Rabu, 06 Juli 2016

Lebaran, Please be Nice

Gema takbir berkumandang menyambut kedatangan Bulan Syawal yang ditunggu-tunggu menggantikan Bulan Ramadhan yang tenggelam bersama matahari senja. Setelah hampir sebulan menahan diri di siang hari dari segala godaan dengan anjuran berpuasa, kini hari kemenangan pun tiba di iringi suara takbir menggema ke seluruh penjuru.
Namun suara takbir kini kalah besar dan lama dengan suara mercon yang meledak di langit. Banyak yang lebih senang hal lain dan mengabaikan suara takbir, ada baiknya sama-sama bertakbir sejenak sedangkan bakar mercon bisa dilanjutkan di tempat yang aman dan ngga mengganggu orang lain seperti di dalam rumah sendiri atau di dalam air.

Prinsip bagi sebahagian orang, kepergian Ramadhan dan kedatangan Bulan Syawal adalah kepedihan yang mendalam. Apakah bisa melihat Bulan Ramadhan tahun depan ataukah ini jadi Ramadhan terakhir. Tidak ada yang tau, karena itulah rahasia yang maha kuasa.

Bagi yang puasanya satu hari dan sisanya seperti rasa lebaran 30 hari malah senangnya minta ampun dan menganggap adalah lebaran sebagian tujuan utama tanpa melalui jalan terjajal yakni puasa. Aneh bukan, ibarat tim yang gugur di fase grup tapi senangnya serasa sampai juara turnamen sedangkan yang juara selebrasinya biasa saja.
Saat banyak orang sibuk mencari sesuatu yang baru jelang lebaran, seperti pakaian baru, akan tetapi sedikit lupa bahwa amalan yang dilakukan selama Ramadhan sebulan penuh lulus sensor apa tidak, jarang yang kepikiran yang seperti itu
Kembali ke topik kita, sebenarnya apa itu lebaran? Padahal dalam agama (read: islam) ada dua hari raya yakni Idul Fitri dan Idul Adha, akan tetapi kenapa masyarakat lebih menyebut lebaran?. Tahukah kenapa?? karena “lebaran” itu secara etimologi bahasa adalah berasal dari kata dasar “lebar”

Yakni makin lebar membuka pintu maaf walaupun kenal aja ngga, yang penting maaf-maafan dulu hehe. Makin lebar memberi seperti THR buat keponakan walaupun ujung-ujungnya tekor serta makin lebar keakraban kepada orang yang tercinta setelah sedikit merenggang karena terhalang jarak dan pertemuan.
Lebaran jadi kesempatan lebarkan segala yang sempit kecuali perut dan pipi, karena bila perut yang lebar pakaian lebaran ngga bisa dipakai. Harus diingat itu!
Saat lebaran tiba, tubuh kita ibarat kertas putih bersih yang belum digoreskan oleh tinta pena sekalipun, kembali fitrah (read: suci) ibarat bayi baru lahir dari kandungan ibunya. Yang paling diutamakan banget adalah berlebaran dengan keluarga terdekat bukan dengan dengan orang lain, kapan lagi bisa menikmati kehangatan dengan keluarga tercinta sambil membagi waktu bila di luar lebaran jangan harap. Ada baiknya mohon maaf kepada yang kita rasa yang paling utama terutama keluarga dan setelah itu baru deh orang lain seperti tetangga dan kolega.

Kebiasaan puasa selama sebulan penuh mempengaruhi siklus pola makan, yang sebelumnya di siang hari ngga makan dan minum dan saat lebaran kapasitas perut menjadi membludak. Cara menyiasatinya saat bersilaturahmi yakni dengan cukup minum atau makan secukupnya, sehingga semua rumah yang dikunjungi dapat jabat salam hangat dan tetap bisa sedikit mencicipi menuju lebarannya.

Sisi lain jelang lebaran orang tua pasti punya 1001 cara buat menyembunyikan kue lebaran agar tak terendus oleh anak-anaknya. Bisa di dalam lemari terus kuncinya di simpan, di kamar hingga di simpan di dalam bungker anti serangan bom nuklir. Berbagai cara dilakukan agar kue lebaran khusus dimakan untuk tamu, tetap saja kue lebaran anak sendiri yang ngabisin.

Andai dilaksanakan survei kecil-kecil terhadap presentase akan kue lebaran habis, maka akan ditemukan fakta bahwa banyak kue lebaran yang dihabiskan oleh pemilik rumah sebesarnya 70% dan sisanya sebesar 30% dihabiskan oleh tamu. Itu anggapan kue lebaran dibuat atau dibeli buat tamu adalah anggapan basa-basi semata.

Nah... saat lebaran tiba pasti hampir semua berbondong-bondong membeli pakaian baru, walaupun bukan keharusan harus ada selusin pakaian baru.  Yang dibutuhkan saat lebaran tiba bukan pakaian yang baru tapi hati yang baru. Saat Salat Ied akan banyak ditemukan foto check in lokasi Salat Ied, bisa di masjid dekat rumah, masjid desa sebelah atau masjid benua sebelah. Foto sebelum atau setelah Salat Ied dan foto bareng keluarga, bagi yang masih lajang jangan berkecil hati mana tau tahun depan sudah punya keluarga kecil.

Setiap lebaran suasana bercengkerama dengan sanak keluarga dan saudara menghasilkan dilema yang sangat tak mengenakan di satu sisi. Rasa kasih sayang keluarga kadang menjadi cambuk sendiri bagi diri kita sendiri. Apalagi pertanyaan yang menyangkut pencapaian kini.

Eh.. gimana kabar, sekarang udah gede ya?
Hehe... jelaslah masak kecil melulu, sekali-kali gantian jadi gede.
*Basa-basi pun dimulai*

Dan setelah pertanyaan itu maka akan ada pertanyaan kejam yang menyesekkan yakni:

Sekarang kuliah di mana?
*Pertanyaan setelah menyelesaikan bangku sekolah dan belum lulus*

Kapan lulus?
*Pertanyaan maut yang dihindari oleh mahasiswa tahap akhir*

Sekarang kerja di mana?
*Pertanyaan udah lulus tapi malah pusing ngga ada kerja*

Kapan nikah?
*Pertanyaan sudah lama hidup tapi masih ngga laku-laku*



Setiap lebaran, bagi anak muda pertanyaan seperti itu jadi tantangan yang setiap tahun umumnya hampir berbeda dan harus pintar menyikapinya.

Saat lebaran sangat sering ditemui hal-hal yang sudah akrab seperti banyak ucapan broadcast serta tag massal ucapan selamat lebaran yang sudah ada sejak jaman Majapahit Kuno dulu dan setiap tahun pas muncul.  Cukup dengan copy paste punya orang lain yang start dulu ngirim ucapan selamat lebaran serta ucapan mohon maaf lahir. Cukup dengan mengubah nama, langsung deh kirim lagi kepada orang lain. Pasti ada yang pernah dapat ucapan selamat lebaran seperti ini:
“Seputih kokain, sebening vodka, seharum ganja......”
*Mungkin itu kata-kata bijak sesama anggota mafia kartel obat bius saat lebaran*
“Air tak selalu jernih....”
*Mungkin itu kata-kata bijak peternak ikan*
Jaman yang sudah terlalu canggih mampu menghilangkan rasa emosional termasuk dalam kemudahan gadget. Menurut penulis andai mampu ditemui lebih baik daripada hanya mengirim pesan lebaran, rasa  akrab lebih dengan berjabat tangan mohon maaf secara langsung, bila agak jauh gantikanlah via telepon. Karena nilai pembicaraan lebih dihargai usahanya daripada broadcast serta tag massal dan penerima menganggap hanya ucapan broadcast semata penting dengan prinsip umum bukan khusus kepada penerima. Sekalian membangun kembali kehangatan.. gimana siap?

Lalu saat lebaran terutama kecil menjadikan ajang pamer-pameran baju baru, ada yang cuma punya sepasang, selusin, dan setoko, tapi bukan buat dipakai tapi di jual. Hal lain yang dipamerkan adalah total uang salam tempel (read: THR) dari sanak saudara. Itulah kenapa anak-anak kecil sangat senang sekali pergi ke rumah saudara mengharap salam tempel, beda banget dengan yang sudah dewasa karena harus menerima pertanyaan-pertanyaan yang bikin nyesek. #MendingDiRumah.
Orang tua banyak anaknya membenarkan pepatah:

“Banyak Anak, Banyak Rezeki”
Di saat lebaran pepatah itu sangat manjur membuat saat berkunjung ke rumah sanak keluarga pasti anaknya terciprat uang THR. Duitnya lumayan, bisa diambil sama orang tua dengan alasan buat ngisi bensin atau lain sebagainya. Bisnis yang menjanjikan, Makanya dari sekarang jangan percaya dengan program pemerintah yakni 2 anak cukup, nanti duit jatah THR sedikit.

Bila ada salah-salah kata yang disengaja penulis minta maaf dan pesan terakhir, ingatlah jangan keseringan copy paste ucapan lebaran orang lain. Karena kita adalah orang yang sekian juta kali melakukannya. Kreatiflah....!
Ini lebaranku, gimana lebaran kalian?
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis