Selasa, 14 Juni 2016

CEO Besar, Mengapa Doyan Pakaian Itu Melulu?

pakaian ceo ternama

Bukan lagi hal yang asing saat melihat CEO perusahaan ternama memakai pakai yang sama di waktu dan tempat berbeda. Dengan pemasukan perusahaan yang relatif sangat besar, dengan mudah mereka bisa membeli apa saja dengan harga selangit termasuk baju.
Namun ada hal yang unik, kebanyakan dari mereka punya baju yang sama dan terkesan itu melulu. Banyak yang bertanya-tanya kenapa mereka rela memakai pakaian yang sama dan terkesan casual.

Apa saja alasan mereka sehingga sangat sulit menanggalkan pakaian favorit mereka dalam pengembangan bisnis dan brand, berikut ini ulasannya:

Mudah Dikenali, Anda pasti pernah melihat mendiang Steve Job dengan pakaian favoritnya dalam mempresentasi produk Apple terbaru. Setelan baju kerah kura-kura dipadukan dengan celana Jeans biru, dan sepatu adalah sebuah ciri khas dirinya. Di dalam negeri ada pula pengusaha Indonesia Bob Sadino dengan ciri khas celana pendek.  Ke mana pun selalu mempertahankan ciri khasnya.

Mereka semua memakai pakaian yang hampir sama sebagai wujud mudah dikenali oleh kliennya dan juga sebagai nilai lebih (nyentrik) dengan sesuai gayanya.

Ciri Khas (brand), Citra ini sangat baik terutama sekali dalam pengenalan sejumlah produk dan pakaian yang dipakai jadi sebuah brand yang melek kepada sang CEO dan juga perusahaannya. Itulah mengapa banyak strategi ini yang dilakukan oleh CEO teknologi dan pengusahaan.

Membangun kesan unik juga termasuk dalam pengembangan brand. Apalagi citra pakaian terkesan formal dengan setelan dan Jas dan sepatu pantofel seakan sudah terkesan ketinggalan zaman. Inovasi itu malah lahir dari pakaian nonformal.

Kesan para CEO yang berpikir kreatif dan inovasi juga terlihat dari pakaiannya, berpakaian casual dan suasana kantor yang kantor yang kondusif menjadikan inovasi terus hadir.

Sudah nyaman, bekerja di tempat favorit dan dengan pakaian favorit jadi impian banyak orang. Tak harus berbaju rapi dan formal. Cukup mengandalkan baju kaus dan celana Jeans. Kombinasi ini terlihat sangat santai, walaupun bekerja dengan tingkat stres yang besar. Semua terkikis begitu saja termasuk dalam pemilihan pakaian.


Oleh karena, para CEO tidak membatasi karyawannya dalam membatasi masalah seera berpakaian. Penampilan itu masalah sekilas, terpenting sekali adalah ide dan inovasi yang brilian.

Jauh dari kesan formal, Bos raksasa Facebook juga melakukan hal yang sama, ia malah memiliki begitu banyak kaus oblong berwarna abu-abu di dalam lemarinya. Jumlah itu selalu ia gunakan dalam bekerja di kantor setiap hari.

Kesan perusahaan Facebook yang sederhana dan juga banyak waktu lain yang harus dipikirkan, menjadikan memakai baju yang sama adalah keuntungan. Mudah dikenali dan juga menghemat banyak waktu.

Irit waktu, seperti yang dijelaskan di atas, begitu banyak waktu yang terbuang percuma hanya gara-gara pemilihan baju. Ini sering terjadi di setiap orang, baju yang terkesan itu-itu saja seakan tetap fokus, karena masalah pakai baju apa sudah terselesaikan.

Mengendalikan Berat Badan, baju casual terutama kaus menjadikan pemakainya bisa mengontrol berat badan secara tidak langsung. Baju yang dipakai dengan ukuran dan warna yang sama setiap hari seakan bisa sempit bila tak ditunjang oleh pola makan teratur.

Fungsi ini ternyata membuat pemakainya mengontrol berat badan dan rutin olahraga. Kesan menjalankan perusahaan yang banyak tekanan membuat para CEO rutin olahraga untuk menghilangkan stres dan kenaikan berat badan.

Nah... dari ulasan tadi dapatkan bahwa kesimpulan, pakaian bukan halangan dalam berinovasi dan mau berpakaian formal atau casual kembali ke pribadi masing-masing. Terpenting adalah kinerja, inovasi, dan perubahan yang dilakukan.

Semoga memberikan secercah inspirasi
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis