Selasa, 22 September 2015

Belajar Sukses dari Fase Kegagalan

image by totallatitude
Mae adalah seorang profesor bidang ilmu matematika terapan. Para mahasiswa bimbingan skripsinya sedikit marah bercampur rasa kecewa karena sering disalahkan akibat tidak terlalu paham konsep yang beliau ajarkan. Menanggapi keluhan mahasiswanya Prof Mae pun menceritakan kisah kesulitan dan kegagalannya di masa lalu.

Saya lebih buruk dari kalian walaupun dulu tak bisa apa-apa, saya belajar dari kegagalan dan ketidakmampuan ujar beliau. Mahasiswa bimbingannya pun bingung kenapa beliau bisa sangat jenius di bidang ilmu yang dikuasai.


Dulunya saya adalah murid yang paling malas di kelas, kemalasan Mae muncul karena ia paling benci dengan pelajaran berhitung. Tambah, kurang, kali dan bagi adalah komponen yang memusingkan pikiran. 

Salah satu cara adalah cabut dari pelajaran tersebut, pak guru pun marah besar kepadanya. Tindakannya diganjar dengan pemanggilan orang tua dan nilai merah pelajaran berhitung di setiap pengambilan rapor.

Setelah 6 tahun mengelak dari tingkat SMP dan SMA, akhirnya saat menuju ke gerbang perguruan tinggi. Untuk menghindari dari pelajaran berhitung, Mae mengambil jurusan yang jauh dari hitung-hitungan. Pilihannya jatuh pada jurusan bahasa, olahraga, dan tata boga.

Ujian pun berlangsung dan Mae yakin bisa lewat dari 3 pilihan yang ia pilih, saat pengumuman tidak ada namanya dan ia gagal lulus. Dunia serasa berhenti berputar, pengangguran setelah tamat SMA di depan mata. Sebagai gantinya, ia masuk melalui jalur mandiri yang harus mengeluarkan budget besar.

Ia menyiasati dengan memilih jurusan yang paling murah dan jurusan yang paling murah jatuh pada jurusan yang dominan berhitung. Apa boleh buat, daripada malu ngga kuliah. Bila ngga nyaman, tahun depan bisa tes lagi atau pindah jurusan.

Perkuliahan di mulai dan dari semester awal semua pelajaran matematika yang ia takutkan malah kembali menghantui. Ibarat de javu, dihindari malah datang secara menggebu-gebu. Karena malu dan juga ingin belajar dari kegagalan, ia pun belajar mati-matian mengejar segala ketertinggalan.

Dari membeli buku hitung-hitungan dasar anak SD, naik ke tingkat SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Karena bosan belajar sendiri, ia mengajak teman dekatnya di perkuliahan yaitu Maman, tumben otaknya encer banget matematika. 

Bila Mae matematika kemampuan di luar kepala (read: ngga ngerti apa-apa), temannya malah paham luar dalam. Andai kepalanya dibelah, mungkin yang keluar adalah Persamaan Aljabar, Rumus Phytagoras, dan Vektor.

Maman bilang, banyak orang yang benci angka-angka karena dia menganggap akan sebagai definisi rumit bukan sebagai teman bermain. Maman menanggap matematika sebagai permainan angka dan siasat sendiri, banyak yang menyerah saat tak mampu menemukan atau memecah jawaban. Ujung-ujungnya suntuk, bosan, dan benci.

Singkat cerita Mae yang dulu benci sekarang merangkak naik kelas, bila ada Midtem atau ujian dia biasa dapat nilai “ sisir atau kursi” (read: ngga lulus) kini dapat nilai sembilan terbalik alias (6). Maman pun tamat dari kuliah dan Mae masih tinggal di kampus karena memperbaiki nilai perkuliahannya yang buruk rupa. Maman akhirnya diterima di salah satu perusahaan yang jauh dari hitung-hitungan, tapi ilmu Maman berhasil diserap oleh Mae.

Mae merasa tertantang mengulangi mata kuliah yang buruk di awal semester perkuliahan, ia ingin mendapatkan nilai A terutama sekali mata kuliah berhitung. Di akhir semester hampir semua mata kuliah yang ia ulangi mendapat hasil memuaskan. Kegagalan dan kemauan belajar membuat dia kuat, dari ketakutan malah menjadi kegemaran.

Dosen yang dulu saat melihat mukanya langsung ngasih nilai E, kini malah takjub melihat perkembangan Mae. Teman-temannya yang unggul sudah pada lulus dan bekerja, sang dosen merasa usianya sudah lanjut dan ingin ada tongkat estafet ke depan. 

Beliau menganggap bahwa Mae mampu menggantikannya perannya apabila kelak dibimbing dengan benar. Saat Pak Tarmizi hendak keluar ruang dan melihat Mae baru saja menyelesaikan mata kuliah dan kini tinggal menyisakan skripsi, dia bingung mau mengambil bimbingan dengan siapa.

Pak Tarmizi pun memanggilnya,
Mae, ke sini kamu jumpai saya. Kamu bimbingan skripsi dengan saya saja.

Saya melihat potensi kamu dari gagal, terus belajar dan melebih ekspektasi. Bila saya jadi Kamu, saya sudah jauh-jauh hari pindah jurusan.

Hmm.. namanya aja hidup pak. Hehe!

Baik, besok kamu ikut penelitian dengan saya dan akan saya ajarkan kamu.

Memang rezeki ngga ke mana itu ada benarnya, takdir itu bisa diubah asalkan jalannya kita bisa buka. Ibarat di tengah hujan, kita hanya butuh parang dan sabit buat membuka jalan di tengah hujan dan matematika Mae yang biasa-biasa karena ia dibimbing dan belajar dari kegagalan menghasilkan keahlian yang luar biasa.

Tamatlah Mae setelah hampir 7 tahun berkuliah, tapi tak butuh waktu lama dia didaftarkan oleh dosennya untuk kuliah S2 ke kampus terpandang di Pulau Jawa. Dalam tempo waktu 2 tahun ia mampu menyelesaikan studinya secara lancar berbeda dengan studi S1-nya yang ngenes.

Beberapa tahun kemudian, ia mendapatkan beasiswa S3 ke dataran Eropa. Dia menjadi dosen termuda dan punya begitu banyak riset yang dipublikasikan ke jurnal nasional dan internasional. Dari bocah yang gagal dan ditinggal lulus menjadi Profesor kenamaan yang punya segudang karya tulis dan penghargaan di bidangnya.

Kisah panjang di atas menjelaskan ngga ada yang memperkirakan kegagalan adalah batu loncatan terutama saat rasa gagal menghinggapi. 

Ketakutan serta rasa ketidakmampuan mendorong banyak yang mundur terlebih dahulu atau memilih jalan lain. Toh... dengan menghindar apakah akan mampu menghilangkan masalah? Jawabannya: JELAS NGGA!!!

Nyatanya masalah lain timbul, dunia ini bersifat paralel yang saling berkaitan satu sama lain. Di saat kita menghindari sesuatu ketakutan, akan muncul ketakutan lain dalam model ketakutan terdahulu.

Contoh mudahnya seperti ini, andai Mae tidak suka matematika dan menghindari segala macam pelajaran berhitung di dalam ruangan. Ketidaksukaan itu berpengaruh kemampuan berhitung serta logika terutama di lingkungan, saat ada hitung-hitungan si Mae menjadi bingung dan akan ketakutan serta keengganan dalam memainkan logika.

Hal itu jadi ketakutan baru namun dalam konteks ketakutan lama dalam berlarut-larut menjadi trauma.
Alurnya seperti ini:
Membenci > Sebisa mungkin menghindari > Jadi sebuah ketakutan > Tak bisa apa-apa.

Konteks di atas penulis ngomongin tentang Mae yang takut dan malas masuk pelajaran matematika. Di awali rasa benci disusupi rasa malas akan matematika membuat jiwa dan raga Mae mengantuk. Alasan-alasan pun muncul: dari hitung-hitung kompleks. ngga enak badan, hingga muka gurunya seram.

Lengkap sudah...!!

Proses menuju sukses

Sebelum memulai sesuatu, awali dengan niat yang tulus serta rasa ketertarikan (read: suka). Kenapa ketertarikan itu perlu?

Katakan dalam dunia percintaan, tak ada benih-benih cinta dari dari masing-masing insan sulit sekali chemistry lahir, malahan bisa bermuara ke rasa benci. Apakah buat kenalan, mau tau lebih banyak hingga melancarkan aksi-aksi PDKT. Seperti halnya dalam belajar matematika, tak ada minat dan bersifat paksaan akan menghasilkan kesia-siaan untuk yang belajar.

Semua berawal dari niat dan minat, modal awal itu sangat menggugah mulai sesuatu. Belajar matematika yang digeluti oleh Mae diawali penolakan dan pergolakan dalam jiwanya. Minatnya tak muncul karena begitu banyak hal menyenangkan ditemukan di luar ruangan. Ia gagal di tahap awal.

Benci itu efeknya sangat besar, mampu membuat semua indera menolak segalanya dalam bentuk tak menggubris. Iya.. proses menghindari adalah cara tersulit dan jadi sebuah tekanan bathin. Kamu mempersulit diri dan inderamu sendiri.

Terlalu sering menghindar menjadi sebuah ketakutan berlebih (phobia) tersendiri terhadap matematika dan segala hal yang mengenai matematika jadi hal horor dan apabila ada yang menanyakan langsung dengan tegas berkata “maaf aku ngga bisa”. Akhirnya kamu ngga bisa apa-apa oleh hal yang sepele.

Harusnya?
Melawan Alur tadi dengan:
Bangun ketertarikan (minat) > mencoba menghadapi > jadi sebuah ketekunan > menghasilkan sukses.

Mae merasakan pola yang terjadi saat dia mengenyam bangku sekolah salah. Sebagai gantinya ia membangun rasa ketertarikan pada momok yang menakutkan bagi dirinya yakni matematika.


Mencoba belajar dan mengejar segala ketertinggalan dari nol, awalnya sulit memang. Namun berkat kebulatan tekad Mae mampu melakukan perubahan dari benci menjadi menggeluti bidang tersebut.

Selama belum mencoba dan dirasa itu jalan baik, apa salahnya untuk mencoba?

Proses repetisi (pengulangan) serta trial error yang dialami menjadi pelajaran berharga didukung ketekunan Mae yang tanpa henti belajar. Hasil tak bisa berbohong dari segala kerja keras dan sedikit keberuntungan hidup. Makanya jalan takdir seseorang sudah tergaris dan bagaimana caranya agar jalan takdir kita sesuai dengan yang diharapkan.

Apa yang didapatkan bukan sekejap mata namun kerja keras dan jangan pernah menghindari sesuatu karena tak mampu dan mencoba. 

Malah saat dicoba kamu yang jadi ahlinya. Sedikit keberuntungan jadi kunci, jangan anggap keterlambatan adalah ketinggalan tapi keterlambatan adalah keberuntungan yang terlewati oleh orang lain dan kita yang dapatkan.

Semoga jadi inspirasi.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis