Jumat, 05 Mei 2017

Indonesia, Raksasa Ekonomi Digital yang Siap Menggurita

indonesia, raksasa ekonomi digital yang siap menggurita
Indonesia punya pangsa yang menjanjikan terutama sekali pada prospek akan perkembangan ekonomi digital. Melihat pangsa yang begitu besar berbasis internet semakin kuat dengan dukungan dari kaum Millennial yang telah lebih mengandalkan internet.

Satu sisi didukung dengan industri kreatif yang berkembang saat ini. Begitu banyak anak muda yang menggandrungi bidang Startup dan mempromosikan dalam bentuk e-commerce.
Itu didukung dengan besarnya akses internet di tanah air, di kawasan Asia Pasifik, Indonesia ialah negara yang paling doyan mengakses internet. Setidaknya masyarakat menghabiskan waktu sebanyak 181 hanya dari mengakses telepon seluler dalam sehari dan belum termasuk perangkat teknologi lainnya.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain yang ada di kawasan Asia Pasifik yang hanya rata-rata hanya menghabiskan 150 menit mengakses internet. Waktu sebanyak itu lebih banyak dihabiskan untuk mengakses jejaring sosial dan juga berita.
gambar via databoks.co.id
Secara tidak langsung itu menandakan masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengakses internet untuk segala kebutuhan. Ini jadi peluang yang sangat besar mengingat pemerintah juga ingin mencanangkan target, Indonesia sebagai pusat ekonomi di Asia Tenggara pada tahun 2020.

Alasan itu tidak muluk-muluk, apalagi sejumlah Statistik Indonesia didukung dengan terus meningkatnya transaksi online dari waktu ke waktu. Untuk tahun 2016 saja, sedikit ada sekitar 8,6 juta konsumen berbelanja online berasal dari tanah air.
konsumen e-commence tanah air via databoks.co.id
Angka ini terus meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 7,9 juta orang. Itu ditandai dengan bertambahnya masyarakat yang melek teknologi. Ini sangat membantu berkembangnya era digital. Dengan banyaknya generasi Z yang sangat gemar berbelanja online dibandingkan secara konvensional.

Itu didukung dengan pangsa e-commerce terbesar di Asia Tenggara, jumlah penduduk Indonesia yang melebihi 250 Juta jadi acuan peluang akan menjanjikan tersebut. Volume masyarakat yang besar jadi peluang yang menjanjikan pangsa e-commerce, apalagi itu didukung dengan Data Statistik yang ada

Itu juga didukung dengan begitu banyak Startup lokal yang berkembang. suntikan dana asing yang besar membuat sejumlah Startup Indonesia berada di peringkat kedua setelah Singapura.
4 elemen potensi ekonomi digital Indonesia via: katadata.co.id
Perkembangan dari ekonomi Digital di pegang oleh 4 pelaku penunjang. Mulai dari Financial Technology (Fintech), E-Commerce, On Demand Services, dan Internet of Things (IOT). Setiap komponen punya tugas masing-masing dalam, apa sajakah itu, berikut ini ulasannya:

Financial Technology,  Indonesia jadi pangsa yang tumbuh subur setiap tahunnya khususnya transaksi finansial. Di tahun ini saja, total transaksi yang berlangsung menyentuh angka US$ 18,5 Miliar. Meningkat 24% dari tahun sebelumnya yang hanya US$ 15 Miliar. Sedangkan sisanya adalah pembayaran via mobile sebesar US$ 4 juta dan transfer peer to peer sebesar US$ 29 juta.
total transaksi Fintech di Indonesia via: databoks.co.id
Selain itu Fintech didominasi oleh bidang  pembayaran, ada sebanyak 40% yang mendominasi dari 153 perusahaan yang ada di tanah air. Apalagi di tanah sendiri, ruang lingkup mencakup tiga segmen seperti pembayaran digital, pembayaran bisnis, dan pembiayaan personal.

E-Commerce, begitu banyak Startup lokal yang berkembang di era ekonomi digital saat ini. Sejumlah Startup tersebut mendapatkan dana segar dari investor dan di Triwulan II tahun 2016 kemarin.
dana segar investor di ASEAN via: databoks.co.id
Ada sebanyak 28 Startup tanah yang didanai, nilai investasi menyentuh angka Rp 2,09 Triliun. Indonesia hanya kalah dari Singapura di regional ASEAN yang mendapatkan investasi mencapai lebih dari Rp 14 Triliun. Sebanyak Rp 17,2 Triliun investasi tersebut diberikan pada 94 Startup di ASEAN.

Secara tak langsung, Startup tanah air punya prospek cerah dan itu dibarengi dengan tingginya jumlah e-commerce dalam 5 tahun terakhir. Menurut pusat data e-Marketer, angka itu meningkat drastis dari tahun ke tahun. Di tahun ini saja, diprediksi transaksi e-commerce tanah air diperkirakan menyentuh angka Rp 108,4 Triliun, naik dari tahun sebelumnya yang hanya menyentuh angka Rp 69,8 Triliun.
transaksi e-commerce selama 5 tahun via: databoks.co.id
Banyak faktor yang mendasari naiknya nilai tersebut, mulai populasi penduduk Indonesia yang besar, akses internet yang mengalami peningkatan hingga tingkat antusiasme masyarakat dalam sejumlah produk dan jasa yang ditawarkan.

Peran Startup dalam perkembangan e-commerce jadi alasan kuat, apalagi banyak produk dan jasa yang diinginkan oleh masyarakat. Serta pelayanan yang baik, inovatif dan tepat guna makin mendorong masyarakat untuk giat memajukan ekonomi digital.

Pemerintah juga turun tangan dalam menangani tujuan perdagangan digital tersebut. Ada 7 target yang dicanangkan, mulai dari masalah pengadaan logistik, pendanaan, perlindungan konsumen, infrastruktur komunikasi, pajak, pendidikan SDM, dan keamanan.

On Demand Service, cara yang ditawarkan di tanah air juga menarik, sejumlah Startup yang menawarkan jasa khusus salah satunya transportasi untuk masyarakat urban. Perkembangan itu didukung oleh salah satu Startup anak negeri yaitu Go-jek.

Di tahun kemarin, perusahaan Go-jek mendapatkan suntikan dana investasi terbesar dibandingkan dengan Startup tanah air lainnya yaitu US$ 550 juta.
pendanaan startup lokal oleh investor via: databoks.co.id
Walaupun begitu, di bidang on demand service khususnya transportasi Go-jek masih kalah dengan perusahaan asal San Fransisco, USA Uber dan perusahaan asal negeri singa Grab. Hadirnya ketiga penyedia layanan jasa tersebut sangat membantu masyarakat, apalagi trend dari ekonomi digital beralih ke sistem online.
total pendanaan dari transportasi online di tanah air via: databoks.co.id
Internet of Things (IOT), salah satu cara dalam memperluas konektivitas internet tanpa henti. Itu didukung dengan meningkatnya akses dan kecepatan internet di tanah air sendiri. IOT pun mencakup berbagai pelaku yang hampir semuanya Startup karya anak negeri.

Mulai dari Cubeacon sebagai pemancar Bluetooth dari iBeacon milik Apple, Qlue yang menjadi pusat pengaduan masyarakat khususnya masyarakat ibukota dalam berbagai masalah yang terjadi di sekitarnya.

Saya pribadi sangat menyukai salah satu dari pengembangan alat perikanan, apalagi basis pribadi berasal dari. Adanya alat yang memudahkan pemberian pakan pada ikan dan udang di tambak dengan dosis telah ditentukan. Pengguna bisa mengetahui nafsu makan ikan berdasarkan sensor dan kuantitas pakan melalui aplikasi eFishery.
Tampilan dari salah satu pelaku startup di bidang IOT
Angka IOT juga meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun ada sekitar US$ 250 Miliar dan meningkat tajam menjadi US$ 583 Miliar di tahun 2020 di kawasan Asia Pasifik. Indonesia berpeluang besar menjadi pangsa menjanjikan, mengingat begitu banyak persoalan sekitar yang bisa diselesaikan oleh sejumlah Startup baru yang nantinya terjun di bidang IOT.

Kesimpulan
Peluang Indonesia menjadi salah satu akan perkembangan ekonomi digital saat ini dan masa depan saat kuat. Mengingat berbagai faktor, mulai dari pelaku dari tanah air hingga regulasi yang dibuat pemerintah saat mendukung terciptanya ekonomi digital.

Bukan tidak mungkin, akan banyak lahir Startup terbaru tanah air yang membantu meningkat transaksi digital serta meningkatkan taraf hidup dan ekonomi masyarakat Indonesia.
Share:

2 komentar:

  1. Betul mas. Peluang Indonesia untuk menjadi penguasa ekonomi digital terbuka lebar.

    Salam kenal dari Bali :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tepat sekali mas, apalagi pangsa yang besar dari tanah air mulai dari jumlah penduduk, akses internet dan startup lokal. Bukan tidak mungkin Indonesia jadi negara no. 1 ekonomi digital dunia

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis