Kamis, 23 Februari 2017

Hidup Sesuai Passion? Sebaiknya Pikirkan Dulu Matang-Matang

hidup sesuai passion
Aku besar ingin jadi pesepakbola handal, ternyata saat besar harus kerja kantoran. 
Aku ingin jadi musisi tenar dengan punya banyak  fans setia, ternyata harus rela jadi pegawai bank. 
Aku ingin jadi seniman yang punya karya fenomenal, ternyata tak ada pilihan lain selain jadi pelayan toko.

Itulah hidup tak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Berniat mengikuti passion sebenarnya namun tak punya prospek yang lumayan cerah. Akibatnya tak ada pilihan lain selain bekerja mengikuti desakan orang lain serta zaman.

Kita tarik undur ke belakang, saat masih kecil begitu banyak bakat potensial yang dimiliki. Namun perlahan-lahan menghilang karena itu semua hanya sebatas hobi yang tak berkembang lebih lanjut. Tak ada lahan menyalurkan bakat-bakat unik dan istimewa itu, alhasil bakat tersebut terkubur bersama cita-cita besar sang anak.
Bukan hal yang asing, saat anak-anak kecil yang tadi mulai beranjak dewasa. Tak ada pilihan lain kecuali harus mengikuti patron yang sama dengan orang tuanya. Sedangkan hobi ataupun itu passion-nya harus ditanggalkan atau harus dilupakan selamanya.

Pepatah: Buah tidak jauh dari pohonnya atau Like Father Like Son seperti sudah mendarah daging. Memang sebenarnya sifat anak cenderung tak jauh dari kedua orang tuannya tapi mimpi serta passion mereka bisa saja berbeda jauh dengan orang tuanya inginkan. Bukan berarti sedarah harus searah, asalkan itu baik dan benar kenapa harus jadi masalah.

Baiklah... bicara tentang passion bagi yang belum tahu apa itu passion: semacam hasrat atau kesenangan sekaligus hobi yang dilakukan sesuai keinginan tanpa rasa capek dan keluh kesah. dan tidak menutup kemungkinan menghasilkan. Siapa yang tak senang saat hobi yang dilakukan dibayar mahal saat orang lain harus membayar mahal untuk sebuah hobi.

Memang cara tersebut belum begitu populer di tanah air, apalagi saat ini ada 3 generasi berbeda dalam menyikapi makna dari hobi, passion dan pekerjaan. Siapa sajakah mereka dan bagaimana menyikapi makna tersebut, berikut ulasannya:

Pertama sekali ialah bagi kalangan dari Generasi X, yang didominasi oleh kalangan kakek dan nenek serta orang tua kita. Menurut pandangan mereka pekerjaan adalah sesuatu yang dikerjakan mulai dari pagi hingga sore hari. Mengeluarkan keringat dan kadang masih menggunakan menganut sistem 8 jam sehari, mereka juga tipe pekerja keras.

Hobi bagi Generasi X ialah  sesuatu yang dilakukan saat waktu senggang saja. Di saat hari libur tanggal merah datang atau akhir pekan yang kosong. Hari kerja jangan harap pekerjaannya bisa diganggu gugat.

Melangkah ke depan ada Generasi Y, konsep yang mereka percaya sedikit agak fleksibel. Generasi ini mulai mempercayai passion tersebut, hanya saja masih sulit bisa diwujudkan. Kecilnya atau malah tak ada peluang jadi alasan ragu akan masa depannya kelak.

Pekerjaan yang digeluti hampir sama dengan Generasi X, bekerja 8 jam sehari. Kadang harus lembur sudah jadi kebiasaan hanya saja untuk lepas dari itu semua sangat sulit. Generasi ini masih menganggap lebih baik mencintai apa yang dijalani dibandingkan menjalani apa yang dicintai.
 
Via lifehack
Peluang keluar dari patron itu sangat sulit apalagi sudah berada di zona nyaman, walaupun di dalam diri ada rasa memberontak dan mengubah arah hidup. Generasi  hidup masa peralihan teknologi terutama internet. Mereka berada di zona Generasi X yang bersifat kaku dan menjalani hidup layaknya Generasi Z.

Terakhir ialah Generasi Z, pada generasi ini telah mulai berani mempraktekkan passion yang mereka rasa cocok dan sangat ingin keluar dari bayang-bayang yang tidak ia sukai. Generasi ini menganggap bahwa hobi yang disenangi kenapa tidak digeluti dengan cara yang serius dan bisa menghasilkan pundi-pundi uang.

Generasi yang terakhir ini punya pemikiran yang sudah maju, mereka membuat patron baru dengan bekerja secara fleksibel dan menghasilkan. Tak harus pergi ke kantor atau tak harus kena macet dan keluar keringat.

Semua bisa bekerja di mana saja sesuai tempat dan tidak lagi terpatron dengan jadwal bekerja 8 hari sehari dan 5 hari dalam seminggu. menjalankan bisa pakai pakaian seadanya, tak perlu mandi dan kadang modal bersarung saja bisa bekerja. Atau tidak terpengaruh tanggal sesuai hari kerja.

Namun itu semua ada dasarnya terutama di dalam negeri. Selain itu faktor pekerjaan yang diidam-idamkan pada generasi sebelumnya seperti sudah usang dengan zaman. Ada juga karena pekerjaan mencapai titik jenuh karena lebih banyak yang mencari kerja dibandingkan membuat lapangan kerja.

Generasi Z pun banyak yang ingin mewujudkan cita-citanya sesuai passion walaupun masih tetap dianggap sebelah mata. Berbagai asal menyeruak, seperti masa depan tak jelas dan bersifat kontak atau tidak bersifat permanen. Apalagi pekerjaan kantoran tetap jadi primadona meyakinkan orang tua dan calon mertua.

Sebagai Generasi Z jangan berkecil hati, semua yang dilakukan ada benarnya asalkan percaya bahwa setiap yang dilakukan sesuatu kemauan hati. Punya skill kekinian dan mengedepankan passionate jadi modal berharga.

Saya pribadi membaca sekilas tentang skill dan passionate tidak akan lekang sama zaman. Pekerjaan yang sedang eksis saat ini bisa saja tergantikan dengan karena kemajuan teknologi dan masanya.

Dahulu sebelum teknologi sakelar lampu, ada pekerjaan bernama Lampfighter. Tugasnya sederhana, cukup terampil dalam menghidupkan dan mematikan lampu saat malam dan pagi hari. Namun saat ini itu tidak ada lagi pekerjaan seperti itu, sudah digantikan dengan teknologi. Saat ini tukang parkir, supir atau pengantar barang jenis pekerjaan yang menjanjikan. Di masa depan bisa saja tergantikan dengan smart parking, autopilot driving dan drone.

Seperti itu pulalah pekerjaan yang menjanjikan saat ini, terasa telah usang dengan zamannya. Peran teknologi menghasilkan ladang rezeki dan skill baru yang tidak diketahui generasi sebelumnya. Saat itulah lahirlah sejumlah passion baru lainnya,

Jadi tak usah takut menjalani masa depan sesuai passion, itulah mengapa menjalankan passion harus dipikirkan matang-matang. Karena butuh perjuangan dari besar dibandingkan mengikuti patron yang berlaku dan kreatif jadi modal berharga.

Jadi itu tak masalah tetap mengikuti apa yang sudah menjadi patron atau mengikuti passion. Semua sah-sah saja, bukan berarti mengikuti passion itu baik atau mengikuti zaman salah. Semua kembali bagaimana cara menanggapinya dan persiapan diri sematang mungkin menjalani masa depan.
Toh dari itu semua, jangan lupa bahagia. Salam damai semuanya.
Share:

2 komentar:

  1. Ya, hobi kita kadang tidak sesuai dengan keinginan orang tua.. tapi siapa yg peduli? Kita yg menjalani.. orangtua berperan hnya untuk mengarahkan kita saja. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya.. kadang keegoisan orang tua membuat setiap bakat terpendam anaknya terkubur selamanya. Saran yang bagus mas

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis