Rabu, 18 Mei 2016

Siklus yang Sering PLN Lakukan

 Teganya PLN

Pulang-pulang listrik malah padam, apalagi bila kamu lupa isi bak mandi. Kebayang gimana tubuh lengket kayak kena kertas perangkat lalat. Alternatif utama yakni belajar mandi kayak ayam jago yaitu mandi pake tumpukan pasir mirip pelaksanaan tayamum.
Kalimat sumpah serapah pada PLN sudah jadi hal wajar. Ada pula yang membuat plesetan unik PLN misalnya Perusahaan Lilin Negara, Perusahaan Lupa Nyala dan plesetan lainnya yang lebih kocak. Akibat bukti nyata masyarakat jengah listrik padam tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu.

Keluhan masyarakat akan krisis listrik sudah begitu lama dan para pimpinan PLN seperti menutup telinga begitu rapat saat gelombang masyarakat protes. Para pengusaha kewalahan saat industri tak berjalan maksimal, instansi bekerja tak maksimal, usaha rumah tangga harus rehat sejenak hingga listrik menyala. Masyarakat bisa hanya bisa termenung, bila malam hari listrik padam hanya bisa duduk sambil melihat cahaya lilin dan kerak lilin yang jatuh ke dasar.

Alat-alat teknologi pada tumbang saat listrik sebentar nyala dan padam lama. Saat gelombang protes dimuat oleh media serta singggung oleh pemerintah, barulah pihak PLN berbenah. Siklusnya kira-kira begini:
Siklus Kinerja PLN: Sering Ada Pemadaman > Masyarakat Protes > PLN Meminta maaf > Memperbaiki Kinerja > Masyarakat Mulai Lupa > Padam Lagi > Repeat Agains.
Yang gue bingung kenapa saat ada penerimaan pegawai PLN banyak banget yang rela mendaftar terutama sekali para pencari kerja. Para pendaftar sejenak menyampingkan bahwa dulu sering banget mengkritik dan sumpah serapah buat PLN. Mungkin karena gajinya lumayan dan hidup terjamin, pasti pendaftar serempak menjawabnya: IYA!!

Andai saja saat tes wawancara para interviewer menanyakan pertanyaan unik kepada para pelamar kerja:

Berapa banyak jumlah sumpah serapah saat PLN melakukan pemadaman?

Bila ada yang jawab pertanyaan seperti ini: Maaf Pak dan Ibu, saya tak pernah sumpah serapah buat perusahaan negara (Read: PLN), saya kalau mati listrik padam langsung bergegas mencari korek dan lilin serta sabar menunggu listrik menyala. Bila ada pelamar kerja yang jawab begitu, berarti bisa langsung diterima dan naik jabatan ke pimpinan perusahaan #IdeNgehe

Gue pun juga sedikit heran dan banyak bingung, kenapa saat dikritik masyarakat barulah PLN segera berbenah. Alasan lawas nan klasik berupa kekurangan energi  atau krisis listrik yang butuh waktu lama penanganannya. Ibarat seorang pelatih kesebelasan sepak bola beralasan timnya kalah karena tim lawan lebih banyak mencetak gol. Yah jelaslah... itu alasan klasik yang bocah saja bisa menjawab.
Tahap selanjutnya adalah minta maaf terbuka melalui media cetak atau media sosial:
Kami akan segera memperbaiki kerusakan dan pelayanan terbaik hanya pelanggan setia kami.
Hasilnya masyarakat yang dulunya kecewa pun menerima maaf PLN, kan wajar listrik padam. Bila PLN ngga ada apakah sanggup beli lilin tiap malam, beli Genset atau bikin pembangkit tenaga listrik sendiri. Ada yang lebih keras nan ekstrem: Yasudah keluar saja dari NKRI bila tak terima listrik sering padam.

Ironi banget bila telat bayar listrik, langsung dapat kartu kuning berupa surat teguran dan bila dalam hitungan jam ngga bayar kartu merah mengancam, petugas pencabut meteran listrik datang dengan muka beringas dan ngga banyak ngomong seperti lagi sariawan.
Maaf... meteran listrik anda kami cabut karena telah melakukan penunggakan, bila mau kepengurusan segera ke kantor kami #DHEG
Saat kinerja membaik disertai pasokan listrik tidak ada gangguan lagi termasuk dalam kondisi ekstrem sekalipun seperti: badai, gempa bumi dan banjir namun listrik tak padam. Masyarakat senang dan mulai melupakan krisis listrik yang pernah terjadi sebelumnya.

Di waktu kinerja membaik, krisis energi datang tiba-tiba otomatis kinerja PLN kembali memburuk dan secara tak langsung listrik padam tanpa konfirmasi. Dalam hati masyarakat selaku pelanggan: ini pasti ada yang tak beres, pasti gangguan kecil. Setelah didiamkan ternyata lama, hidup dan padam lagi. Di situ emosi dan kesabaran jadi campur aduk. Andai PLN bisa memprediksi segala kekurangan daya dan krisis energi jauh-jauh hari seperti pemberitahuan ke masyarakat, mungkin masyarakat sedikit mengerti dan sabar.

Banyak hal yang merugikan saat listrik padam, mau mandi harus meraba-raba dalam kegelapan seperti di dalam goa hantu. Niat pakai sabun cari malah terpakai shampo, niat pakai pasta gigi malah ke pakai pembersih wajah. Tanggung jawab PLN!

Pemilik usaha harus tutup lebih awal dari jadwalnya dan kehilangan pelanggan. Pemilik usaha yang punya kemudahan rezeki mengakali dengan bantuan genset, itupun harus menambah pengeluaran ekstra lagi. Sungguh ironi, banyak rezeki pengusaha dipatok listrik padam.

Listrik padam jelang Maghrib sangat mengganggu prosesi salat, banyak jemaah mengira azan belum berkumandang saat. Dugaan para jemaah yang berleha-leha saat senja ternyata salah. Salat telah berlangsung dalam keadaan gelap dan mereka harus masbuq dan ingatlah, tak semua masjid punya penerangan yang memadai. Saat listrik padam, PLN harus tanggung jawab akan berkurangnya jemaah yang tak mendengar azan dan masbuq.

Anak-anak yang ingin mengaji lepas pulang dari surau pun sedikit kecewa, padahal pemerintah sudah mencanangkan program maghrib mengaji setelah salat Maghrib. Apa daya, listrik mengacaukan dan membuat banyak anak-anak TPA terlantar. Guru ngaji pun tau mau mengambil resiko dengan mengajar di dalam gelap bermodalkan sinar lilin semata. Murid-murid bisa sakit mata dan salah dalam membaca Al-quran.
Ibu rumah tangga sedang memasak dengan Rice cooker harus mengelus dada saat listrik padam beberapa saat sebelum nasi masak. Anggota keluarga harus menunda makan dan makan semakin tak nikmat bila listrik padam malam hari. Niat makan nasi + daging ikan tapi tulang pun ikutan masuk dalam kerongkongan. Siapa yang tanggung jawab bila terjadi hal-hal yang ngga diinginkan, siapa yang mau tanggung jawab?

Tengah malam listrik padam rasanya begitu menyesakkan. Panas bercampur rasa pengap membuat susah terlelap , pekerjaan dan Deadline kerja esok hari menumpuk di kantor. Suasana panas buat terjaga setiap saat tak bisa tidur dan esoknya loyo di kantor. Siapa yang disalahkan? PLN jawabannya.

Anak sekolah dan kuliah berpacu dengan tugas, ujian, dan tes-tes lainnya. Di malam harinya harus belajar ekstra agar esok mampu menjawab soal dengan prima. Nyatanya PLN berulah dengan memadamkan listrik di waktu belajar. Apa daya lilin pun harus menyala namun itu bila tugas yang tak membutuhkan energi listrik.

Andai tugas membutuhkan sumber daya seperti perangkat elektronik habislah nasib mereka. Satu-satunya cara yakni bergantung pada Genset atau nyari daerah tidak kena pemadaman. Derita kami bertambah, bagaimana generasi bangsa bisa maju bila waktu belajar kami banyak dihabiskan menunggu listrik menyala.

Pengorbanan dan pengalaman mati lampu ngga selamanya buruk, satu sisi kita sadar bahwa yang hidup pasti akan mati dan yang mati akan hidup-mati-hidup-mati lagi seperti listrik negeri ini

Gue mau cerita sedikit tentang cerita apes nan nyesek saat listrik padam beberapa waktu lalu. Niat ke tempat teman buat berleha-leha sambil mencuri Wi-Fi gratis yang terpasang di rumah. Enak nih dijadikan rumah kedua ujar dalam hati. Tak berapa selang kemudian listrik pun padam dan gue bergumam: ini pasti sebentar!! setelah lama ditunggu ternyata ngga akan nyala dalam waktu dekat. Gue harus nyari tongkrong (Read: tempat ngopi) karena ada kerjaan yang belum kelar.

Sampai di tempat ngopi langganan gue, sama seperti di rumah teman gue. Listriknya puun padam, genset yang nyala hanya mampu menyalakan lampu tapi tak sanggup menyalakan Wi-Fi. #Nyesek. Sudah pesan dan baru duduk tapi listrik mati, dan gue cepat-cepat menghabiskan air yang gue pesan untuk bergegas pulang.

Setiba di rumah ngga lama kemudian malah listrik di rumah gue yang padam. Ini kayaknya gue dikutuk dijauhkan dari listrik biar hidup kayak manusia jaman batu. Dan gue mengambil inisiati tidur dalam suasana pengap, bernyamuk dan penuh rasa nyesek di dalam dada.

Listrik padam mengacaukan segalanya, administrasi kantor berantakan, banyak kerjaan terbengkalai, layanan publik terganggu, lalu lintas jalan acakadut, dan proses belajar mengajar terhenti.
Menurut gue yang membedakan zaman batu dan zaman sekarang cuma dua hal:
Pertama: orang-orang berpikir dan membuat inovasi buat umat manusia dan Kedua pemenuhan energi (salah satunya listrik).

Bila masyarakat dibuatkan survei tentang pelayanan apakah yang nomor satu dan paling terganggu bila ada gangguan: jawabannya pasti serentak menjawab listrik padam. Air mati bisa diakali, namun bila listrik mati mengakalinya sulit dan butuh modal yang cukup mahal. Contoh: air padam, cukup ditampung, nyari sumber air terdekat, dan inisiatif terakhir adalah buat sumur.

Namun bila listrik mati harus beli Genset dan harga mahal, tidak semua kalangan mampu membelinya. Harus diingat pula, segala peralatan elektronik pun tak bisa jalan bila tak ada listrik. Implikasinya air pun tidak bisa menyala.

Bercermin dari negara maju, listrik sudah jadi kewajiban hak asasi yang harus dipenuhi oleh semua kalangan masyarakat. Gue mau kasih contoh negeri tetangga kita yakni Australia. Pemadaman Listrik jadi kerugian yang sangat besar berbagai aspek, walaupun hanya setengah jam saja. Sebagai gantinya perusahaan listrik mengratiskan listrik sebulan penuh. Kalo tiap bulan mati setengah jam, well.. jadi bisa pake gratis terus sepuasnya, hehehe.

Perusahaan listrik dari negeri Kangguru sangat menomorsatukan pelayanan kepada warga dan bila ada pemadaman, pasti ada surat resmi dari perusahaan listrik setempat bila kegiatan kita terganggu saat pemadaman listrik. Sebagai gantinya perusahaan listrik membayar dalam bentuk kompensasi. Duh... nyamannya, andai negeri kita bisa begitu.

Alasan negeri kita kepulauan dan akses medan yang sulit. Menurut gue, Australia malah lebih luas dan punya geografis yang ngga kalah menantang dengan negeri kita. Yang membedakan mereka adalah punya pemerintahan dan pelayanan sangat baik. Itulah kenapa banyak imigran gelap rela mempertaruhkan hidup untuk bisa sampai ke sana.

Andai saja PLN ada saingan dari perusahaan swasta asing seperti halnya maskapai penerbangan dan telekomunikasi. Pasti PLN merasa ada saingan dan terpacu memperbaiki diri agar lebih baik dari saingannya. Mereka tak mau kehilangan omzet yang sangat besar dari konsumsi energi penduduk Indonesia yang sangat besar.

Masalah investasi yang mahal itu wajar, ngga ada yang gratis dalam memulai usaha dan gue yakin begitu banyak perusahaan asing antri bila pemerintah mengizinkan listrik di swasta-kan. Jadi masyarakat ngga perlu bingung memilih karena bila kurang puas pada perusahaan A, bisa beralih ke perusahaan pesaing. Hingga menimbulkan persaingan sehat dan yang diuntungkan adalah konsumen sendiri.

Well...  sambil menutup curhat gue, dijamin krisis listrik bisa teratasi. Masalah harga gue yakin masyarakat ngga masalah asalkan kuantitas padamnya berkurang dan pelayanan meningkat. Siapa sih yang mau murah tapi sering padam atau agak sedikit mahal namun bebas pemadaman.

Sekian gue mengakhiri curhatan tentang PLN, gue menulis ini dalam keadaan listrik padam sambil menunggu laptop ikutan padam dan bersegera ikutan aksi “jaga lilin” (maksud Earth Hour) jangan salah paham kalian.

See You Agains!!
Share:

4 komentar:

  1. Balasan
    1. Banyak yang marah saat listrik padam dan harus diketahui pula, kantor PLN juga ikutan mati. hehe

      Hapus
  2. Balasan
    1. baik dan terima kasih atas sarannya.

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis