Sabtu, 25 Juni 2016

Derita Menjalani "Puasa Kosong"


Kumandang adzan subuh memecah keheningan di subuh, dengan napas tersengal-sengal sambil melihat jam. Ada perkara besar yang terlewatkan begitu saja. Ternyata itu tandanya waktu imsak telah lewat, semakin jelas saat gerbang sahur ditandai kemunculan ufuk berwarna putih di langit sebelah timur.
Aduh!!! belum sahur...
Telat bangun sahur itu menyesekkan banget apalagi di malam harinya ngga makan sedikit pun, sekedar mengganjal perut, membasahi bibir, dan tenggorokan. Makanan dan minuman di dalam tudung saji terdiam tanpa ada makan, mau makan malahan sudah imsak, nyesek bukan?. Penyebabnya beragam: ngga ada yang bangunin, telat tidur, sengaja snooze alarm terus-terusan dan sengaja tidur lagi karena imsaknya masih lama *Kebiasaan buruk*

Sungguh kerugian besar ngga sahur, tubuh gampang lapar dan dehidrasi. Badan terasa kayak baterai gadget ngga ter-carger dengan penuh sedangkan keesokkan harinya harus banyak aktivitas yang harus dijalankan. Baru setengah hari gadget langsung lowbat (read: baterai melemah) opsinya harus membatasi penggunaanya aplikasi. Layaknya tubuh yang kurang asupan di malam hari, lupa sahur buat tubuh lemah, gampang ngantuk dan opsi terbaik adalah membatasi gerak.

Hal yang pertama saat lupa sahur adalah nyesek, masih pagi sudah terasa pusing dan badan lemas. Agak siang sedikit disusul perut mulai keroncongan, dinding lambung makin menjadi-jadi memompa getah lambung buat perut terasa perih dan anggota tubuh terlihat lemah serta pucat. Sore harinya langsung badan lemah banget ibarat toge bakwan.

Pasti di antara kita pernah mengalami kejadian apes itu, bagi umumnya anak kost yang jauh dari orang tua. Kejadian seperti itu sudah biasa terjadi, bagi mereka saat Old Date Syndrme (read: sindrom tanggal tua) jauh lebih menyeramkan lagi. Tinggal bersama orang tua, ceritanya sedikit berbeda. Sudah capek dibangunin malah masih molor dan makanan yang sudah tersedia ngga ada yang makan. Sindrom “IYA-IYA-in” atau kebiasaan “NANTI DI MAKAN” bisa dialami oleh yang tinggal bersama orang tua, misalnya gini:

Nak cepat bangun sahur, itu hampir imsak!
Iya mak... nanti dimakan, taruh aja di atas meja
Bangun-bangun sudah subuh, lewat deh sahurnya

Nah, orang tua galak punya efek baik walaupun kamu bisa jadi korban misalnya begini:

Nak cepat bangun sahur, itu hampir imsak!
Iya mak... nanti dimakan, taruh aja di atas meja
Dasar malas, *siram pake air teh*

Bangun-bangun sahur dalam keadaan basah kuyub
Bangun sahur telat dipengaruhi oleh perkembangan zaman yang semakin modern menggerus istilah anak-anak muda keliling kampung buat bangunin sahur warga. Dahulu saat bulan puasa, setelah selesai dari tadarusan langsung anak-anak muda bergerak mengelilingi kampung membawa peralatan yang menghasilkan bunyi berisik seperti pentungan, bom molotov, alat-alat dapur, dan gendang. Kegaduhan di subuh hari membuat ibu-ibu di setiap rumah secara refleks langsung bangun dan menyiapkan makanan sahur sedini mungkin untuk keluarga.

Kini budaya itu mulai menghilang dan ditinggalkan. Anak muda yang pulang tadarusan langsung tidur, tindakan itu bikin gaduh kampung serta banyak ditentang warga. Sebagai gantinya anak muda banyak keluyuran ke tempat hiburan misalnya kayak rental PS (read; ngegame), warkop hingga futsalan.
Apalagi banyak warga yang butuh tidur cukup di malam hari, sebab di pagi harinya harus menjalankan aktivitas. Nah tradisi itu cukup mengganggu sekali bagi sebahagian warga, sebagai gantinya hanya suara-suara orang tua di rumah dan juga dari pengeras masjid berupa himbauan dari marbot masjid:

SAHUR-SAHUR, IBU-IBU DAN BAPAK-BAPAK SAHUR!!!
JANGAN LAGI TIDUR, BANGUN DAN SEGERA SAHUR!!! 
KOMPOR SUDAH BISA DINYALAIN DAN AIR SUDAH BISA DIPANASIN. 
AYO BANGUN SAHUR!!!

Kini anak muda yang tadarusan paling lama sampai pukul 01:00 WIB, dan otomatis ngga ada lagi anak muda keliling kampung bangunin sahur. Malah mereka gantian yang dibangunin oleh emaknya masing-masing buat sahur. 

Ngga adanya anak muda keliling kampung meningkat jumlah warga yang “puasa kosong”. Kadang setelah tarawih dan makan lagi punya peluang tidur lebih nyenyak dan susah bangun hingga rentan melewatkan Sunnah sahur. Anak muda keliling kampung terkesan gaduh, tapi itu cara efektif mengurangi angka warga “puasa kosong”

Puasa kosong itu punya makna, di belahan bumi lain banyak manusia (read: saudara kita) mencoba bertahan hidup setelah sekian lama tak makan. 

Saat itulah bagaimana rasanya tak makan hampir seharian dirasakan oleh orang puasa kosong, walaupun ngga sepedih dan selama mereka (read: saudara kita) tapi dengan puasa kosong tetap semangat menatap hari. Toh kita cuma menahan lapar sejenak dan menjaga kesabaran bukan mencoba tetap bertahan hidup dari kelaparan yang melanda.
Banyak saudara kita di tempat lain yang sahur ngga tau makan apa dan berbuka pun tak ada makanan apa-apa
Di sinilah guna nilai rasa syukur saat banyak orang lupa. Bukan berarti kita harus memperbanyak “puasa kosong” karena puasa dengan sahur atau tanpa sahur yang dihitung adalah menahan diri dari segala godaan dan larangan dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Karena kita ngga mau hanya dapat haus dan dahaga semata, tapi pahala melayang percuma.

Semoga sedikit mencerahkan karena puasa itu wajib bagi yang memenuhi syarat sah puasa serta sahur itu Sunnah. Terpenting niat jangan sampai terabaikan agar puasa tak sia-sia.

Semoga berkah!
Share:

4 komentar:

  1. efek puasa kosong? Balas dendam saat ada kenduri di masjid.
    Punya pengalaman? Ada kue?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah... ini kebiasaan saya waktu masa muda, sekalian bawa plastik dari rumah

      Hapus
  2. Hahaha sepertinya pengalaman waktu jadi anak kos. Nyesek. Piring mana piring?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Piringnya ketemu, imsaknya datang *minum air putih aja*

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis