Sabtu, 27 Agustus 2016

Plagiat, Kebiasaan Salah yang Sudah Keenakan

 Plagiat, kebiasaan salah yang sudah keenakan

Dunia sudah semudah ini, ngapain susah-susah nyari kata-kata romantis dan puitis. Cukup googling aja. Mau buat tugas ngga perlu repot-repot ngabisin tenaga ke perpustakaan, cukup googling. Dan yang ngga punya jodoh, cukup tanya sama google di mana keberadaannya kini.

Tapi hidup ngga begitu juga bro!!!

Sering banget kita mendengar kasus berita copas tulisan orang lain, seperti sudah membudaya. Malah korban capek-capek mikir dan menulis di platform media sosialnya. Namun dicomot orang lain, hasilnya yang nyolong karya orang malah terkenal. Tulisan atau jokenya dianggap hasil kerja kerasnya dianggap karya sang plagiat. Nyesek bukan!! Apalagi sudah keseringan.
Baru-baru ini gue mendapati salah seorang ABG punya kebiasaan unik, iya kebiasaan copas karya orang lain. Memenangkan begitu banyak lomba menulis dan yang lebih mengejutkan lagi ia sudah pernah menerbitkan buku. Bermodalkan tulisan orang lain langsung diplagiat dan hasilnya ia menang lomba serta tulisannya dipublikasikan oleh penerbit majalah serta surat kabar.

Malahan orang yang terlebih dulu menulis malah dianggap pelaku copas. Ibarat korban, saat mengadu malah dianggap pelaku sedangkan pelaku malah jadi seorang korban. Ada kalangan yang berpikiran ekstrem mengatakan:

“Ingin kata-kata kamu yang dituliskan di sosial media tak mau di copas oleh orang lain. Jangan pernah tulis di sosial media tapi tulis saja di prasasti atau cukup simpan dalam hati”

Kebiasaan copas menurut gue berasal dari salah satu kebiasaan buruk bernama “nyontek”. Budaya kampret itu sudah mendarah daging dan dianggap keharusan. Teman yang rajin dan pintar dipaksa teman-temannya untuk belajar habis-habisan jelang ujian. Yang malas dan bego malah berleha-leha dengan gembiranya.

Teman yang rajin tak memberi aontekan malah dikutuk atau dijauhi dengan alasan pelit dan mementingkan diri sendiri. Mana logika coba?

Andai saja teman yang sudah begitu keras belajar, namun saat hasil keluar malah nilainya di bawah teman-teman yang nyontek. Gimana perasaannya, sakit bukan?

Pengalaman pernah gue alami sendiri saat memberikan contekan tugas kepada teman-teman. Di dalam dunia kampus sudah bukan hal asing bahwa semakin pintar seseorang maka semakin banyak teman palsu yang tiba-tiba baik. Pura-pura nyapa waktu ada tugas, tiba-tiba traktir hingga ada yang terang-terangan minta sontekan.

Jelas mengganggu banget dan keseringan malah jadi keenakan. Niat membantu karena teman ngga bisa tetapi menjurus memuluskan langkah makin malas belajar. Pengalaman buruk gue adalah pernah tidak lulus salah satu mata kuliah karena ada teman-teman yang copas (read: meniru) tugas.

File yang gue kasih agar teman-teman bisa belajar serta referensi malah di copas bulat-bulat. Lebih parah lagi ada teman yang copas sampai lupa ganti NIM gue. Sungguh perilaku buruk dan gue dipanggil bersama teman-teman yang copas oleh dosen terkait untuk diinterogasi. Hasilnya gue ngga diluluskan akibat mempermudah orang lain melakukan aksi curang. Semenjak itu gue ngga ngasih sontekan atau copas dengan teman-teman, tapi apa daya. Itu adalah semester akhir sebelum bertarung dengan skripsi. #Nyesek. 
plagiat, kebiasaan salah yang sudah keenakan
Ini penyebabnya
Kemudahan dengan lahirnya perangkat teknologi serta internet makin ngebut, semakin memudahkan copas dan aksi plagiat. Zaman dulu, meniru itu butuh usaha yang ekstra. Misalnya pinjam catatan harus disalin terlebih dahulu, diketik pakai mesin ketik hingga buat jari-jari perih. Tugas dilakukan di tengah malam hari, suara mesin ketik bisa sangat mengganggu ketenteraman tetangga tidur. Sekarang... hanya modal Cltr + A, Cltr + C dan Cltr + V. Langsung jadi tugasnya, sisanya cuma edit manis yang ngga butuh usaha.
Kembali ke kasus kita, plagiat atau copas membuat pelakunya malah kesenangan. Awal mulanya sedikit takut apa yang ia copas ketahuan, hasilnya copas yang ia ambil malah sukses besar. Di tingkat pendidikan ia mendapatkan nilai yang bagus, di dunia kepenulisan tulisannya terbit ke majalah terkemuka dan di dunia sosial media hasil copasnya menghasilkan pengikut setia dan uang berlimpah.

Memang di dunia ini ngga ada hal yang baru, apa yang kita tulis kini sudah pernah atau dipikirkan oleh manusia-manusia sebelumnya. Hanya saja penyampaian atau sudut pandang yang kadang sedikit berbeda. Bila secara bersamaan bisa sama dalam menyangkut tema dan hampir semuanya sama. Ketebak, antara dua orang itu ada yang benar dan ada yang berdusta dengan meng-copas.

Nah gue mau membahas mengapa plagiat begitu gampang dan menjadikan plagiat sebuah kebiasaan dan pembiasaan. Alasan-alasan yang ngga masuk akal jadi pembenaran budaya copas, apa sajakah itu:

Pertama, malas membaca penyebab utama dengan semudah udel orang mengambil hak cipta orang lain. Menulis dan membaca adalah komponen kompleks yang sulit dipisahkan. Suka membaca tapi tak suka menulis hanya menjadikan sebagai pembaca tanpa karya. Suka menulis tapi malas membaca, tulisan terasa kosong tanpa makna.

Keduanya perlu, di saat jadi pembaca kita memperhatikan sudut pandang pembaca ingin. Lalu saat jadi penulis kita menulis apa yang pembaca inginkan. Keduanya komponen sama kuat membuat rasa menghargai karya orang lain begitu besar. Serta menginginkan punya karya sendiri (tulisan) yang sama baiknya dengan yang kamu baca.

Kedua, budaya menyontek jadi alasan tingginya kasus plagisasi dari bangku sekolah hingga perguruan tinggi. Patokan nilai bagus adalah segala-galanya dalam kelulusan bukan kejujuran jadi alasan kenapa budaya menyontek merajalela. Kurangnya pengawasan serta nilai dianggap standar patokan wajib kelulusan, maka melahirkan budaya nyontek. Lebih bangga dapat nilai bagus hasil menyontek dibandingkan nilai jelek tapi jujur. Ironis bukan!!!

Sudah jadi kebiasaan, plagiat jadi hal biasa tanpa dosa dan rasa bersalah. Eh... ternyata meng-copy karya orang lain tanpa mencantumkan sumber itu plagiat?

Maaf baru tau, kirain bukan. (Kalimat yang sering gue dengar)

Duh... parah banget!!!

Itu sering terjadi saat ada tugas yang diberikan di perkuliahan, hasilnya jelas-jelas dari diambil dari google atau jurnal orang lain tanpa mencantumkan judul. Itu berlanjut terus-terusan karena sudah berawal dari nyontek dan berkembang menjadi plagiat karya tulis ilmiah.

Ketiga, ingin dikenal punya karya oleh khalayak ramai dengan cara mengcopas tulisan orang lain secara mentah-mentah. Haus rasa pengakuan bahwa pelaku ingin membuktikan punya karya dan dikenal. Terlihat sangat produktif walaupun sebenarnya bertopeng dari karya orang. Lebih baik punya karya jelek dan sedikit dibandingkan punya banyak karya tapi copas punya orang lain semua. Berkarya ngga harus ada pengakuan, tapi cukup kamu sendiri tau bahwa kamu mampu berkarya tanpa diakui.

Keempat, mencari keuntungan apalagi begitu banyak perlombaan yang diadakan oleh berbagai pihak dengan hadiah tertentu. Siapa sih yang ngga tergiur, cara paling mudah adalah mengambil hak cipta orang lain apalagi tulisan yang ia dapatkan berkenaan dengan judul lomba. Berkat semakin mudahnya zaman dengan dukungan internet, langsung deh mencaplok karya bagus tapi tak penulisnya kurang familiar.

Lalu mencari tempat penerbit yang tepat (bisa saja editor) kurang tau. Hasilnya diterima dan terbit dalam salah satu rubik surat kabar kah atau majalah. Penulis untung dan penerbit kedatangan banyak pembaca. Pemilik karya hanya gigit jari atau tak tau karyanya ditunggangi orang lain untuk terkenal dan meraut untung.

Siklus para plagiat  kurang lebih begini:
Malas membaca dan menulis + Biasa menyontek + Mau terkenal + Mau dapat untung sekejap > Mencari karya orang lain yang diplagiat > Melakukan aksi plagiat karya orang > Berhasil terbit dan memenangkan perlombaan > Cita-citanya kesampaian.
Lebih parah lagi semua dilakukan oleh oknum perorangan atau kelompok dalam peraut para pembaca, materi dan keuntungan menjual tulisan orang lain berkedok tulisannya.

Pernah gue membaca sebuah anekdot yang menceritakan seseorang mau menjadi penulis, akan tetapi tak suka membaca dan menulis sedikit pun. Kepada penulis handal ia bertanya.

Lalu si penulis berkata: Jangankan ngga suka membaca dan menulis, kamu buta pun bisa menghasilkan buku.

Wah, yang benar? Bagaimana caranya:

Cukup kamu ambil buku orang lain, lalu ganti covernya dengan cover serta namamu. Katakan kepada orang lain itu karya kamu dan kamu yang menulis, selesai bukan!!!

Solusinya Bagaimana?
Budaya copas sudah bisa diperangi, apalagi banyak pihak yang dirugikan terus-terusan serta banyak pembaca yang tidak tau malah tertipu terus-terusan. Salah satunya komitmen belajar, salah satunya dari kara tulis para senior.

Semua yang menghasilkan karya pasti belajar dari pendahulunya yang terlebih dahulu mengecap asam garam. Istilahnya adalah terinspirasi untuk menghasilkan karya yang serupa, dalam tahap belajar meniru itu ngga masalah. Apakah itu teknik penulisan, gaya bahasa hingga pembawaan. Seiring dengan berjalannya waktu kamu akan mendapatkan gaya bahasa dan pembawaan sendiri yang mengalir dan itu “kamu banget”

Metodenya adalah:
Ambil + Tiru + Modifikasi = Menghasilkan tulisan kamu yang khas
Proses itu butuh waktu dengan latihan terus menerus agar otak dengan mudahnya bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang mujarab. Boleh sih asalkan tak lupa mencantumkan referensi bukan malah menganggap hak cipta diri sendiri dengan bangganya.

Cara lain menindak tegas pelaku copas adalah dengan hadirnya aplikasi bernama Plagiarism Check untuk mengetahui yang bersangkutan mengambil hak cipta orang lain. Cukup ampuh terutama di dunia perkuliahan dan jurnalistik yang rentan aksi copas. Para dosen atau editor harus bekerja lebih keras untuk menge-check, sehingga nantinya pelaku copas akan lebih berpikir ulang melakukan tindakan tidak terpuji itu.

Ini sangat berharga ke depan untuk menindak tegas yang memiliki kebiasaan plagiat. Bagi yang belum ketahuan bisa segera tobat dan menyesal. Karena setiap karya yang orang tulis butuh segala perjuangan yang ngga sekejap tapi bertahap. Bila kamu mau seperti itu, lalui dulu tahap demi tahap bukan mengabaikan semua tahap dengan untuk mencapai hasil instan.

Semoga tulisan ini menyadarkan karena bangga hasil tulisan pribadi lebih baik dibandingkan dengan percaya dirinya bangga pada karya orang lain. Dan sekali lagi, semoga menginspirasi.

Ini karyaku, mana karyamu?
Share:

4 komentar:

  1. pengalaman yang sama, dinyontekin malah dapat E yang nyontek dapat B.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hidup terasa ngga adil, makanya budaya nyontek merugikan banget korban penyontek.

      Hapus
  2. Tulisan di blog paling rentan di plagiasi. Beberapa tulisan saya mejeng di blog bahkan portal berita dengan manisnya. Satu hal saja, menulis yang rajin, terkenal dan sejenisnya akan datang belakangan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sarannya bang. Karena kerja keras dan konsisten kelak hasilnya akan keliatan.

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis