Jumat, 18 November 2016

Wisuda dan Sejuta Pengharapan

wisuda dan sejuta pengharapan

Tahukah apa yang paling ramai akhir tahun? Yupss.. itulah pelaksanaan wisuda dari berbagai perguruan tinggi. Setelah melewatkan berapa lama duduk di bangku perkuliahan, akhirnya wisuda itu datang juga. Ibarat penantian panjang setelah sekian lama bergumul dengan tugas akhir. Permainan emosi dari bercampur dengan sejuta pengalaman dan pembelajaran, bak oase di tengah padang nan gersang.
Wisuda jadi sebuah kebanggaan terutama sekali keluarga besar. Andai ada keluarga yang anaknya dari keluarga kurang mampu dan hanya dirinya saja yang mengenyam pendidikan tinggi, begitu bangga sang orang tua. Ia bisa menceritakan sukses sang anak hingga memakai toga kepada tetangganya di kampung.

Pergi ke kota, menyewa kendaraan, meninggalkan sawah ladang, mengabaikan ternak hanya untuk menghadiri pencapaian sang anak di kota. Ada sejuta pengharapan yang terpancar dari raut masing-masing orang tua.

Akhirnya anakku menjadi sarjana, sungguh bahagia membuncah hingga dalam dada.

Saya pun menganalisa wisuda dalam konteks mahasiswa yang pernah mengenyam duduk di bangku perkuliahan. Makna itu semakin terasa saat semakin berat cobaan dan tepat waktunya durasi tamat. Ada yang tepat waktu, terhambat dan hingga para mahasiswa korban “cuci gudang”. Semua punya kesan tersendiri, hanya dirinya sendiri yang mampu menggambarkan saat rektor memberikan selamat dan ijazah lalu disambut sang dekan dengan pengesahan.

Saya menganggap wisuda hanya ibarat hajatan besar bersama dalam hari yang sama. Pengandaian hidup layaknya pesta nikahan. Sidang lebih tepatnya sebuah lamaran, yudisium layaknya ijab qabul dan wisuda ibarat pesta yang semua bisa menikmati. Bagi diri sendiri sudah sangat senang saat sudah sidang dan yudisium berlangsung, itulah punya deg-degan terbesar.

Wisuda buat semua pihak sibuknya minta ampun, mencari tempat sewa atau bahkan beli pakaian khusus wisuda. Mencari riasan yang cocok dan bahkan sampai rela bangun pagi buta hanya untuk berdandan untuk terlihat cantik di hari wisuda.

Ini hari khusus dan belum tentu terulang kembali jadi berpenampilan terbaik untung bisa dikenang sepanjang zaman terutama kaum hawa. Kaum Adam mungkin bisa sedikit berleha-leha, ia tak perlu sesibuk kaum wanita. Mau baju, sepatu semua bisa disewa dan pinjam.


Semua terasa begitu terlihat gagah dan cantik saat memakai baju toga dan topi segi lima mengantung seutas tali di tengahnya. Hari wisuda lebih ramai dari biasanya, semua sanak keluarga dan para wisuda ikut andil memenuhi jalanan protokol menuju kampus.

Tujuannya hanya satu, menghadiri prosesi sakral penuh makna. Bagi yang tak dapat undang masuk, harus sabar menunggu di luar hingga acara tuntas. Saat wisuda usai, mencari teman, saudara bahkan orang tercinta susahnya minta ampun. Harus putar ke sana ke mari, itu semua pengorbanan saat melihat yang kita cari memakai baju toga dan beberapa jepretan foto sebagai bukti.

Saat temannya selesai wisuda, ada pula teman-teman yang datang dengan pikiran kalut. Mereka itu teman-teman yang masih tertinggal di kampus. Merasa malu dan kadang salah tingkah melihat temannya dengan gagah dan cantik memakai toga.

Mereka punya sejuta harapan yang sama dengan sudah selesai. Tak muluk-muluk, hanya ingin wisuda dan orang tuanya duduk di rumah pengesahan melihat anaknya mengambil gelar resmi di podium atas.

Para wisudawan dan wisudawati merasakan hal yang sama. Saat turun dari podium ia merasa senang bercampur gundah. Besok harus berbuat apa dan mencari pekerjaan di mana?

Wisuda itu ibarat paradoks menyenangkan antara bisa lepas dari belenggu kampus dan melihat dunia luar yang penuh tantangan. Begitu banyak jumlah sarjana intelektual yang hanya penghias kedai kopi karena mereka tamat tak punya rencana jangka panjang. Lulus saja dahulu, masalah pekerjaan bisa dicari kemudian hari.

Saat banyak orang tua menganggap dengan kuliah di jurusan terkemuka akan mudah dapat pekerjaan.  Hmm... itu semua kembali ke pribadi masing-masing membekali diri dengan kejamnya ekspektasi dan harapan.

Mungkin Rektor sudah hafal betul akan kata-kata pidatonya kepada seluruh wisuda yang dibacakan setiap edisi wisuda. Sambil berbuih-buih rektor berharap jangan terlalu berharap bekerja di instansi pemerintahan  (menjadi PNS), bukalah dan garaplah lahan yang masih luas serta kembangkan potensi diri. Menjadi anak muda yang kreatif dan inovatif yang mampu bersaing saat lapangan kerja telah mencapai titik jenuh.

Saya pribadi juga mengharapkan jangan terlalu berharap lebih dengan predikat lulus dari kampus dan jurusan mana serta IPK yang besar. Itu seakan bertolak belakang saat terjun ke dunia kerja yang pilu. Satu per satu harapan gugur karena mengandalkan tameng tersebut.


Kata orang menjadi sarjana buat kita selangkah lebih maju. Maju dalam jenjang iya, namun karier semua kembali ke sepak terjang dan perjuangan. Semua tak bisa diukur dari selembaran ijazah semata dengan deretan nilai mentereng, banyak hal lain untuk menggapai tujuan.

Saat harapan yang besar di pundak harus dipikul, beban itu serasa ringan saat hari wisuda telah lewat. Tak pernah bingung dan gundah harus melakukan apa ke depan. Apa bekerjakah, lanjut kuliahkah atau mengikuti passion-kah? Semua kembali ke pemikiran masing-masing, karena diri sendiri yang menentu ke mana dan jadi apa ke depan.

Saat apa yang diharapkan sesuai dengan keinginan saat itulah satu dari sekian banyak harapan mampu terwujud. Wisuda selesai, dan saat itulah pengharapan tetap menjadi kenyataan. Wajah dan lingkaran senyum orang terdekat terutama sekali orang tua tetap terus terjaga. Mereka merasa bahagia harapan anaknya berjalan dan sang orang tua makin bangga karena kuliah anaknya tak sia-sia.

Semoga menginspirasi!

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis