Selasa, 31 Januari 2017

Ayo Coba Kenal Lebih Dekat dengan Musik EDM


Saat ini sedang begini hits oleh musik elektronik yang sering disebut dengan EDM. Saya sering sekali mendapatkan pertanyaan negatif dari teman dan kolega dengan genre musik ini, seperti: 
EDM itu musik aliran hore-hore dan clubbing gitu ya? 
Itu aliran musik yang suka remix musik terkenal jadi aneh itu? 
Musik yang lekat dengan party, mabuk dan bahkan narkotika ya?

Anggapan negatif begitu melekat dan saya punya pandangan pribadi mengenai hal tersebut. Sebenarnya sejak kapan EDM mulai terbentuk dan siapa penemunya?

Menurut sumber Wikipedia: Awal mulanya genre musik ini mulai dipopulerkan oleh salah satu Giorgio Moroder dan rekannya Pete Bellotte vokalis Donna Summer pada lagu “I Feel Love” para era 70-an. Mulai saat itulah genre EDM mulai berkembang pesat dan kini telah masuk ke dalam prospek industri musik yang menjanjikan.

Berbagai peralatan elektronik menjadi instrumen penunjang di antaranya: Controller, Mixer, Recorder, dan Keyboard. Selain itu aplikasi seperti Ableton, FL Studio, Logic Pro,  Pro tools dan sebagainya. Tergantung apa yang akan digunakan oleh DJ Produser tersebut.

Secara tak langsung, semuanya instrumen dan aplikasi tadi terintegrasi dengan Digital Audio Workstation (DAW). Hampir semua musisi dan DJ produser menggunakan terutama pada proses merekam, mengedit, memproduksi file lagu, musik dan sejumlah efek suara. DAW bukan hanya memproduksi musik saja, namun radio, televisi, podcast dan multimedia bisa digunakan pada DAW.
                                             
Studio idaman, apalagi di kamar
Berikut ini sejumlah anggapan yang sering terlontar dan saya selaku penikmat musik bisa menjelaskan dan menjabarkannya. Apa sajakah itu, berikut ulasannya:

EDM identik dengan Remix, Pernyataan seperti ini sangat sering keluar dari para pendengar sekilas akan EDM. Bagi mereka, EDM banyak memanfaatkan musik yang telah terlebih dahulu populer dan kemudian diremix ulang sedemikian rupa. Nyatanya tidak, malah banyak dari musik tenar saat ini ialah EDM.

Serta dalam proses pembuatan musiknya hampir sama dengan musik saat ini. Mulai dari susunan instrumen yang baik, beat, dan mixing seakan membuat jadi musik yang enak. Terbukti banyak musik EDM tak hanya mengandalkan beat dan instrumen musik kosong saja.

Para DJ produser ternama juga bekerja sama dengan penyanyi ternama dalam menggarap lagu atau malah kebanjiran pekerjaan bekerja sama mengingat besarnya animo musik EDM saat ini. Padahal banyak musik yang populer tersebut, siapa sangka aliran musiknya adalah EDM.

Hanya play and pause, Praktisi EDM dianggap karena bermodal perangkap Midi controler, CDJ, dan Turntable. Lalu tinggal play dan push musik yang sudah ada di display.

Nyatanya tidak, malah lebih sukar. DJ Produser harus merekam, mengedit, memproduksi file lagu, musik dan sejumlah efek suara di studio menjadi satu kesatuan musik yang enak didengar. Proses ini memakan waktu lama dan yang pasti  DJ Produser tak mau fansnya kecewa.
 
Waduh, tombolnya banyak banget
Apalagi sejumlah fans punya sejumlah tuntunan besar agar selalu ada penyegaran lagu setiap penampilan. Pasti sang DJ harus berpikir keras menciptakan tracklist yang disukai penonton. Itulah mengapa, kemampuan wajib seorang DJ adalah tahu musik yang populer dan bisa dikolaborasikan dengan lagi saat tampil.

Hanya ada satu genre,  Anggapan lain yang melenceng adalah EDM hanya satu jenis musik yang salah. Nyatanya ada begitu banyak subgenre dari EDM, seperti House, Trance, Dubstep, Techno, Trap dan sampai Hardcore.
Ternyata Sub-genrenya begitu banyak

Setiap aliran musik punya BPM (Beat Per Minute) yang berbeda, tergantung genrenya. Setiap EDM berada di kisaran 125 – 135 BPM. Kehebatan EDM ialah  mampu berkolaborasi dari berbagai genre musik lainnya berseberangan.

Misalnya RnB, Pop, Hip-hop, Jazz, dan berbagai musik daerah yang diaransemen sedemikian rupa menjadi terdengar segar. Apalagi musik lintas genre kini sangat digandrungi saat ini dan berada pada chart billboard musik dunia.

Semuanya serba elektronik, Proses pembuatan musik EDM banyak bersinggungan dengan instrumen yang tak hanya virtual elektronik. Ada pula instrumen musik sederhana dikolaborasikan seperti drum gitar, snare, piano, biola dan berbagai unsur suara.

Semua disatukan menjadi satu alunan musik yang enak didengar, karena banyak dari sejumlah DJ produser tidak terpaku pada satu genre. Tujuannya agar bisa kreatif dalam menghasilkan karya yang diinginkan oleh pasar.

Identik dengan mabuk-mabukan dan narkoba, Anggapan lain yang keliru ialah setiap rave party dekat dengan pesta miras dan narkotika. Nyata untuk menggelar rave party, panitia acara butuh pengaman ekstra ketat termasuk dari pihak kepolisian setempat termasuk membawa barang-barang terlarang akan disita hingga berurusan dengan pihak berwajib.

Pengamanan pun tidak main-main, beberapa lapis pemeriksaan agar selama penyelenggaraan party tidak mengganggu setiap DJ Produser yang tampil. Kini sejumlah rave party besar memakai teknologi Wristband yang memiliki Barcode. Saat memasuki arena rave party, itulah salah satu syarat wajib masuk dan juga pengenal selama party berlangsung.
Tampilan Writsband via dailymail.co.uk

Misalnya tak membolehkan membawa flare, tongsis, kamera DSLR, pointer dan benda berbahaya lainnya. Pihak panitia berhak menyitanya bila kedapatan sedangkan barang terlarang harus berhadapan dengan pihak berwajib. Ketat bukan!!

Selain itu di beberapa negara mulai menyelaraskan musik EDM ke semua kalangan, tak hanya orang tua dan juga anak-anak bisa menyaksikan. Di Belanda dan Amerika, musik EDM sudah dibuat semenarik dan eassy listening terutama semua kalangan.

Bukan hal yang mengherankan saat ini anak-anak di bawah 17 tahun diperkenankan masuk, walaupun diawasi oleh orang tuanya masing-masing. Bagi mereka musik EDM sudah melekat sebagai budaya dan jauh dari citra negatif tersebut.

Stigma dengan klub malam, Tidak selamanya pertunjukan EDM dilakukan di klub malam, selain tempatnya relatif kecil mengingat animo yang begitu besar. Alternatif lainnya adalah dilakukan di lapangan terbuka atau di ruang outdoor relatif besar misalnya stadion.

Memang puncak setiap rave party EDM sering dilakukan pada malam hari. Itu ditunjang dengan berbagai permainan LED visual grafis dan ledakan kembang api jadi ciri khas rave party.
 
Rave party juga ada siang hari kok
Namun tak menutup kemungkinan rave party EDM yang berlangsung di siang hari, selain mampu menyedot banyak pengunjung dari sejumlah kalangan. Panitia tak terlalu terlalu dibebankan dengan LED visual grafis yang mahal. Apalagi para penonton masih semangat.

Mengumbar aurat, Kini begitu banyak artis yang banting setir ke arah Disc Jockey saat melihat animo dan kekurangan job. Menurut penulis mereka itu mencari sensasi saat booming dunia EDM musik yang sedang gandrungi. Bermodal musik dan play dan push langsung mereka tampil.

Karena miskin skill dan memanfaatkan kepopuleran sebagai artis, mereka memanfaatkan dengan mengumbar aurat. Sudah pasti bagi peminat EDM tidak terlalu tertarik dengan. Itulah membuat citra EDM rusak, padahal hanya sebahagian kecil.

Bagi yang benar-benar mencintai musik EDM, mengutamakan performa dan skill hal yang utama bukan malah aurat.

Peraturan begitu bebas, untuk sebuah rave party butuh pemeriksaan berlipat-lipat. Barang-barang yang tidak bisa dibawa masuk akan ditahan, proses pemeriksaan yang lama terbukti bahwa setiap EDM konser tidak sebebas yang dianggap oleh orang awam.

Sekilas tentang dunia EDM, ada perbedaan mencolok antara DJ dan produser sehingga menimbulkan salah kaprah. Seorang Produser bisa merangkap sebagai DJ seperti Martin Garrix, Avicii, Tiesto, Calvin Harris, Skrillex dan sebagainya. Mereka bermain musik dengan cara DJ, terutama saat ada tawaran manggung di Event rave party ternama. Misalnya Ultra Music Festival, Tomorrowland, Creamfield, Electric Daisy Festival dan dari tanah air ada Djakarta Warehouse Project.

Sedangkan DJ punya lingkup lebih rendah dari Produser, mereka hanya bertugas sebagai pemutar musik saat party. Mereka hanya sekedar meremix, memutar turntable, mengatur susunan lagu, meloop, scratching, mendelay, dan mereverbation musik. Lingkupnya biasa hanya sekedar DJ club atau DJ radio.

Ada hal unik lainnya, misalnya ada pula Produser EDM yang tidak mau melepaskan embel-embel DJ di belakang namanya walaupun sudah tenar, misalnya DJ Snake, DJ Feel dan DJ Khaled.
 
Kenal ngga sama manusia helm ini?
Selain itu banyak para DJ Produser yang menggunakan nama panggung setiap pertunjukannya. Misalnya Hardwell, Marshmello, Avicii, Skrillex, Daft Punk.The Chainsmoker, dan R3hab.

Ada pula yang menutupi jadi diri mereka, apalagi popularitas di dunia EDM menjadi keharusan. Alasan ini dipakai oleh Daft Punk, Alan Walker dan Marshmello untuk menutup jati diri sembari tetap berkarya hebat di EDM.

Jadi siapa DJ Produser favorit kalian saat ini?

Itulah sejumlah fakta unik tentang EDM. Apa sudah mengubah pandangan anda tentang musik EDM? Bila belum bisa share alasan anda.

Semoga memberikan pencerahan.
Share:

2 komentar:

  1. Sekarang emang lagi trend kali musik EDM ya, bang. Di tanggal lagu Billboard pun banyakan musik ajeb-ajeb itu yang bertahan lama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasar kita mengikuti tren musik EDM. Kalo dahulu EDM yang mengikuti pasar, apalagi genre musik lain seperti jalan di tempat. Dan EDM menjawab keinginan pecinta musik.

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis