Rabu, 08 Juni 2016

Apa Harfiah Sebenarnya dari Tarawih?

 Harfiah Tarawih

Bulan Ramadhan telah tiba, saat itulah masjid-masjid dari berbagai penjuru mengumandangkan azan. Ada yang spesial dari Bulan Ramadhan saat kemunculan hilal setelah matahari terbenam, yakni pelaksanaan salat tarawih yang hanya ada di Bulan Ramadhan. Kesempatan langka untuk menambah pahala di bulan yang penuh berkah dan ampunan.
Tarawih jadi ajang tahunan yang tak bisa dilewatkan oleh semua kaum muslim. Bila pada siang harinya kita melaksanakan ibadah puasa, malam harinya giliran mengumpulkan pahala dari prosesi salat tarawih. Oleh karena itu, apakah salat tarawih yang dilaksanakan sebagai seremonial belaka, ikut-ikutan, ataukah tulus mengejar ridha ilahi. Tanyakanlah pada diri masing-masing.

Penulis mengharapkan kita masuk golongan yang semata-mata mengejar ilahi. Nah.. disaat salat tarawih banyak ditemui jemaah yang ikut-ikutan tarawih berjamah dikarenakan seluruh keluarga serta koleganya pergi ke masjid. Tempat makan, nongkrong, dan hiburan tutup. Salah satunya caranya yakni ikut ke masjid sekalian buat seremonial belaka.

Jelang Ramadhan bertebaran foto-foto berpakaian islami atau check in di masjid-masjid buat diunggah di media sosial, apakah sebagai bentuk kekinian atau sebagai pengakuan bahwa “aku ini ikutan tarawih berjamaah lho” Walaupun bila dirunut kembali, tujuan ke masjid buat melihat jemaah wanita yang bening-bening di shaf belakang atau melihat yang berewokan berbaju koko dan berpeci di shaf terdepan.

Ada baiknya kebiasaan seperti itu dihilangkan, kapan lagi abis salat isya bisa dengan ceramah serta salat tarawih beserta witir. Makna tarawih bukan buat meramaikan dan memeriahkan di awal-awal alias “panas-panas tai ayam” tapi mengejar ketakwaan dan sebagai bentuk taubat setelah banyak dosa di luar bulan suci Ramadhan. Ibaratkan seperti mesin diesel, makin lama makin panas.
Baca juga: Ramadhan Tiba, Inilah 7 Hal yang Spesial
Inilah fenomena bulan suci Ramadhan, semakin lama semangatnya mulai mengendur dipengaruhi berbagai faktor seperti: meningkatnya tayangan menarik di televisi, tempat-tempat hiburan mulai buka lebih cepat apalagi siang harinya sulit diakses, dan tak mau ketinggalan promosi belanja yang di malam hari diskonnya semakin menggila. Siapa sih yang tidak tergoda.

Ibaratkan turnamen, tarawih awal ibarat fase grup yang diisi oleh tim yang turut serta dan membludaknya pendukungnya. Sering berjalannya waktu banyak jemaah yang gugur, menyisakan jemaah yang niatnya tulus bertahan hingga tahap akhir jelang penutupan Ramadhan. Ke manakah yang lain, yang lain banyak terlena oleh godaan yang makin jelang lebaran makin sulit ditolak dan tidak nyamannya di masjid.

Banyak faktor jemaah mundur dari pertarungan tarawih yang melelahkan, bisa karena terlalu banyak makan hingga sulit bangun. Kadang saat berbuka ingin makan semua hidangan yang ada hingga buat perut penuh dan susah berdiri. Bisa dibayangkan tidak, kalo banyak makan = ngantuk, otomatis tarawih berjamaah lewat. Bila dipaksakan risikonya juga fatal, di waktu ruku’ bila kebanyakan makan ayam goreng saat berbuka. Ayamnya malah keluar lagi lewat kerongkongan, itulah salah satu tantangan terberat saat salat tarawih berjemaah.

Caranya dengan membatasi porsi makan biar prosesi tarawihan khusu’ bukan malah ngantuk.

Bila dulunya jalannya ramai mengarah ke masjid, jelang mendekati lebaran jalan ramai mengarah ke tempat perbelanjaan dan tempat nongkrong. Pahala akhir tarawih semakin berlimpah vs diskon gila-gilaan yang bila telat barangnya ludes. Godaan lain adalah godaan tayangan yang mumpuni yang sulit dilewatkan terutama yang tayang di waktu Primer Time, saat pelaksanaan tarawih tentunya. Akhirnya absen ke masjid buat nonton acara yang ditunggu-tunggu dengan alasan: “kan bisa salat di rumah”

Tahun ini bagi kaum adam penggemar sepak bola layar kaca, kompetisi sepak bola antar negara kekuatan bola dunia jatuh di bulan Ramadhan dan waktunya cukup mengganggu prosesi salat tarawih. Bagi iman gampang goyah, tayangan sepak bola jadi godaan yang sulit ditolak. Akhirnya salat tarawih tak berjamaah dan tempat nonbar (read: nonton bareng) penuh oleh jemaah yang mangkir sebelum tarawih kelar. 

Menyisakan jemaah tua renta dan jemaah yang tulus beribadah mengisi barisan shaf tarawih. Efeknya juga berpengaruh buat kaum wanita, melihat banyaknya pria yang tak tarawihan, para kaum wanita melakukan hal serupa dengan menyibukan buat kue di rumah, beli baju lebaran ke pasar dan sebagainya.

Jadi siapa yang salah? Tayangan, diskon atau kedai-kedai kopi yang menggugah selera buat mencicipi kopi? Atau diri sendiri?

Itu semua pengaruh iman dan semakin besar godaan kamunya tidak goyah tetap melaksanakan tarawih, itu imannya menang banyak.
Ibadah di kondisi minoritas lebih nikmat dibandingkan beribadah di tempat mayoritas tapi kaum mayoritas banyak mengabaikan ibadahnya
Selain itu tarawih begitu populer pada masjid yang cepat pelaksanaan tarawihnya, umumnya jadi buruan para muda-mudi. Banyak yang berpedoman: Lebih baik salat cepat kelar daripada ngga salat tapi malah berkeliaran. Nah itulah kenapa masjid yang bacaan salatnya lama lagi panjang sepi para muda-mudi, banyak yang hijrah ke masjid idaman walaupun tempatnya jauh. 

Bila dipikir-pikir, mencari masjid yang jauh dari tempat tinggalmu sudah pasti harus mengeluarkan biaya transportasi, setiba di sana jemaah membludak, dan setiba di rumah malah masjid dekat rumahmu juga telah siap pelaksanaan salatnya. Itu sama saja, malah banyak waktu yang dihabiskan di jalan.

Selain itu kekhusukan sedikit terganggu, bila jemaah didominasi kawula muda otomatis banyak yang sibuk main gadget saat ceramah. Atau gangguan jemaah putri yang ada di shaf belakang.
Tarawih punya makna lain yaitu kesempatan langka bisa melihat tetangga bening yang  jarang keluar rumah. Saat tarawih mereka ikutan pergi ke masjid
Tiap tahunnya selalu ada yang meributkan pelaksanaan salat tarawih berjumlah 8 rakaat dan 20 rakaat. Keduanya benar dan semakin banyak jumlah rakaat yang dilaksanakan pahalanya juga banyak. Tergantung pilihan jemaah yang mana mau dilaksanakan, itulah kenapa ada masjid yang punya dua imam berbeda, apakah 8 rakaat dan 20 rakaat.
Yang salah orang yang mengatakan tarawih 8 atau 20 rakaat salah, tapi malah pihak yang menyalahkan malah tiak ikutan tarawih
Sebagai peringatan jangan sampai terjadi hal yang tidak mengenakkan seperti saat salat tarawih 20 + witir, tidak tahunya lupa mengambil wudhu. Oleh karena itu pastikan anda berwudhu dengan benar dan jangan lupa sudah wudhu dan bila ragu kembali berwudhu.

Di awal Ramadhan banyak anak-anak ikutan ke masjid. Orang tua mau ngga mau daripada si anak tinggal sendiri di rumah dan diikutsertakan ke masjid. Satu sisi, membawa anak-anak ke masjid bagus sebaik pendidikan cinta masjid sejak dini tapi bila anak-anak terutama balita menangis dan suara-suaranya memantul ke seluruh area itu malah mengganggu orang lain. Adapula anak-anak yang lari-lari ke shaf dewasa saat salat hingga anak-anak yang bawa mainan ke masjid. Semua serba lengkap.

Nah.. hal lain yang membuat anak-anak ikut salat berjemaah, itu karena buku sakti bernama buku “Catatan Ramadhan” yang harus terisi penuh. Dari siapa yang jadi penceramah dan imam tarawih. Itu harus terisi penuh dan jadi catatan amalan anak-anak selama bulan puasa. Buku catatan Ramadhan pun punya andil besar biar penceramah dan juga imam harus terkenal karena merupakan contoh akhlak yang baik, tidak cuma tanda tangan artis yang diburu tapi tanda tangan mereka para penceramah dan imam malah lebih bermakna.

Penulis mengingatkan kembali bahwa makna tarawih adalah memperoleh pahala dan berkah, karena pamer dan semata-mata akan melihat hingga akhir Ramadhan. Apakah memperoleh kemenangan ataukah harus kandas di tengah jalan.

Semoga bermanfaat!!
Share:

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Sempatkan taraweh berjamaah, bukan kalo sempat saya taraweh berjamaah

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis