Rabu, 05 Juli 2017

Pendapatan Tak Terduga Datangnya dari Rumah

Pendapatan Tak Terduga Datangnya dari Rumah
Kamu sih kerjaannya apa sih?Mengapa asyik ngadem di kamar saja tanpa ke mana-mana, ibarat keong!
Kata-kata yang sering kali teman-teman saya ucapkan saat mencoba membujuk saya keluar dari kamar sembari mengajak ngopi agar tetap waras. Sambil bercakap-cakap ringan dan penuh tawa. Sudah pasti banyak teman dan tetangga bingung dengan apa yang saya lakukan dari rumah. 
Saya pribadi hanya keluar kamar untuk pergi salat berjamaah dan bermain sepak bola selebihnya hanya kebutuhan mendesak yang memasak keluar. Rumah dan kamar sesuatu yang begitu kentara bagi saya, memberikan rasa nyaman berlebih.

Tetangga saja sering heran karena setiap akhir bulan selalu bisa belanja yang aneh-aneh. Jangan-jangan saya dituduh memberdayakan ternak tuyul kilo-an yang bisa diekspor ke mana-mana atau sibuk menyusun rencana membobol ATM terdekat kala malam tiba.

Tenang teman-teman, saya tidak melakukan pekerjaan seperti itu. Namun saya melakukan hal lain yang masih jarang dilakukan di kota saya yaitu bekerja online dari rumah. Persepsi itu lahir dari pengalaman buruk saya setelah tamat kuliah.

Harus pergi pagi untuk bekerja dan pulang saat laron sedang begitu banyak kala Magrib tiba, belum lagi kala lembur yang membuat waktu di akhir pekan harus terpotong. Sungguh melelahkan bukan!

Awal mulanya pengalaman berharga saya bekerja di rumah di mulai pada akhir tahun lalu, awal mulanya saya pun bingung. Begitu banyak para freshgraduate yang kebingungan setelah tamat termasuk saya pribadi. Bagaimana rasa dunia kerja berbeda jauh dengan dunia kuliah. Mungkin saya merasa sedikit beruntung, setelah tamat kuliah dapat dengan mudah mengaplikasikan ilmu yang didapat sesuai bidang studi.

Saya pun menjadi asisten dosen di kampus, berbekal kedekatan dan juga koneksi dengan mudah saya bekerja dengan pada kampus beliau. Euforia kesenangan pasti terasa, apalagi dengan dengan pimpinan tertinggi di dunia kampus.

Namun itu semua berubah dalam sekejap, acap kali freshgraduate dimanfaatkan untuk menyelesaikan tugas beliau yang menumpuk. Selain punya bayaran yang rendah, para freshgraduate punya kemampuan yang sangat mumpuni.

Sifat saya yang mudah bosan dengan pekerjaan yang sama namun tinggi tekanan membuat saya harus mengambil keputusan. Akses internet yang terbatas dan lambat makin membulatkan langkah saya untuk berhenti. Kouta yang mahal dan ditambah jauhnya lokasi dengan membuat saya kesulitan.

Cara yang saya lakukan ialah dengan mencari kedai kopi yang mampu menunjang pekerjaan saya. Di Aceh kedai kopi telah bertransformasi ke arah lebih modern. Salah satunya tersedianya Wi-fi untuk memudahkan menyelesaikan tugas sambil menyeruput kopi.

Namun itu semua tidak nyaman, banyak asap rokok ditambah lagi dengan internet yang begitu lelet hingga menghambat pekerjaan. Jaring kouta yang tersedia pun sangat mahal dan bila dipakai untuk bekerja bisa habis dalam sekejap. Jelas saja pekerjaan sering terganggu.

Akhirnya saya mengambil keputusan untuk berubah. Saya kembali lagi ke Banda Aceh, jauh dari orang tua yang ada di Meulaboh. Saya memutuskan bekerja dari rumah, jelas saja bekerja dari rumah apalagi lelaki bertentangan dengan kodratnya. Lelaki digambarkan sebagai pemburu tangguh yang kerjanya di luar rumah.

Saya harus mengambil keputusan meminta pamit tidak bekerja lagi dengan beliau. Saya ingin membuktikan bekerja bisa di mana saja dan halal asalkan ada kemauan. Apalagi lowongan pekerjaan saat ini terbatas mulai dari yang sesuai jurusan hingga sesuai minat.

Hampir semua pekerjaan saya mencari pekerjaan via online. Selain dianggap sebelah mata karena dianggap pengangguran hingga jarang mandi. Itu diperparah dengan orang tua saat ini yang menganggap lelaki di rumah saja adalah malas dan aksi duduk di depan laptop.

Alasan saya memilih bekerja dari rumah ada beberapa alasan, semua telah saya pertimbangkan masak-masak. Apalagi kini dunia online mulai menggantikan pekerjaan sehingga memudahkan pekerjanya. Berikut ini alasannya:

Banyak waktu di rumah, begitu banyak orang yang bekerja sampai lupa pulang ke rumah. Waktu yang begitu banyak habis di kantor seakan rumah hanya untuk istirahat malam dan kembali berangkat lagi.

Bagi orang yang sudah berkeluarga, waktu dengan keluarga akan berkurang dan jangan heran sang anak lebih mengenal pembantunya dibandingkan orang tua sebenarnya.

Jauh dari macet, selain di kantor waktu yang paling banyak menyita waktu dan stres ialah saat di jalan. Bermacet-macetan atau berdesak-desak di angkutan umum jelas tidak mengenakan. Bau ketiak di waktu jam pulang, penumpang yang nyeselin hingga telat di kantor jadi konsekuensi untuk sampai ke tempat kerja.
bekerja dari rumah
Cukup menjanjikan, kata siapa bekerja di rumah itu hanya sambilan atau hasilnya recehan. Begitu banyak orang yang mengendalikan bisnisnya dari rumah, apalagi bekerja dari rumah mulai beragam dengan hadirnya internet.

Potensi perkembangan dari ekonomi Digital di pegang oleh 4 pelaku penunjang. Mulai dari Financial Technology (Fintech), E-Commerce, On Demand Services, dan Internet of Things (IOT).  Indonesia jadi salah satu negara pusat ekonomi digital di tahun 2020. Makin banyak usaha rumahan yang tumbuh.

Menghilangkan stereotip, anggapan lelaki itu harus bekerja di kantor, harus pergi pagi pulang malam melekat. Nyatanya kerja bisa begitu fleksibel terhadap terhadap waktu, bekerja bukan lagi urusan kuantitas tapi kualitas yang dihasilkan.

Bekerja dari rumah mampu menunjang hal tersebut, selain bisa mengerjakan tugasnya dan kemudian bisa mengalihkan pekerjaan pada pekerjaan-pekerjaan rumah. Tak seharusnya semua dikerjakan oleh istri (bagi yang telah berkeluarga) namun si suami juga ikut andil.

Tanpa seragam khusus, pasti seragam melambangkan pekerjaan sesuatu orang dan level golongan yang ia capai. Namun kini banyak orang yang tidak lagi berpatokan pada seragam dalam menghasilkan duit. Asalkan itu halal dan prosesnya benar, bekerja di rumah hanya modal celana pendek dan bertelanjang dada bukan masalah.

Tidak terikat, hampir sebahagian pekerjaan mengikat pekerja, misalnya tidak boleh bolos nanti bisa kena marah bos. Apabila bandel dan menyalahi aturan, bisa "dipindahtugaskan" hingga dipecat. Semua tergantung seberapa keras anda bekerja dan itulah hasil yang didapatkan.

Saya pribadi bekerja dengan passion saya, menyadari bahwa mengerjakan sesuatu dengan passion menghasilkan bahan bakar yang tak pernah habis dan tak ada rasa capek. Makanya saya memilih jalan tersebut karena mengerjakan apa yang anda sukai.

Bekerja penuh dengan deadline dan kadang harus berakhir dengan kecewa sudah jadi makanan sehari-hari. Saat orang lain sibuk dengan menonton film favoritnya, bermain game ria hingga tertawa keras, saya sibuk mengedit tulisan yang andai telat sedikit saja telah melewati waktu deadline.

Saya pribadi saat ini merangkap beberapa hal, di blog saya lebih banyak menuliskan hal-hal pencerahan atau pengetahuan. Untuk masalah lomba saya orangnya pemilih khususnya dirasa cocok dengan niche blog saya pribadi. Itu saya lakukan agar membuat pembaca nyaman tentang tulisan saya.

Walaupun awalnya sulit, namun lama kelamaan akan ada peningkatan atas kerja keras. Hasilnya kini saya telah jadi Blogger terkemuka di daerah saya dengan pengunjung banyak. Tak hanya itu saja, saya juga menuliskan di sejumlah platform blogging di media ternama dan hampir setiap hari tulisan saya tayang.

Merambah di dunia lain yang sedikit berbeda namun sama, sama melatih bakat saya dalam merancang design web yang powerfull dan friendly. Hasilnya cukup banyak pesanan yang datang dari beberapa klien di akun freelance saya.

Terakhir ialah pekerja saya sebagai rater di perusahaan penyedia jasa konsultasi dan solusi teknologi khusus terhadap penilai baik atau buruknya dari hasil pencarian di internet. Pekerjaan saya ialah sebagai Social Media Evaluator dan Web Search Evaluator. Bayaran yang digunakan pun cukup menjanjikan sesuai jam kerja, hanya modal perangkat PC dan internet ngebut.

Usaha tidak pernah mengkhianati hasil, itu hal yang tepat untuk menggambarkan kerja keras saya selama 6 bulan terakhir. Saya kesetanan dengan mencoba berbagai lamaran pekerjaan online. Terlalu banyak mimpi besar saya termasuk bisa terbang ke Silicon Valley dan mengunjungi Startup terkemuka yang ada di muka bumi.

Semua akun pembayaran saya punyai mulai dari akun bank lokal, Paypal hingga Payoneer. Itu saya lakukan karena banyak transaksi menggunakan pembayaran internasional. Sehingga setiap hasil kerja saya berhasil sampai ke tangan saya dan saat melihat saldo rasanya senyum-senyum sendiri.

Tren bekerja dari rumah
Bekerja di rumah harus membutuhkan ruangan atau rumah yang nyaman, sehingga bisa mendapatkan mood yang tepat dalam bekerja. Apalagi dengan rumah yang memiliki akses internet, hampir sebahagian besar generasi millenial yang bekerja dari rumah menggunakan koneksi internet mumpuni.

Pada tahun 2016 berdasarkan pada hasil survei Polling Indonesia dan APJII didapatkan hasil ada 131,1 juta pengguna internet tanah air yang menggunakan berbagai perangkap untuk melakukan browsing. Sudah pasti angka itu semakin bertambah di tahun ini.

Statistik jumlah pengguna juga hampir sebahagian besar di dominasi oleh generasi millenial yang berusia dari 10 tahun hingga usia 34 tahun yang mendominasi hingga akan 42,8%. Hampir separuh pengakses internet berasal dari usia tersebut, sudah pasti pengadaan jaringan internet mumpuni jadi kebutuhan pokok.

Setelah ditelusuri, jenis konten yang paling sering diakses di internet adalah media sosial. Masyarakat Indonesia hampir seluruhnya memiliki jejaring sosial, apalagi kebiasaan pengguna yang suka berbagi dengan koleganya. Setelah itu barulah disusul dengan konten hiburan ringan yang bisa diakses pada waktu senggang disusul dengan berita. Sedangkan berita pendidikan, komersial, dan layanan publik berada di bawah 95% total jenis konten yang dicari.

Kenal dengan Tamansari Cyber
Tamansari Cyber berada di lokasi yang strategis yang di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Tak hanya itu saja, hunian ini punya pemandangan yang menakjubkan yang berlatarkan Gunung Salak serta nuansa asri sekitarnya.

Anda yang bekerja di rumah tak perlu khawatir usah khawatir, apalagi kini banyak yang mengeluhkan rumahnya tidak memiliki koneksi mumpuni. Seluruh rumah telah tersedia dengan internet dengan kecepatan yang tidak main-main yaitu 100 Mbps, tak masalah untuk dipakai untuk upload dan download.

Cyberhome mendukung pekerjaan anda di rumah yang terkoneksi internet tanpa henti. Seperti sejumlah pekerja yang bisa ditunjang dari rumah, semua bisa anda selesaikan tanpa harus kesulitan. Berikut pekerjaan yang dengan mudah ditunjang dengan adanya hunian seperti Cyberhome: 

Saat ini sedang dilakukan proses internet lebih ngebut menuju angka 1 Gbps, tak hanya itu saja proses upgrade lanjutan dengan meningkatkan hingga angka 10 Gbps. Jadi tak perlu khawatir internet lelet atau buffering sehingga bisa menunjang segala macam keperluan, semua tersedia selama 24 jam. 

Cara ini dilakukan untuk menjadikan rumah tak hanya hunian semata, namun juga pusat optik sebagai bentuk menumbuhkan cyber city, digital city, dan smart city ke depannya. Bukan tidak mungkin akan banyak lahir technopreneur dari generasi millenial yang mengembangkan kemampuannya dari huniannya masing-masing.

Adanya hunian dengan konsep Cyberhome mampu menjawab segala kegelisahan akan internet nasional yang begitu lambat. Sudah pasti lambatnya internet membuat segala akses terhambat, dengan begitu masyarakat hunian tidak perlu khawatir harus membeli kouta yang harganya selangit. Semua mampu dijangkau, mulai dari media bisnis, pendidikan, informasi, dan hiburan.

Selain itu adanya proteksi terhadap anak-anak dalam mengakses internet, caranya dengan pemasangan parental guidance. Sehingga anda tak perlu khawatir anak-anak anda terkontaminasi pengaruh negatif dari internet.

Pilihan rumah Menawan di Tamansari Cyberhome
Rumahku... Surgaku..., itu pepatah yang layak disematkan untuk rumah hunian idaman. Siapa yang tidak menginginkan rumah yang menunjang segala aktivitas serta segala fasilitas yang ada di dalamnya.

Tamansari Cyberhome hadir dengan gebrakan berbeda dalam berbagai tipe rumah yang dapat anda pilih. Ada dua jenis rumah yang dapat dipilih dengan total 331 unit, mulai dari Rumah tipe Homepage dan Rumah Tipe Bandwith
Terus apa bedanya?
Rumah Tipe Homepage yang ditawarkan memiliki luas tanah 120 meter persegi dan luas bangunan sebesar 75 meter persegi. Harga yang dibanderol cukup eksklusif yaitu Rp. 1,22 Miliar untuk peminat.

Selanjutnya Rumah Tipe Bandwith dengan luas tanah 105 meter persegi dengan luas bangunan yaitu 62 meter persegi. Tipe ini dibanderol dengan harga Rp. 1 Miliar kepada para peminat. Berikut ini sejumlah kualifikasi yang dapat anda lihat dan pertimbangkan.
Rumah Tipe Homepage

Rumah Tipe Bandwith
Tak hanya itu saja, ada fasilitas penunjang lainnya yang membuat anda selaku pelanggan pasti merasa menguatkan pilihan anda. Mulai dari fasilitas penunjang yang ada di kawasan Cyberhome, sedikitnya telah tersedia 9 fasilitas penunjang seperti yang tertera di bawah ini:

Fasilitas yang berada di kawasan Cyberhome tak kalah lengkap, mulai dari akses transportasi, pendidikan, layanan publik, pusat perbelanjaan, dan hotel. Semua tersedia dan berada tidak jauh, sehingga anda tak kesulitan untuk mengaksesnya. Berikut sejumlah fasilitas yang berada di kawasan hunian:

Sudah pasti dengan sejumlah fasilitas yang lengkap, anda tak yang bekerja di rumah dengan mudah menelurkan ide-ide cemerlangnya dengan mudah. Jadi tentukan terus pilihan anda dengan tepat daripada harus gigit jari di kemudian hari.

Buat anda yang tertarik dengan sejumlah hunian yang ditawarkan oleh Cyberhome. Bisa segera masuk ke laman dan memilih hunian yang layak dengan penawaran menarik. Sambil bekerja dari rumah dan merasakan semua fasilitas yang menjanjikan.
Share:

2 komentar:

  1. Ciecie yang udah banyak mendapatkan penghasilan cukup dari rumah, sekali2 ajak kita ngopi dong dari hasil kerjanya hehehehe

    Iqbal udah boleh tu nabung dari penghasilan kerja di rumahnya, siapa tahu bisa beli rumah di cyberhome, tinggal bawa si adek yg kedokteran itu aja tinggal disitu, tentunya nikah dulu dong, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh,... masih kecil-kecilan, kalo buat beli rumah masih sanggupnya beli rumah siput

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis