Rabu, 31 Mei 2017

Kebiasaan Menunda Hingga Deadline, Baikkah?

Siapa sih yang tidak pernah bekerja di dalam tekanan deadline?
Sudah pasti siapa saja yang punya tanggung jawab selalu saja diburu dengan deadline setiap waktunya. Perkembangan deadline identik dengan SKS (Sistem Kebut Semalam) yang begitu akrab di Indonesia.

Usut punya usut, cara itu telah lama digunakan oleh bangsa kita termasuk dalam proses penggagasan teks proklamasi tahun 1945. Waktu yang mepet serta dan ingin hasil sebaik-baiknya melahirkan sistem tersebut.

Saat itu sejumlah tokoh penggagas proklamasi dari tanah air bekerja keras untuk bisa menyelesaikan teks proklamasi yang akan dibacakan esoknya. Akhirnya teks proklamasi berhasil disiapkan dalam waktu singkat dengan menghasilkan beberapa poin penting. Semua itu berhasil menjadi harkat dan martabat rakyat Indonesia untuk lepas dari penjajah.

Di zaman saat ini, sistem kebut semalam bak primadona yang telah merambah ke berbagai bidang. Bagi sebagian orang berpendapat bahwa konsep ini melahirkan hasil maksimal dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Salah satu efek yang paling sering dirasakan ialah menyelesaikan sesuatu kala waktu mepet alias deadline. Jelas terjadi penumpukan stres dan lelah yang luar biasa, apalagi dalam tenggat waktu sempit semua bisa dikerjakan.

Kebiasaan deadline kadang karena lebih banyak diakibatkan karena menunda dan menanggap mengerjakan nanti lebih baik dibandingkan. Padahal saat jelang deadline banyak tugas lainnya yang bisa saja datang  dengan tiba-tiba.

Akhirnya banyak yang tidak sesuai ekspektasi akibat saling membagi pikiran antar satu sama lain. Itu juga termasuk dalam kodrat hidup manusia yang tidak terlalu mengkhawatirkan sesuatu hingga hidupnya terancam atau tertekan.

Kebiasaan itu secara ilmu psikologi disebut dengan Temporal discount, makin jauh dari deadline maka tidak penting. Hampir dari kebanyakan dari kita membiasakan hal tersebut, selain menganggap di waktu senggang adalah menghilangkan stres sementara dan semuanya ditumpuk jelang deadline.

Sebagai contoh ialah kita sering kali saat sekolah dulu diberikan tugas saat liburan panjang. Namun libur yang begitu panjang tetap saja tugas diselesaikan jelang deadline sedangkan di awal-awal seperti diabaikan begitu saja.

Deadline dan Efek buruk yang bisa saja datang
Penyebab deadline terjadi salah satunya adalah meremehkan dan melupakan. Kadang itu jadi bumerang yang cukup berharga. Mengejar waktu tenggat kadang kala membutuhkan pikiran dan tenaga yang tidak sedikit.

Misalnya saja tugas yang harusnya dikerjakan selama seminggu dengan rincian 2 jam setiap harinya. Namun baru dikerjakan sehari sebelum dikumpulkan, estimasinya adalah 2 jam x 6 hari. Total ada 12 jam yang dikerjakan dalam waktu yang sangat sempit, jelas jadi beban bagi tubuh dan pikiran.
Kebiasaan Menunda hingga Deadline
Efek lainnya adalah begadang, kebiasaan begadang acap kali dianggap tidak baik khususnya untuk kesehatan. Itu ditambah saat begadang konsumsi makanan dan kafein sangat tinggi, salah satu efeknya adalah obesitas. Jelas itu tidak baik bagi tubuh andai selalu mengejar deadline dan mengorbankan kesehatan tubuh. 
Ibarat kata bang haji Rhoma Irama dalam lirik lagunya, Begadang boleh saja asal ada perlunya

Penyebab deadline beragam, salah satunya yang paling lekat adalah gadget. Berapa banyak waktu yang terbuang percuma hanya karena lalai dengan gadget. Sejumlah notifikasi yang mengganggu kadang jadi alasan banyak tugas yang mangkrak hingga deadline.

Sosial media jadi salah satu momok penghambat pekerjaan tidak tuntas, sering kali banyak orang yang mengeluhkan waktu yang sedikit saat menyelesaikan tugasnya. Memang itu bukan hal baru, namun bisa disiasati dengan menonaktifkan atau sejenak fokus terhadap tugas yang sedang digarap. Andai pekerjaan telah selesai, anda dengan leluasa bisa bersosial media kembali.

Tak selamanya sesuatu yang dikerjakan saat deadline dicap buruk, kadang sebagai pendorong bahan bakar energi dalam menyelesaikan tugas hingga kelar. Nah bukan itu saja, deadline jadi salah satu pemicu energi tambahan termasuk otak terus aktif berpikir. Salah satunya adalah hormon adrenalin yang terpacu secara terus-menerus.

Namun banyak orang yang sengaja menunggu deadline untuk bisa mengeluarkan ide, termasuk saya pribadi yang sangat menyukai deadline. Bagi orang yang bergelut di bidang kreatif dan inovasi, deadline jadi makanan sehari-hari yang harus dihadapi.

Setiap hari dihadapkan dengan puluhan deadline tugas yang saling timpa menimpa. Walaupun mereka yang bekerja di bidang kreatif sadar bahwa bisa saja kehilangan pekerjaan atau peluang andai ada faktor lain yang buat deadline jadi amburadul.

Bila anda termasuk golongan tersebut, berarti anda mengalami addicted to deadline, kecenderungan yang membuat anda sangat menyukai deadline karena tantangannya berbeda saat mengerjakan di awal waktu.

Otaknya dipaksa berpikir keras hingga tenggat waktu, bukan berarti mereka menunda pekerjaan. Hanya saja para addicted to deadline melihat waktu yang paling tepat buat dieksekusi.

Waktu itu datangnya saat deadline menunggu. Segala sumber daya yang sudah terkumpul lalu disatukan dalam satu waktu singkat, ibarat mengumpulkan puzzle terakhir lalu baru menyusunnya satu persatu.

Ada sebuah kepuasan tersendiri saat menyelesaikan tugas tersebut tepat waktu dan sesuai dengan yang diinginkan. Seakan semuanya terbayarkan dengan tuntas, antara menegangkan dan bahagia yang campur aduk.

Kenal dengan Student Syndrome dan Parkinson Law
Kebiasaan buruk dari suka deadline sudah jadi kebiasaan apalagi bagi anak kuliah. Saat deadline kumpulkan tugas sibuknya minta ampun, namun malah berleha-leha di waktu luang yang sangat panjang.

Paling sering adalah student syndrome, kebiasaan yang biasa dilakukan oleh para mahasiswa jelang deadline tugas. Mengapa dikaitkan dengan mahasiswa, karena mampir sebahagian besar mahasiswa tetap mengerjakan tugas saat deadline walaupun punya durasi panjang tugas tersebut. Maka kadang dosen sering kali memberikan waktu yang mepet untuk menghilangkan kebiasaan itu.
kekuatan dari deadline

Bentuknya menyerupai kurva yang terjadi saat student syndrome terjadi. Ada lonjakan aktivitas dan usaha di waktu jelang deadline.

Berbanding terbalik dengan Student Syndome, ada Parkinson law, Bedanya para penganut Parkinson Law mencoba mengerjakan di awal waktu namun karena tenggat waktu yang masih lama, seakan membuat tugas yang gampang malah terlihat rumit dan berat. 
kekuatan dari deadline

Seakan tugas yang diberikan tenggat dalam seminggu terasa sangat berat, walaupun hanya butuh 1 jam waktu fokus mengerjakannya. Pengaruh pikiran jelas jadi salah satu alasan hal terjadi, akibatnya beban itu terbawa ke mana-mana.

Solusinya terbaiknya membuat batas tenggat waktu sendiri dengan mengalokasi waktu dari tenggat yang berlaku, andai targetnya harus selesai dalam seminggu, 2 hari sudah bisa diselesaikan.

Jadi grafik menunjukkan penumpukan stres dan usaha saat awal dan terjadi penurunan hingga deadline datang. Biasa saat menunggu deadline lebih banyak memperbaiki segala kekurangan di sana-sini.

Makanya jangan heran akan ada teman kalian yang sudah santai-santai saat jelang ujian atau tugas dikumpulkan. Berlainan dengan teman lainnya yang menyibukkan dirinya dengan deadline, bisa jadi dia menerapkan konsep dari parkinson law dalam menyelesaikan suatu tugas.

Semua tergantung berbagai tipe orang menyelesaikan tugas, dan terpenting adalah mengerjakan lebih baik daripada menunda-nunda. Semoga menginspirasi.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis