Senin, 07 November 2016

Startup, Sekat Tipis Antara Keberhasilan Ataukah Kegagalan

Start up

Berkembangnya perusahaan teknologi terutama pada bisnis Startup sedang begitu digandrungi kalangan anak muda kini, tak hanya di luar negeri namun di dalam negeri. Kesuksesan Startup lokal  hasil buah karya anak-anak negeri membuat banyak anak muda ikut mengalihkan pandangan dan termotivasi untuk mendirikan Startup serupa.

Apalagi Startup berbentuk perusahaan rintisan yang baru saja berdiri sembari melihat pangsa pasar yang belum dilirik oleh perusahaan besar dan umumnya jasa yang ditawarkan khususnya berbasis digital. Sembari menularkan ide-ide segar dan inovatif ala anak-anak muda dan berharap Startup yang mereka dirikan sukses besar di masa depan.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Majalah Forbes berbasis di New york, hanya persentase 10 % Startup yang berhasil atau 1 dari 10 Startup hanya bertahan dan dibutuhkan publik. Sudah persaingannya berat, butuh pendanaan besar dan kaya inovasi.

Bermimpi perusahaan Startup berjalan lancar tanpa kendala, kedatangan investor asing yang rela mengucurkan dana besar. Tak berapa lama kemudian wajah anda serta perusahaan sudah terpampang di halaman depan majalah terkemuka sambil melipatkan tangan dengan background perusahaan anda.

Hidup tak sebencana dan bercanda itu bro!!!

Supaya Startup tetap mampu bersaing butuh ide yang kreatif, inovatif dan tetap konsisten. Kerja sama antar tim juga sangat penting. Mendirikan Startup tidaklah mudah, serta yang bertahan dan tertinggal persentasenya jomplang. Iming-iming bisa kerja santai, dapat gaji besar, pakai bebas dan relasi antara atasan serta tanpa sekat harus dilupakan sejenak di awal berdiri.

Semua itu terjadi andai Startup yang anda bangun sudah berkembang begitu pesat setelah begitu lama merasakan pahit dan getirnya, sebaiknya di mulai dari bawah terlebih dahulu. Itulah penyebab utama begitu banyak Startup pemula yang harus gagal dan tak bisa sukses walaupun peluang terpampang begitu luas.

Karena itu, saya mau membahas apa sajakah yang menyebabkan bisnis Startup yang digalang bersama-sama bisa mundur di tengah jalan. Saya melansir beberapa hal yang membuat Startup gugur sebelum berkembang yaitu:

Konflik internal, Hampir sebahagian besar perbedaan prinsip, ego anggota yang saling tuding samping meruncing mengakibatkan perusahaan yang dirintis ikutan goyah di tengah jalan. Perbedaan usia yang relatif dekat punya sisi negatif terutama kurangnya Leader dalam suatu tim. Saya pun melihat beberapa perusahaan teknologi besar di awal berdiri, salah satu meredam konflik adalah dengan memilih CEO yang berusia lebih tua dan kaya akan pengalaman.

Saat Google pertama berdiri dari kolaborasi Larry Page dan Sergey Brin, mereka memilih Eric Schmidt yang sarat pengalaman dalam menjalankan roda perusahaan yang saat itu masih dalam masa perintis. Alhasil Google jadi salah satu perusahaan paling bonafid di muka bumi.

Nah... bila tak mampu menunjuk atau membayar orang yang lebih berpengalaman, ada baiknya memilih para anggota yang satu visi dan misi dan tidak menomorsatukan ego. Di kala kesuksesan Startup datang ego juga muncul, ini terjadi perubahan visi mengingat perusahaan telah berkembang sangat pesat. Malah di fase tersebut kehancuran juga bisa mengintai, itulah kenapa kecocokan antara anggota pendiri jadi kunci perusahaan jauh dari konflik internal yang melanda.

Konsep tak jelas, Mendirikan Startup terasa menjadi mengambang dan tak berkembang akibat konsep yang ditawarkan tidak jelas dan membingungkan para pelanggan. Salah satu tujuan utama Startup berkembang yakni mencari pangsa pasar yang masih kosong dalam bentuk digital.

Saya jadi ingat dengan salah satu pepatah:

Orang hebat dan inovatif itu membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah agar bisa diaplikasikan oleh banyak orang sedangkan orang bodoh adalah membuat hal mudah jadi begitu sulit dan rumit.

Selaku perusahaan yang baru saja berdiri, konsep yang jelas jadi modal berharga ke depan. Setiap karyawan yang bekerja tahu apa yang ingin dikerjakan dan para pelanggan tidak dibuat bingung oleh perusahaan yang berdiri.
Itu bisa dilakukan dengan memberikan deskripsi singkat akan perusahaan Startup anda berkembang di bidang apa dan solusi apa yang diberikan kepada pelanggan serta pangsa apa saja yang dicari. Nah dengan konsep yang jelas ditambah dengan promosi yang baik, dijamin anda sudah bisa mewujudkan salah satu syarat Startup yang baik.

Tak ada suntikan dana investor, Memulai Startup tak semudah membalikkan telapak tangan apalagi langsung mendapatkan lirikan investor agar bisnis berjalan lancar. Malahan begitu banyak Startup yang mengharuskan melakukan semua serba sendiri, sedikit saja salah langkah langsung gagal dan kehabisan dana.

Dana yang dibutuhkan relatif besar jadi kendala tersendiri bagi pendiri Startup, pendiri kadang rela menguras tabungannya, menggadai barang pribadinya, meminjam uang kepada sanak keluarganya agar bisnisnya tetap bergeliat. Hanya sebahagian kecil yang langsung didanai secara langsung oleh investor.

Umumnya investor baru melihat saat perusahaan sudah melewati masa perintis dan mencapai masa transisi, dari Startup kecil menjadi Startup potensial. Saat mencapai proses itulah barulah para investor rela menyuntikkan dana segar untuk kemajuan perusahaan.

Saya pernah membaca salah satu kisah salah seorang pemilik Startup yang pernah 33 kali ditolak oleh perusahaan setamatnya di bangku perkuliahan. Hanya 2 ada instansi perusahaan yang rela menerima dirinya yakni menjadi pengajar Bahasa Inggris di Korea Selatan atau menerima salah satu pinangan di salah satu perusahaan Startup  yang bernaung di San Fransisco.

Dirinya yang merasa tidak nyaman bekerja di perusahaan orang lain dan ingin keluar dari zona nyaman. Ia mengajak sahabat dekatnya untuk mendirikan salah satu Startup yang menerima jasa aplikasi bagi restoran di tempat ia tinggal bernama Appetizely. Hasilnya, Startup yang ia geluti gagal dan hanya bertahan 3 bulan setelah masa peluncuran.

Ia tak menyerah di situ, kini ia malah menyasar Startup di bagian jasa kebersihan bernama Exec. Startup tersebut lumayan berkembang, namun ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati karena tak sesuai minat serta Passion. Ia ingin sekali terjun ke bisnis Startup yang lebih besar dan menantang.

Semua bermula dari diskusi serta tukar ide dengan sahabatnya, mereka tertarik pada salah satu bidang mengenai pengembangan Self Driving pada mobil. Tekad kuat yang ia bangun bersama temannya menjadikan mereka mampu mengembang konsep Self Driving, ditambah pengalaman panjangnya serat relasi dunia digital yang mumpuni menjadikan konsep tersebut bukan isapan jempol semata.

Maka ia mendirikan sebuah perusahaan Startup hasil rintisan mereka bernama Cruise Automation.  Puncaknya pada Bulan Maret 2016 perusahaan mereka diakusisi oleh perusahaan raksasa automotif dunia yaitu General Motor seharga 1 Miliar Dollar. Sebuah apresiasi bagi Startup muda untuk berkembang dan orang itu adalah Daniel Kahn.

Tidak dibutuhkan oleh pasar, Ada begitu banyak Startup yang berseliweran di dunia digital antara hidup segan mati tak mau terutama sekali karena tidak dibutuhkan oleh pangsa pasar. Sifatnya yang terkesan “maksa”, “ribet” dan sudah ada saingan yang lebih dahulu berkembang nan praktis membuat Startup yang hadir terasa sia-sia.

Bila ingin bertahan dari derasnya persaingan digital, salah satu cara adalah dengan melakukan inovasi dan melihat kelemahan sang lawan. Menjadi peluang agar tetap mempertahankan bila dirasa Startup yang sudah dibangun punya prospek cerah ke depan.

Itulah kenapa dibutuhkan proses survei lapangan yang panjang, waktu penerapan yang tepat dan mengkaji segala skenario terburuk andai Startup yang berdiri tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Seperti yang dialami oleh Daniel Kahn sebelumnya, ia merasa Startup yang pertama ia geluti terlalu kecil pangsanya dan tidak terlalu dibutuhkan oleh pasar. Hasilnya ia berhenti dan melihat peluang lain yang lebih besar serta menjanjikan. Bila terus bertahan ia tak akan berkembang pesat ditambah lagi, 2 Startup yang pertama digeluti tidak memberikan rasa nyaman dan kecilnya tantangan.

Kurang paham ekonomi, Banyak para petinggi perusahaan Startup yang telah berdiri mengabaikan neraca ekonomi perusahaan. Saat perusahaan masih berdiri dengan sumber daya manusia yang sedikit, namun tidak bisa mengatur strategi keuangan dengan bijak.

start up

Itu terlihat begitu jelas saat perusahaan mulai terlihat sedikit kemajuan pemasukan walaupun tidak signifikan. Di masa itulah banyak perusahaan Startup yang kehabisan bensin di tengah jalan. Dari membangun kantor di bilangan elit, menggaji pegawai, dan jor-joran mengeluarkan uang di luar kepentingan perusahaan.

Hasilnya malah perusahaan kesulitan saat terjadi gangguan keuangan, mau ngga mau harus mencari pinjaman atau rela gulung tikar akibat besar pengeluaran dibandingkan pendapatan yang dihasilkan. Itulah kenapa masalah keuangan jangan dianggap sepele.

Harga tak kompetitif,  Menjamurnya perusahaan Startup menjadikan sebagai lahan basah yang menguntungkan. Melihat tingginya harga yang ditawarkan dibandingkan layanan yang diberikan membuat pelanggan berpikir dua kali menjajal jasa perusahaan tersebut.

Memang inovasi dan ide segar yang lahir layak dibayar mahal adalah sebuah apresiasi, namun lebih baik lagi selain memudahkan para pengguna serta harganya terjangkau. Apalagi bila saat Startup itu mulanya berdiri hanya dirinya sendiri, tetapi kini berkembang dengan begitu banyak memiliki keunggulan termasuk masalah harga.

Alhasil pembeli akan berpaling dan berpegang teguh pada moto: yang lebih murah dan unggul banyak jadi syarat utama para pelanggan. Oleh karena itu masalah harga jadi sebuah pertimbangan pelik, antara mengembalikan modal dan mendapatkan keuntungan atau malah jadi bumerang akibat banyak pelanggan yang beralih ke perusahaan pesaing.

Baiklah, dari segala problematika oleh para pendiri Startup, mereka sadar bahwa potensi besar yang dimiliki Indonesia di dunia digital sangat terbuka lebar. Berbagai problematika yang ada di masyarakat menjadikan peluang lahirnya Startup berdasarkan kebutuhan masyarakat inginkan serta mampu memajukan ekonomi bangsa di industri e-commerce.

Andai saja ada begitu banyak perusahaan digital raksasa buatan dalam negeri yang mendunia, berapa banyak tenaga manusia yang bisa diserap. Memajukan perekonomian bangsa serta anak-anak muda bangsa menjadi kreatif tidak berpangku hidup mengharap lowongan kera instansi pemerintah.

Karena semua yang gagal dan tetap bertahan hingga sukses besar di kemudian hari, tergantung seberapa besar semangat pantang menyerah. Melakukan inovasi tanpa henti untuk menghasilkan maha karya yang memudahkan manusia di sekitarnya. Karena sekat antara kesuksesan dan kegagalan begitu tipis, semua kembali akan seberapa besar keyakinan bahwa itu akan berhasil ke kelak.

Semoga memberi menginspirasi.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis