Rabu, 07 September 2016

Malu Atau Bangga Kuliah Pakai Duit Beasiswa?

 Malu atau bangga pakai duit beasiswa

Sekarang tak perlu repot-repot lagi kuliah jauh-jauh dan takut kekurangan dana. Sudah tersedia beragam beasiswa yang bisa dipilih sesuai pilihan penerima beasiswa, terpenting memenuhi persyaratan yang tersedia. Semua berhak mendaftarkan diri.

Berasal dari keluarga kurang mampu terbantu melalui beasiswa program pemerintah salah satunya Program Bidik Misi. Berawal dari proses masuk kuliah hingga tamat sesuai waktu yang ditetapkan semua ditanggung gratis. Ini jadi dorongan semangat buat anak-anak negeri yang kurang mampu untuk sekolah bisa merasakan nikmat pendidikan.

Pemerintah bangga bisa terus menelurkan generasi terdidik melalui anggaran pendidikan yang ditujukan kepada anak-anak negeri yang membutuhkan. Di saat proses perkuliahan, beasiswa pun tak kalah banyak.

Mulai dari kampus setempat, perusahaan besar, hingga daerah asal si mahasiswa turut andil menawarkan beasiswa di saat studi. Mahasiswa diawal kuliah tak menerima beasiswa, berbondong-bondong memenuhi persyaratan.
Misalnya:
IPK > 3,00
Berasal dari kalangan keluarga kurang mampu
Menyertakan surat kurang mampu dari lurah berasal setempat
Turut aktif di organisasi di dalam maupun luar kampus

Segala kemudahan itu punya sisi gelap, apalagi sifat buruk masyarakat kita ingin terlihat miskin di satu sisi namun sangat hartawan di sisi lain. Misalnya, contoh lain saat di SPBU. Berbondong-bondong ikut antre di tempat pengisian BBM bersubsidi. Padahal tunggang yang ia naiki adalah motor atau mobil mewah kelas atas.

Sama hal dengan pengadaan beasiswa, syarat di atas yang saya tekankan sekali untuk kalangan kurang mampu. Kala itulah begitu banyak mahasiswa ingin terlihat kurang mampu padahal nyatanya sangat mampu. Mereka mengakali berbagai syarat dengan mengatakan berasal dari keluarga miskin dengan meminta surat kurang mampu.

Mengubah gaji orang tua dan memfoto rumah tua kakeknya di kampung. Seandainya ada kucing main di atas genteng langsung roboh dan gerimis sedikit rumah langsung tergenang.

Sebegitunya hingga rela menggadai harga diri keluarga untuk memalsukan surat-surat untuk beasiswa. Apalagi kouta yang tersedia untuk beasiswa miskin sangat banyak, kesempatan mencari uang beasiswa pun tiba.

Setelah semua syarat-syarat sudah terpenuhi, tinggal mengajukan berkas beasiswa. Beberapa Minggu kemudian nama yang bersangkutan menjadi penerima beasiswa dari pemberi beasiswa. Sedangkan mahasiswa tak mampu dan benar-benar memenuhi syarat malah tereliminasi.
Mereka yang dapat tertawa senang dengan bangganya sambil berujar: Akhirnya dapat beasiswa, sambil tersenyum nyengir.

Hasil uang didapatkan bukan diperuntukkan studi, tetapi buat beli barang mewah kelas atas. Makan-makan di tempat elit dan liburan sambil hura-hura sekaligus buat dipamerkan ke teman-teman yang tak dapat.

Mahasiswa umumnya punya jiwa idealis, melakukan demo dan orasi saat ada wakil rakyat atau pemerintah melakukan tindakan yang berpihak kepada rakyat.

Namun diam seribu bahasa saat ada mahasiswa berupa kolega atau dirinya sendiri dapat beasiswa yang bukan selayaknya ia dapat. Dengan alasan, kami kami juga layak. Koruptor kecil lahir dari kampus.

Tak pernah ada berita yang meliput demo dan orasi dari mahasiswa terhadap penerima beasiswa yang tak layak menerima agar ditindak tegas. Semua seakan diam seribu bahasa satu sama lain, saling berbisik satu satu sama lain untuk tutup mulut.


Selepas menyelesaikan kuliah (level S1), bertabur beasiswa yang ditawarkan dari berbagai donatur. Syaratnya yakni mahasiswa yang cerdas, kompeten dan mampu bersaing ke depan. Persaingan yang semakin ketat antara lintas kampus membuat calon yang lewat adalah mahasiswa kompoten.

Donator bila dulunya saat S1 masih sebatas pemberi beasiswa hanya dari pemerintah, perusahaan nasional, dan kampus. Saat ke jenjang yang lebih tinggi seperti program magister dan doktoral, malah pemerintah luar negeri, perusahaan luar negeri, LSM hingga kampus setempat.

Melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi terjadi pengerucutan persaingan daerah, persaingan lebih menjurus ke arah global. Bila dulunya hanya bersaing dengan teman-teman kampus atau se-universitas dan se-daerah. Kini ke level nasional atau internasional untuk bisa menggenggam tiket beasiswa.

Syarat yang diberikan lebih berat dan perlu begitu banyak persiapan yang begitu matang untuk dapat itu beasiswa. Dalam hal ini penerima dan pemberi memberikan syarat yang wajib dipenuhi seperti kemampuan akademik, bahasa, program setelah tamat hingga jiwa kepemimpinan dari penerima beasiswa.

Berbondong-bondong siapa yang paling siap dan memenuhi syarat untuk turut serta. Dari proses seleksi berkas, wawancara, waktu pelatihan, proses persiapan keberangkatan, studi ke tujuan hingga proses kepulangan ke tanah air.

Memang yang namanya beasiswa itu  sulit banget. Harus mempersiapkan dari hal terbesar hingga yang terkecil, hingga menunggu jadwal keberangkatan yang lamanya bikin gregetan. Alternatif yang tak mau repot, pakai duit pribadi dan pulangnya tak terikat oleh siapa pun.

Saya kembali teringat dulu pernah baca buku Habibie berjudul: Detik-Detik yang Menentukan, di dalam sesuatu paragraf saya menyimpulkan:

Saat beliau bersekolah di Jerman, umumnya pelajar Indonesia yang berkuliah di Jerman menggunakan biaya beasiswa dari pemerintah Indonesia. Dahulu mahasiswa yang mendapatkan beasiswa luar negeri berasal dari kalangan anak-anak orang kaya. Habibie hidup terlunta-lunta jauh dari tanah air dengan keuangan yang terbatas.

Bermodal dari kirim uang dari orang tua hasil dari usaha kecil-kecilan ibunya membuka katering dan kos-kosan. Habibie sukses dan berhasil mengejar mimpinya menjadi insinyur pesawat terbang dan memiliki puluhan paten atas namanya. Perjuangan dari keterbatasan maka beliau mampu merajut sukses.

Kuliah pakai duit sendiri namun beliau tak pernah lupa pada negeri sendiri. Kembali ke tanah air dengan mengabdikan semua ilmu yang ia dapatkan untuk kemajuan bangsa. Jarang yang beginian sekarang, hasil uang pribadi malah lupa tanah air, lupa daratan.

Kembali ke masalah beasiswa, takaran beasiswa yang kian banyak dan beragam menjadikan penerima beasiswa bisa memilih tujuan mana ia bersekolah kelak. Mau ke negeri favorit, kampus favorit dan bidang studi favorit di kampus.

Bila dilakukan survei, hampir kebanyakan penerima beasiswa menginginkan kuliah di luar negeri. Benar bukan? Itu tak bisa ditampik oleh pelamar. 

Apalagi di luar negeri menawarkan jurusan dan universitas lebih kompeten, suasana belajar lebih hidup dan kondisi alam yang lebih eksotik dibandingkan di dalam negeri.

Kadang penerima beasiswa sengaja mencari lokasi perkuliahan yang jauh dari negeri sekalian bisa jalan-jalan gratis berbasis studi. Memang itu hak si penerima, terutama merasakan suasana baru selama pembelajaran di negeri orang. Itulah sebab banyak dana beasiswa melenceng daripada tempatnya.

Dalam hal ini saya mau sedikit mengulas tentang hal yang tak etis terutama dalam penyalahgunaan dana (beasiswa) yang sudah lama menghinggap.

Pertama, paling sering penerima beasiswa menyalahkan gunakan beasiswa buat bukan studi. Secara finansial penerima beasiswa umumnya masih ada menerima uang kiriman dari keluarga atau gaji di luar beasiswa untuk bertahan hidup. 

Berupaya hidup seirit mungkin dan uang beasiswa bisa dimanfaatkan di luar kebutuhan, yakni mewujudkan secercah keinginan. Menurut saya tak salah dengan tujuan menabung untuk menghadapi masa depan yang relatif dinamis.

Sebenarnya duit yang diberikan pemberi beasiswa beragam. Misalnya pemerintah operasionalnya berasal dari insentif pajak, perusahaan berasal dari dana khusus yang perusahaan tersebut tujukan ke pendidikan. 

Pernahkah terbesit bagaimana hati pemerintah, lembaga riset pendidikan, LSM hingga perusahaan penggelontorkan dana malah dananya diselewengkan bukan pada tempatnya.

Kasus yang parah dana langsung ludes terpakai jauh dari operasional pendidikan dan biaya hidup. Memang itu hak masing-masing dalam mengelola, tetapi banyak tujuan lain yang bertentangan dengan studi yang dijalankan. 

Misalnya kawin pakai duit beasiswa. Saat kekurangan duit malah kerja serabutan di negeri orang, jalan-jalan ke mana-mana sehingga harus makan pas-pasan dengan makan makanan tak bergizi. Duit beasiswanya ludes ke jalan-jalan atau beli barang menaikkan taraf hidup.

Nah di situ dapat diperhatikan bahwa penerima beasiswa lebih mementingkan keinginan dibandingkan akan kebutuhan. Beasiswa diperuntukkan untuk sebagai program orang terdidik yang kelak melakukan pengabdian nyata terhadap perjanjian yang ditetapkan. Sang pengabdi kelak tampaknya tak layak, bila gaya hidupnya bertaraf tinggi.


Itu sedikit terkait dengan berkembangnya jejaring sosial sebagai tempat eksis terutama pada tempat yang dinilai indah dan eksotik. Misalnya foto tempat ia bersekolah di luar negeri, tur ke negeri lain, selfie bareng beruang hingga kayang bareng kangguru.

Satu sisi tak ada yang salah, sisi lain begitu banyak teman-teman yang kurang beruntung saat melihat bisa iri hati. Apalagi bila tujuan utama penerima beasiswa bukan ilmu yang didapatkan tapi lebih ke kecenderungan pamer bahwa ia adalah orang hebat terpilih. 

Sungguh disayangkan bukan? Hanya mengharapkan jalan-jalan atau dikuliahkan secara gratis, lalu kabur hilang entah ke mana rimbanya.  Bila nantinya saat kembali untuk mengabdi bekerja terasa tanpa motivasi, sebab mimpinya telah terwujud.

Menurut opini saya, beasiswa tanpa pamrih dan paling ikhlas tanpa balasan apapun itu dari kedua orang tua. Kita hanya perlu amanah dan tak dituntut keras layaknya pemberi beasiswa yang buat kamu terikat. Syaratnya hanya hubungan darah dan ikatan batin, tak ada syarat yang berbelit-belit. Serta tanpa  proses wawancara yang bikin keringat dingin.

Sambil menutup pencerahan ini, ingatlah tujuan utama dari beasiswa untuk membanggakan promotor dan pengabdian manis kelak. 

Siapa yang tak bangga bisa dapat beasiswa. Rasa bangga yang besar harus dibarengi lebih besar rasa malu apabila tak memberikan hal terbaik ke semua pihak, khususnya bangsa sekembali kelak.

Andai anda pernah menyaksikan dan merasakan, silakan berbagi pengalaman dan keluh-kesah kalian di kolom komentar. Semoga memberi pencerahan.
Share:

2 komentar:

  1. itu benar sekali mas, kadang saya sedih melihatnya.
    saya sangat suka dengan semua tulisan mas, semoga semakin keceh badai..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas kunjungannya.

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis