Jumat, 02 September 2016

Bisakah Warkop di Banda Aceh Bebas Asap Rokok?


Beberapa waktu lalu, pemerintah mewacanakan menaikkan harga tarif rokok nasional kisaran harga Rp.50.000/bungkus. 


Hmm tanggung banget.... kenapa ngga 5 juta saja sekalian

Apabila benar terealisasi,  saat nongkrong rokok jadi komoditi “mahal” yang bisa dipamer ke orang lain. Sebuah kabar buruk bagi perokok aktif karena harus ngirit dalam bakar rokok, sedikit-sedikit rokoknya dimatikan dan tak ada ada lagi istilah:

Bro... bagi rokok  dong!! 
Enak aja minta, beli sendiri tau!! 
Rokok mahal cuy 

Produsen rokok itu adalah produk yang paling jujur dan kompeten. Sudah menuliskan kata-kata rokok membunuhmu tak konsumennya makin ramai. 

Penggantian logo rokok nanti menurut saya harus lebih inovatif  serta sarat makna. Deretan gambar dari perokok yang mengidap penyakit kanker mulut, kanker leher, jantung membusuk, masalah gigi dan mulut.
 
Jadi Tulisan:
Merokok sebabkan kanker mulut diganti gambar gelandangan kumal dan tulisan merokok sebabkan kantong jebol dan menderita di tanggal tua

Niat baik pemerintah terutama mengurangi perokok dan para korban yang terpapar rokok. Penolakan dari berbagai pihak mengalir deras, seperti rokok di negeri ini masih banyak manfaat dibandingkan mudarat.

Negara pusing tujuh keliling menghadapi problematika rokok. Menaikkan harga cukai rokok membuat banyak pihak yang kehilangan lapangan pekerjaan. Tetap mempertahankan malahan memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.

Terbang jauh ke barat Indonesia tepatnya Ibukota Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh. Warkop sangat mudah ditemui menjamur sepanjang jalanan dan nyari susah mencari kursi kosong saat jam “ngopi”. 

Ada yang menawarkan konsep sederhana dan sempit, hingga konsep futuristik khas pelayanan kelas Wahid disertai wi-fi nan ngebut. Warkop dikunjungi oleh pengunjung dari kalangan yang homogen (warga setempat) hingga pengunjung heterogen (bersifat dinamis).

Warkop di Aceh khususnya Kota Banda Aceh berbeda stigmanya dengan warkop di luar Aceh. Jauh dari kesan kumal dan ketinggalan zaman, kesan aura mewah langsung terasa dan didatangi oleh berbagai lapisan masyarakat dengan kebutuhan berbeda. Buat kumpul-kumpul, buat tugas, nongkrong, berselancar di dunia maya hingga melepas penat setelah seharian dilalaikan dengan kesibukan masing-masing.


Kopi Aceh yang begitu nikmat apalagi dinikmati dengan berbagai aneka panganan khas Aceh. Semua tersedia dengan harga yang sangat terjangkau. Permasalahannya ialah Aceh merupakan salah satu daerah perokok aktif tertinggi di Indonesia didominasi oleh kaum lelaki. Tempat paling banyak warga Aceh (perokok) mengepulkan asap ke udara ialah “warkop”.

Korban terbanyak (read: perokok pasif) datangnya dari pengunjung lainnya yang tak merokok. Asap yang mengepul ke mana-mana, buruknya sistem udara di warkop tersebut menambah akumulasi asap. Derita pengunjung bertambah, harus menghirup emisi rokok yang zat berbahaya terus-terusan hingga beranjak pulang.

Kemampuan asap rokok bisa bertahan dalam waktu dua sampai tiga jam mengendap di udara, walaupun tak lagi berbentuk asap putih yang terdeteksi oleh indera penciuman dan penglihatan kita. Akan tetapi nikotin dan antek-anteknya masih bertebaran di udara

Saya setiap kali pulang dari warkop selalu dalam keadaan batuk, sesak dan nafas terasa berat seakan-akan ada yang mengganjal. Performa paru-paru melemah, ia sepertinya harus bekerja ekstra mencari oksigen terbaik yang telah bercampur dengan asap rokok.

Saya sering sekali dituduh oleh orang tua saya setelah pulang ke warkop dengan baru saja merokok, padahal saya hanya korban asap. Apalagi pakaian saya bau rokok yang dikepulkan pengunjung perokok.

Tak ada bedanya mana yang perokok dan korban asap rokok. Pulang dari warkop tetap bau asap rokok, hanya dari bau mulut saja. Siapa sih yang mau mencium bau nafas, tetap patokan bau rokok adalah pakaian. 

Sangat merugikan, apalagi pakaian yang kenakan sebelumnya disemprot harum semerbak parfum ternama. Hilang sekejap bercampur dengan berbagai zat berbahaya dalam rokok yang masuk dalam pori-pori pakaian.

Begitu banyak pengunjung warkop merasakan aura yang tak nyaman selama berada di warkop. Terlebih lagi warkop hampir didominasi asap rokok hingga pengunjung yang gampang sesak nafas mengurungkan niat untuk pergi. Kasihan bukan, terzalimi asap.

Dengan wacana kenaikan harga rokok apakah asap rokok di warkop Kota Banda Aceh bisa hilang? Hanya waktu yang bisa menjawab dan regulasi ketat dari Pemko setempat selaku stakeholder

Membatasi gerak-gerik asap rokok berarti salah satu cara menekan angka perokok di bawah umur yang semakin tahun semakin besar. Hampir 7 dari 10 pengunjung warkop di Aceh adalah perokok dan yang paling dominan adalah usia yang sangat produktif. Masih muda, bertenaga, berperawakan rupawan tapi dari mulut mereka mengepul asap putih ke udara.
 
Salah satu spanduk yang terpampang

Pemerintah Kota Banda Aceh melalui gebrakan pembatasan rokok di tempat umum melalui Qanun Nomor 47 Tahun 2011 tentang KTR (Kawasan Tanpa Rokok) berupa kantor pemerintahan, swasta, sarana kesehatan, sarana pendidikan, arena bermain anak, sarana olahraga, tempat ibadah, pengisian bahan bakar, angkutan umum dan tempat umum tertutup (termasuk warkop) hanya sebatas himbauan di atas kertas saja.

Anekdot bahwa di Aceh hanya di dalam laut yang bebas asap rokok karena tak bisa menyala, sisanya semua asap rokok mengepul bebas ke mana-mana

Himbauan seperti kurang digubris oleh para perokok. Apa karena kurang ketatnya peraturan, kurangnya sosialisasi pada lokasi KTR ataukah banyak dari pembuat kebijakan ternyata perokok berat yang tak cas kepala dan terasa asam mulutnya saat tak “narik”. 

Malahan begitu banyak brosur rokok bertebaran ke atau dari menuju tempat pendidikan, rokok punya segudang iklan dan kata-kata yang ajakan halus nan menggoda.

Bermodalkan model nan rupawan yang menjadi inspirasi setiap jelang tengah malam. Siapa sih yang tak tahu rokok adalah penyedia cukai terbesar negara dengan keuntungan yang berlipat ganda pula rokok mampu menghidupi begitu banyak orang yang bekerja di dalamnya. Semua pun sudah tahu, rokok di negeri ini jadi penyedia beasiswa yang sangat populer. Uang-uang dari perokok mengalir ke berbagai aspek yang menguntungkan.

Kata perokok, rokok dan kopi adalah dua sahabat sejati. Mereka adalah komponen yang sulit banget bisa dipisahkan. Sesungguhnya itu adalah kata-kata salah dan tak ada data valid

Kebijakan naiknya harga rokok berkali-kali lipat  sedikit mengurangi kapabilitas perokok berat dengan mudahnya mengepulkan asal atau yang baru memulai mengenal rokok harus berpikir dua kali merokok. 

Saya pesimistis perokok menghilang akan tetapi bisa sedikit berkurang untuk level yang masih coba-coba dan berpangku tangan dari jajan orang tua.

Andai rokok naik, ia akan jadi barang mahal di tongkrongan, sangat sedikit yang rela berbagi dan mereka semakin sadar bahwa sehat itu mahal apalagi sakit

Andai wacana pemerintah nantinya terealisasi dan semakin ketatnya Pemko dalam membatasi ruang perokok. Maka menurunkan angka perokok yang menganggap merokok hak pribadi tetapi asap milik semua orang.

Tak hanya di warkop selaku tempat umum, tempat lain yang masih begitu bersahaja perokok melakukan aksinya ke tempat ibadah, lembaga pendidikan, instansi pemerintahan, rumah sakit hingga di tempat pengisian bahan bakar.

Perlu tindak tegas menekan angka perokok apalagi kebiasaan warga Aceh yang “suka ngopi dan ngumpul” mengindikasikan zona ini harus sepenuhnya lepas dari asap rokok. Pemerintah sudah berusaha, kini kembali ke masing-masing individu perokok yang sayang temannya ataukah pengunjung lain menghirup kepulan dari asap darinya.

Pemilik usaha pun ikut andil menyukseskan Qanun yang telah dibuat. Istilah aturan dibuat untuk “dilanggar” bisa hilang, tetapi aturan dibuat untuk kemaslahatan semua.

Dengan begitu, mau ngopi berapa lama pun, stigma warkop di Aceh bisa berlaku tempat umum tertutup bebas asap rokok. Andai warkop bisa lebih melakukan gebrakan nyata serta dukungan kuat Pemko dan pemilik usaha. 

Di jamin warkop berubah bentuknya, apalagi dengan berbagai konsep minimalis mampu menyedot pengunjung tanpa pulang bau asap. Nyaman di pelayanan dan nyaman menghirup nafas.

*Penulis menulis artikel ini dalam keadaan menahan nafas dan sesekali menghembus nafas serta menghindari kepulan asap rokok*
Share:

2 komentar:

  1. Kayanya susah tuh.. karena udah pasangannya antara rokok dan kopi.. di mall saja kalau ada cofee shop yang tidak boleh merokok, kondisinya tidak ramai..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rokok sudah ibarat istri, istri ketinggalan ngga apa-apa. Rokok dan korek tinggal langsung kelabakan.

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis