Jumat, 06 Januari 2017

Sahabat Paling Loyal, Sahabat Masa Kecil

sahabat paling loyal, sahabat masa kecil
Menurut sebuah penelitian: Persahabatan kalian sudah terpupuk lebih dari 7 tahun lamanya, maka persahabatan itu akan berlangsung sampai seumur hidup.

Sebuah pernyataan di atas benar banget, apalagi saya pribadi merasakan sendiri hal demikian. Memang andai dirunut kembali, pertemanan lebih dari 7 tahun itu berasal dari sahabat masa kecil, apalagi usia kalian sekarang direntang  20 – 30-an.
Siapa di sini punya sahabat yang usianya bertahan sedemikian lama, Ayo ngacung?

Mengingat pertambahan usia, punya sahabat akrab sebaiknya dipertahankan karena populasi mereka relatif langka. Bukan terlalu memprioritaskan mencari teman baru, yang kadang hanya mencari kesempatan atas kemampuan yang kalian miliki.

Istilah kini biasa disebut: teman mencari keuntungan, mereka banyak berseliweran misalnya di dunia pendidikan. Mereka akan pura-pura baik dan perhatian, apalagi jelang ujian. Sedangkan saat kalian kesusahan, mereka akan menghilang tiba-tiba. Nyeselin bukan!!

Selain itu saat dewasa jumlah pertemanan makin menyusut drastis. Berbagai faktor jadi alasan seperti: sudah berumah tangga, pindah ke luar kota dan bahkan intensitas bertemu minim. Namun itu seperti sedikit ditangkis andai sebenarnya ia sahabat sejati.

Ocehan-ocehan seperti ini pasti sering terlontar:
Apa...!! kamu diterima kuliah di kampus terkemuka luar negeri? Kok bisa itu kampus menerima kamu. Mungkin pihak kampus khilaf. 
Kamu sekarang punya pacar cantik? Pakai jasa dukun dari mana? Atau jangan-jangan itu cewek rabun. 
Kamu diterima kerja di perusahaan bonafit? Hmm... pasti pakai orang dalam.

Begitulah beberapa petikan ucapan yang sering terucap oleh sahabat dekat kalian. Kata-kata penuh candaan dan blak-blakan, tapi tak menusuk hati. Segala kesuksesan dan keberhasilan tetap saja sahabat sejati tak percaya secara lisan, namun dalam hati mereka sangat kagum akan pencapaian kalian. Begitulah mereka.

Definisi teman dengan sahabat punya nilai berbeda, mencari teman itu gampang tapi mencari sahabat yang tahu seluk-beluk dirimu itu sangat sulit. Faktor yang mendasari pertambahan usia buat teman akan hilang sedangkan sahabat tidak, apakah  sajakah itu:

Punya kesibukan masing-masing, ini jadi salah satu hambatan mengapa pertemanan sedikit berkurang. Pertambahan usia dan kesibukan berbanding lurus, tak seperti masa anak kecil punya waktu leluasa bermain dan berinteraksi.

Akibatnya durasi pertemanan berkurang, satu persatu teman-teman menghilang. Bahkan lebih dari 50% kita kehilangan teman dan bahkan kehilangan waktu sekedar ngumpul bareng. Selain itu sedikitnya waktu dan menganggap bertemu dengan teman-teman adalah “buang-buang waktu” tak perlu. Lebih baik bergelut dengan kesibukan masing-masing.

Belajar dari masa lalu, berkurangnya jumlah pertemanan ada kuatnya pengaruhnya dari pengalaman buruk dari masa lalu. Bisa saja karena dimanfaatkan, sering dibully atau kadang termakan sifat menang sendiri. Kesan tersebut jadi pembelajaran terutama dalam batas-batas memilih teman, agar kejadian serupa tak terulang kembali.

Dimanfaatkan, siapa di sini yang pernah atau sering dimanfaatkan, coba ngacung?
Semakin pintar, rajin, baik dan sebagainya maka akan banyak teman palsu di sekitar kalian.

Jadi harus bagaimana juga?
Harus pintar-pintar dan jangan mau dibodohi oleh teman palsu. Tak apa dikatakan terlalu cuek dibandingkan terlalu tapi malah dimanfaatkan sampai capek. Setiap pertemanan pasti ada alasannya terutama keuntungan yang didapatkan terhadap teman, apa itu feedback atau bentuk simbiosis mutualisme. Bukan malah jadi bersifat merugikan satu pihak.

Pengelompokan teman, usia yang bertambah menjadikan koneksi pertemanan bertambah. Ada teman sekampus, tempat kerja, teman dekat rumah, teman berolahraga, dan sampai teman ngerumpi.

Saat kita masih kecil tak ada sekat seperti itu, semua sama rata dan perlakuannya sama. Pengelompokan seperti ini terjadi saat penambahan usia, jelas-jelas punya keuntungan masing-masing. Apalagi level teman punya porsi tersendiri, tak merangkap sepenuhnya layaknya sahabat.
Baca juga: Persahabatan Paling Tulus, Persahabatan Masa Kecil
Semua bertolak belakang dengan sahabat masa kecil sehingga loyalitas mereka tak diragukan. Berikut ini alasannya mengapa mereka berbeda dibandingkan teman:

Paling paham, sahabat punya rasa paham mendalam waktu temannya lagi kesusahan bukan ingat hanya saat dirinya susah. Selagi dia mampu pasti ditolong. 
Bro.. pinjam duit, bulan depan gue dibayar 
Hmm... kebiasaan ngutang, yaudah janji bayar!!! 
Bro... di rumah ngga ada nasi, emak pergi arisan ngga ngajak-ngajak. 
Ke sini saja, kebetulan di rumah banyak sisa nasi basi semalam. Lumayan dibandingkan dikasih ke ayam -___- 
Perlakuannya beda

Lebih jujur dan apa adanya, Walaupun perkataan dari sahabat kadang sarkasme, blak-blakan, hingga menjurus kocak. Walaupun begitu, itu semuanya tulus tanpa berharap apa-apa. Sahabat sifatnya jauh dari basa-basi, berbeda dengan teman yang menjadikan basa-basi sebagai modal menjadi hubungan pertemanan.

Misalnya seperti ini: 
Teman: 
Kok lama ngga nyampek? Pasti ada hal lain yang dikerjakan *sambil tersenyum paksa* 
Sahabat: 
Wooi... mana elo kok tak nonggol-nonggol? Katanya OTW dari, padahal rumah gue sama elo cuma selisih 10 rumah. Memang penyakit ngaret elo ngga pulih-pulih.

Setia di saat susah, inilah yang paling wajib dimiliki oleh seorang sahabat. Di kala anda kesusahan mereka akan membantu walaupun kadang menertawakan kesusahanmu untuk sementara waktu. Namun niat mereka tulus kok, ia mau mencoba memainkan perasaan kamu sementara waktu sekaligus iseng.
Baca juga: Mengapa Cita-Cita Anak Kecil Cenderung Sama?
Well... bukan berarti baru kenal tak bisa jadi sahabat. Namanya kecocokan kadang datangnya lebih cepat walaupun belum melebih rentang waktu 7 tahun lamanya. 
Menjalin persahabatan di saat marahan pasti akan baikan sedangkan dalam hubungan belum tentu demikian.

Ingat itu!!
Baiklah itulah yang ingin saya sampai. Seperti biasa sebagai penutup, berapa sering kalian menghubungi sahabat sejati kalian dan apa kenangan paling berkesan buat kalian?

Sampai jumpa kembali.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis