Selasa, 27 Desember 2016

Seberapa Lama Anda Menunduk Sehari?

seberapa sering anda menunduk

Suara kokok ayam terdengar memecahkan keheningan pagi hari. Seakan menyuruh manusia untuk segera lekas bangun dari ranjangnya memulai aktivitas sehari-hari. Namun kini suara kokok ayam dan azan subuh tak mempan, manusia mulai menggantinya dengan bunyi alarm salah satunya dari gadgetnya. Semakin sulit bangun maka semakin besar volume alarmnya.

Apabila orang terdahulu bangun tidur, hal pertama yang dilakukan membaca doa dan dilanjutkan merapikan tempat tidur. Saat ini pertama kali ada meraba ponsel, menghidupkan paket data dan melihat apa yang terjadi selama ia tidur. Lalu kembali ngulet lagi setelah melihat notifikasi.

Itu ritme yang terjadi saat ini, apalagi itu berlangsung hampir setiap hari. Wabah ini dinamakan  Gejala FOMO (Fear of Missing Out) atau kekhawatiran akan ketinggalan segala informasi yang ada karena tak sempat mengakses internet. Hampir 40% besar anak muda kini mengalami masalah seperti ini.

Selain itu generasi kini masuk kategori kaum tertunduk dengan gadgetnya masing-masing. Bahkan durasi gadget makin banyak membuat manusia lebih banyak menunduk dibandingkan berpostur tegap menatap ke depan. Asal apa pun notifikasi masuk, langsung tertunduk kembali melihat gadgetnya. 
Bila dulunya hanya menunduk saat salam orang tua dan lewat di depan orang yang lebih tua.

Menunduk dahulu diibaratkan dengan patuh dan bentuk segan dengan orang lain. Saya begitu ingat saat dahulu dinasihati oleh guru karena tidak mengerjakan tugas. Dalam wujud malu bercampur dengan rasa bersalah kami semua menunduk malu.

Kini perkembangan gadget membuat segala bisa diakses dengan gadget terutama sekali penggunaan smartphone. Andai dahulu ponsel hanya digunakan sebagai sarana menerima telepon dan mengirim SMS. Kini segala aktivitas bisa dilakukan dengan smartphone. Itu ditambah lagi dengan berbagai hiburan bisa datang dari smartphone didukung dengan kouta mumpuni, baterai memadai sampai sinyal nan kondusif.

Sedikit informasi, hampir sebahagian besar gadget yang digunakan kini membuat letih mata karena pancaran sinar dan radiasinya. Pengaruh pada mata yang lelah akibat durasi menatap layar yang penuh radiasi dan membuat pupil mata membesar terutama sekali di ruangan gelap. Efeknya terasa begitu kentara terutama penglihatan yang mudah kabur dan berkunang-kunang.

Selain itu pengguna smartphone terlalu lama berdampak pada gangguan tulang belakang yang disebut dengan text net. Tekanan saat menunduk sama dengan tekanan 27,2 Kg beban yang berada di tulang leher.

Itu diperparah karena condong hingga 60 derajat dan ironinya itu adalah posisi saat memakai smartphone. Secara jangka panjang, itu sangat berpengaruh postur tulang belakang dan itu umum dialami oleh berbagai usia.

Pertanyaan sekarang, seberapa seringkah kita menunduk dan bergumul dengan gadget? Pasti semakin besar apalagi semua akses membuat kita menunduk mesra.

Sebagai contoh, saat di kendaraan umum, masing-masing orang mulai menunduk masing-masing dan itu semakin kentara saat bosan butuh hiburan. Sudah jelas gadget terutama sekali smartphone menawarkan berbagai hiburan sampai baterai habis, hingga kouta membengkak.

Anak-anak kini bila dirata-ratakan, ada sekitar 2 – 5 jam setiap harinya setara sampai 750 sampai 1800 jam per tahun. Terbayang bukan, bagaimana kerasnya kinerja dari tulang belakang dari aktivitas yang tak sehat itu. Kasihan bukan, tulang belakang setiap hari ibarat memikul beban berat.

Sering sekai kita membayangkan saat hendak mau pergi tidur karena mengantuk, tetapi saat mau tidur kembali membuka gadgetnya. Akibatnya waktu tidur kembali terpangkas karena paparan radiasi dari gadget hingga membuat kamu susah tidur. Akibatnya insomnia. Waktu juga berkurang dari jam kerja, belajar dan kualitas lainnya berkurang. 
Dahulu para pencipta gadget beranggapan dengan ditemukan teknologi akan memudahkan manusia di masa depan. Nyatanya malah membuat masyarakatnya lalai.

Kebiasaan mengacuhkan sekitar juga karena menunduk sudah jelas sering terjadi dan menganggap orang yang di sekitar ibarat sesuatu tak nyata dan dunia maya yang sebenarnya nyata. Anggapan yang dekat bukan siapa-siapa, dan yang jauh adalah segalanya.

Di saat kondisi di balik, terutama bertemu dengan orang jauh, malah orang yang dekat tadi jadi berharga. Komunikasi jarak jauh seakan lebih nyaman dibandingkan face to face secara langsung. Itulah diagnosis yang dirasakan oleh generasi saat ini.

Manusia selaku makhluk sosial yang sangat butuh interaksi dengan sesama dalam bentuk nyata hilangnya waktu berkualitas dengan orang tercinta apakah dengan keluarga, teman dan lingkungannya. Mereka lebih banyak dengan diri kita dan tahu segalanya, lebih baik interaksi dengan lebih intens, bukan manusia-manusia maya yang tak akan peduli pada dirimu di dunia nyata. 
Baca juga: Sosial Media Bukan Sekedar Media Curhat dan Pamer

Teknologi seakan mengubah manusia jadi apatis terhadap lingkungan sekitar, durasi menunduk memang tidak bisa disalahkan. Memang hampir sebahagian besar gadget kini membuat manusia harus menunduk, tetapi ada baiknya mengurangi intensitasnya.

Teknologi kini sudah memasuki semua sendi kehidupan, bukan berarti mengacuhkan kehidupan sebenarnya. Manusia yang mengatur jumlah interaksi dengan teknologi bukan teknologi yang memperbudak manusia.

Memainkan gadget bukan permasalahan asalkan tahu porsinya dan merenggut banyak hal lain, karena semua kembali ke pribadi masing-masing. Waktu bersosialisasi dan me time tanpa teknologi begitu berharga, serasa dunia nyata lebih menyenangkan.

So... semoga ini jadi interaksi bahwa menunduk secukupnya dan tegaplah sambil melihat dunia dan sekitar yang lebih ramah. Sebagai penutup, semoga menginspirasi.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis