Senin, 16 Mei 2016

Ironi Memperoleh Tubuh Ideal

Tubuh ideal

Hari begitu panas nan terik saat matahari serasa begitu menyiksa ubun-ubun kepala, tubuh mengucurkan keringat tanpa henti. Penulis yang lagi duduk di sebuah lapangan terbuka yang di sisi dalam lapangan ada Jogging Track dan sisi luar terdapat begitu banyak panganan makanan dan minuman pelepas dahaga serta penunda lapar dengan khas kursi malasnya.

Penulis sedikit terbelalak dan terkejut dan bertanya dalam diri pribadi. Kenapa ada orang yang rela di tengah matahari sedang berkuasa panas membara, mau lari sambil pakai jaket parasut. Di hati mereka sendiri pasti ada rasa yang ngga nyaman.
Ah.. bodoh amat yang penting bisa dapat tubuh ideal racun pikiran mereka.
Ada orang tua dan beberapa anak remaja yang berlari mengelilingi Jogging Track menggunakan baju parasut yang mereka rasa ngga nyaman. Tujuannya apa? Ya untuk mendapatkan tubuh ideal yang diidam-idamkan selama ini. Mendapatkan sesuatu yang diinginkan tapi menyiksa tubuh begitu keras adalah kesalahan besar yang dilakukan banyak orang. Ada cara sederhana tapi cara ekstrem dan ngga ada jaminannya dicoba.

Di lain waktu, penulis yang juga punya hobi jogging saat matahari condong ke arah timur (read: jogging sore). Menemui orang tua dan anak remaja walaupun bukan orang yang dulu pernah penulis temui, namun cara yang dilakukan hampir sama yakni: pakai jaket parasut dan lari di tengah siang bolong. Saat itu penulis ingin ngasih mereka wejangan:
Kepercayaan yang mereka percaya dan itu ngga benar membuat mereka menyiksa tubuh sendiri dengan cara yang salah
Tata cara yang salah serta ikut-ikutan walaupun apa yang mereka lihat ngga punya bukti nyata berhasil, seakan-akan menyiksa tubuh dengan tujuan untuk mendapatkan tubuh ideal yang ingin miliki. Penulis dulunya pernah aktif cukup lama di pusat kebugaran sedikit berbagi tentang anggapan yang salah untuk mendapatkan tubuh ideal. Motonya:
Positiflah pada diri sendiri, bahwa tujuan mendapatkan tubuh ideal yakni untuk hidup sehat dan menularkan cara yang kamu praktekkan kepada orang lain
Anggapan yang banyak dipercaya oleh orang awan, menurut penulis harus segera dihilangkan dan diberi pemahaman. Toh banyak cara yang lebih sederhana, ngga makan waktu dan fleksibel. Apa sajakah pemahaman dan sekalian penulis berbagi tentang mitos olahraga yang banyak berkembang serta sangat dipercayai oleh masyarakat, cekidot:

1.      Lari Bikin Kurus?
Kasus yang penulis liat seperti di atas, banyak anggapan sesat yang masyarakat awam anut untuk bisa mendapatkan tubuh yang ideal salah satunya lari agar kurus. Bagi yang punya tubuh tambun, besar dan buat geleng-geleng kepala aja susah. Paling diinginkan yakni ngemil, tiduran sambil ganti Channel TV.

Akibat tekanan yang begitu besar dari lingkungan membuat pemilik tubuh tambun harus rela keluar dari zona nyaman untuk mewujudkan bisa punya badan yang ideal, mereka rela lari di siang hari yang begitu terik. Tua maupun muda hanya buat bisa punya badan yang ideal.
Lari bikin kurus? Iya sih kalo larinya sampai ke Kutub Utara tanpa istirahat.
Jalan atau pun lari itu sangat baik buat kinerja Kardio (Jantung), orang yang doyan banget lari serta alternatif daya tempuhnya menggunakan memaksimalkan otot kaki, punya jantung lebih sehat dibandingkan dengan yang dikit-dikit naik kendaraan, padahal cuma disuruh ke simpang beli kemiri tapi naik motor.

Mau punya jantung yang sehat cukup perbanyak jalan kaki, murah bukan?

Mitos lari bikin kurus banyak disuuarakan, itulah kenapa lapangan yang punya Jogging Track di siang hari terik, banyak orang yang merasa dirinya tidak punya badan proporsional menggenjot dengan latihan lari nan menyiksa badan. Lari beberapa putaran tapi saat istirahat malah makan berapa kali tambah pasca latihan. Ibarat membakar kalori 100 kkal tapi masuknya 300 kkal.. Ughh.. sama aja, malah surplus!

Hasilnya gagal... Kalo mau punya stamina yang kuat dan jantung yang sehat, lari jadi alternatif yang sangat baik, bila tujuannya mau kurus coba pertimbangkan cara lain yang lebih efisien yakni angkat beban. Misalnya jadi tukang galon keliling atau kuli pangku beras #PekerjaanSampingan

2.      Minum Air Dingin Bikin Buncit?
Selanjutnya mitos minum air dingin bisa bikin perut buncit. Kalo sudah buncit dan kembali nekat minum malah jadi bunting. Stereotip ini membuat banyak orang minum air dingin serba takut-takut, hingga harus nunggu air turun ke suhu normal.

Nah... gue mau logikakan begini, tubuh manusia sekitar 33-35°C dan air dingin berkisar antara 10-15 °C. Suhu air di bawah kisaran tadi masih dalam bentuk es dan sangat dingin sehingga sulit dinikmati.

Saat minum air dingin dan masuk ke dalam tubuh, air yang masuk tadi menyesuaikan dengan suhu tubuh yakni 33-35°C. Jadi saat proses penyesuaian itu, terjadi proses metabolisme yang melibatkan organ tubuh. Sambil minum air dingin dan leyeh-leyeh, bisa membakar kalori.

Harus diingat, air dingin yang diminum ngga mengandung gula berlebih, misalnya minum sirup dingin atau minum bersoda dingin. Duh.. Itu sih sama sama menambah kalori lewat gula dan proses metabolisme yang dilakukan tubuh jadi sia-sia belaka.

3.      Diet = Tidak Makan?
Ingin punya tubuh ideal, salah satu anggapan yang berkembang di masyarakat yakni ikut program diet yakni dengan mengurangi makan. Dari dulunya dikit-dikit makan, sekarang gantian dikit-dikit tahan makan. Asumsinya begini, dengan ngga makan berarti kalori yang masuk ke dalam tubuh berkurang dan tubuh akan membakar lemak yang menimbul bagian tubuh seperti di lengan, paha, dan perut.

Nyatanya diet dengan ngga makan malah bikin sakit maag, mengacaukan sistem pola pencernaan dan malah makan porsi besar sekaligus. Misalnya pagi ngga makan, otomatis di siang harinya konsumsinya makan jadi double. Jadinya diet gagal dan berat badan malah tambah naik.

Solusinya?

Kurangi makan misalnya dari makan porsi kuli bangunan diganti dengan porsi kaum eksekutif. Maksudnya, kurangi karbohidrat dan perbanyak protein serta mineral yang baik buat tubuh. Terlalu banyak karbohidrat juga ngga baik, malah bikin ngantuk serta jadi timbunan lemak yang bikin tubuh proporsional tertutup lemak.

4.      Berkeringat = Membakar Lemak?
Pemahaman sehat ini sangat banyak dipercaya oleh masyarakat, asumsinya berasal dari jumlah keringat yang keluar = lemak yang terbakar. Kan lemak hancurnya dengan pembakaran, toh dengan berkeringat berarti lemak terbakar #PemikiranSimpel.

Tapi nyatanya, mendapatkan tubuh ideal ngga semudah itu. Maka akan timbul pertanyaan lain?
Jadi penduduk yang berdomisili di daerah kutub dan sulit berkeringat cenderung obesitas dibandingkan penduduk yang beriklim panas?
Nyatanya, malah yang hidup di daerah dingin yang punya tubuh yang jauh dari proporsional karena lemak tubuh lebih banyak dihabiskan saat suhu ekstrem melanda. Andai panas dan keringat yang keluar mampu menghilangkan lemak dalam tubuh, cukup berjemur di terik matahari atau berlari di tengah siang bolong dijamin lemak hilang. Nyatanya hal demikian ngga terjadi.

Kepercayaan yang mengakar itu membuat banyak orang rela lari di terik matahari hari dan memakai jaket parasut agar keringat keluar. Hasilnya malah capek dan haus, ya jelaslah!! Lari di tengah siang hari dan menggunakan parasut bikin tubuh dehidrasi, akibat tubuh melakukan proses pendinginan. Keringat yang keluar bukan hasil pembakaran lemak akan tetapi proses mendinginkan suhu tubuh. Jadi masih percaya akan anggapan nyeleneh itu?

5.      Gelantungan Bisa Tinggi?
Gelantungan banyak dipercaya adalah cara paling cepat punya tubuh yang tinggi dan mitos ini dipercaya kuat bagi yang merasa tubuhnya pendek.
Pertanyaan lain muncul, Monyet malah sering gelantungan di pohon, nyata tubuhnya tetap saja pendek?
Tubuh tinggi dipengaruhi berbagai faktor yakni: DNA kedua orang tua, pola makan, istirahat dan pengelolaan stres di masa pertumbuhan. Well.. ngga ada hubungan dengan gelantungan bisa tinggi. Sisi lain gelantungan sangat  baik buat kekuatan otot dan bukan buat menambah tinggi.

Stop!!! siksa dengan tiap hari gelantungan dengan harapan tubuh bisa tinggi di tiang besi dan kosen pintu hingga bikin telapak tangan kapalan.

6.      Seat Up Bikin Sixpack?
Harus banyak Seat Up setiap hari, biar perut jadi kotak-kotak ibarat roti isi harga goceng!!!!
Anggapan seat up bisa buat sixpack jadi kepercayaan yang sangat dipercaya orang awan. Kan seat up ngga capek dan bisa dilakukan di mana saja, nyatanya seat up ngga membantu sedikit pun membentuk perut sixpack yang diidam-idamkan. Malah hanya membuang-buang waktu dan tenaga, bagi orang awam beranggapan lemak yang ada di perut bisa terkikis dengan seat up rutin.

Hasilnya malah nihil, hanya saja bila rutin bagian dari perut lebih keras dan tahan pukul ibarat petinju dan itu merupakan bentuk latihan harian bila ingin jadi kiper. Tapi jangan berharap sixpack muncul ya!!
Baca juga: Dilema Jadi Kiper
Lemak yang ada di perut dihilangkan bukan dengan cara Seat Up, semua itu berasal dari pola hidup dan pola makan yang teratur. Well... Pahat-pahatan kotak-kotak di perut lahir buah kerja pola hidup yang teratur dan sedikit campuran latihan dan istirahat.
Semua punya otot perut sixpack, hanya saja tertutup lemak-lemak dan-dosa makan berlebih hingga ia terbenam jauh ke dasar.
7.      Angkat Beban, Nanti Berotot!
Nah mitos yang berkembang dan dipercaya oleh kaum hawa yakni dengan angkat beban bisa buat tubuh berotot layaknya Popeye Si Pelaut!! Bila angkat beban bisa berotot, itu berarti para gadis desa badannya berotot, kan sering banget melakukan aktivitas begitu berat misalnya membajak sawah hingga se-Hektar.
Baca juga: 5 Cara Melawan Intimidasi di Gym
Nyatanya, malah kaum hawa yang rajin mau angkat beban malah punya tubuh yang proporsional. Sedikit informasi, kaum hawa tak punya hormon testosteron (ada namun dalam kapasitas yang sangat-sangat kecil) seperti yang dimiliki oleh kaum Adam. Jadi ngga usah takut berotot buat angkat beban seperti anggapan tak berdasar. Dampak positif lainnya bagi kaum hawa yang sering latihan beban yakni bila ada lelaki yang macam-macam, bisa langsung di Smack Down #Greget.
           
Cara yang paling tepat gimana sih?
Konsisten dan mengatur pola hidup sebaik-baiknya, misalnya dengan latihan, pola makan dan istirahat harus imbang. Jangan sampai berat sebelah, kebanyakan latihan hingga kurang nutrisi dan istirahat. Atau latihannya sedikit tapi makan dan tidurnya kebanyakan, lah itu sama saja.

Apakah harus anti makan dan minum tertentu?
Sebenarnya sih ngga perlu, cuma dengan mengurangi perlahan-lahan (gue ngomong udah kayak instruktur fitnes ternama). Misalnya dulu doyan makan Fast Food tiap hari, kurangi jadi seminggu sekali atau suka minum yang tinggi gula, kurangi atau ganti dengan rendah kalori. Mau ngga, udah capek latihan tapi pola makannya ngga diatur. Hasilnya bisa nihil.

Ngga ada waktu buat olahraga, gimana?
Semua bisa dilakukan di rumah misalnya perenggangan. Masak buat stalking sempat tapi buat olahraga sejenak ngga sempat. Bila udah dibuat jadwal rutin dijamin tubuh secara langsung merespons: “Aku harus latihan, kan buat kesehatan diriku sendiri”
Pernah gue baca dalam sebuah rubik berita di portal beerita terkemuka. Segala pekerjaan yang dilakukan sehari-hari seperti menyiram bunga, mencabut rumput, angkat galon hingga jalan kaki ke tempat kerja adalah bentuk olahraga. Akan tetapi, gaya hidup yang begitu enak dan mudah buat kenapa melahirkan pusat kebugaran.

Orang desa sih ngapain tempat kebugaran. Pekerjaan sehari-hari yang mereka lakukan sudah jadi bentuk olahraga, misalnya nyangkul sawah lebih dari kata “bugar” yang dikatakan oleh orang kota. Dengan semakin sedikit pekerjaan yang mengandalkan otot bukan berarti mengabaikan olahraga, tapi mengakali agar badan juga bekerja bukan hanya otak. Kan sehat itu sangat mahal dan sangat didamba-dambakan oleh siapa saja.
Untuk menutup tulisan ini, penulis mau menyampaikan sedikit quote:
Kadang kualitas seseorang ngga dilihat proporsional tubuh semata, namun semuanya bermuara kepada hati. Toh, apa artinya bila punya tubuh proporsional tapi menganggap orang lain rendah
Hopefully Usefull, Guys!!

Share:

4 komentar:

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis