Selasa, 20 September 2016

Permainan Kolosal Media, Bikin Siapa Saja Ikut Terpana


Kebutuhan masyarakat akan informasi berkembang pesat, mengharuskan setiap media terpacu untuk semakin menyajikan informasi. Perlombaan seperti ini membuat media dengan pasukannya (wartawan) saling sikut-sikutan dengan media lain. Jargonnya, ingin yang paling tercepat dan paling banyak menghasilkan berita.
Sebutan familiar untuk mereka yakni wartawan satelit, mereka hidup penuh pengolakan dan dilema. Mau mencari berita jujur dan serius, hasilnya ngga tayang dan ngga dapat bayaran media tempat ia bekerja.

Alhasil para wartawan satelit tadi memblow-up berita jadi sedemikian rupa agar menarik minat pembaca, tak apa kontroversial asalkan tayang. Andai rating pemberitaan tinggi, pundi-pundi duit mengalir. Masalah benar atau ngga itu urusan belakangan.

Tayangan berita yang beragam di satu sisi punya nilai negatif terutama kualitas berita yang menurun akibat kuantitas berita. Walaupun masyarakat bisa memilih berita mana yang ia suka, karena isi dan informasi nomor satu bukan beragam namun sebatas sensasi semata. Sebaliknya saat informasi berita mendadak miskin, media malah mencari kekosongan berita  seperti pemberitaan heboh yang membuat semua mata tertuju.

Siapa sih yang ngga tertarik mengikuti pemberitaan yang terus-terusan dan diulas tanpa henti. Masing-masing media semakin terpacu untuk semakin intens mengupas kasus dari sudut pandangan masing-masing sekaligus menutupi keterbatasan berita. Dan juga menaikkan rating khususnya.

Kasus-kasus seperti ditemui seputar gosip artis papan atas tertangkap tangan melakukan aksi cabul, pembunuhan berlatar belakang kopi sianida, harta karun terselubung gembong narkoba, hingga kasus asusila oleh seorang publik figur terkemuka. Menghiasi rubik tontonan dan bacaan, mengalahkan isu yang lebih layak ditayangkan.

Sifat buruk media yakni memberitakan dan menggembor-gemborkan kasus yang sebenarnya kecil menjadi konteks sangat besar. Tapi malah memalingkan kasus besar yang masyarakat perhatikan khusus menjadi kasus remeh-temeh, seperti makanan selingan.

Saya menilai media seperti tebang pilih antar kasus, apalagi kasus tersebut bisa menaikkan rating sebuah televisi. Alhasil secara terus-terusan menjadi sorotan, wartawan menggali-gali semua informasi dan mengaitkan dengan berbagai ahli. Semua ikutan dapat kerjaan dan diliput media.

Saya menyimpulkan alur kolosal media yang sering terjadi seakan-akan seperti ini:

Kasus menyeruak > Tercium media > Pemberitaan tanpa henti > Semua pihak dilibatkan > Kasus mulai tenggelam hilang > Akhirnya selesai tanpa kejelasan > Muncul kembali dalam bentuk empati bagi pelaku.

Awal mula kasusnya menyeruak ke permukaan dan tak lama kemudian terendus oleh media yang telah sigap menangkap berita. Saat kasus terendus media, kala itulah berduyun-duyun berbagai penyajian dan klise dilakukan agar masyarakat tertarik menyaksikan berita tersebut.

Mengetahui berita ini punya nilai jual yang tinggi, media mengemas sebaik mungkin. Salah satunya dengan pemberitaan tanpa henti. Hingga membuat tajuk Headline News atau Breaking News. Memakan waktu berjam-jam dan mengorbankan banyak acara lain yang layak tayang.

Pelaku (target media) jadi pesakitan harus menerima cerca atau dihujat habis-habisan oleh media yang meliput tanpa henti. Pelaku dianggap sebagai orang yang tak benar, kehilangan akal sehat, terjebak depresi berkepanjangan hingga faktor uang yang membuat dia melakukan hal tersebut. Semua predikat ia terima atas kasus yang menimpanya.

Saat kasus tersebut sedang heboh, segala pakar ikutan terlibat. Mereka mendapatkan job menggiurkan tanpa henti, dari para saksi, kenalan hingga orang yang pernah bertatap sekilas saja dengan pelaku. Mereka dapat jatah wawancara dan diminta keterangan lebih lanjut, dan minimal bisa masuk kotak kacalah (read: televisi).

Saat berita tersebut mengalami kehebohan, berita kasus kriminalitas atau politik bisa ikutan merambah masuk ke ranah infotaiment. Semua pemberitaan tertuju pada berita tersebut hingga begitu banyak pemberitaan sehingga mau tak mau terhipnotis untuk sejenak menonton.

Masyarakat ibarat menonton sinetron ratusan episode, setiap hari tanpa henti-hentinya ditayangkan. Bila sedikit saja tak mengikuti kabar ter-update ia akan malu dengan teman-temannya saat saling menyambut lidah.

Mau tak mau ia terdorong ikutan mengikuti perkembangan kasus pribadi orang lain, berkat polesan media. Ibarat menonton sebuah drama kolosal, menyaksikan siapakah tokoh antagonis sebenarnya butuh waktu. Semua duduk manis dengan Popcorn di tangan, pandangan lurus ke kasus yang terjadi.

Bila dipikir secara jernih, kita semua seperti terbawa oleh kolosal yang terkemas begitu manis, menguras waktu dan  pikiran tak menentu. Ibu-ibu jadi malas menyiapkan makanan buat suami tercinta dan anaknya terus merengek kencang minta dibuatkan susu malah terabaikan. Asyik memantau perkembangan kasus blow up media.

Informasi negatif yang terus menerus menghampiri kita walaupun sebenarnya terjadi pada orang lain. Oknum-oknum pemilik media tertawa terbahak-bahak melihat masyarakat termakan kolosal yang ia sutradarai. Sedangkan pelaku yang terekspos jadi pesakitan, malu luar dalam.

Waktu berlalu dengan cepat, kasus sedikit memudar dan hilang tanpa kejelasan akhir dramanya ibarat sinetron layar kaya yang alur ceritanya meluber ke mana-mana. Alhasil kasusnya selesai dan dinyatakan tutup buku, bila diibaratkan sinetron sengaja ditamatkan paksa. Karena ada sinetron (kasus) lain yang lebih heboh yang menjadi pemberitaan.

Memang sifat kita yang gampang lupa dan mudah kembali mengingat apa yang pernah terjadi heboh sebelumnya. Saat semua sudah lupa, media datang dalam bentuk lain. Beralih mendukung dan mendukung pelaku yang tadinya jatuh tertimba tangga. Meliput dari sudut pandangan yang berbeda, kini media meliput dari sudut kegagalan, penderitaan dan kasus yang menimpanya.

Rubiknya seperti ini:

Masihkah ingatkah anda dengan kasus yang menimpa......

Sekarang pelaku beberapa tahun kurungan atas kasus yang ia alami dulu.

Atau

Kini pelaku menjalani hidup baru telah berhasil memilih jalan tobat setelah pernah melakukan tindakan asusila.

Masyarakat sekitar menolaknya karena dirinya adalah aib warga

Pada saat itu, media beralih memberikan empati kepada pelaku bila dulunya dicerca habis-habisan malah memberi dukungan. Bertolak belakang bukan dengan dulunya, persis seperti drama kolosal.

Saya malah melihat bahwa koran murahan dengan judul panjang, kocak, dan nyeleneh lebih masuk akal dibandingkan media terkemuka berjudul manis dan diplomatis tetapi membawa pembaca pada kolosal yang mereka ciptakan.
Baca juga: Energi Negatif Bisa Menular

Tak dipungkiri pula, rating tinggi acara tersebut bisa tayang terus-terusan karena masyarakat suka. Walaupun sebenarnya banyak berita lain yang bersifat edukasi, namun pemberitaan tak mutu sebuah keharusan dan gaya hidup. Apalagi media pandai mengemas dengan sedemikian rupa hingga gurih ditonton.

Mengingat sifat manusia itu sangat suka menanggapi hal negatif, mengancam, dan spekulasi. Daya jelajah manusia dan fokus tertuju saat melihat kasus tak bermutu layaknya drama kolosal.
Saya mau mencontohkan seperti ini:
Rekayasa: 
Mencengangkan, hujan ikan lele dari langit, pertanda Dajjal tak lama muncul ke bumi. 
Selamatkan sanak keluarga anda. Hujan ikan lele hingga membanjiri jalanan protokol, pertanda kiamat di depan mata.  
(Beritanya hoax, namun judulnya sangat menyedot animo yang membaca, padahal hasil pelintiran media).
Fakta: 
Sebuah truk lele milik Pak Mae terbalik di jalanan protokol akibat jalanan yang berlubang (Benar kejadian beritanya tapi tanggapan masyarakat minim).
Baca juga: Jangan Termakan Berita Hoax

Kebebasan media punya sisi menggerus terutama sekali tak ada tontonan yang beragam terutama masyarakat yang berada di daerah hanya mengandalkan televisi dalam negeri (gratis) tanpa bayaran. Alhasil menyerap semua berita yang ia lihat itu-itu saja setiap hari dari bangun hingga tidur lagi.

Sedangkan tontonan berkualitas harus berbayar dan mahal, bagi anak muda mereka mengakali dengan tontonan dari Youtube berdasarkan subscribe yang ia mau dan sosial media kepercayaannya. Alhasil masyarakat di daerah hanya mengandalkan televisi lokal yang acaranya banyak tak berbobot.

Mereka paling banyak merasakan dampak kolosal tersebut ditambah kesibukan masyarakat daerah yang renggang dibandingkan warga perkotaan. Salah satu membunuh kebosanan adalah menonton televisi.

Dampaknya tercuci otaknya setiap hari oleh pemberitaan yang sama secara berturut-turut. Para petinggi media tertawa lepas saat melihat masyarakat seperti penonton bioskop. Pembuat skenario untung besar saat melihat kolosal ala media yang membius.

Jadi sampai kapan kita hanya menjadi penonton yang saya lihat sifat media yang suka tarik ulur?
Cara terbaik menampik permainan kolosal yang sungguh memikat adalah dengan kurang-kurang menyaksikan tontonan bernada negatif terutama dari televisi. Semakin banyak duduk di depan televisi malah lebih mudah frustrasi dan tak produktif.

Malah dengan berpikir kritis dan logis kita tahu apa itu layak dicerna dan diikuti. Mementingkan kehidupan pribadi lebih baik diutamakan, karena tontonan dan suguhan media hanya sekedar bukan malah melebih kadar.

Well... pengalaman apa sajakah yang pernah anda rasakan dan bagaimana menyikapi blow up media, Silakan share di kolom komentar.

Semoga tulisan ini memberikan secercah pencerahan.
Share:

4 komentar:

  1. Betul banget bang wartawan sekarang asal yang penting TERBIT padahal beritanya kebanyakan kaga bermutu semua.Dan kebanyakan beritanya juga TUKANG KOMPORIN..hehhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, apalagi yang baca langsung terprovokasi.
      Mas.. yang bagus ittu Komporin Mie, lumayan bisa bikin kenyang. :D

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis