram kepala dengan air saat mandi saja dia takut minta ampun apalagi berenang.

Teman-temannya mencari solusi agar Bace bisa berenang, salah satu caranya privat les berenang tiap hari, selepas pulang sekolah Bace telah siap berlatih berenang di pinggir sungai yakni di dekat air tak dalam yaitu lokasi ibu-ibu mencuci baju. Walaupun merasa dirinya hina dan terlihat bodoh, namun kebulatan tekad dan mau bisa membuat Bace tak malu.

Lama kelamaan, si Bace semakin mahir. Dahulu temannya sering menertawai dirinya, namun kita dia jadi yang paling handal. Dalam sehari ia mampu berenang menyeberangi sungai dari hitungan jari hingga puluhan kali. Tubuhnya yang dulu buntal berubah menjadi atletis ibarat ikan pedang mengikuti sistem aerodinamis dalam air. Napasnya yang dulu terengah-engah menjadi begitu tangguh hingga 3 menit di dalam air.

Karena apa? Karena ia bisa karena biasa.

Di suatu hari, diadakan lomba renang antar desa. Dari begitu banyak masyarakat serta juri yang menyaksikan, ternyata ada pencari bakat yang mengendus bakat si Bace. Lomba pun berlangsung, para saingan Bace tertinggal jauh dan singkat cerita dia telah menyentuh Finish tanpa perlawanan. Memang sepertinya dia terlahir sebagai perenang handal.

Bace menang dan menggondol piala renang antar kampung, setelah turun dari podium. Si pemandu bakat menawarkan agar Bace bisa bergabung dengannya. Di latih menjadi atlet lebih handal untuk lomba renang yang lebih bergengsi yakni lomba renang antar pulau. Bace pun meng-IYA-kan dan tertarik dilatih untuk level yang lebih tinggi dan menantang.

Hasilnya Bace jadi juara dan jadi legenda renang dengan torehan rekor waktu yang begitu mengesankan saat turut serta dalam perlombaan renang antar pulau. Mengalahkan begitu banyak kandidat juara lintas bangsa.

Dari bocah takut air, berlatih sesering mungkin > tertarik mencoba > siap  menerima tantang > menjadi ahli > akhirnya jadi sang pemenang.

Dari secuil kisah tadi, dapat dipetik sedikit hikmat bahwa dengan kebulatan tekad, keyakinan, ditempa dengan latihan hingga jadi rutinitas, menghasilkan pembiasaan, menjadi bisa, berlatih lebih keras, dan akhirnya menjadi jawara di bidangnya.
 Baca juga: Ironi Memperoleh Tubuh Ideal

Banyak manusia yang sebenarnya merasa dirinya salah jalan walaupun sebenarnya belum mencoba. Ingin merintis jalan karier di bidang A tapi nyatanya di bidang B yang ia pilih karena terpaksa serta sebab lain hal, malah membuat dirinya semakin terpacu dan jadi jawara. Dan saat telah berkecimpung dengan hal yang dibenci malah rasa cinta muncul, inilah tempat saya sebenarnya.

Bruce Lee pernah bilang begini:
Saya lebih takut dengan lawan yang berlatih satu pukulan tapi 1000 kali dibandingkan lawan yang berlatih 1000 macam pukulan tapi hanya satu kali

Maksudnya lebih keren jadi orang ahli di sebuah bidang tetapi kompleks dan mendetail dibandingkan banyak bidang dikuasai tapi sifatnya serabutan. Segala sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang (repetisi) dengan konsisten lebih menjamin sukses dibandingkan dengan setengah-setengah namun ngga konsisten.

Penulis memberi perumpamaan seperti ini: saat ada sesuatu bisnis yang WAH (read: booming), banyak yang rela ikut-ikutan. Sebahagian memang passion-nya di situ tapi di sisi lain banyak yang mengandalkan niat ikut-ikutan. Hukum alam berlaku, banyak yang tergerus arus dan yang bertahan hanya para perintis dan yang konsisten serta selalu melakukan inovasi.

Kembali lagi ke kisah si Bace, akibat dia ngga bisa. Merasa dirinya perlu berubah, bila dia terus menghindar malah kelak di masa depan dia hanya menjadi seorang pecundang takut air selamanya. Dia membuktikan melawan rasa takut untuk bisa menjemput jiwa seorang jawara. Saat dia mencoba ternyata passion-nya malah muncul dan didukung dengan rasa konsisten sepanjang waktu untuk hasil maksimal.

Segala yang ditakutkan malah menjadikan kita kuat, namun yang kita beranikan malah membuat diri kita takut

Tak ada salahnya di dalam hidup ini mencoba selama berada dalam koridor yang benar dan ngga pernah takut bahwa ini akan berakhir gagal atau salah jalan. Ini akan jadi pengalaman yang begitu berharga kelak di masa depan, toh mengumpulkan deposito gagal di masa muda lebih baik dibandingkan di masa tua cukup banyak kredit gagal yang masih tertinggal, suksesnya kapan.

Sebenarnya kerja keras dan tekad yang kuat membuat diri kita menemukan jadi diri sebenarnya. Karena kemauan keras untuk mengejar target dan rasa tertinggal ditambah sedikit semangat, mampu mencapai target yang kamu inginkan.

Kadang kita ngga tau bakat apa yang kita miliki, segala yang sudah kita perjuangan nyatanya malah bukan bakat sebenarnya. Akan tetapi sesuatu yang kita kurang sukai atau ngga mau dicoba malah menjadi bakat sebenarnya. Orang menyebutnya dengan sebutan bakat terpendam, banyak bakat terpendam tapi ngga pernah diasah atau dikembangkan.

Banyak faktor teknis serta non-teknis yang buat bakat terpendam ngga muncul dan bersinar ke permukaan, misalnya punya cita-cita jadi atlet berbakat. Namun karena sudah bekerja di tempat yang terikat, bakat itu mengendap ke dasar. Bisa karena jadi atlet tak menjadi masa depan seperti pekerjaan kini. Sehingga bakat terpendam hanya muncul saat ada kejuaraan yang mempertandingkan bidang minat yang terpendam.

Banyak orang yang menganggap bakat terpendam hanya sebatas hobi, ngga lebih

Banyak takdir ngga memihak pemilik bakat terpendam, karena bakat saja ngga cukup. Sering banget kita mendengar:

Kamu sangat berbakat di bidang ini!!!

Nyatanya bakat tanpa ada kesempatan dan latihan yang begitu keras akan percuma, selain itu bakat yang sangat mumpuni di bidangnya buat si pemilik bakat bangga hati dan melupakan bahwa dasar utama bakat tetap gemilang dengan tetap berlatih dan belajar dari masalah dan tetap mawas diri.

Penulis mencontohkan kasus: setiap tahunnya begitu banyak pemain bola asal Brasil mengorbit ke sepak bola berbagai liga di seluruh dunia. Sangking banyaknya, terjadi persaingan keras nan ketat untuk bisa jadi pemain terbaik. Selain karena berbakat, mereka punya lingkungan yang sangat kondusif buat mengembangkan bakat bermain sepak bola.

Lingkungan dan bakat punya ukuran dasar bakat berkembang dengan pesat

Akan tetapi, banyak pemain Brasil yang saat sedang di puncak karier malah hancur akibat gaya hidup yang amburadul. Mereka menganggap saat sudah di puncak, tak perlu lagi kerja keras dan kedisiplinan. Iya karena kami berbakat, di saat itulah pemain yang tak punya bakat yang mumpuni namun taat asas dan punya determinasi tinggi bisa menggulingkan pemain berbakat saat ia lengah. Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan para pesaing si berbakat yang siap mengintai saat ia lengah.

Orang biasa namun tekun bisa mengalahkan orang yang berbakat tapi menyia-yiakan bakatnya

So.... bakat saja tidak cukup menjadi tolak ukur tapi latihan terus-menerus dan jangan lupa berdoa, karena doa sebagai pemberi berkah dan memperlancar tujuan dari bakat hingga sampai ke puncak kesuksesan. Ingat tetap mawas diri dan ikut menginspirasi orang lain.

Semoga menginspirasi!
Share:

6 komentar:

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis