Kamis, 30 Juni 2016

Euforia yang Dirasakan Saat Mudik


Bau-bau lebaran sudah mulai tercium tajam, banyak para pekerja yang mulai ngga fokus kerjanya, sekolahan telah duluan merasakan libur panjang dan pusat perbelanjaan dibanjiri pengunjung untuk mempersiapkan lebaran yang telah di depan mata. Jalan-jalan di perkotaan mulai lengang dan serasa ingin balapan di jalan raya yang kosong, serasa jalan milik sendiri. Ngga perlu menyeberangi jalan tanpa liat kiri dan kanan dan suara bising klakson kendaraan mulai memudar.
Ke manakah orang-orang pergi?

Mereka pergi mudik, meninggalkan hiruk-pikuk perkotaan tempat di mana menuntut ilmu dan mengais tumpukan rezeki. Ibarat semut mengerumuni tumpukan gula-gula. Pulang ke kampung masing-masing atau sekedar mengunjung sanak keluarga di kampung sambil merasakan suasana baru. Sinyal itu ditandai dengan banyaknya rumah-rumah di perkotaan kosong dengan lampu teras menyala dan pagar berlilit gembok besar.

Hal itu diawali dengan banyaknya para pembantu pulang kampung membuat banyak majikan yang kewalahan, tak ada yang membereskan rumah. Mudiknya para pembantu menjadi momok menakutkan bagi majikan, tak ada yang mampu menghalangi keinginan pembantu untuk bisa bercengkerama dengan sanak keluarganya di kampung.

Perburuan mengejar pulang kampung begitu sesak dan butuh perjuangan yang melelahkan. Tiket mahal melambung tinggi hingga mencapai langit tak menghalangi kebulatan tekad untuk bisa pulang kamu. Bagi yang punya libur lebih panjang sedikit terhindar dari puncak kemacetan. Mobilitas dan urbanisasi yang tinggi di perkotaan akan sama besar pula saat mudik.

Tumpukan rasa rindu melawan harga tiket yang mahal dan armada yang tak senyaman hari biasa tak menghalangi untuk mudik. Ini adalah kesempatan langka setelah lama bekerja atau sekolah di perantauan. Lebaran jadi momentum menjalankan misi pergi mudik. Akhir bisa pulang, bertemu dengan keluarga tercinta membuat harga mahal tak seberapa. Di lain sisi saat mudik telah menjadi tradisi maka hukumnya wajib, walaupun liburan sedikit dan duit pun minim. Semua bisa disiasati lagi diakali, yang penting semangat mudik tak kendur.
Duit bisa dicari tapi kebersamaan bersama orang terdekat itu harga mati yang langka
Macet dan urbanisasi berpindah ke pedesaan, saat itu perkotaan jadi lengah dan jalan lintas daerah dan provinsi di penuhi kendaraan hendak mudik. Ibarat memindahkan segala macam hiruk-pikuk kemacetan di perkotaan ke pedesaan. Jalan-jalan kecil pedesaan tiba-tiba penuh oleh mobil perkotaan. Itulah kekuatan mudik! 

Mudik itu membuat kampung-kampung padat dan kesuksesan kampung juga bisa diukur saat lebaran. Banyak orang besar sejenak kembali ke kampung setelah lama diperantauan jadi kebanggaan tersendiri kampung tersebut. Saat orang-orang besar di kampung mereka saling berbagi dan melestarikan silaturahmi.

Mudik itu tradisi atau sekedar euforia sejenak?

Bagi penulis mudik itu adalah tradisi yang menjadikan sebagai lebaran sebagai momentum yang tepat dan karena  sebahagian masyarakat tanah air tinggal di perkotaan. Maka mudik menjadi euforia untuk saling menyapa sanak keluarga di kampung. Setelah tak lama menginjakkan kaki ke kampung halaman, bulan puasa dan lebaran dua komponen yang mampu membuat mudik jadi hal wajib terlaksana. Apalagi begitu banyak kenangan dan rindu yang mengendap di kampung halaman.
Ingat hal paling penting mudik adalah punya kampung, bila ngga ada kampung halaman, maka itu hanya sekedar jalan-jalan semata
Mudik punya risiko yang banyak pihak mengabaikannya, mereka cenderung lupa esensi keselamatan dan keamanan. Karena tumpukan rindu hingga mengabaikan diri sendiri dan orang lain yang ikutan mudik. Bagi yang dekat dan punya kemudahan rezeki, kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat jadi transportasi alternatif.

Tingginya jumlah kendaraan membuat pengguna jalan harus bersabar melawan gelombang kemacetan saat mudik. Dominannya moda kendaraan darat dan merupakan transportasi favorit pemudik mengalahkan antrean transportasi lainnya. Pemudik rela berdesak-desakan dan antre panjang berjam-jam. Akan tetapi naik kendaraan darat bisa menggunakan prinsip: turun di mana saja asal belum sampai di tujuan. Nah kebiasaan ini jangan ditiru saat naik moda transportasi udara dan air.
Karena mudik dengan moda transportasi udara dan air jangan lakukan hal aneh dengan minta turun di tengah jalan, bahaya tau!!!
Berkah lebaran semakin nyata saat memori mudah mulai tergambar saat akan mencapai tempat mudik. Sang anak yang pulang dari tempat merantau menjumpai orang tuanya, rasa emosional semakin sebesar saat jarak dan rentan waktu yang lama serta jauh. Perasaan gundah gulana orang tua saat perjalanan menjadi rasa bahagia saat anaknya yang merantau tiba. Itulah saat moment kehangatan terlebih lagi saat pergi anaknya hanya seorang diri, namun saat pulang lagi menggandeng istri dan menggendong anak. Wah ternyata waktu berjalan begitu cepat. 
Baca juga: Derita "Puasa Kosong"
Bagi yang ngga bisa mudik akibat ngga ada waktu libur atau jarak yang terhalang begitu jauh janganlah berkecil hati, karena kerinduan ngga ikutan mudik sekarang bisa diatasi dengan alat komunikasi canggih. Karena lebaran dengan orang terdekat diperantauan bisa sedikit mengobati penyakit rindu akan kampung halaman.
Saat mudik jangan terlalu banyak bawa pakaian, karena nantinya hanya pakaian itu-itu saja yang dipakai. Yang lain hanya bikin penuh muatan
Tak memiliki kampung halaman untuk mudik dan setiap tahun hanya bisa melihat info mudik yang ditayangkan oleh hampir seluruh stasiun televisi. Dari titik kemacetan, lonjakan penumpang hingga hari H dan juga tips bagi para pemudik saat melewati daerah tertentu. Jangan berkecil hati. Hampir semua saudara tinggal di perkotaan dan setiap musim lebaran selalu di kota bisa diakali dengan liburan ke tempat-tempat wisata di dalam kota, terlebih lagi lebaran di perkotaan yang anggapan orang yaitu sepi ibarat kuburan adalah salah. Malah segala kelengangan itu terasa menarik karena kemacetan sejenak hilang. Dan yang pergi mudik akan merasakan macet yang berpindah ke jalan menuju kampung halaman dan ngga bisa menikmati kelengangan sejenak tapi bermakna.

Kebersamaan dengan orang terdekat yang ngga perlu mudik karena hampir seluruh sanak keluarga berada di tempat kota yang kamu diami. Saat orang lain perlu berjuang untuk bisa sampai ke kampung halaman, sedangkan kita yang tinggal di perkotaan lebih dimudahkan langkah dan patut lebih banyak bersyukur.

Take care!!

Share:

4 komentar:

  1. Saya sedikit berkilah pikiran ketika mudik menjadi hal yang tabu bagi saya.
    Efek mudik memang sangat terasa, mudah sekali bernafas rasanya. Tapi kotaku jadi miskin rasa, rasa lemon sabun cuci piring.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Efek kota sepi lebih enak jalan-jalan sekalian silaturrahmi karena tempat nongkrong banyak tertulis "maaf tutup, siap lebaran buka"

      Hapus
    2. Jangan lupa lontong camer yang pedas.. Ada doa mudah jodoh, makanya pedas.

      Hapus
    3. Yang berbahaya bila camer buat lontong pertama kali dan kamu yang jadi tikus percobaannya. Mules gila broh..

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis