Minggu, 17 Juli 2016

Haruskah Semua Hijrah Ke Kota?

Haruskah Semua Hijrah Ke Kota?
Lebaran telah usai, menyisakan banyak kenangan selama terjebak macet di jalan di kampung halaman dan kue-kue lebaran yang tak habis dimakan. Berbagai hipotesis menduga bahwa kue lebaran yang tersisa di dalam toples dan kaleng Khong Guan isi Rengginang dipengaruh berbagai faktor berupa: sedikitnya intensitas tamu yang datang ke rumahmu, kue lebaran yang disajikan tidak enak dan untuk disimpan hingga lebaran haji *Prinsip Irit*
Agenda selanjutnya kembali lagi ke kota masing-masing dengan tugas pekerjaan yang sudah menunggu di depan mata, ancaman sanksi bila mangkir, dan bergelut stres di tempat kerja. Pemudik yang banyak waktu terkuras macet di jalan pulang kampung harus mengalami dua kesialan, lebih banyak merasakan atmosfer macet di jalan dibandingkan di kampung halaman, saat arus balik harus merasakan derita itu sekali lagi.

Musim mudik berakhir, menyisakan balasan jumlah arus balik yang sama besar pula. Pendatang pemula menjadikan kesempatan ini buat mencari penghidupan layak di perkotaan. Melihat saudaranya mudik dan banyak sukses saat pulang ke kampung banyak yang termotivasi untuk mengadukan nasib akan kerasnya perkotaan berharap membawa kesuksesan yang sama. Pengembara mengadukan nasib ke kota dimulai.
Baca juga: Euforia Mudik
Suasana lebaran sedikit menghilangkan polusi dan kesemrawutan sejenak. Ibarat kota mati yang ditinggalkan oleh para penduduknya yang mencari suasana baru. Saat arus balik, sudah jadi hal lumrah saat lebaran terjadi lonjakan pendatang baru yang mengadu nasib ke kota, atas dasar apa?

Tuntutan pekerjaan dan menjual kreativitas kah?
Pendidikan kah?
Mencari kemewahan hidup di kota?
Atau bermodal nekat melihat hasil yang dirasakan oleh pendahulunya?

Keinginan terbesar apa yang mendorong pendatang pergi ke kota?
Begitu banyak alasan yang mendorong lonjakan pendatang baru pergi ke kota dan yang paling berbahaya yakni hanya bermodalkan rasa nekat, tanpa modal keterampilan dan tak punya sanak keluarga yang pasti. 

Saat para pendatang itu terpuruk dan terlantar hingga menambah beban kota yang telah begitu banyak diisi orang kalah dan putus asa mimpinya berakhir berantakan. Terlunta-lunta di jalanan...

Ibarat pepatah:
Semua yang terlihat begitu indah dimimpikan nyatanya mimpi semata, karena realitas sering bertolak belakang
* Itulah yang sering terjadi saat mengadu nasib ke kota tanpa persiapan *

Siapakah yang paling ramai di perkotaan?
Bila dilakukan survei yang mendasarkan, mayoritas penduduk yang hidup di perkotaan berada pada usia produktif, antara rentan 18 – 40 tahun (tergolong anak muda). 

Semuanya bertolak belakang dengan populasi orang tua yang meningkat jumlahnya tinggal di desa sambil menghabiskan masa tuanya dan berharap saat lebaran anaknya sempat berkunjung ke sana. Hijrahnya para anak muda satu sisi sangat merugikan kapabilitas desa yang kekurangan semangat dan kreativitas ala anak muda.

Sedikit ironis tentunya, anak-anak muda yang hebat, kreatif dan punya wawasan luas mengadu nasib jauh ke perkotaan sebagai perantau melawan anak-anak muda hebat lainnya dari wilayah lain. Saling bertarung akan kemampuan, yang kalah mati dan tersingkir dan yang menang semakin menancapkan kukunya untuk mbawahi yang kalah bertarung.

Perkotaan menawarkan begitu banyak pilihan pekerjaan dan segala sesuatu bisa menjadi peluang menjadi uang, hal yang tidak bisa ditemukan di desa. 

Dorongan inilah yang menjadi acuan para pengadu dan mengubah nasib mereka dengan anggapan yang terdoktrin di pikiran mereka, semua tak semudah membalikkan telapak tangan karena begitu banyak yang bisa orang lakukan seperti yang kita lakukan. Seperti pepatah:
Banyak ikan di lautan, tapi kamu harus sadari para nelayan juga banyak dan cara mendapatkan ikan didukungkan alat tangkap canggih
*Modalmu menangkap ikan hanya pancing, hasilnya kemungkinan nihil*

Kenapa banyak anak muda enggan kembali ke kampung halamannya?
Saat masa bakti berakhir, apakah itu pekerjaan, pendidikan, dan segala kesuksesan telah didapat banyak yang lupa atau enggan kembali ke desa dengan berbagai alasan. 

Anggapan bahwa dengan kembali ke kampung adalah langkah mundur dan membuang segala yang telah didapatkan. Anak muda juga enggan kembali ke desa karena bingung apakah yang harus dia lakukan sedangkan ilmu atau pekerjaan yang ia kerjakan belum bisa diimplementasikan di desa.

Pola-pola pikir tersebut membuat desa semakin jauh tertinggal dan kota. Memberikan sesuatu yang layak sudah sepatutnya anak muda tunjukkan melalui, lebih baik menjadi pionir (read: pelopor) dan membawahi masyarakatnya yang ada di kampung halaman dibandingkan menjadi bawahan di tempat yang telah berkembang pesat. Malah di desa banyak peluang-peluang potensial bila jeli melihat celah.

Merujuk ke arah masa lalu, asal usul kota itu datang dari proses metamorfosis desa-desa yang dipenuhi penduduknya yang unggul dan terampil. Berkeyakinan besar melakukan perubahan dan inovasi terus menerus serta mengembangkan ekonomi masyarakat yang hidup di tempat tersebut. Pertimbangkan daerahmu!

Petaka apakah yang akan terjadi?
Tinggi jumlah anak muda di perkotaan berbanding terbalik jumlah di pedesaan, desa hanya ditinggali oleh orang tua dan pensiunan yang pencari ketenangan dari hiruk-pikuk keramaian kota. Sambil menghabiskan sisa-sisa hidup mereka.

Urbanisasi menjadikan kesenjangan nyata, ibarat setumpuk gula diperebutkan begitu banyak semut. Semut lemah dan kecil langsung tersisih oleh semut yang lebih besar dan kuat.  Sedangkan di desa banyak potensi gula yang tak perlu usaha keras tapi banyak yang menganggap sepele dan acuh tak acuh. Terkalahkan oleh kegemerlapan dan pundi-pundi nominal yang begitu besar.
Kita sering lupa saat semua banyak ingin bekerja menggunakan setelan dasi dan duduk di kursi, petani yang mulai termakan usia. Siapakah kelak yang menyediakan pasokan beras nanti? 
Banyak anak muda yang ingin bekerja dengan suasana ruangan ber-AC, tapi ingatlah para nelayan yang mulai melemah daya tahan tubuhnya menahan hempasan angin laut untuk menyediakan ikan untuk kita. Siapakah penggantinya?
Pertanyaan ini pernah penulis tanyakan langsungkan kepada petani dan nelayan yang telah termakan usia, mereka merasa bahwa banyak anak muda apakah warga kampung dan anaknya sendiri yang pergi ke kota. 

Mereka bekerja dan berkeluarga di sana, hanya pulang saat lebaran. Rasa enggan mengurus walaupun sawah serta ladang dan kapal nelayan warisan orang tuanya. Tak ada yang mengurus saat sang orang tua menghadap ke sang pencipta.

Siapa yang menggantikan mereka?
Anak muda yang tadi menghasilkan generasi ketiga (seperti cucu) yang tidak tahu dan paham hanya mengerti gaya hidup perkotaan. Mereka tidak tahu kemampuan-kemampuan yang kakek dan nenek lakukan dan apa yang dilakukan sudah ketinggalan zaman mengingat zaman modern saat ini tidak bisa jauh dari pekerjaan berbasis teknologi. 

Padahal semua mata pencaharian yang digeluti kakek dan neneknya bisa dikembangkan ke arah teknologi selalu beranggapan pekerjaan di lapangan itu menguras fisik.

Penulis pernah mendengarkan wejangan berupa:

Andai semua bekerja di kantoran siapa yang kerja menjadi petani, nelayan, tukang kebersihan dan guru. Andai semua orang menjadi pedagang, siapakah yang sudi kiranya membeli dagangan?

Solusi terbaik?
Nah saat itulah keseimbangan strata usia dan tata pekerjaan harus dibutuhkan pembagian tugas yang merata termasuk saat semua tinggal di kota, siapa yang membuat perubahan nyata di desa. 

Dalam hal ini, buang jauh-jauh pekerjaan A elit dan pekerjaan B tidak elit, tinggal kota itu hebat dan tinggal di kampung itu terbelakang tapi bagaimana bisa memanfaatkan kekosongan itu sebagai peluang ke depan.

Malahan dengan kembali dan mengganti semangat orang tua yang termakan umur digantikan dengan anak muda yang enerjik nan bersemangat menjadikan masing-masing desanya produktif. 

Pemerataan kemampuan dan penduduk juga membuat jurang pemisah antara kota dan desa semakin menipis. Lebih baik membangun yang fondasi yang belum dan dibandingkan menata sesuatu bangunan yang sudah terlihat sempurna.

Sambil menutup kalimat ini, penulis menekankan bahwa pergi sejauh mungkin (read: merantau) dan setelah kenyang akan pengalaman saat itulah kamu rindu akan kampung halaman dan melakukan perubahan yang baik pada daerahmu.

Share:

3 komentar:

  1. Pengalaman memang berbicara segalanya.. Skill dan teori pikiran menjadi nol besar ketika otot bisep dan trisep enggan tumbuh.
    Petani, nelayan, dan... Guru.
    Kuat kan mereka ya Allah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya... karena pemerataan pekerjaan dan SDM-nya buat sesuatu daerah mampu melejit.

      Hapus
  2. Selalu penuh kejutan abang satu ini. Jatuh cinta aku dibuatnya haahahag. Pergi untuk pulang bang. Efek IM kayagnya hahaha

    BalasHapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis