Selasa, 28 Februari 2017

Fitur Sejumlah Sosmed Hampir Sama, Terus Bedanya Apa?

sosial media hampir serupa

Siapa di sini yang tak punya sosial media?

Pasti semua punya dan bahkan install semuanya. Well... alasan sebahagian besar orang membuat akun sosial media punya beragam, mulai dari personal branding, membentuk komunitas, mendapatkan informasi, berbisnis sampai pada perkembangan trend.
Saat ini saya pribadi pun memperhatikan perkembangan sosial media yang begitu eksis saat ini. Apalagi saya selaku anak muda masa kini yang ngga ada kerjaan ikutan menyempatkan waktu untuk menginstal hampir semua sosial media. Alhasil yang saya dapatkan ialah kouta dan baterai HP cepat habis.

Persaingan yang begitu keras dari setiap aplikasi sosial media membuat siapa yang tidak mampu berkreasi dan berinovasi lebih berarti ia siap-siap mengali kubur sendiri. Namun yang tak mengenakkan adalah inovasi yang nyaris sama satu sama lain atau malah menjiplak kesuksesan perusahaan lain.

Coba perhatikan, sekarang sudah hampir semua sosial media ternama menggunakan Story, apakah itu Messenger, Instagram, dan terbaru adalah Whatsapp. Ternyata ide itu sudah terlebih dahulu dicetus oleh pesaing mereka serta perusahaan baru Snapchat. Otomatis Messenger, Instagram dan Whatapp adalah perusahaan menang banyak karena mereka punya popularitas pengguna relatif besar.

Kira-kira seperti perbandingannya pengguna Story ketiga sosial media tersebut:
 
Gimana, ada yang pernah mengalami seperti ini?
Sedikit cerita tentang berdirinya perusahaan Snapchat. Awal mulanya berasal dari pemikiran tiga orang anak muda salah satunya Evan Spiegel dan dua orang temannya di Stanford University yaitu Bobby Murphy dan Reggie Brown.


Nama terakhir akhir harus kaki karena ketidakcocokan dengan kedua rekannya saat perusahaan mereka awal mula berkembang pesawat. Awal mulanya pemilihan namanya ialah Picaboo dan kemudian mereka berdua sepakat dengan menggantinya menjadi Snapchat.

Walaupun di awal berdirinya sedikit kesulitan mencari pendanaan, akhir Snapchat berjaya dan jadi aplikasi yang begitu digandrungi oleh para remaja. Kini Snapchat sedang mempersiapkan diri untuk IPO di lantai bursa saham dengan target 3 Miliar USD. Menggiurkan bukan.

Facebook selaku perusahaan raksasa IT besutan Mark Zuckerberg ini melakukan akusisi ke sejumlah perusahaan besar. Sejak awal mulanya berdiri Februari 2004, ada sebanyak 65 perusahaan yang telah berhasil diakusisi dan beberapanya ialah perusahaan ternama.
Sejumlah belanjaan Pesbuk

Siapa yang tak tahu dengan Whatsapp, Instagram dan Oculus VR. Untuk ketiga perusahaan tersebut pihak Facebook harus merogoh kocek sebanyak 22 Miliar dollar.

Secara tak langsung akusisi ini memperkuat lini suatu perusahaan dan kadang juga menyamakan ide. Alhasil kini banyak kesamaan konsep yang ditawarkan dan memperlihatkan sosial media tak punya keunikannya lagi.

Akhir-akhir ini media sosial yang pernah diakusisi oleh Facebook tersebut yaitu Instagram yang berpatok pada layanan photo sharing dan Whatsapp yang berpatok sebagai instant messagging seakan begitu mirip dengan layanan mirip Snapchat yaitu fitur “Story”

Penjiplakan itu membuat sosial media kini tak punya lain perbedaan satu sama lain. Bila dahulu mereka yang suka menulis singkat 140 karakter di Twitter, berbagi foto bisa memilih Instagram, chatting ria ada Whatsapp atau Line, serta yang suka menebar berita hoax dan main game bisa kembali ke Facebook.

Kini perbedaan setiap sosial media tak mencolok lagi. Berbagai alasan mengemuka, mulai dari banyak perusahaan berada di divisi yang sama karena telah diakusisi dan miskin ide. Itu jelas seakan membuat pengguna kecewa karena aplikasi yang ia install tak punya keunikan tersendiri.

Memang setiap sosial media punya segmennya masing-masing, bila semuanya sama untuk apa harus install semuanya?

Anak muda dalam negeri sering menginstal sejumlah aplikasi yang tidak digunakan, selain untuk terlihat eksis dan kekinian. Kebiasaan anak muda kini sangat ingin dirinya bisa membagi sejumlah aktivitas yang terlihat bahagia beragam untuk dilihat pengikutnya, umumnya yang paling eksis menggunakan fitur itu ialah kaum wanita.

Sebagai contoh ini kira-kira gambaran, berikut ini sejumlah data Instagram Story kaum hawa:
Kira-kira isinya begini?

Dapat dilihat bahwa tak hanya di Instagram, di Whatsaap dan juga Snapchat selaku pencetus melakukan hal serupa. Akhirnya saat kita membuka sosial media A, kemudian B yang ada potongan Story yang sama. Ibaratnya hanya memperbanyak dagangan di lapak yang berbeda.

Setiap pengguna sosial media punya penggunanya sesuai segmen yang ia inginkan. Misalnya saja Whatsapp yang terkenal dengan instant Messenging harus punya Story, akibatnya banyak pengguna tak terima inovasi tersebut. Ada baiknya dilakukan penyegaran atau mungkin menambahkan fitur unik yang tidak dimiliki oleh sosial media A namun dimiliki B sebagai ciri khas yang melekat.

Bila perusahaan tersebut mau memikirkan hal tersebut yang pasti sosial media yang dulu punya keunikan tersendiri dan konsep sederhana. Di jamin sosial media bisa kembali mengasyikkan seperti dahulu dan yang pasti tak boros kouta.

Semoga memberikan pencerahan dan salam super!
Share:

2 komentar:

  1. "Potongan Klip Drama Korea"
    wkwkwkwkwkwk
    Tapi memang benar sih!
    Terima kasih pencerahannya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa boleh buat, karena Ig wanita tersebut cantik tetap saja di follow walaupun 'stories' nya nyeleneh semua.

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis