Rabu, 08 Februari 2017

Lapangan Bola, Masih Adakah Engkau?

lapangan bola, masih adakah?

Hampir setiap sore setelah waktu asar penulis bergegas  mengganti pakaian menjadi jersey sepak bola. Membawa tas berisikan peralatan seperti sepatu bola, jersey, pelindung betis dan paling penting ialah sarung tangan. Itu sudah dimulai semenjak kecil penulis tak pernah lupa merumput, minimal 2 kali sepekan.

Namun kini ada hal aneh, tak ada lagi rasa capek dan sakit sekujur tubuh setelah bermain bola. Penulis yang sementara harus pulang kampung orang tua lebih sering duduk di depan laptop atau mengecheck notifikasi yang masuk dari gadget. Sungguh hidup yang tak ada serunya, berbeda dengan dengan sejumlah baju kotor dan berkeringat, lalu pulang diomelin emak. Itu sebuah kesenangan.
Permasalahan yang terjadi kini, apakah banyak yang sebaya dengan penulis sibuk dengan pekerjaannya atau jumlah lapangan yang makin langka?
Harus diakui semenjak penulis pindah kembali ke kampung halaman orang tua, lapangan yang layak jumlahnya terbatas. Di kota sendiri hanya memiliki dua lapangan yang kurang terurus dan kondisinya kurang terurus. Aktivitas lebih banyak digunakan untuk kegiatan yang tidak bersinggungan dengan sepak bola seperti lokasi konser, pasar malam, hingga saat ini marak sebagai lokasi kampanye.
 
Lapangan yang rusak pasca kegiatan kampanye
Akibatnya setelah kampanye selesai, lapangan rusak parah dan butuh perawatan ekstra. Bukan hal yang aneh saat penata rumput harus bersusah-payah untuk memperbaiki rumput sediakala. Mereka yang terbiasa bermain dan berlatih di situ harus gigit jari. Apa boleh itu hanya lapangan miliki umum, kami hanya menumpang bermain di sini. 

Indonesia selalu saja bermimpi besar saat berkancah di sepak bola, animo masyarakat yang sangat besar sehingga negeri kita dianggap negerinya pecinta sepak bola namun tak punya kesempatan menendang bola. Lebih tepatnya sebagai penonton layar kaca terbesar di dunia, mengalirkan pundi-pundi uang ke siaran sepak bola dunia.

Bukan hal yang aneh saat ada nonton bareng, setiap jalan dipenuhi penggemar klub benua biru. Anak-anak kecil yang memakai jersey pemain top sepak bola, itu jelas membuktikan negeri kita negeri penikmat bola. Mencintai dan menikmati saja tak cukup tanpa mempraktekkan, mencari lapangan yang layak kini susahnya minta ampun.

Penulis yang begitu akrab dengan lapangan hijau kadang harus mengeluarkan kocek cukup dalam asal bermain. Jumlah pemain yang lebih dari 15 orang,  rincian 3 orang sebagai cadangan andai ada yang kelelahan atau cedera saat bertanding. Sedangkan untuk bermain dengan keseluruhan harus minimal punya 26 orang.  Sekarang mencari lapangan dan orang yang bermain sama susahnya.

Sudah biaya mahal dan sulitnya mencari orang apalagi kalau bukan sebuah klub. Alhasil banyak yang hobi bermain bola mengganti dengan sepak bola dalam ruangan atau lebih dikenal dengan futsal. Memang futsal sangat bagus dalam melatih ketangkasan, operan dan kerja sama, tapi tetap berbeda jauh dengan sepak bola.
Baca juga: Dilema pelik yang Dirasakan Seorang Kiper
Bermain dengan jumlah 5 pemain dengan ukuran lapangan berbeda, sepatu, berat bola dan peraturan mendasar lainnya berpengaruh besar terhadap permainannya di lapangan bola. Pemain yang terlalu sering bermain futsal akan sulit bermain operan panjang dan staminanya jauh berbeda.

Belum lagi futsal yang bermain lapangan tertutup tak ada pengaruh cuaca, angin dan kontur lapangan. Sehingga yang  sudah terbiasa bermain di lapangan futsal, pasti sangat kewalahan bermain di lapangan bola kembali. Ia harus beradaptasi kembali dengan ritme bermain sepak bola.

Semua itu wajar terjadi karena hasrat bermain bolanya di lapangan rumput terkendala terbatasnya jumlah. Alhasil lapangan futsal bermadraskan karpet dengan waktu bermain kadang sudah larut malam ialah opsi terbaik. Apa boleh buat, semua karena tak ada waktu lain untuk bisa bermain. Merasakan bisa menendang-nendang bola.

Mengembalikan wujud lapangan semestinya
Keinginan tersebut seperti mulai didengar oleh jajaran PSSI dan pemerintah, setelah lama vakum Indonesia ingin bangkit dari kekalutan sepak bola. Pemerintah mencanangkan kembali sepak bola mulai hidup kembali. Membangun sarana dan prasarana seperti lapangan sepak bola agar anak-anak kembali kotor-kotoran bukan hanya tangannya lecet akibat terlalu lama memencet gadget.

Turun kembali ke lapangan dengan tersedianya satu lapangan satu RW maka bukan hal yang heran menghasilkan pemain bola, semua dimulai dari akar rumput. Ketersediaan lapangan menjadi asal-muasal pemain hebat lahir termasuk membangkitkan kembali sepak bola tanah air.
Sungguh hal yang miris saat ini lapangan bola harus berubah alih fungsi dan kurang terawat. Menjadi perkantoran atau tempat perbelanjaan elit. yang masih bertahan pun mematok harga yang terlampau mahal. Tak ada yang gratis untuk bermain bola, harus bayar dari hitungan ratusan ribu rupiah dan bahkan jutaan rupiah.

Setelah sejumlah perlengkapan bermain bola mahal, malah menanggung lapangan yang mahal. Akibatnya banyak yang tekor atau berhenti bermain bola. Menyalurkan hobi boleh, tapi kalau sudah terlalu mahal lebih baik dikurangi. Akibatnya banyak anak muda menanggalkan hobi bermain bola mereka karena tak ada lapangan.

Belajar banyak dari negeri tirai rambu

China begitu bernafsu negaranya tidak dipandang remeh di Asia lagi khususnya di bidang sepak bola. Mereka ingin mengejar ketertinggalan dari macan Asia lainnya seperti Jepang dan Korea. Kebijakan pemerintah tidak main-main, dengan membangun 20.000 lapangan standar dunia di tahun ini, tujuannya untuk melahirkan bakat-bakat lokal.
 
Pengen jadi kecil kembali, gambar via CTV News
Mereka tak mau hanya sebagai penonton sepak bola saja, tapi merasakan bermain sepak bola seutuhnya. Pemerintah juga turun tangan, termasuk memasukkan sepak bola ke dalam kurikulum pembelajaran. Untuk bisa menyukai sepak bola harus ditanamkan sejak dini serta sarana dan prasarana yang memadai.

Memang yang China lakukan belum membuahkan hasil, namanya saja proses memang butuh waktu. Mereka sadar dengan menghilangnya jumlah lapangan dan anak-anak enggan kotor-kotoran sama dengan hanya bermimpi bisa berbicara banyak di kancah dunia.

Jadi bagaimana dengan Indonesia yang rakyat kesulitan bermain, semoga apa yang dilakukan pemerintah kini bisa membuat anak muda Indonesia tidak asyik menunduk dengan gadgetnya tetapi berkepala tegak setelah menang bertanding melawan klub kampung sebelah.

Semoga menginspirasi.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis